
Mentari pagi datang menyapa semua mata. Termasuk Zao dan Riri yang tidur di atas ranjang yang sama.
Sayup-sayup Riri merasakan aneh dengan tubuhnya yang berat. Seperti tertindih sesuatu. Akhirnya mau tidak mau ia pun membuka mata dengan terpaksa setelah semalaman tidak bisa tidur karna terus memikirkan status barunya menjadi seorang istri.
Ia takut kalau-kalau Zao akan meminta haknya sebelum dirinya benar-benar memantapkan diri dan hati. Bukannya apa, Riri hanya takut jika suatu saat Zao benar-benar akan meninggalkan dirinya jika sudah menemukan perempuan yang sebenarnya dia inginkan. Karna bisa jadi juga kan pernikahan ini terjadi selain karna rasa bersalah dirinya atas kelakuan Ling-ling adik sepupunya, juga bukan tidak mungkin kalau ini semua termasuk desakan pernikahan yang di lakukan orang tua terhadap anak.
''Aaa... '' Reflek Riri berteriak meskipun dalam beberapa detik langsung membungkam mulutnya dengan tangannya sendiri.Ia begitu kaget melihat salah satu kaki jenjang milik Zao menindih perutnya senyaman memeluk guling, tanpa memikirkan berat badan nya yang membuat orang lain hampir sesak nafas.
Riri masih mengusap -usap dadanya merasa bersyukur karna suaminya tidak terbangun jadi dia bisa leluasa menyingkirkan kaki loknut tersebut.
Namun baru saja ia mau melepaskan tangannya setelah berhasil memindah kaki Zao, tiba-tiba tubuhnya di tarik oleh laki-laki tersebut membuat Riri jatuh diatas tubuh Zao dengan posisi uenak.
'' Eh,... '' Beo Riri dengan wajah sangat merah bak memakai blush on tebal.
''Anda menggoda saya hmz.... '' Zao berkata sambil merapikan rambut Riri ke belakang telinga. Mengundang sensasi aneh yang membuat bulu kuduk Riri meremang seketika.
''Kenapa diam, jika tidak menjawab maka akan ku artikan iya. '' Lagi-lagi Zao menggodanya.
'' Lepas... '' Riri mengalihkan pembicaraan sambil berusaha melepaskan diri, karna ia tahu mau se kekekeh apapun dirinya membantah dan berdebat dengan nya, itu tidak akan mengubah apapun untuk penguasa yang selalu merasa benar dan selalu punya cara untuk merealisasikan keinginannya dengan cara apapun termasuk menikah dengan dirinya yang jelas-jelas tidak masuk daftar wanita tercantik dan sebanding dengan kedudukannya.
Dan mengingat semua itu membuat ia semakin kesal meskipun mulutnya pernah berkata akan menjadi istri yang baik, tapi boleh kah jika ia mengingakrinya sejenak ?... laki-laki itu menyebalkan sangat.
Zao ******* habis mulut mungil tipis nan seksi yang terpampang jelas di depan mata. Bagaimana tidak terpampang jelas lah dianya sendiri yang mengunci istrinya dengan posisi tersebut.
'' Emph.. '' Riri yang hendak protes langsung kehilangan suaranya karna mulutnya yang sudah habis di rampas oleh si dia.
__ADS_1
Terlalu bersemangat dan sedikit menuntut meninggalkan kesan pemaksa .
Lama Zao bergelut menyambangi bibir manis wanitanya, membuat Riri hampir kehabisan nafas di buat Zao. Belum lagi gigitan-gigitan kasar yang sengaja dia lakukan karna Riri tak mau membalas dan membuka mulutnya mengakibatkan bibir seksi itu terlihat sangat imut karna bengkak.
Setelah Zao melepaskan pautan bibir nya, Riri langsung secepat mungkin pindah posisi dari atas tubuh Zao.
Ia menutup rapat tubuhnya dengan balutan selimut tebal dan jangan lupakan posisinya. Ia berbaring nelangsa dengan tubuh posisi membelakangi suaminya.Perlakuan Zao yang seperti itu membuat hatinya kurang setuju. Jujur saja ia tidak suka dengan sikap semena-mena dia apa lagi dalam memperlakukan nya.
Terbiasa dengan Aril yang dewasa lembut penuh perhatian, kini dirinya di hadapkan dengan sosok Zao yang menurutnya sangat antonim dengan sifat yang di miliki Aril.
Tapi mau bagaimana pun pernikahan sudah terjadi, jika mau mempermasalahkan bukankah sudah terlambat ? Bukankah seharusnya dirinya sudah tahu seperti apa konsekuensi jika menikah dengan orang yang baru di kenal,tanpa cinta dan berpenguasa !! Sifat arogan dan pemaksa kemungkinan pasti ada .
karna sejak pertama kali bertemu pun dirinya sudah tahu seperti apa tentang Zao Lee. Pria mapan berkuasa dan terkaya nomor dua.Sombong dingin dan terkadang juga sangat datar.
''Hoaaaam.. '' Riri pun menggeliat sambil merentangkan semua otot-otot nya. Namun saat ia melirik ke samping , dirinya begitu kaget.
Lalu tak berselang lama, ceklek. Pintu kamar Bathroom terbuka. Munculah sosok tampan, kek,ar dengan tinggi semampai keluar dari sana.
'' Ya Alloh... '' batin Riri ketika melihat roti sobek yang sangat wauuuw, meskipun baru pertama kali melihat nya. Belum lagi rambutnya yang masih basah benar-benar membuat air liur nya hampir jatuh jika tidak segera di telan lagi.
'' Kenapa suamiku sangat tampan ?????
''Pluk... '' sebuah handuk terlempar tepat mengenai wajah ayu nya yang sedang dalam mode terpesona. Boleh kalian bayangin deh, betapa malunya Riri saat ini!!
'' Aw.... '' Nyesel gue barusan muji suami rese kaya elo. '' bergumam pelan sambil turun dari ranjang.
__ADS_1
'' Bisa tolong di ulangi lagi? kata Zao sambil menatap tajam dengan mulut yang sudah di tahan untuk tidak tertawa.
''Hah.. tidak mana mungkin aku berani.. '' elakan Riri dan terus berjalan kearah nya.
Kali ini Zao tengah mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.Dengan menggunakan celana boxer.
'' Aku akan menyiapkan pakaian untuk mu. '' Riri memberanikan diri untuk memulai perannya menjadi istri yang baik.
Karna tidak mendapat jawaban, maka hal tersebut di anggap iya atau boleh. Dengan langkah sedikit ragu ia membuka pakaian ganti yang di luarnya ada ukiran nama suaminya.
Namun baru saja ia akan menyentuh handle pintu lemarinya, tiba-tiba suara bariton milik pria itu kembali terdengar setelah sebelumnya sempat hanya diam.
''Stop! lain kali bersih-bersih dulu kalau mau menyiapkan keperluan ku. Takutnya ada kuman yang menempel di sana. '' Ungkap Zao dengan santai.
'' Apa!... '' pekik Riri hanya bisa dalam hati. Bagaimana bisa ada seseorang yang tidak tahu malu seperti dia.Sebelum dirinya berkata seperti itu apakah dia lupa kalau bangun tidur tadi saja dia langsung menyerangku dengan ciuman mes**.
Sebisa mungkin Riri menahan emosinya agar tidak membuang tenaga karna ini masih sangat pagi, sayang bukan ? jika hanya di habiskan untuk meladeni suami arogan seperti dia.
Riri pun berbalik dengan memperlihatkan senyum termanis yang dia punya, padahal di balik layar sebenarnya ingin sekali menyumpal mulut Zao dengan apapun, kain lap kalo ada.
'' Baik tuan dengan senang hati '' Jawab Riri dengan menekan expresi mengolok. Kemudian berlalu menuju kamar bathroom meninggal kan Zao yang masih berdiri di sana.
Zao tersenyum kecil mengingat tingkah dan senyum manis wanitanya.Meskipun terkadang menjengkelkan tetapi tak bisa di pungkiri dirinya semakin hari semakin jatuh hati terhadap nya.
Dan dia berjanji suatu hari nanti akan membuat hati wanitanya jatuh lebih dalam dari perasaannya.
__ADS_1
''