
Jika biasanya malam pertama di lalui dengan kenikmatan yang akan menjadi sejarah di dalam sebuah rumah tangga dalam menitih perjalanan panjang bersama pasangan.Maka berbeda dengan pasangan yang satu ini karna malah memilih tidur terpisah dan melanjutkan perang dingin.
Semua berawal dari kesalah pahaman yang terjadi di antara ke duanya.Zao yang tidak pernah terbuka sejak awal tentang hubungan dirinya dengan identitas gadis yang pernah menggagalkann pernikahan Riri perempuan yang saat ini sudah berstatus menjadi istrinya.
Menorehkan luka tersendiri di benak Riri.Ia merasa di curangi di bohongi dan di manfaatkan.Apa lagi dengan serangkaian kejadian demi kejadian yang membawanya sampai ke gerbang pernikahan, sejak awal saja Riri sudah berfikir tidak bisa masuk di akal dan pasti ada alasan di balik pernikahan dadakan, bangkrutnya perusahaan ayahnya yang tiba-tiba.
Dan sekarang hemat dirinya berfikir kalau dirinya di nikahi selain untuk hutang budi juga karna Zao tidak ingin adiknya bersedih jika aku dan Aril tetap bersama.
Ya Alloh... Engkau adalah dzat yang maha mengetahui segalanya termasuk isi hati manusia.
Maafkan aku ya Rabb..
Bukannya hamba tidak bersyukur, jujur bukan pernikahan seperti ini yang hamba harapkan..
Hanya ingin sakinah mawadah dan warohmah serta barokah. Tetapi kenapa sangat sulit untuk menerima kenyataan ini. Dia terlalu picik dan suka berbohong...
Ya Alloh..
Yang maha penyayang lagi maha pengasih, aku tidak muluk-muluk berharap untuk bisa menjadi satu-satunya untuk seseorang yang sangat aku benci dan orang itu tak lain adalah suamiku sendiri...
Aku tau membencinya adalah sebuah dosa besar. Tapi aku tidak tahu harus bagaimana menghadapinya.Luka yang ia torehkan sudah menanah dan berdarah dan masih basah...
Ya Alloh berikanlah petunjukMu
Berikan yang menurut engkau terbaik untuk aku dan masa depan pernikahan ku.
Karna aku tahu rencanaMu adalah sebaik-baiknya rencana. Dan aku percaya semua ini akan ada hikmahnya untuk menuju sesuatu yang jauh lebih indah.
Aminnn...
Setelah selesai berdoa, ia pun melepas mukena cantik yang ia pinjam dari salah satu pekerja di hotel tersebut. Ia melirik jam dan ini sudah larut malam. Dan sudah pasti para pelayan perempuan yang shif malam sudah pulang semua.ia
Akhirnya ia berfikir untuk mengembalikan nya besok sekalian untuk sholat shubuh.
__ADS_1
Namun tiba-tiba saja ia merasa gerah dan ingin keluar sekalian mau mencari keberadaan suaminya.
Setelah menjalankan sholat tahajud, pintu hatinya seolah terbuka. Egonya pun perlahan mulai hilang. Karna jujur ia juga menginginkan pernikahan yang bahagia yang normal serta SAMAWARA.
Akhirnya ia pun menuruti apa yang di katakan oleh hati untuk mencari suaminya dan berniat untuk meminta maaf meskipun saat menempelkan tangannya di dada, rasa sakit , perih dan ngilu itu masih terasa.Tetapi biarlah dirinya mencoba mengalah agar semua berjalan semestinya.
Klek.
Ia pun menutup pintu kamarnya lalu berbalik menatap ruang tamu minimalis khusus pengguna VIP tersebut.
Tak jauh dari tempatnya berdiri ia melihat sosok yang begitu ia kenal sedang bersender di sofa dengan beberapa botol minuman beralkohol di sampingnya.
Dengan langkah buru-buru ia menghampiri suaminya. Di dalam hati ia bertanya-tanya, mungkinkah ini semua ada sangkut pautnya dengan perdebatan mereka setelah selesai acara pesta pernikahan.
'' Tuan, '' sapa Riri ragu-ragu saat sudah berada di samping Zao.
Tanpa di panggil pun Zao sudah bisa melihat kedatangannya. Dari dinding kaca yang menghubungkan antara ruang tamu dengan kolam renang di luar.
Zao hanya melirik nya sekilas, lalu mengambil salah satu dari empat botol alkohol yang ternyata masih utuh belum ada yang terbuka.
'' kenapa? untuk apa kamu peduli dengan orang yang sudah membuatmu terpisah dengan mantan terindah mu itu. '' ketus Zao menyindir istrinya terang-terangan.
Lagi-dan lagi ucapan Zao kembali membuat hati wanita itu seperti tersayat-sayat perih.Padahal niat hati ingin mengajak berdamai tapi siapa sangka
malah di sambut dengan kata-kata menyakitkan.
Zao yang sangat kesal karna Riri tidak mau percaya dengan penjelasannya,tidak menyadari kalau perkataan yang ke luar dari mulutnya barusan telah melukai perasaan wanita yang sangat ia cintai.
Kedua bola mata Riri mulai menghangat namun sebisa mungkin untuk tidak membiarkannya jatuh di hadapan laki-laki sombong yang sudah berstatus sebagai suaminya.
'' Mau bagaimana pun, tak perduli seperti apa nanti kisah selanjutnya saat ini tuan adalah suamiku.Jadi sudah seharusnya aku mencemaskanmu. '' ucap Riri berusaha mencari kata yang paling tepat.
'' Tidak untuk saat ini tidak juga untuk selamanya, kamu adalah istriku dan selamanya tetap akan seperti itu. Ingat!!!!! '' Ucapannya terkesan menegur.
__ADS_1
Ada apa dengannya? pikir Riri sambil melihat Zao yang sudah akan menghilang di balik pintu.
Riri tersenyum entah mengapa pernyataannya barusan membuatnya senang, ia pun melirik botol minuman yang berjumlah empat itu. Aneh sekali semuanya masih utuh lalu untuk apa ia membelinya. gumam Riri sambil melangkah menuju kamar.
Di dalam sana Zao sudah duduk bersandar di tempat tidur, membuat Riri yang baru masuk merasa canggung.
''Tidur lah di atas, . '' perintah Zao ketika sang istri berniat tidur di sofa.
'' Eh tidak , aku tidur di sini saja. '' kata Riri gugup sambil menutup seluruh badan termasuk kepala.
Zao pun langsung turun dari ranjang king size tersebut dan langsung mengangkat tubuh montok istrinya tanpa aba-aba.Dan jangan lupakan selimut yang tetap di biarkan menempel menutupi gadis tersebut membuat Riri gelagapan dan berteriak seperti sedang di culik.
'' Lepas, tolong.. '' Meskipun jarak sofa dan ranjang sangat dekat tetapi Zao sengaja melama-lama kan aksinya karna ingin mengusili istrinya dan ingin tau seperti apa reaksi marah istrinya setelah ini. Pasti sangat menggemaskan.
Bug.
Zao setengah melemparkan nya ke kasur empuk, membuat Riri sedikit mengaduh kesakitan.
'' Apa aku sudah keterlaluan ya... '' pikirnya sejenak sambil membuang selimut yang di kenakan Riri dengan cepat.
'' Sebelah mana yang sakit? biar aku panggil dokter pribadi kemari. '' bertanya cemas sambil meraih ponsel.
Drrrrrt.. panggilan berdering.
'' Tidak usah lebay doktermu tidak akan bisa mengobati ku. '' kata Riri sambil membelakangi suaminya.
'' Apa maksudmu ? apa semacam penyakit mematikan? kamu tenang saja aku akan mencari rekomendasi rumah sakit terbaik di luar negri. '' kata Zao semakin cemas.
Rasanya saat ini Riri ingin tertawa sambil menangis.
Dimana otak cerdas yang selalu ia bangga-banggakan.
'' Hatiku yang sakit tuan Zao Lee yang terhormat. ''
__ADS_1
ucap Riri
Hah! konyol sekali aku bahkan sudah sangat cemas dan menghawatirkan mu tetapi kamu seenaknya dalam bertingkah. '' ketus Zao kesal.