
'' Maafkan saya tuan, saya tidak bermaksud apa-apa
maaf. '' kata mang umar dengan wajah pucat.
Zao melirik ke arah Riri , meminta keputusan dari gadis itu.Sementara yang di lirik malah acuh tak acuh bermain ponsel.
'' Kau di pecat. '' kata Zao dingin sambil keluar dari mobil bahkan tanpa menunggu mang Umar membukakan pintu seperti yang biasa di lakukan Kevin asistennya.
Riri yang sejak tadi hanya pura-pura tidak mendengar langsung terperanjak kaget mendengar kata pecat yang di ucapkan Zao.
'' Non tolong saya non, saya masih ingin bekerja untuk menafkahi keluarga saya. '' mohon mang Umar berkaca-kaca.
'' Mang umar tenang saja, yang penting berjanjilah untuk tidak teledor aku akan mencoba bicara lagi dengannya. '' Kata Riri sambil keluar menyusul Zao yang tinggal kelihatan punggungnya saja.
''Tuan, tunggu... '' setengah berteriak memanggilnya.Namun yang di panggil terus saja jalan tak menghiraukan.
Aku pun langsung setengah berlari untuk bisa menyamainya yang malah sekarang sudah masuk ke dalam salah satu butik.
Klek.
Aku membuka pintu butik tersebut yang mana langsung mendapat sambutan ramah dari pegawainya.
''Selamat datang di Boutique Zara. '' kata pelayan tersebut sambil tersenyum sangat ramah.
Gaun-gaun glamor terpampang di menekin dengan begitu indah dengan beraneka ragam warna, bahan dan desain. Dari aksesoris yang menempel di baju tersebut sudah bisa di tebak harganya pasti sangat wowwww sekali.Aku berjalan lagi melihat gaun pengantin yang menurutku paling berbeda dari yang lain. Rendanya terbuat dari campuran benang dan serat emas murni lalu tebaran mutiara yang terpasang rapi menghiasi bagian muka gaun menambah kesan berkelas dan sangat mewah.
'' apa kau suka? bisik seseorang di telinganya.
Membuatnya terkaget dan reflek menoleh keasal suara tersebut.
Deg.
Seperti biasa detak jantungnya selalu berdetak tidak normal jika terlalu dekat dengannya, namun buru-buru di tepis karna tidak ingin kecolongan seperti yang dulu. Di tinggal pas sudah sayang-sayangnya.Apa lagi mengingat siapa orang di sampingnya itu , sementara dirinya hanyalah gadis biasa yang kalau di lihat dari segi manapun tidak akan pernah pantas untuk bersanding dengannya.
'' Eh, tuan...dari mana saja aku mencarimu sejak tadi.
''Benarkah? sindir Zao yang tahu kalau ia sedang berbohong.
__ADS_1
''Hehe awalnya memang benar aku mencarimu, tapi karna melihat pesona mereka aku jadi lupa tujuanku. '' kata Riri jujur, karna berbohong pun sepertinya dia juga tidak akan percaya.
''Tuan,,,, '' panggil Riri lagi.
''Hmz... '' jawab Zao sok cuek.
'' Ada yang mau aku omongin sebentar '' kata Riri lirih takut kalau permintaannya di tolak.
'' Yah sudah tinggal ngomong saja. '' Kata Zao masih dalam mode cuek.
'' Di sini? bingung Riri. Masa iya berbicara penting sambil berdiri tidak etis lah.
'' memangnya kamu mau dimana hmz... '' Zao yang semula kesal menjadi tidak tahan untuk tidak menggoda Riri kalau sudah begini.
'' Eh, maksudnya kita mau ngobrol di tempat duduk yang mana masa iya sambil berdiri. '' terang Riri gelagapan. Dasar mesum, umpatnya dalam hati.
'' Ada yang bisa saya bantu tuan,... '' salah satu pelayan tiba-tiba datang .
'' Saya mau gaun yang warna itu. '' perintah Zao seperti biasa dingin.
'' iya. '' jawab Zao singkat sambil berlalu ke tempat duduknya.
'' sebentar ya mbak. '' kata Riri sambil menghampiri Zao yang sedang asyik bermain ponsel.
'' tuan, maksudnya apa menyuruh saya memakai gaun itu... '' protes Riri karna seingatnya dia memang akan menikah dengan tuan Zao tapi juga bukan berarti secepat itu.
'' waktu kita tidak banyak, orang tuaku sudah menunggu kedatangan kita di Mansion utama. '' jelas Zao tanpa menoleh Riri dan tangannya tetap sibuk menari di atas layar ponsel.
'' secepat itu? kali ini Riri bertanya bukan lagi dengan nada kesal melainkan dengan suara yang bergetar.
Seketika juga Zao langsung menghentikan aktifitasa bermain ponselnya dan menatap manik hitam milik calon istrinya yang sudah berkaca-kaca.
'' Bukannya kemarin sudah di putuskan aku akan menikahimu setelah pulang dari London, dan sekarang aku sudah pulang, lalu apa yang harus di tunggu lagi. '' terang Zao sambil menarik gadis itu untuk duduk disampingnya.
''Tidakah kau ingin memberi waktu untuk aku bisa meyakinkan perasaan ku? jujur trauma itu masih terus menghantuiku sampai saat ini. '' Kata Riri yang mulai ter'isak dengan wajah yang tertutup kedua tangannya.
Zao menghela nafas panjang, mencoba sesabar mungkin dalam mengkontrol emosinya.
__ADS_1
'' tidak ada. '' jawabnya tegas yang langsung membuat gadis itu memperlihatkan wajah menyedihkannya itu.
'' kau egois. '' kata Riri kemudian.
'' biarkan saja, lagi pula kita menikah juga di atas kertas jadi kau tidak usah berbesar kepala hanya karna aku menikahimu.Karna sampai kapanpun kita berbeda dan jangan lupakan siapa saya. '' kata Zao terpaksa menggunakan kalimat menyakitkan itu agar gadis itu tidak lagi semena-mena terhadap perasaan tulusnya.
Deg.
Perih, hatinya lansung begitu sesak ketika mendengar Zao mengucapkan kalimat sadis tadi.
Ia sadar dirinya mungkin memang tidak tahu diri dan sudah bersikap terlalu jauh mengartikan keakraban yang terjadi antara seorang pelayan dan majikan.Sehingga ia berani mengatakan semua uneg-unegnya tadi.Dan satu hal yang untuk kedepannya tidak akan pernah ia lupakan lagi. Hutang keluarganya, ia bertekad akan mengembalikannya dengan uang hasil keringatnya sendiri agar sejarah tidak akan pernah mengungkit
yang akan menjadi aib keluarganya ketika rumah tangganya nanti bersama Zao sedang mengalami masalah.
'' Maaf. '' kata Riri singkat sambil berjalan ke ruang ganti sesuai arahan pelayan.
Beberapa menit kemudian,
''Wah nona lihatlah baru di poles sedikit saja aura kecantikan mu langsung terpancar. '' puji pe-make up handal yang sebelumnya sudah di panggil untuk datang ke butik tersebut oleh asisten Kevin.
Sekarang tinggal memakai gaun warna Navi itu untuk diperlihatkan kepada tuan muda Zao.
Zao yang sedang meminum lemon jus sampai tersedak ketika melihat seperti apa cantiknya gadis yang akan ia nikahi besok di dalam balutyan gaun mewah berwarna navi. Kulitnya yang putih semakin membuat gaun itu terlihat berlipat-lipat lebih cantik dan indah ketika bertempelan dengan tubuhnya.
''Hati-hati tuan. '' kata pelayan sambil berinisiatif mengambilkan tisu untuknya. Tetapi langsung di tinggal pergi begitu saja oleh Zao.
Ibarat permaisuri yang sedang menunggu kedatangan pangerannya.Riri tersipu malu dengan rona merah di pipinya ketika di lihati aneh oleh para petugas dan pelayan butik.
Kini matanya beralih menatap sosok tampan bak pangeran yang sedang berjalan ke arahnya.
Senyumnya seketika langsung surut dan berslih ke mode tanpa expresi.Entahlah hatinya merasa patah ketika ia berkata pernikahan di atas kertas.
Merasa sakit hati dan sebagian hatinya yang patah tanpa tau penyebab yang sebenarnya.
'' Jelek sekali aku ingin kalian mengganti pakaiannya. '' kata Zao yang langsung membuat kaget semua pelayan beserta pe-make up handal meradang dengan mulut yang terbuka lebar.Tak percaya.
'
__ADS_1