Cinta Seputih Kapas

Cinta Seputih Kapas
part 47


__ADS_3

Esok pun tiba. Setelah seharian terjadi perang dingin antara suami istri tersebut, sekarang keduanya tengah di sibukan oleh rutinitas masing-masing.


Zao sedang sibuk bersiap untuk pergi ke kantor, sementara Riri sedang sibuk menyiapkan masakan untuk suami barunya itu. Yah meskipun perang dingin belum menemukan titik perdamaian tetapi tidak menjadikan semua itu alasan untuk tidak menjalankan kewajiban sebagai seorang istri terhadap suami. Termasuk menyiapkan pakaian serta makanan untuk nya. Dan untuk kewajiban yang tentang ranjang ia juga akan berusaha pelan-pelan untuk hal tersebut. Dia akan memberikan tubuhnya sepenuhnya disaat Zao sudah menagih sendiri haknya. Tapi mungkinkah?


sementara pernikahan ini saja terjadi dengan latar belakang yang tidak biasa. Penuh misteri, rahasia dan penekanan. Dan ia juga tidak berharap kalau


Zao akan melakukannya. Bukan kah itu lebih baik?


Jadi tidak akan ada janin yang menghalangi perpisahan keduanya kelak, jika waktu yang di inginkan Zao sudah tiba.


Setelah siap Zao pun keluar dari kamar dan mulai menuruni anak tangga menuju ruang makan. Meskipun dirinya tidak yakin kalau Riri akan memasak untuknya, tetapi hanya untuk memastikan dugaan nya saja. Toh jika tidak ia bisa makan di luar. Lagi pula koki handal yang sudah di pesannya juga akan masuk mulai siang nanti. Jadi dia tidak akan membuat wanitanya itu kerepotan plus kesusahan lagi.


'' Masa percobaan selesai. '' Zao berkata sambil matanya melirik ke arah meja makan yang sudah di penuhi banyak hidangan kesukaan nya. Tetapi tunggu, dimana istrinya? Zao mengerutkan dahi sambil matanya mengabsen seluruh ruangan tersebut.


Tidak lama kemudian suara pintu dari kamar tamu terbuka. Riri muncul dengan pakaian casualnya dari sana. Jika di lihat dari hawa segar yang terpancar dari wajahnya. Sepertinya dia habis mandi menggunakan ruang bathrom yang berada di kamar tamu.


Riri meliriknya sekilas, tanpa membuka bibirnya yang mengatup rapat, Alias malas berbicara.


Ehem...


Zao mulai berdehem, untuk menetralkan suasana.


Riri tak menghiraukan kode atau maksud lain dari deheman sang suami. Ia sibuk menaruh nasi dan lauk, sayur serta menu lainnya ke dalam piring suaminya tanpa bertanya apakah suaminya ingin ini, itu atau tidak. Sehingga porsi yang di tuang ke piring tersebutpun menggunung tinggi di piring sang suami.


Zao tak begitu peduli dengan hal itu, sejak awal ia hanya terus memperhatikan wajah istrinya yang terlihat masih begitu mendendam karna seharian kemarin ia cueki.Dan hal tersebut lah yang membuat Riri semakin kesal karna Zao terus- menerus menatapnya tanpa berkedip.


'' Silahkan sarapannya tuan.. '' Riri mempersilahkan Zao untuk memulai sarapannya tanpa dirinya ikut menuang makanan ke piringnya sendiri.

__ADS_1


Zao pun langsung menyendok nasi serta aneka sayur dan daging lalu bukannya ia suapkan ke mulutnya sendiri, tetapi malah ia ulurkan tepat di depan mulut istrinya.


'' A...... '' Zao menuntun Riri untuk membuka mulut.


Riri terbelalak kaget dengan tingkah lain yang satu ini, kenapa malah menyuapkan makanannya untuk dirinya. Dan bodohnya ia mau dan tidak menolak.


Zao tersenyum puas melihat istrinya mau di suapin, namun selang sekian detik ia berkata terhadap Riri.


Saat kedua netra itu menatap dirinya penuh heran dan tanda tanya.


'' Jangan Gr dulu,aku hanya memastikan kalau tidak ada racun di makananku. '' kata Zao dengan sangat santai tanpa merasa berdosa.


Uhuk... uhuk


Riri yang mendengarnya pun langsung tersedak makanan yang barusan di suapkan Zao untuknya.


Riri langsung berdiri menolak minuman air putih yang Zao berikan untuknya. Namun baru saja salah satu kakinya akan melangkah, Zao sudah menarik lengannya dengan sangat kuat, demi memaksanya duduk kembali.


Tanpa ada pilihan lain dan tidak ingin berlama-lama berada di sebelah suaminya , hemat Riri berfikir untuk mengesampingkan egonya sebentar meskipun sebenarnya ia sudah sangat kesal dan menuruti perintah Zao agar manusia tidak berperasaan itu cepat pergi ke kantor, dan dirinya bisa dengan leluasa mengeluarkan semua uneg-unegnya selama dua hari menjadi istri tuan Zao Lee. Pria terkaya nomor dua setelah ayahnya.


'' Minum, biar tenggorokanmu tidak sakit. '' ujar Zao sambil berdiri dan menuntun Riri agar meminum air yang gelasnya sedang di pegang oleh Zao.


Riri mendongak kan kepalanya sedikit, dengan ragu. Takut Zao akan bertingkah di luar dugaan nya.


tetapi salah, ternyata tidak ada hal lain selain benar-benar membantunya untuk minum.


'' Makanlah atau mau saya suapin? goda Zao sambil mengerlingkan sebelah matanya.

__ADS_1


'' Sudah kenyang. '' Riri menyahut ketus dengan wajah yang sudah merona karna salah tingkah .


'' Jangan bohong, jelas-jelas kamu belum makan? Zao tidak percaya dengan yang barusan di katakan oleh Riri istrinya.


'' Kenyang makan hati!!!! puas. '' Entah keberanian dari mana Riri bisa berbicara seperti itu terhadap pria yang kini statusnya sudah menjadi suami nya.


Byurf..


Zao menyemburkan air minum yang baru saja ia teguk, karna saking kagetnya mendengar ungkapan atau lebih tepatnya sindiran yang dikatakan oleh Riri dengan sejelas itu. Tentu saja kalimat itu ditujukan untuk dirinya. Memangnya ada selain dirinya??! Huh dasar wanita yang satu ini tidak tahu mana yang sedang mencari perhatian dan mana yang sedang mencari masalah. Ayo donk peka. !!!


Sarapan pagi ini benar-benar tidak sesuai espektasi.


Keduanya sama-sama tersedak karna ulah masing-masing . Zao yang kekeh memegang gengsi


dan Riri yang tidak peka dengan sikap Zao. Al hasil keduanya menjadi seperti kucing dan tikus yang selalu bermusuhan, tetapi bagaimana jika keduanya harus berpisah sejenak? agar keduanya bisa saling mengukur perasaan yang mereka miliki.Dan agar satu sama lain bisa tahu kalau Rindu itu berat.


Lagi pula Zao juga penasaran seperti apa sesungguhnya perasaan wanita itu. Masa iya tidak ada sedikitpun ruang di hatinya untuk pria paling tampan dan mapan seperti dirinya.Disaat banyak gadis di luar sana yang sangat tergila-gila karna pesonanya, eh justru dirinya malah memilih Riri yang tidak pernah sekalipun bersikap seperti salah satu dari kebanyakan wanita di luaran sana.


'' Baiklah aku setuju dengan saranmu.Siapkan tiketnya besok. '' Zao mengintruksi asistennya.


Yah ide tersebut ia dapat dari saran Kevin. Setelah dirinya seharian tidak bisa fokus bekerja dan terus marah-marah terhadap bawahannya.Disitulah peran Kevin untuk memberikan solusi ketika mendengar


curhatan dari Tuannya.


'' Tapi menurutmu kenapa dia bersikap seperti itu terhadapku, sedang terhadap Aril dulu saja sangat manis dan penurut. '' Zao kembali bermonolog.


Dua bola mata Kevin hampir menggelinding ke lantai ketika mendapat pertanyaan seperti itu dari tuan mudanya. Laki-laki sombong, dingin dan arogan itu tiba-tiba saja berubah menjadi seperti laki-laki yang sangat membutuhkan orang lain,bahkan sampai membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain.

__ADS_1


Dan lagi sampai meminta saran untuk masalah pribadinya. Benar-benar moment langka yang patut di abadikan. Dan semua itu tentu karna Riri, gadis biasa yang sudah berhasil mengoyak kepribadian serta perasaan tuan mudanya.


__ADS_2