Cinta Seputih Kapas

Cinta Seputih Kapas
Part 46


__ADS_3

Flashback on.


Sepanjang jalan keduanya hanya saling diam dengan pikiran masing-masing.Sosok yang kemarin dirasanya mulai menghangat tiba-tiba kembali dingin sedingin kulkas.


Untuk Zao yang notabennya adalah pria datar dan dingin mungkin sudah sangat terbiasa dengan situasi mencekam seperti itu, tetapi tidak untuk Riri yang notabennya adalah gadis periang, tentu saja dirinya tidak lah tahan di diamkan seperti itu.


'' Tuan.. apa kau marah? Riri mulai membuka obrolan meskipun dirasanya pertanyaan yang barusan ia tanyakan sangatlah konyol. Tentu saja dia sangat marah dari tampangnya saja semua yang melihat sudah bisa menebak.


Zao masih tetap diam, dan tetap fokus mengemudikan mobilnya.


Riri memejamkan matanya sebentar se-berusaha mungkin untuk tidak terpancing emosi karna mau bagaimana pun ini semua salahnya, yang tidak meminta izin saat pergi ke rumah sakit menengok mamanya Aril.


'' Tuan... aku tahu aku salah aku minta maaf.. '' Riri masih berusaha membujuk dia agar mau berbicara lagi dengan nya.Namun Zao tetaplah Zao. Pria yang sangat langka dengan sejuta kelebihannya. Sifatnya sangat tidak bisa di tebak.Begitupun dengan tingkah lakunya.


Zao tetap diam sengaja pura-pura tidak mendengar apapun.


Riri menghela nafasnya panjang berusaha sebisa mungkin untuk memahami perasaan Zao yang mungkin saja sedang tidak ingin bicara.


Diam-diam Zao melirik dengan ekor matanya ketika sang istri sedang menatap luar jendela.


Dan saat itu juga ia tertangkap basah sedang mencuri pandang terhadap Riri.Saat tiba-tiba Riri menengok ke arahnya.


Namun sebisa mungkin dirinya tetap cuek untuk menutupi kesaltingannya.


'' Ehem... '' Riri berdehem tanpa sebab, entah kenapa ia menjadi begitu penasaran dengan Zao suaminya.


Riri kembali melirik wajah tampan suaminya, kira-kira mau sampai kapan Zao mendiamkannya seperti itu ?

__ADS_1


Tak berselang lama mobil mulai memasuki kawasan apartemen elit milik suaminya, sebenarnya ia sudah sadar sejak berada di pertengahan jalan setelah keluar dari rumah sakit, karna yang di tempuh bukan jalur arah ke Mansion melainkan Apartemen pribadi dia. Namun karna tidak ingin menambah masalah, akhirnya dirinya memutuskan untuk diam dan tidak banyak bertanya.


Selesai parkir mobil, Zao langsung turun tanpa menunggu dirinya. Ia berjalan memasuki lorong dan sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskan.


'' Mungkin karna ia terlalu lelah, sehingga ingin cepat sampai dalam. '' Riri mencoba menghibur hati saat tangannya di hempaskan kasar oleh Zao ketika reflek menarik lengan kemeja Zao.


''Hufht.... '' Riri lagi-lagi harus merasa dongkol karna di perlakukan se cuek bebek oleh suaminya sendiri.


''Ini baru dua hari menikah, belum sampai dua tahun. Rasanya aku sudah seperti barang bekas yang sudah tidak di butuhkan bahkan sebelum di sentuh sekalipun. '' batin Riri nelangsa.


Ting.


Pintu lift terbuka, Zao pun langsung keluar dengan langkah lebar menuju apartemen tempatnya tinggal.


Sementara Riri masih setia membuntutinya dari belakang dengan perasaan campur aduk.


Zao langsung naik ke atas menuju ruang kerjanya.


Dan Riri hanya bisa melihat punggungnya yang mulai menghilang di balik pintu dengan rasa tidak berdaya. Ingin mengejar namun takut di tolak lagi seperti ketika ia tak sengaja menarik lengan kemeja miliknya. Dan tanpa terasa air mata Riri menetes hanya karna mengingat perlakuan cuek Zao terhadapnya.


'' Semangat Ri! kamu pasti bisa. '' Riri berbicara sambil mengusap air matanya dengan lembut, tetapi lagi-lagi mereka berjatuhan dengan sendirinya lagi dan lagi. Air mata menetes deras. Tiba-tiba saja bayang-bayang Aril muncul. Mungkin berbeda cerita jika yang menikahinya adalah dia bukan dia.Tetapi


ah tentu saja itu tidak lebih baik, bahkan orang yang barusan ia puji adalah orang yang pernah meninggalkan dirinya di pelaminan dengan begitu tega.Rasanya tidak pantas untuk membandingkan suaminya dengan orang yang pernah menjadi masa lalunya. Mereka berdua sama. Sama-sama brengsek karna sudah mempermainkan perasaanku.


''Hiks.... " bunda... salah anakmu dimana? kenapa orang-orang begitu senang membuatku menderita.


Di ruangan yang lain, Zao yang sudah selesai membersihkan badan , langsung keluar dan turun dengan pakaian casual yang entah sejak kapan pakaian tersebut berada di lemari Zao. Karna seingat Riri terakhir ia bekerja dengan Zao tidak ada pakaian selain kemeja dan pakaian untuk ngantor.

__ADS_1


Baru tiga langkah kakinya menuruni anak, tangga.


Mata Zao terpaku di'ikuti gerakan tubuhnya yang langsng terhenti ketika melihat Riri sedang menaiki anak tangga yang sama yang di gunakannya untuk turun, dengan membawa secangkir kopi.


Bukan hanya Zao yang menampilkan reaksi berbeda tetapi juga Riri. Riri menjadi salah tingkah ketika kepergok mau membawakan kopi untuk Zao.


Namun seketika Zao tersadar dari kagetnya. Tanpa perasaan ia langsung beranjak turun dan melewati Riri begitu saja tanpa melihat maupun menyapa.


Riri berbalik menatap punggung suaminya yang sudah berada di lantai bawah.Ia pun akhirnya ikut turun dan berharap bisa segera di maafkan.


Zao yang sedang duduk di sofa, pura-pura tidak menghiraukan kedatangan sang istri. Dan lebih memilih, sibuk dengan ponselnya.


Zao yang mengira Riri akan duduk disampingnya untuk memohon- mohon agar di maafkan ternyata salah besar. Wanitanya sama sekali tidak berhenti ketika langkah kaki jenjangnya sudah berjalan di depannya. Dan ia melewatinya begitu saja menuju dapur.


Riri memejam erat matanya sambil membuang kopi panas yang baru ia buat ke dalam kitchen sing.


Gemuruh dan sesak kembali ia rasakan ketika mengingat perlakuan Zao terhadapnya. Selama ini tidak ada yang memperlakukannya seperti itu, bahkan ayah kandungnya saja tidak! lalu kenapa dia yang katanya suami malah suka menyakiti hati ini.


Tiba-tiba saja ada yang melingkar di pinggangnya.


Meskipun dia sedikit terkejut, namun tidak ada niat untuk melihat siapa pelakunya. Karna semua readers juga sudah bisa menebak bukan? siapa pelakunya.. hehe.


'' Dimana kopi yang tadi kau buat ? bisik Zao dengan sedikit menempelkan ujung bibirnya di telinga sang istri.


Deg.


Bukan kaget dengan yang dikatakan nya, melainkan dengan reaksi dari tubuhnya ketika Zao dengan sengaja menyalurkan gelenjar aneh tersebut untuk membuatnya kesal.

__ADS_1


Riri hanya diam sama sekali tidak menjawab maupun memprotes ucapan suaminya. Seperti yang biasa di lakukan perempuan itu terhadap Zao.Karna sekarang perempuan itu sudah kehilangan minat untuk membujuk suaminya.


__ADS_2