
Pagi hari Riri terbangun lebih dulu dari suaminya,saat hendak beranjak bangun dari tempat tidur ia kembali merasakan nyeri yang membuatnya meringis kesakitan.''ah kenapa rasanya ngilu sekali hem.''keluhnya dengan pasrah.
Riri memandang Zao yang sedang tertidur pulas,meskipun penampilannya yang berantakan karena aktifitas semalam, ia masih tetap terlihat tampan dan bahkan sangat tampan.Riri kembali duduk demi memandangi wajah bangun tidur milik Zao yang begitu menarik perhatiannya.Tanpa sadar tangannya mulai bergerak membelai wajah tampan pria yang sudah berstatus menjadi suaminya itu.
''Sudah sejauh ini ku harap kedepannya kita bisa saling mencintai layaknya sepasang suami istri.'' Air mata tanpa sadar membasahi pipi Riri bertepatan dengan Zao yang sebenarnya sudah bangun sejak tadi dan mendengar kata-kata yang baru saja istrinya ucapkan.
''Kenapa menangis? suara serak khas bangun tidur Zao membuat Riri tertegun?
Cepat-cepat Riri menghapus air matanya yang sudah terlanjur dilihat Zao.
''Kau sudah bangun,aku akan siapkan keperluanmu.''Hendak menghindar namun sudah tidak bisa karena Zao malah menarik Riri ke dalam pelukannya.
''Jawab dulu pertanyaan saya barusan.''Zao sambil membelai lembut rambut sang istri.
''Karena kamu siapa lagi.'' celetuk Riri.
Zao menaikan sudut alisnya.''saya? apa karena semalam?? bukankah kamu juga begitu menikmati hem..
Wajah Riri merona malu bercampur kesal,pasalnya suaminya begitu cepat melupakan kesalahannya sendiri sedangkan Riri masih ada sedikit dendam dan sakit hati mengingat perlakuan kasar yang di terimanya hari kemarin.
''Ih bukan itu gak nyambung banget deh.'' gerutu Riri dengan wajah manyun alias cemberut.
Zao mencoba berfikir mengingat-ingat kejadian tempo hari dan astaga,kenapa Riri merasa yang paling tersakiti di sini.
Riri masih cemberut suaminya itu memang tidak peka, hal sebesar itu begitu entengnya dia lupakan.
''Owh jadi kamu marah yang gara-gara aku mukulin cowok kamu?!
''Cowok aku? bisa-bisanya ngatain istri sendiri kaya gitu emang aku serendah itu.
Asal kamu tau yah,aku sama kak Al itu tuh udah berteman sejak kami kecil dan aku udah anggap dia seperti kakak aku sendiri.
Zao menyipitkan matanya berusaha mendalami dan membaca pikiran sang istri.Entah kenapa malah dia yang berujung kena omelan.
__ADS_1
''Mau dia sudah di anggap kakak atau sahabat atau apalah,tetap aja dia itu seorang pria dan kamu wanita kalian tetap tidak bisa satu atap seperti itu,apalagi status kamu istri saya.'' Zao mencoba memberi pengertian berusaha menurunkan nada bicaranya se sabar mungkin.
''Aku mengenal betul kak Al,dia bukan pria semacam itu,sejak kecil dia yang menjagaku,justru aku tidak mengenali suamiku sendiri yang malah bermesraan dengan wanita lain,sedangkan dengan istrinya ia sangat kasar sampai memarahinya di depan banyak orang.
Termasuk di depan selingkuhannya.''
Riri berbicara dengan suara datar tidak dengan nada tinggi,karena sejatinya ia sedang menyindir suaminya.
Deg.
Bak di sambar petir ia mendengar perkataan istrinya,Zao mengingat kembali kejadian kemarin di cafe.Dimana ia datang bersama Rahel dan tanpa alasan yang jelas memarahi Riri padahal itu di tempat umum.
''Maafin saya,tolong jangan salah paham saya bisa jelasin semuanya.''Zao meraih tangan Riri yang hendak pergi.
Riri menghempaskan tangan Zao yang berusaha untuk menjelaskan kejadian kemarin.lalu masuk ke dalam kamar mandi dan menguncinya.Di dalam sana ia menangis sejadi-jadinya.Kejadian kemarin begitu menyakitkan.Sesak sekali dadanya mengingat kejadian demi kejadian yang menimpanya bertubi-tubi.
Zao tahu istrinya sedang emosi,jadi dia memberikan ruang supaya Riri mendapat ketenangan.Zao memilih mandi di kamar bawah.Dan meminta pelayan supaya menjaga istrinya dan menyiapkan keperluan sang istri.
Zao memasuki ruang kerjanya dengan pakaian santai.Hari ini dan selama satu minggu ke depan ia akan menghabiskan waktu di rumah menemani sang istri,ia akan bekerja dari rumah dan soal urusan kantor sudah ada Kevin dan anak buahnya yang bisa selalu di andalkan.
Riri berdiri di depan cermin,memandangi tanda merah yang masih membekas di lehernya.Ulah siapa lagi kalau bukan
suaminya yang super duper ngeselin.
Seulas senyum terbit dari ujung bibirnya,hatinya tidak bisa bohong.Mungkin mulut bisa berkata tidak tetapi tentang hati siapa yang tahu?!
''Zao itu sueper nyebelin tapi aku suka.'' tanpa sadar Riri keceplosan mengatakannya.Lupa kalau Zao selalu memantau aktifitasnya.Ia pun langsung membungkam mulutnya rapat-rapat.
''Ngomong-ngomong apa dia sudah berangkat? Riri hendak keluar tetapi seorang pelayan sudah lebih dulu masuk membawa sarapan pagi untuknya.
''Permisi non,maaf saya lancang masuk ke kamar,ini sarapannya dimakan ya non.''
''Iya gapapa bik.Sellow aja.Oh ya apa suamiku yang menyuruhnya?
__ADS_1
Pelayan tersebut mengangguk.
''Apa dia sudah berangkat ke kantor? tanya Riri dengan penasaran.
''Sepertinya tuan tidak kemana-mana.Tadi bibi lihat tuan hanya menggunakan pakaian santai dan masuk ke dalam ruang kerjanya non.''kata pelayan tersebut apa adanya.
''Hah.Jadi dia tidak berangkat?..'' pikir Riri dalam hati.
''Maaf non kalau begitu,bibi pamit mau ke dapur lagi.''pamitnya dan di angguki ramah oleh Riri.
Riri bukannya makan tetapi malah mondar mandir seperti setrikaan.Apa dia sedang sakit sampai tidak masuk kerja??begitulah kira-kira isi kepalanya sekarang.
Di dalam ruangan kerjanya Zao sedang tersenyum penuh dengan kemenangan.
Hatinya begitu bahagia saat melihat Riri begitu agresif menanyakan soal dirinya kepada pelayan yang di suruh mengantar makanan ke kamar.
Riri bukannya makan,ia malah turun menuju dapur.Dengan membawa secangkir kopi ia berjalan menuju ruang kerja Zao Lee suaminya.
''Sepertinya aku memang harus mendengar penjelasannya,lagi pula kami suami istri sudah sepantasnya saling memaafkan satu sama lain.''Riri mencoba berfikir dewasa.
''Tok tok tok.'' suara pintu di ketuk dari luar.
''Masuk.'' sahut orang yang berada di dalam ruangan.
Riri masuk,ia setengah menunduk antara malu dan penasaran dengan penjelasan yang tadi sempat tak dihiraukannya.
Zao masih sibuk berkutat dengan laptopnya,tanpa melirik sedikitpun kepada istrinya.
''Ini aku buatkan kopi,...'' Riri mengawali percakapan.
''Taruh di sana.''Zao menunjuk meja kecil di dalam ruangannya dengan dagunya.
Lalu kembali sibuk dan fokus dengan pekerjaannya.
__ADS_1
Setelah meletakan kopi,Riri hanya bengong sendiri melihat suaminya tidak ada respon baik atau semacam yang lainnya.