
Seperti ada sesuatu yang kosong yang Riri rasakan setelah kepergian Zao. Entah kenapa hatinya begitu gelisah dan resah hanya karna panggilannya tidak di angkat oleh pria yang beberapa hari ini memenuhi pikiran nya.
'' Aku pikir dia lupa tidak memberiku kabar, ternyata saat aku beranikan menelfonnya ponselnya berdering tetap tidak di angkat. Berhari-hari aku menunggu tetap juga tidak ada telfon balik. Apa sebegitu tidak pentingnya aku buat dia. Apa aku terlalu merepotkan sehingga dia harus pergi tanpa kepentingan seperti itu. '' Sedih Riri meratapi nasib pernikahannya yang menggantung.
Sejak awal Riri memang sudah mengira-ngira kepergian Zao yang begitu mendadak dengan menitipkan secarik surat untuknya.Tetapi ia se berusaha mungkin menepis pikiran negatif seperti itu, ia selalu meyakinkan diri kalau kepergian Zao semata karna bisnis pekerjaan.Tetapi dugaannya ternyata benar ketika tidak sengaja mendengar obrolan bu Laras ketika sedang berbicara dengan seseorang melalui telfon yang dengan jelas bu Laras sedang bertanya kepada seseorang yang ditafsirnya adalah pak Lee.
''Pah bukannya kemarin Zao meminta cuti buat istirahat tetapi kenapa istrinya datang dan mengatakan kalau Zao sedang perjalanan bisnis untuk beberapa hari? tanya bu Laras yang tidak menyadari ada orang lain yang mendengar obrolannya. Dan bla-bla.. semua obrolan tersebut tidak sengaja di dengar oleh Riri, semuanya.!!!
Seketika semua badan Riri lemas tidak bisa di gerakan. Lalu hal penting apa yang Zao lakukan di sana sedangkan dia cuti.Tetapi bukan kah dia juga punya perusahaan sendiri, dia cuti kan dari perusahaan keluarga , sementara perusahaan miliknya dia bekerja.
Riri kembali menyemangati dirinya.Dia menjadi bingung sendiri kenapa harus securiga itu terhadap Zao. Sementara jika sedang bersama saja mereka selalu bertengkar dan jarang mengobrol.Bahkan bersikap layaknya pasangan suami istri saja tidak.
Sungguh rumit skenario yang Alloh berikan.
Di tempat yang berbeda nan jauh namun masih berada di bawah langit yang sama.
Seorang pria nampak sedang menikmati kesendiriannya dengan menatap langit malam yang terlihat begitu terang , karna begitu banyak bintang gemerlapan di sana.Ia yang awalnya hanya ingin membantu Kevin dan Darel karna merasa bosan tidak melakukan apa-apa , menjadi sibuk beneran karna sudah terlanjur ikut dan melihat semuanya. Al hasil sampai tidak menyempatkan diri untuk menghubungi Riri. Dan begitulah Zao yang sesungguhnya jika sudah sibuk dengan kata Pekerjaan. Dia begitu disiplin, serius dan bertanggung jawab tentang keberhasilan setiap pekerjaannya.
Ia meragukan perasaannya sendiri. Kenapa? entah dia sendiri tidak punya alasan. Hanya saja mengapa ia menikahi seseorang secepat itu. Apa memang karna cinta atau karna terpaksa ingin lari dari perjodohan yang dibuat keluarganya bersama keluarga Rahel.Terpaksa? tapi cinta tapi kangen terus meski baru beberapa hari tidak melihatnya.
Menyesalkah? sepertinya tidak. Tidak ada yang di sesalinya. Hanya saja dia tidak tahu harus memulai hubungannya dari apa? Zao bukanlah tipikal pria yang mudah dekat maupun di dekati, sementara Riri bukan juga tipikal gadis yang mudah berteman apalagi dengan seseorang yang belum terlalu lama mengenalnya. Contohnya dirinya. Sampai sekarang sikapnya tidak berubah masih menganggapnya orang asing.
__ADS_1
Thok thok...
Suara ketukan pintu dari pintu kamarnya.
''Masuk.. '' kata Zao datar.
Seperti yang sudah di perintahkan oleh bosnya, Kevin pun masuk dengan membawa benda pipih kesayangan milik tuannya yang tidak sengaja tertinggal di ruang kerja tempat Kevin dan Darel lembur menyelesaikan tugas mereka. Tadi Zao sempat berkumpul bersama kedua asistennya hanya untuk seputar mengobrol pekerjaan.Tetapi karna kepalanya yang tiba-tiba merasa pening ia kembali menuju kamarnya.
Dan disinilah Zao sedang tersenyum senang men scrool layar ponselnya setelah beberapa hari sibuk dan melupakan benda tersebut.
Lima panggilan tidak terjawab dari Riri beserta beberapa pesan perhatian yang ditujukan untuknya. Rasanya ingin sekali Zao bertepuk tangan yang meriah untuk dirinya karna sudah berhasil membuat Riri mengkhawatirkannya atau bisa jadi sudah sampai level membuatnya Rindu. Tetapi cukup bertepuk tangan di dalam hati, mengingat masih ada Kevin di ruangan tersebut. Saking fokus dan senengnya sampai lupa belum mengusir Kevin dari kamarnya.
''Kau bisa pergi. '' Zao mengintruksi asistennya.
Drrtttttt...
Riri yang tidak bisa tidur terpaksa keluar kamar menuju balkon, menatap pemandangan malam di atas sana. Udara dingin mengibas-ngibasi tubuhnya melalui angin malam yang sepoi. Namun semua itu tidak dirasakannya karna yang ia cari kali ini hanyalah kenyamanan.Sepi, sunyi dan semua itu mengingatkannya dengan kehidupannya dulu. Jauh sebelum pernikahannya bersama sang mantan gagal, begituan dengan keluarganya yang terbilang masih jaya belum mengalami kebangkrutan. Sungguh hidupnya dulu sangat menyenangkan. Layaknya burung yang bebas terbang sesuka keinginan hatinya.
Tiba-tiba saja ponselnya bergetar , tiba-tiba ia merasa bersemangat ketika nama Zao yang tertera di layar ponsel.
Setelah menggeser tombol hijau.
__ADS_1
''Assalamungalikum.. '' Zao mengucap salam terlebih dulu.
''Wangalaikum salam.. ☺ '' entah mengapa wajah Riri begitu merona hanya karna menjawab salam dari sang suami.
''Maaf dari kemarin sibuk kerja sampe gak megang handphone. '' kata Zao lagi.
'' Hmz... '' Jawab Riri singkat karna tidak tahu harus menjawab apa. Mau bilang gak papa pun kenyataan nya dia tidak baik-baik saja sewaktu dia tidak mengabari dan tidak bisa di hubungi.Tetapi mau marah dan merajuk pun dirinya siapa? hanya istri yang dinikahinya dadakan.Ya f5sudah akhirnya hmz aja yang keluar dari mulutnya.
''Kok hmz? kamu marah? tanya Zao sambil mengulum senyum, karna dia bisa melihat ada gurat kerinduan di mata hitamnya.
'' Memang boleh. '' ceplos Riri kelepasan. Dan langsung memalingkan wajahnya dari layar ponsel.
Zao jadi semakin bersemangat ketika mendengar suara perempuan yang kini sudah sah menjadi istrinya itu merajuk dengan wajah yang ditekuk serta pipi merona dan bibir yang dimonyongkan kedepan.Ingin sekali ia memakan bibir seksi didepannya tersebut, jika saja tidak terhalang jarak seperti sekarang.
'''Owh jadi ceritanya lagi ada yang ngambek nih gara-gara telfonnya gak diangkat. '' ledek Zao kemudian sambil memperlihatkan expresi tampangnya yang sok imut.
'' Apa'an sih. GR.. '' Riri mencebik sambil memperlihatkan wajah biasa-biasa saja padahal di dalam hati ia sedang sangat malu karna pikirannya ketebak oleh sang suami.
''Owh jadi yakin nih ngambeknya bukan gara-gara saya nggak ngasih kabar.. terus karna apa donk. '' Zao masih berusaha menjebak Riri dengan pertanyaan nya.
''karna....'' Riri berfikir sejenak.
__ADS_1
'' Khawatir Iyah khawatir, takut kenapa-kenapa di jalan, kan gak lucu baru ganti status nikah besoknya udah ganti status jadi janda. '' ceplos Riri yang sudah kehabisan kata-kata.