
Sebelum pulang aku terlebih dulu mengantar Nayla sahabatku baru setelah itu menuju rumahku sendiri. melirik spion mobil berharap kedua buntut itu tidak lagi mengikutiku tetapi harapanku pupus karna ternyata mereka masih ada dan terus membuntut.
Sial,,,, kenapa nasib itu selalu terjadi padaku,tidak bisakah di berikan kepada orang lain dulu, rasanya saat ini kepalaku benar-benar mupeng saking penuhnya pikiran.
Tak dirasa aku sudah sampai di depan gerbang rumahku, tak perlu mengklakson dua kali pintu gerbang sudah terbuka.Setelah memarkir mobil dengan berjalan malas akupun memasuki rumahku ups ralat rumah orang tuaku maksudnya he he..
Assalamungalaikum,,, '' salamku sambil membuka pintu.
''Bun,,,, '' panggilku mencari bunda. Hening tidak ada jawaban aku cari ke dapurpun juga tidak menemukannya. Hanya ada bibi yang sedang berkutat dengan cucian piring di sana.
''Bunda kemana? tanyaku yang tidak sengaja membuat wanita paruh baya itu berjengit kaget.
''Eh, non Riri? katanya dengan expresi kaget.
''Pasti nyariin bunda ya non,, ?ucapnya lagi.
''Iya bik kemana memangnya? tanyaku penasaran.
''Tadi sih di jemput sama sopir kantor katanya ada urusan penting non.. '' terangnya.
''Owh kalau Dinda?
''Kalau non Dinda tadi udah pulang terus pergi lagi. ''
''Gak ngomong mau kemana bik?
''Enggak sih non, tapi pas di tanya katanya mau party di rumah temen.owh ya non Riri mau di masakin apa?
''Nggak usah bik, masih kenyang. Ya udah Riri ke atas duluan yah.. '' pamitku sambil tersenyum dan segera bergegas ke atas.
Drrtttttt.
Belum juga mendaratkan tubuhku di kasur lagi-lagi sebuah panggilan mengganggu . Siapa lagi sih tidak bisa apa membiarkan otaku rehat sejenak tanpa kepikiran apapun.'' gerutuku sambil merogoh ponsel di dalam sling bag yang barusan ku pakai.
''Hah,,,, '' beoku tak percaya ketika melihat nama yang tertera diatas layar ponselku.
Deg, deg deg... perasaan itu sama sekali tidak berubah dan entah kenapa aku menjadi dilema seperti ini.. ingin dibiarkan tapi rindu suaranya tetapi dijawab pun takut dosa secara aku sudah menyetujui perjanjian dengan tuan Zao untuk menikah dengannya dengan imbalan keluargaku bisa hidup bahagia tanpa dikejar -kejar hutang serta tanpa di bayangi kata penjara.
__ADS_1
Lama aku berfikir sambil bermonolog dengan diri sendiri hingga aku melihat ia menelfon sampai beberapa kali dan aku memutuskan untuk tidak menjawabnya.
Biarlah sudah, yang berlalu yah sudah berlalu saja toh ini sudah menjadi pilihannya kalaupun ia menelfon tidak ada hubungannya dengan perasaan, aku fikir semuanya sudah selesai dan tidak ada yang perlu di bicarakan apapun itu.
Tak berselang lama ponselku kembali berdering namun kali ini bukan panggilan yang sama yang sejak tadi menghubungiku melainkan panggilan dari seseorang yang sangat, sangat menyebalkan.Yah siapa lagi kalau bukan Zao lee.
''Angkat, tidak angkat..mmmm.Ya udah deh dengan malas dan rasa kesal yang belum sepenuhnya hilang akupun langsung menggeser tombol hijau, mau bagaimanapun dia baik selain sudah membantu keluargaku dia juga calon imamku yang
harus aku hormati dan jaga perasaannya juga.
''Kenapa ngangkatnya lama? tanya Zao posesif.
'' Tadi habis dari kamar mandi... '' elaku terpaksa berbohong.
''Yakin? bukan karna lama mikir?! '' tebak Zao tepat sasaran.
''Kalau sudah tahu kenapa bertanya... '' Kesalku kembali ketus.
Ha ha ha.... suara tawa Zao dari sebrang telfon.
Zao yang sudah tidak tahan mendengar suara calon istrinya yang merajuk itupun langsung mengganti panggilan suara menjadi video call.
Tak membutuhkan waktu lama, wajah menggemaskan yang sejak tadi ditunggunya itupun muncul.
''Gak usah cemberut gitu deh tambah cantik tau nggak.. '' Kata Zao mengeluarkan rayuan mautnya..
''Ish apaan sih gombal... '' Kata Riri dengan wajah yang sudah bersemu merah.
Riri melihat sekeliling ruangan Zao yang nampak seperti ruangan kerja dahinya pun berkerut karna tidak habis berfikir bagaimana bisa orang itu bukannya beristirahat setelah menempuh perjalanan jauh eh malah sudah berada di ruang kerja.
''Kenapa menatapku seperti itu? baru sadar kalau aku ini sangat tampan?! kata Zao seperti biasa memuji dirinya sendiri.
''Haha percaya diri sekali,, tapi ngomong-ngomong tuan kapan sampainya kenapa tidak beristirahat dulu dan malah sudah langsung sibuk di meja kerja?
Zao langsung tersenyum sumringah padahal hanya ditanya seperti itu, tetapi hatinya sudah langsung bermekaran.
''Kau itu penasaran atau perhatian? godanya yang lagi - lagi berhasil membuat wajah gadis itu bersemu merah.
__ADS_1
'' Kalau dua-duanya memang kenapa? tanya Riri yang semakin merasa tertantang.
''Owh rupanya calon istriku sudah ada kemajuan dalam menggoda calon suaminya... baiklah aku akan menyuruh...
Ceklek.
''Hei kamu lama sekali aku sudah sangat lama menunggumu dihotel sendirian... ''
Deg.
Zao dan Riri sama-sama terkejut dengan suara serta kedatangan sosok perempuan cantik yang tiba-tiba masuk dan bergelayut manja di lengan kekar Zao.
''Kenapa tidak mengetuk dulu sebelum masuk. Kata Zao berubah dingin.
Sementara di tempat lain Riri tiba-tiba merasakan sesak di dadanya, entah itu perasaan apa yang jelas dia tidak nyaman melihat Zao bersama perempuan tadi.
Rahel terdiam, dia tahu kalau Zao sudah marah mahluk tampan itu akan berubah menjadi sangat dingin dan menyebalkan.
'' Sayang aku tutup telfonnya dulu, kamu hati-hati jangan lupa makan dan sholat ok. '' Kata Zao tiba-tiba berubah sangat perhatian.
Sementara Riri hanya mengangguk kecil dengan perasaan entah.Dan kemudian melempar ponselnya ke sembarang tempat setelah Zao mematikannya.
Rahel yang mendengar Zao memanggil seseorang dengan sebutan sayang, seketika langsung mematung aliran darahnya bak berhenti mengalir.
Ini memang bukan pertama kalinya ia mendengar secara langsung, namun yang membuatnya kecewa adalah tentang dirinya yang sudah menarik harap besar untuk bisa mengambil hatinya yang kata orang tua Zao dia sedang patah hati dan baru mendapat kenyataan kalau pacarnya yang dulu itu selingkuh di belakang nya.Tetapi apa ini kenyataan yang baru saja ia ketahui Zao sudah dengan cepat mendapatkan pengganti dan itu artinya ia harus berusaha keras agar acara perjodohan yang diam-diam direncanakan keluarganya beserta dengan keluarga besar Lee harus segera terlaksana.
''Kenapa hanya diam, apa kau tidak mendengarku sedang bertanya?!!
Rahel langsung terkesiap dan sesegera langsung memasang wajah sedihnya yang membuat Zao tambah semakin kesal, karna Zao tidak akan pernah bisa marah jika sudah melihatnya seperti itu.
''Maaf aku tadi sudah mengetuk pintu berkali-kali
tetapi tidak ada jawaban, maaf sudah lancang. '' Sesalnya sambil menunduk tak berani menatapku.
Hufh,,, aku, membuang nafasku kasar lalu berbalik tidak tega menatapnya.
''Baiklah, kau mau meminta kemana? tanya Zao tak jadi marah.
__ADS_1