Cinta Seputih Kapas

Cinta Seputih Kapas
Part 40


__ADS_3

Tok tok..


Pintu kembali di ketuk dari luar. Zao menghela nafasnya panjang karna sudah tahu siapa yang akan datang. Sementara Riri yang penasaran dengan expresi Zao pun ikut membuntuti nya dari belakang ketika pria yang sudah berstatus suaminya itu berjalan ke arah pintu.


'' Tuan.. '' sapa Kevin dan ada satu orang lagi di belakangnya.Ketika pintu telah dibuka.


''Mang Umar... '' beo Riri melihat sopir yang kemarin di pecat Zao ternyata di pekerjakan kembali.Dia memang pemaaf tetapi bolehkah dirinya merasa sedikit GR, ...mungkinkah atas permintaan'nya kemarin? '' Riri menerka-nerka dalam hati.


'' Ayo... '' Zao menarik tangan Riri untuk keluar mengikutinya.


'' Kemana? Riri bertanya sambil terus menyeret kakinya yang terus berjalan mengikuti langkah suaminya.


'' Pulang ke Manshion utama. '' Zao memberitahu tanpa mau berhenti selangkah pun.


'' Mengapa tidak bilang dari tadi, barang-barangku..


aaah....'' Riri menggurutu kesal terhadap sikap Zao


yang selalu membuat orang lain kesusahan termasuk dirinya.


Zao menyipitkan ke dua matanya melihat tingkah panik sang istri.


'' Aku balik sebentar. '' pamit Riri tanpa melihat jalan di depannya.


Bruk...


Ia tak sengaja menabrak asisten Kevin


yang berdiri tidak jauh di belakang dirinya dan Zao yang mana membuat dirinya hampiri terjatuh jika tangan laki-laki itu tidak cepat menangkapnya.


Sementara hal yang sama juga di lakukan oleh Zao namun sayang dirinya kalah gercep dengan Kevin.


Awwww... '' Riri memijit pangkal hidungnya yang terasa nyeri karna menabrak dada bidang Kevin.


'' Aduh. '' Kevin membatin memikirkan hukuman yang sebentar lagi pasti di kumandangkan oleh tuan nya itu.


'' Maafkan saya nyonya. '' Terpaksa Kevin mengucapkannya meskipun dirinya sendiri tidak lah bersalah.


Riri yang semula menggerutu kesal langsung terpekik geli mendengar asisten datar itu meminta maaf untuk kesalahan yang jelas-jelas tidak di lakukannya. Belum lagi tadi, apa? ia menyebutku dengan Nyonya tidakah itu berlebihan.


Ehem..


Zao berdehem keras tidak suka melihat interaksi istri dengan asistennya. Apa lagi saat mendengar tawa sumbang yang Riri berikan atas ucapan Kevin.


'' Aku tidak suka miliku di sentuh orang lain.. '' Zao berkata dengan sangat dingin membuat Kevin dan Riri sama-sama menelan saliva dengan sangat susah.


'' Maaf tuan... '' mereka tak sengaja menjawab dengan bersama'an yang mana semakin membuat Zao seperti cacing kepanasan.

__ADS_1


'' Mang... '' panggil Zao terhadap pria paruh baya yang sejak tadi menunduk diam.


'' Iya tuan.. ''


'' Antarkan istriku pulang ke Manshion.Dan pastikan keamanan nya. '' Perintah Zao masih dengan mode dingin.


'' Mari nyonya... '' mang Umar mempersilahkan dirinya untuk berjalan lebih dulu.


'' Bukankah kita akan pulang bersama? tanya Riri dengan wajah penuh harap dan mencoba mensejajari langkah lebar suaminya.


'' Tidak ! aku masih ada urusan penting yang harus di selesaikan. '' Jawaban Zao sukses membuat Riri diam seribu bahasa dengan perasaan entah.


Setelah mengatakan hal tersebut Zao pun pergi diikuti asisten Kevin.Dan terus berlalu meninggalkan istrinya.


Riri menyeka bulir bening yang menetes hangat di pipinya. Bicaranya yang mengatakan ada sesuatu yang penting membuat nya sadar betapa tidak pentingnya dirinya di mata Zao Lee.


'' Maaf,,,nyonya tidak papa? tanya mang Umar yang melihat ada raut kesedihan di mata Riri.


'' Eh iya mang? Riri baik -baik saja. Lain kali jangan panggil nyonya ya.. panggil Neng saja. '' Riri berusaha tersenyum meskipun hatinya sedih.


Sepanjang perjalanan menuju Manshion ia hanya diam menatap pemandangan di balik jendela mobil mewah yang ia tumpangi.


Perasaan nya berkecamuk memikirkan nasib pernikahannya. Bukankah seharusnya hari ini adalah hari yang seharusnya spesial untuk pasangan pengantin baru seperti yang kebanyakan di lakukan oleh pasangan lain di dunia ini. Tetapi....


'' Aaah kau itu berlebihan.Memangnya dirimu siapa sampai berharap bisa di perlakukan layaknya pasangan pengantin yang menikah atas nama cinta.


Lama ia bermonolog dengan pikirannya sampai tidak terasa mobil yang ia tumpangi sudah memasuki gerbang pekarangan luas milik keluarga Lee.


Tak berselang lama datang seorang pemain pelayanan wanita menghampiri dirinya setelah mang Umar membuka kan pintu.


''Selamat datang di kediaman keluarga besar Lee.'' sambut pelayan tersebut dengan wajah datar.


Riri menghembuskan nafasnya berat, lalu menyapanya dengan tersenyum.


'' Terimakasih.. '' Ucap Riri kemudian.


Pelayan itu pun membawa Riri untuk mengikutinya.


Sembari mengikuti pelayan tersebut tak henti-henti nya ia mata Riri berkeliaran mengagumi dengan takjub kemewahan rumah itu.


Dirinya juga tergolong bukan orang susah karna ayahnya juga memiliki perusahaan, tetapi rumahnya yang besar masih sangat jauh di banding dengan rumah milik keluarga Lee.


'' Silahkan masuk non.. '' bibi pelayan tersebut mempersilahkan Riri masuk terlebih dulu.


Dengan langkah kaki gamang ia pun memberanikan masuk.


'' Happy birthday to you.... '' kor dari mereka semua yang berada di dalam.

__ADS_1


'' Hah.. '' Riri terkejut mendapat kejutan di hari kelahirannya yang bahkan karna saking banyaknya masalah yang ia hadapi sampai melupakan hari tersebut.Ia menutup wajahnya dengan ke dua tangannya karna sangat merasa bahagia terlebih ketika Zao muncul dengan kue ulang tahun berbentuk Doraemon. Film kartun kesayangannya.


'' Selamat ulang tahun sayang... '' Zao mengecup kening Riri sambil memberi kode untuk meniup lilin angka 24.


'' So sweet.... '' pekik Dinda yang juga ikut dalam misi memberi kejutan untuk sang kakak.


Riri tersipu sangat malu karna ini di lakukan di rumah mertuanya. Dan di saksikan oleh banyak orang termasuk keluarganya.,


'' Terimakasih tuan... '' Riri menunduk sambil menyembunyikan wajah malu-malunya.


'' Apa tadi kamu bilang... '' Zao menyipitkan mata.


Membuat yang lain ikut tertawa geli melihat tingkah pengantin baru tersebut.


'' Hanya memberi ucapan terimakasih ... '' apa saya salah lagi? Riri bertanya dengan polos.


'' Begitu saja tidak peka. '' gerutu Zao dalam hati.


'' Ya ampun sejak kapan kakak ku menjadi blo'on seperti itu. Tinggal panggil sayang balik juga!! Masih gak peka. ... '' gerutu Dinda hanya bisa dalam hati karna sekarang ia sedang berdiri di tengah-tangah tuan Lee dan istrinya.


''Tadi kau memanggilku apa? ulang Zao sudah dengan expresi tak terbaca.


Riri menatapnya bingung, bukankah selama ini dirinya memang selalu memanggil Zao dengan sebutan tuan?


'' Lalu saya harus memanggilmu apa? '' jujur Riri tidak habis pikir dengan Zao yang memiliki sifat berubah-ubah seperti bunglon. Tiba-tiba dingin, tiba-tiba cuek menyebalkan tiba-tiba juga romantis


seperti beberapa menit yang lalu saat memberinya kejutan ulang tahun. Dan sekarang dia sudah berubah lagi menjadi sangat datar dan menakutkan.


Laras yang hafal betul dengan sikap putra semata wayangnya pun langsung menghampiri mereka untuk mencairkan suasana.


'' Kau apakan menantu kesayangan ku hmz... dasar bocah nakal. .. '' Laras menghampiri ke duanya dan langsung menjewer telinga Zao.


'' Mama. Lepasin malu tahu. '' protes Zao dengan wajah memerah karna sudah di jadikan bahan lelucon oleh mamanya sendiri.


Tak terkecuali dengan Riri, wajah yang tadinya kesal dan takut kini berubah senang dengan cekikikan .


'' Aah baru di jewer sudah mengaduh. '' Sahut bu Laras sambil menggandeng tangan Riri untuk bergabung dengan yang lainnya.


'' Mah tunggu. Aku belum selesai bicara dengannya.''


Zao pun tak mau kalah dan menarik tangan Riri persis yang di lakukan oleh mamanya.


'' Mama sama anak sama saja. Kalo sudah ketemu ya begitu seperti kucing dengan tikus . '' Curhat pak Lee terhadap besannya.


''Justru pertengkaran kecil seperti itu yang kelak akan selalu kita rindukan ketika sudah tak bersama-sama lagi. '' imbuh pak Rio sambil tersenyum menatap nanar terhadap anak dan menantu nya. Terutama Riri,putri sulungnya yang sejak dalam kandungan sudah ia jaga dan sayangi sepenuh hati. Tau tau sekarang sudah besar dan telah menjadi seorang istri untuk suaminya.


Pak Lee mengerti kemana arah pembicaraan pak Rio. Sebagai orang tua dia juga bisa merasakan rasa kehilangan seperti itu memang pasti ada meski pun di balut dengan bingkisan bahagia. Karna melihat putra-putri mereka sudah tumbuh dan telah bersanding di pelaminan. Cuman bedanya mungkin karna anak pak Rio perempuan dan mudah di atur beda dengan Zao yang keras kepala dan selalu sulit di atur serta lebih suka hidup sendiri,mandiri dan jauh dari orang tua karna takut privasinya di campuri.

__ADS_1


__ADS_2