
Sesampainya di rumah sakit, Riri langsung menuju ke resepsionis untuk bertanya dimana letak kamar tempat bu Risa di rawat.
Meskipun Sang resepsionis sudah kenal lama dengan Riri, tetapi dia tetap ragu untuk langsung memberi informasi mengenai pertanyaan Riri yang di anggapnya begitu rahasia, karna menyangkut pasien sekaligus sang pemilik tempatnya bekerja.
''Maaf Ri, kami tidak bisa memberi tahu sembarang orang sebelum mendapat interupsi langsung dari tuan Aril ataupun keluarganya. '' Terdengar jelas dari nada bicara Sang resepsionis yang terlihat tidak nyaman karna telah berkata seperti itu terhadap dirinya.
''Tapi Wi... kamu tahu kan seperti apa kedekatan ku dengan tante Risa.Sekarang dia sedang terbaring lemah disana. Dan aku harus memastikan langsung keadaan wanita itu. Please bersikaplah layaknya teman. Aku janji akan mencarikan mu pekerjaan baru jika sampai kamu di pecat gara-gara aku. '' Riri tak patah semangat untuk terus memohon dan meyakinkan temannya itu.
Dewi diam, nampaknya sedang berfikir tentang tawaran Riri barusan.
'' gimana? kalau tidak mau yah sudah aku akan mencarinya sendiri. Tetapi jika ada banyak kegaduhan terjadi jangan salahkah aku. '' Sebenarnya bukan maksud mengancam. Tetapi hanya sekedar untuk menakut-nakuti Dewi saja.
'' Baiklah, kamu pergi ke ruang melati VIP nomor 01.'' Dewi yang tidak tega akhirnya terpaksa memberitahu ruang tempat bu Risa di rawat.
Tidak membutuhkan waktu lama, Riri akhirnya sampai di depan kamar VIP Melati 01.
Awalnya ia bersemangat, tetapi entah kenapa tiba-tiba saja jantungnya berdetak sangat cepat dan semakin lama semakin tidak karuan.
Dag. Dig.Dug . Der....
Perasaannya menjadi tidak enak dan keringat dingin pun mulai membasahi pelipis nya. Ia meremas ujung dres yang di pakainya. Merutuki kenapa dirinya harus berubah menjadi pribadi yang pengecut seperti ini.
Ceklek.
Tiba-tiba saja pintu ruangan di buka dari dalam.
Dan munculah laki-laki paruh baya yang sangat ia kenal.
'' Loh Riri... '' kaget pak Arman sambil menutup pintu
kembali.
'' Eh,,, Om... '' Riri terkejut sambil menelan ludahnya dengan serak. Pasalnya ia terpergok ketika sedang berada persis di depan kamar tempat bu Risa di rawat.Merasa tidak enak dengan posisi dirinya saat ini yang bisa membuat presepsi lain di mata orang yang melihatnya. Seperti sedang menguntit misalkan.
'' Maaf om, saya kesini karna baru mendengar kabar tentang tante Risa. Bagaimana kondisinya sekarang om? Riri bertanya dengan tidak sabaran.
Pak Arman terdiam sejenak. Kemudian menghembuskan nafasnya kasar. Tersenyum kecut dan menatapku dengan sendu.
'' Kondisinya kritis dan tidak baik-baik saja. Kemungkinan sembuh hanya ada 30 persen. Dan juga... '' Pak Arman tidak kuasa melanjutkan kalimat yang sedang diucapkan sendiri oleh mulutnya.
Riri membelalakan mata dengan menutup mulutnya karna begitu syok dengan apa yang baru di dengarnya.
__ADS_1
Tak menunggu kalimat lanjutan dari pak Arman. Riri langsung menerobos masuk tanpa mempedulikan sekitar.
'' Tan.... tante... bangun. Tante yang kuat yah.Riri percaya tante pasti bisa ngelaluin semua ini. '' Hiks.... Riri menangis tersedu sambil memeluk tubuh lemah wanita yang pernah sangat dekat dengannya.
Meskipun dirinya tidak berjodoh dengan putra bu Risa, tetapi itu tidak akan mengubah apapun tentang hubungan erat antara dirinya dengan bu Risa maupun pak Arman.Karna masalah yang terjadi murni di sebabkan oleh Aril. Jadi tidak etis jika sampai harus ikut membenci orang tuanya.
Aril yang sedang duduk mengamati adegan tersebut akhirnya memilih bangkit dari tempat duduknya.Ia sejak tadi sengaja diam, karna tidak ingin Riri tahu ada dirinya di sana, sehingga akan membuat mantan merasa tidak nyaman.Tetapi melihat Riri menangis seperti itu, membuatnya tidak tahan untuk sekedar menenangkannya.
Pluk.
Aril menepuk lembut bahu Riri. Ia berdiri dengan menatap ke arah lain, karna takut tidak bisa mengkontrol perasaannya jika mata mereka kembali saling menatap.
'' Kak Ar.... ma'... maaf aku akan segera pergi. '' Riri begitu kaget ketika baru menyadari kalau laki-laki tersebut ternyata berada di dalam ruangan yang sama dengannya.Akhirnya karna tidak ingin terjadi salah paham, dirinya pun memutuskan untuk segera pergi dari sana. Namun tiba-tiba saja, Aril dengan cepat menahan lengannya. Membuat adegan romantis tidak sengaja tercipta bertepatan dengan pintu yang di buka dari luar.
'' Tuan Zao. '' Riri menggumam lirih sambil menunduk tak berani menatap mata Elang Zao yang sudah menajam seperti akan memangsa musuhnya.
Sementara Aril hanya menanggapinya dengan santai tanpa merasa berdosa sedikitpun.Dan jangan lupakan tangannya yang masih menggenggam erat lengan Riri.Yang mana membuat Zao semakin mendidih.
'' Lepaskan tanganmu brengsek!!!!. pekik Zao menghampiri istri dan mantan pasangan kekasih itu.
'' Ok. Aku lepasin, tapi berjanjilah untuk tidak memarahinya. '' Sambil melepas tangan Riri yang di rasanya sudah berubah menjadi dingin. Mungkin karna saking takutnya.
'' Pulang. '' Zao berucap sambil menarik pergelangan tangan istrinya dengan sikap yang tidak kalah dingin dengan hawa yang di keluarkan oleh telapak tangan Riri.
Tanpa ada yang ingin membuka obrolan . Zao yang sangat marah dan Riri yang sangat ketakutan dan merasa bersalah.
Flashback on.
Zao dengan penuh semangat memasuki Manshion utama, dan sesegara berharap istrinya menyambut kedatangan dirinya. Namun sampai ia selesai memarkir mobil dan berjalan ke arah pintu hanya ada pelayanan yang seperti biasa berjajar menyambut kedatangan sang majikan.
Dimana dia? batin Zao namun masih berusaha untuk meyakinkan perasaannya, kalau mungkin istrinya sedang lelah atau tertidur. Atau sedang berkumpul dengan tamu-tamu tak diundang itu.
Yah ketika dirinya memarkir mobil, dia melihat ada tiga mobil bukan milik keluarganya ada di sana. Dan tentu saja hanya dari bentuk dan platnya ia sudah paham. Itu adalah mobil Rahel dan keluarganya.
''Assalamu'alaikum semuanya.... ''
Salam laki-laki itu seperti biasanya. Dan tak jauh dari tempatnya berdiri ia melihat orang tuanya sedang bercanda Ria dengan keluarga Rahel dan tunggu... dimana dia? kenapa tidak ikut bergabung.
'''' Wangalaikum salam.. Zao '' kor mama papanya.
''Itu dia Zao sudah pulang. Ditingguin om sama tante loh Zao dari tadi banget. '' Bu Laras memberitahu sang anak supaya ikut bergabung dengan mereka. Dan Rahel jangan lupakan expredi wanita cantik dan super licik seperti dia.Dia pura-pura bodoh amat dengan kedatangan Zao dan bersikap layaknya teman .
__ADS_1
'' Mah istriku mana? tanya Zao dan mulai beranjak menaiki lift khusus yang akan terhubung langsung dengan kamarnya.
'' Zao, tunggu. '' Riri pergi ke rumah orang tuanya, sepertinya mendesak makanya lupa tidak mengabari kamu. '' bu Laras menjawab sambil menghampiri putranya.
'' Mendesak? tanpa berfikir panjang fix dirinya langsung begitu khawatir dan pergi keluar untuk menyusul sang istri.
'' Lebih cepat lagi. Jika sampai terjebak lampu merah pekerjaan kamu taruhannya. '' Zao mengintrupsi sang sopir.
Tak membutuhkan waktu lama setelah menggunakan kecepatan penuh, sampailah Zao di kediaman keluarga Riri.
Tok tok tok.
Zao sebisa mungkin untuk bersikap sopan terhadap mertuanya, meskipun ia ingin sekali masuk dan menerobos begitu saja.
Ceklek.
Dinda yang kebetulan sedang bermain game di ruang tamu langsung membuka pintu ketika mendengar ketukan.
'' Eh tuan... ''
'' Dimana kakakmu... Zao sudah langsung masuk begitu pintu di buka dan mulai mengabsen satu persatu benda-benda yang terdapat di ruangan tersebut.
'' Kamu mencari siapa? bukannya kakak berada bersama kamu. ... oh ya ampun. pekik Dinda sambil menutup mulutnya. Dan hal itu tentu saja membuat Zao langsung penasaran.
'' Apa?
'' Jangan-jangan dia kabur. Karna kau menyiksanya''
Dinda menerka-nerka sambil menatap kakak iparnya dengan interogasi.
'' kabur? Zao langsung bergegas pergi.
'' Sial.. '' umpat Zao sepanjang jalan. Sambil menunggu informasi dari anak buahnya yang di tugaskan khusus untuk mengawasi istrinya.
Dia sendiri tidak habis fikir dengan pikiran wanita yang satu itu. Di bilang bodoh tetapi nilai akademisnya tinggi. Riwayat nya juga. Tetapi kenapa tidak bisa berdiam diri sambil menikmati takdir baik karna sudah dipilih menjadi istri Zao Lee. Pria pemilik segalanya.
Ting.Notif pun muncul memberi alamat dimana istrinya berada sekarang. Dan tanpa menunggu sebentar, ia langsung melesat kesana.
Tak butuh bertele-tele dengan kekuasaannya ia sudah bisa tahu dimana ruang yang sedang di singgahi istrinya. Awalnya ia begitu khawatir dengan kata rumah sakit yang berhubungan dengan keberadaan sangat istri. Namun saat menerima konfirmasi dari anak buahnya ia begitu marah.
Ceklek. Ia membuka pintu dengan tidak sabaran.
__ADS_1
Dan dia langsung di suguhkan dengan pemandangan indah dari kedua mantan yang mungkin sedang bernostalgia.