
Pintu kamar yang tidak terkunci membuat Zao tambah semangat untuk memberi hukuman kepada calon istrinya karna sudah membuatnya lama menunggu.
Ceklek.
Zao mulai masuk dan mengamati kamar minimalis bernuansa pink tersebut.Untuk ukuran seorang gadis kamar tersebut sangatlah tidak rapih, diantaranya banyak buku berserakan selimut dan bantal berceceran di lantai dan masih banyak barang-barang lainnya yang tidak di letakan sesuai tempat. Dahi Zao berkerut.
Lalu kenapa selama bekerja menjadi pembantunya ia tidak pernah mengeluh dan selalu bekerja dengan benar.
'' Memanglah lain dari yang lain. '' gumam Zao tersenyum tipis.
Di dalam kamar mandi, Riri yang sudah selesai dari ritual mandinya langsung keluar hanya mengenakan
handuk selain tidak berfikir panjang dia sendiri lupa kalau pintu kamarnya tidaklah di kunci, karna setelah membantu bibi memasak tadi pagi ia langsung tidur dan melupakan niat utamanya.
Klek.
'' Tuan... '' teriak Riri yang kaget melihat dia sudah berdiri di samping pintu kamar mandinya.
Zao tersenyum sambil menutup mulut Riri dengan tangan kekar miliknya.Posisinya sekarang berada di belakang tubuh gadis tersebut dengan satu tangan untuk menutup mulut dan satu tangannya lagi memeluk pinggangnya posesif.
Selain marah Riri juga berontak, atas kelakuan nakal calon suami pemaksanya itu.
''Lepas! '' protes Riri setelah Zao melepaskan tangannya dari mulutnya dan itupun dengan suara yang lirih karna jika keluarganya melihat pastilah dia akan habis terkena murka orang tuanya.
''Kenapa? sebentar lagi aku bahkan akan berhak untuk semuanya.Dari ujung kepala sampai ujung kaki. '' bisik Zao di telinga Riri membuat gadis itu meremang dan merasakan sensasi aneh yang tidak pernah ia rasakan sewaktu bersama Aril dulu.
Jangan lupakan tangannya yang sudah nakal kesana kemari membuat gadis itu kegelian.
''Lepasin please aku dingin mau pake baju. '' ahirnya Riri mengeluarkan kata memalukan tersebut karna sudah kehabisan akal dan jujur ia menikmati sentuhan lembut darinya namun satu sisi ia juga sadar itu salah dan tidak boleh lagi di pikirkan apa lagi sampai di lakukan.
Zao tersenyum penuh kemenangan setelah puas mengerjai Riri yang ternyata memegang teguh pendiriannya yah meskipun sedikit goyah.
'' Ganti ya ganti saja apa hubungannya denganku, lagi pula aku juga sudah melihat semuanya.Jadi jangan terlalu berharap kalau aku akan tertarik.
Kata Zao sambil merebahkan tubuhnya di ranjang kamarnya Riri.
Riri mencebik kesal berjalan ke lemari mengambil baju gantinya kemudian masuk kembali ke kamar mandi, yah meladeni tuan penguasa memang tidaklah ada habisnya.
Sementara Riri berganti di dalam, Zao nampak kesal sendiri dengan juniornya kenapalah tidak bisa di ajak kompromi sedikitpun tetapi untungnya kali ini masih bisa di tenangkan, jika tidak habislah dirinya pagi itu.
Tak berselang lama keduanya beriringan menuruni anak tangga mendatangi ruang tamu.
''pagi semuanya.... '' sapa Riri terhadap yang lainnya
__ADS_1
''Pagi juga nak, makanlah Zao sudah menunggumu sangat lama. '' kata ayah tidak se ramah biasanya kali ini ia terlihat sangat sungkan.
''Kalian kenapa tidak makan? Riri masih saja bertanya tidak tahu kode lirikan yang di berikan ayah sama bundanya terhadapnya.
''Maaf Nona tuan muda biasa makan di layani. '' kata Kevin mewakili keinginan tuannya.
''kata siapa? di rumahnya dia selalu makan sendiri bahkan terkadang pun masak juga sendiri. '' kata Riri membantah ungkapan Kevin karna memang selama menjadi pembantu di rumahnya dia tidak pernah merepotkan dirinya untuk hal-hal kecil seperti itu.
''Kak sudahlah menurut saja sama mereka, mau sampai kapan sarapannya gak di mulai-mulai . Bibi saja sudah sampai dua kali memanasi Rawonnya. ''
terang Dinda yang sudah tidak bisa menahan kesal yang sejak tadi di pendam.
Zao yang mendengar kekesalan adik iparnya hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil melempar tatapan tajam ke arah Kevin.
'' apa. '' Riri sampai menutup mulutnya tak percaya lalu beralih melirik tuan tampan yang duduk di sebelahnya.
'' apa, ayo makan.kata Zao sambil menurunkan sebelah matanya dan tersenyum tanpa dosa. ''
Dan selanjutnya hanya ada bunyi sendok dan piring di dalam ruangan tersebut.
Setelah selesai makan, mereka berpamitan untuk pergi. Namun Zao tiba-tiba berhenti mbuat Kevin dan Riri yang berjalan di belakangnya langsung rem mendadak untuk menghindari bertabrakan dengan tubuh atletis milik tuan sombong itu,.
''Ada apa? tanya Kevin dan Riri bersama'an. membuat Zao langsung menatap keduanya tajam
dan bergantian.
''Antarkan dia ke kampus. '' kata Zao sambil melirik Dinda yang sedang berjalan ke arah kakak nya.
''Apa? lagi-lagi mereka berdua Riri dan Kevin bersama'an dalam mengucap membuat Zao semakin kesal.
''Nona sebaiknya kau diam saja, biar aku yang bicara karna masalah yang terjadi tidak sesederhana yang terlihat. '' gerutu Kevin di dalam hati.
''Baik tuan. '' kata Kevin pasrah berbeda dengan Kevin , Riri masih belum trima dan ingin memprotes
tentang Dinda yang ikut kebawa-bawa masalah mereka.
Sementara Dinda yang sebelumnya sudah di beritahu asisten Kevin tentang se mengerikan apa kekuasa'an yang di miliki oleh tuan Zao ahirnya hanya bisa pasrah meskipun di dalam hati ingin sekali berteriak marah.
''Din, jangan mau, dia itu lebih mengerikan dari tuannya. '' bisik Riri di telinga adiknya namun masih terjangkau di telinga Kevin dan Zao, membuat Zao terkekeh geli mendengar calon istrinya memuji dirinya.
''tanyakan saja padanya. '' kata Dinda melirik Zao lalu berjalan membuntuti asisten Kevin.
baru beberapa langkah melewatinya Zao lagi-lagi membuat Dinda kesal karna namanya di panggil.
__ADS_1
''kau bisa belanja apa saja yang kau mau, semua pusat perbelanjaan yang ada di kota ini miliku. ' kata Zao mengingatkan calon adik iparnya juga sebagai tanda permintaan maafnya.
Dinda yang tadinya cemberut langsung tersenyum cerah.
''wah benarkah, yess .. yes yes.. '' kata Dinda tak tahu malu.Jiwa matrenya meronta-ronta membuat Riri tidak enak hati dengan Zao.
''Makasih tuan, semoga kalian berjodoh. '' kata Dinda senang.
''Dasar adik nakal, sudah sana pergi dan lupakan apapun tentang belanja.'' tukas Riri sambil mendorong adiknya keluar dari pintu.
Kesal jangan ditanya adiknya memang suka lupa ingatan jika sudah berhubungan uang.
Zao tersenyum melihat Riri yang sedang cemberut setelah mengomeli adiknya.
'' biasa aja ngeliatnya . '' sindir Riri ketus.
Lalu tak lama kemudian mobil yang menjemput mereka datang.
Di dalam mobil Riri sedari tadi hanya diam karna masih merasa kesal dengan Zao yang sudah membuat pagi yang biasa menyenangkan menjadi berantakan.
Zao melirik Riri yang sedari tadi memalingkan wajahnya dan lebih memilih melihat pemandangan di luar jendela mobil daripada melihatnya.
'' maaf sudah mengacaukan pagimu. '' kata Zao memulai percakapan.
Shiiiit. Mang umar yang tidak sengaja mendengar tuannya mengatakan maaf terhadap wanita di sampingnya membuat ia kaget dan rem mendadak.
Pasalnya baru kali pertama selama bertahun-tahun bekerja menjadi sopir kantor nya ia mendengar tuan nya mengatakan kalimat tersebut.
Riri yang kaget dengan mobil yang tiba-tiba berhenti hampir kebentur kursi depannya, untung saja Zao langsung menariknya hingga ahirnya Riri jatuh di dalam pelukannya.
Lama mereka saling diam menatap satu sama lain , Riri menelan salivanya dengan susah mendapati jarak wajah mereka yang begitu dekat.
Cup. sebuah kecupan manis mendarat sempurna di bibir seksi gadis itu.Seketika wajah Riri langsung memerah karena malu bahkan detak jantungnyapun juga ikut berdetak dengan cepat .
''Ya Allah, jantungku kenapa menjadi dag dig dug seperti ini. '' kata Riri membatin.Lalu buru-buru ingin bangun tetapi di tahan oleh tangan kekar Zao.
'' Empppp.. ''Riri yang hendak protes tidak jadi setelah bibir manis Zao sudah lebih dulu ******* bibirnya dengan paksa.Lidahnya menjelajah di dalam sana sepuasnya tanpa memberi jeda sedikitkpun untuk Riri menghirup udara lain, selain nafasnya .Ia masih terus ******* lembut bibirnya sambil sesekali memberikan gigitan kecil ketika Riri tidak membalasnya.
Sementara Riri yang sudah hampir kehabisan nafas langsung mencubit hidungnya.
'' Aw ringisnya kesakitan ketika hidung mancungnya di tekan kuat-kuat oleh Riri. ''
'' Terimakasih. '' kata Zao setelah ciuman mereka berakhir.Riri tidak menanggapinya dan kembali duduk di tempatnya.
__ADS_1
Jujur di sisi lain dia menikmati namun separuh hatinya entah kenapa merasa menyesal karna telah memberikan ciuman pertamanya untuknya.
Air matanya tiba-tiba saja menetes tanpa sebab, membuat Zao yang berada di sampingnya menjadi bingung sendiri.