
Ke'esokan paginya Zao bangun lebih dulu setelah semalaman tidur di sofa.Ia pun melirik ke ranjang dimana sang istri masih larut dalam mimpinya.
Baru ia akan naik ke ranjang menyusul sang istri yang masih nyaman memeluk guling dengan baju yang sedikit tersingkap ke atas, membuat pantatnya yang seksi dan montok tersebut terasa sayang jika di lewatkan begitu saja. Di tambah lagi gunung kembarnya yang terbilang cukup besar dari rata-rata gadis seusianya.Sebagai laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya tentu saja ia gemas dan sudah tidak tahan untuk tidak terburu-buru meminta hak nya.
Terhipnotis dengan pesonanya membuat ia tak ingin mengalihkan pandangannya barang sedetik pun dari tubuh molek sang istri.
Di rapikannya anak rambut yang menutupi sebagian wajahnya dengan pelan, takut Riri akan terbangun dan menggagalkan rencananya untuk memberikan kejutan berupa sensasi nikmat yang sudah seharusnya di kerjakan oleh pasangan suami istri sejak pada malam pertama dan untuk malam- malam panjang seterusnya.
Dari merapihkan anak rambut, tangannya kini mulai turun mengusap lembut bibir ranum berwarna pink natural itu.Mungkin karna masih sangat mengantuk membuat Riri hanya melenguh dan bergerak saja tanpa mau membuka mata.
Zao semakin tersenyum geli melihat tingkah Riri yang menurutnya sangat menggemaskan.
Namun tiba-tiba saja pintu di ketuk dari luar yang mana bukan hanya Zao yang di buat terkejut tetapi juga Riri yang langsung ikut terbangun gagap.
''Astaughfirulloh.. Sudah jam berapa ini? loh tuan ngapain di sini ? tanya Riri dengan raut polos dan nyawa yang belum terkumpul sempurna.
Zao yang berada di samping ranjang tempat Riri tidur langsung menatap perempuan tersebut dengan tatapan horor bercampur kesal.
'' Ternyata begini yang di namakan bertepuk sebelah tangan. '' Zao merasa dongkol dengan sikap Riri yang seolah terus-menerus menganggapnya asing.
Ia pun berlalu tanpa menggubris pertanyaan konyol
yang menyakiti hatinya, menuju pintu yang masih terus di ketuk dari luar.
'' Kamu di pecat. '' kata Zao setelah membuka pintu kamar hotel nya.
Terlihat jelas wajah blo'on dari pelayan yang berniat baik untuk mengantarkan sarapan pagi untuk presdir si tamu kehormatan.Namun siapa yang menyangka jika Zao adalah pemegang saham terbesar di hotel tersebut.
Riri yang sudah mendapatkan kembali separuh nyawa yang tadi sempat belum terkumpul langsung turun dan berjalan tergesa menuju suaminya yang terdengar sedang memarahi seseorang.
'' Tuan,,,, '' panggilnya lirih sambil mengusap punggung Zao.
__ADS_1
Namun Zao tetap cuek dan terkesan menutup telinga dari panggilannya.
'' Pergilah kau sudah tidak di butuhkan. '' ujar Zao pada pelayan wanita yang sedang menunduk sedih
dengan nasibnya.
Riri membelalakan matanya mendengar hal- berat yang diucapkan se enteng itu oleh Zao.Akhirnya setelah beberapa kali panggilannya tidak di hiraukan oleh sang suami, Riri pun nekat menerobos pintu yang sudah jelas-jelas ada suami yang berdiri di sana.
Al hasil Zao yang tidak siap menerima dorongan tiba-tiba yang dilakukan oleh Riri hampir membuat nya terjerembab jatuh ke lantai jika kakinya tidak sigap menahan berat dan tinggi badannya.
Sementara Riri bukannya sukses dengan misi menerobos yang baru saja ia coba, justru malah sebaliknya.Ia tersandung kaki panjang Zao lalu membuat keduanya jatuh di lantai bersam'an dengan posisi yang jauh dari espektasi romantis. Sementara Riri malah jatuh terduduk di atas punggung Zao yang jatuh tengkurap di lantai.Persis seperti menunggang kuda yang lumpuh.Karna badannya yang betul-betul menempel-pel dengan lantai.
Pelayan yang masih di sana sampai melotot tak percaya. Mau tertawa takut kena marah al hasil ia hanya mengulum senyum pada suami istri di depannya.
''Awww Riri.... '' teriak Zao seraya mencoba bangun dari posisinya. Sementara Riri sudah langsung bangun setelah di teriaki Zao tadi.
'' Maaf tuan. Aku tadi hanya mau numpang lewat. '' kata Riri lirih sambil menunduk tak berani menatap Zao.
gerutu Zao kesal dengan mode dingin kesayangannya.
''Sudah, tapi.... '' Ucapan Riri terhenti, seketika Ia berfikir jika ia membela diri masalah tidak akan selesai cepat.
''Tapi apa hemz.. ? tanya Zao sambil menelisik penampilan bangun tidur istrinya yang mungkin dia sendiri tidak menyadari.
'' Aku minta maaf dan tolong jangan pecat dia. Semalam dia sudah berjasa meminjamkan mukenanya untuku. '' kata Riri dengan penuh harap .
Ia begitu merasa bersalah jika sampai tidak bisa mengendalikan ego suaminya yang selalu semena-mena terhadap bawahan. Apa lagi saat tahu yang di pecat adalah pelayan yang semalam ia pinjam mukenanya.
Zao tersenyum miring, jujur saja ia masih kesal dengan istrinya yang tidak peka terhadapnya dan juga dengan hasrat panas yang tiba-tiba harus di hentikan paksa.
''Urusanmu apa urusannya denganku. '' kata Zao ketus sambil masuk kembali ke kamar dan langsung di susul cepat oleh Riri.
__ADS_1
'' Tuan tunggu... '' kata Riri sambil memeluk tubuh Zao dari belakang.
Deg... deg. deg.
Jantung Zao semakin berdetak cepat mendapat pelukan untuk yang pertama kalinya sejak ia jatuh hati terhadap Riri. Sudut bibirnya terangkat tipis.
Sementara Riri entah keberanian dari mana, tiba-tiba saja ia ingin memeluk Zao.Dengan lirih ia berkata.
''Maafkan aku, sudah membuat kamu kecewa, karna belum bisa menjadi istri ideal yang bisa dan tau keinginan kamu. Tapi mulai saat ini, tak peduli seperti apa kamu menganggap pernikahan kita ini, aku akan belajar terus untuk memahami kamu. Dan tolong jika ada yang tidak kamu suka katakan. Jangan lalu diam dan mengabaikan.Karna di abaikan itu rasanya sakit. '' Pintar Riri sambil menahan cairan yang sudah mulai menghangat di pelupuk mata.
Zao tersenyum, karna memang momen ini yang paling di tunggu-tunggu sejak ia mengucapkan ijab qobul. Momen dimana Riri mengakui ia sebagai suaminya.
Zao pun berbalik sambil masih memegangi ke dua tangan Riri. Tak ingin Riri lepas memeluknya.
Kini keduanya saling berhadapan satu sama lain.
'' Maafkan aku terlalu memaksa perasaan mu. '' ucap Zao tulus sambil menangkup pipinya.
Ces...
Kali ini air mata Riri yang sejak tadi ditahan langsung lolos dan jatuh di tangan Zao. Riri tak tahu lagi harus bagaimana? ada bahagia yang belum bisa sepenuhnya ia tampilkan karna masih takut dan trauma dengan bayang-bayang masa lalu ketika di tinggalkan.
'' makasih... '' ucap Riri kemudian.
'' Untuk ? tanya Zao sambil mengurai pelukannya.
Karna pasalnya obrolan terakhir adalah Zao sedang meminta maaf tetapi kenapa Riri malah berterimakasih.
''Semuanya... '' jawab Riri dengan pipi merona karna salting di tatap se intens itu oleh Zao.
.
__ADS_1