
Sepulangnya Zao dari London ia langsung menuju mansion utama untuk memberitahu perihal pernikahannya satu hari mendatang.
Ceklek.
Asisten Kevin membukakan pintu untuk tuannya itu.
''Assalamu'alaikum mah, pah... '' salam Zao seperti biasanya ketika sudah sampai di Manshion.
''Wangalaikum salam, '' kor dari Pak Lee dan bu Laras bersama'an. Keduanya sama-sama sedang menuruni tangga beriringan dan jangan lupakan dengan sorot mata mereka yang tajam menatap Zao dari kejauhan.
Zao yang sadar akan kesalahannya hanya bisa mengacak rambutnya kasar.
''Kau masih tau rumah pulang rupanya. '' sinis bu Laras.
'' katakan saja yang ingin di katakan, kami merasa sebagai orang tua terlalu sukses mendidik mu, sehingga menjadi anak kurang ajar seperti itu.'' kata Pak Lee dingin.
Deg.
Benar-benar sakit tak berdarah.Mendengar kali pertamanya dirinya di sebut anak kurang ajar oleh kedua orang tua kandungnya sendiri.
''Maaf... '' kata Zao lirih, .
''Zao kesini mau.... '' ucapanya sudah lebih dulu di potong ibunya.
''Batalkan rencana pernikahan kamu dengan gadis tidak jelas itu. '' Kata bu Laras tanpa basa-basi lagi.
''Mah Zao saja belum selesai bicara, kenapa sudah dulu memutuskan seperti itu. '' Protes Zao.
''Dengarkan mama mu jika kau masih menganggapnya ada. '' kata pak Lee Yang langsung membuat Zao merasa tertampar.
'' Aku sayang mamah tetapi bukan berarti kalian bisa mengatur hidupku sesuka kalian.Memangnya apa yang kalian ketahui tentang calon istriku?sudah kah kalian bertemu denganya sehingga bisa langsung memutuskan sesuatu tanpa dasar seperti itu.! ! tukas Zao yang mulai emosi.
''Bukannya kemarin-kemarin mamah selalu ingin aku membawakan calon menantu yang baik tidak seperti Gea, dan saat aku sudah belajar dari masa lalu dan ingin membuktikannya kepada kalian kalau aku bisa mendapatkan ganti yang jauh lebih baik seperti kriteria yang kalian inginkan, kenapa tiba-tiba berubah begitu.''
''Kriteria yang kami inginkan itu seperti Rahel, bukan gadis yang pernikahannya gagal. Apa kata orang jika sampai mereka tahu, bisa rusak citra keluarga besar Lee.! . '' kata bu Laras yang juga sudah terpancing emosi.
''Mah dia gagal juga karna Ling-ling jika tidak mungkin sudah bahagia dengan kekasihnya. '' bela Zao.
Bu Laras nampak tersenyum miring.
'' Justru karna itu kami tidak merestui pernikahan terpaksa seperti itu. ''
''Mah please, dengerin penjelasan Zao dulu.Ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan kejadian itu
Zao ingin menikah dengannya karna memang Zao suka dan cinta sama dia. '' terang Zao berharap mereka mau mengerti.
'' terserah , sekali tidak tetap tidak. '' bantah bu Laras kekeh.
__ADS_1
''Mah,,, '' protes Zao namun papanya sudah lebih dulu menepuk bahunya.
'' istirahat dulu saja, biar papa bantu ngomong sama mama kamu. '' kata pak Lee mulai bersimpati sambil berjalan pergi mengikuti istrinya dari belakang.
'' Tuan... '' sapa Kevin memastikan kondisi tuannya.
''pulang apartemen. '' perintah Zao sambil berjalan mendahului Kevin.
Lelah ?jangan di tanya. Siapa yang tidak lelah baru datang bukannya di tanya kabar malah langsung di
cecer banyak pertanyaannya, sambil di marah-marah pula.
Hufht.. Zao menghembuskan nafasnya kasar. Sampai kedengeran di telinga Kevin.
''Tuan acaranya?
'' Apa kau sudah menjadi bodoh, sampai hal seperti itu harus di tanyakan! '' sungut Zao pada Kevin.
''Maaf tuan. '' sesal Kevin karna sudah bertanya di saat yang kurang tepat, al hasil ia harus mendapat semburan kata-kata pedas milik tuannya itu.
🍒🍒🍒🍒🍒
Tidak seperti biasanya malam ini Riri tidur dengan sangat nyenyak, semua masalah seperti hilang entah kemana, mimpinya pun indah berbeda dengan Zao yang tidak bisa tidur karna memikirkan orang tuanya.
Hingga ahirnya pagi pun tiba. Riri yang moodnya sedang sangat baik tiba-tiba saja ingin membantu bibi pelayan masak di dapur.
''Pagi bik,.. '' sapa Riri ramah.
'' Aaah bibi ini kaya sama siapa aja, owh ya ngomong-ngomong mau masak apa bik?
'' Rawon, non. Request langsung dari papanya non Riri. jawab bibi sambil berjalan kesana kemari mengambil bahan yang mau di masak.
''Eh, tumben . '' pikirku sejenak , apa mungkin karna akhir-ahir ini banyak sekali masalah yang datang, sehingga ayah ingin di masakan Rawon, karna setahuku ayah sangat tidak suka dengan jenis masakan tersebut.
''Yah sudah biar Riri bantu. '' pintaku tidak menerima penolakan dan langsung ikut berkutat di dapur.
Tidak lama kemudian, masakan pun sudah jadi.
'' Hemmmm baunya wangi ya bik, '' kataku sambil mengaduk masakan hasil racikan tanganku dan bibi yang sudah matang.
'Bibi tersenyum sambil menyiapkannya wadah mangkok besar. Dengan hati-hati aku mulai memasukan sedikit demi sedikit ke mangkok.
''Sini biar bibi tuang langsung non, takutnya capek kalau pake sendok nuangnya. ''
''Gak papa bik itung-itung latihan, '' tanggapku santai.
''Tara....Sup Rawonnya sudah siap. -'' kataku dengan bangga lalu mengambil ponsel dari saku celana untuk mengabadikan hasil masakan pagi ini.
__ADS_1
'' hmz Yumi. '' tulisku pada story whatsapp .
'' Ya udah bik mau ke atas mandi dulu. '' kataku sambil lalu.
''Makasih non udah di bantuin. ''
''Sama-sama . '' terlalu sambil lalu.
Ting-tong.
Suara bunyi bel pintu rumah. Pak Rio dan istrinya yang memang sudah bersiap menunggu kedatangan tamu besar mereka langsung sigap membukakan pintu rumahnya.
'' silahkan tuan muda, masuk. '' kata pak Rio dan istrinya menyambut tamu kehormatan.
'' panggil Zao saja tidak usah pakai embel-embel tuan. '' terang Zao dingin.
''Baik Zao. '' kata pak Rio ragu-ragu.
Zao nampak mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan, matanya jelas sedang mencari keberadaan seseorang.
''Owh iya Riri masih berada di kamarnya, sebentar lagi turun atau apa mau saya panggilkan sekarang? tanya bu Fitri hati-hati, karna menurut rumor yang beredar tuan Zao sangatlah sensitif dan sering tidak mentorelir sedikitpun kesalahan.
Zao baru akan menatap calon ibu mertuanya. Tetapi suara langkah menuruni anak tangga membuatnya langsung beralih kesana di'ikuti mereka asisten Kevin dan orang tua Riri.
Senyumnya seketika surut saat yang turun ternyata
bukanlah gadis yang di harapkan melainkan gadis yang akan menjadi calon iparnya.
''Hay semu... anya.. '' sapa Dinda tanggung, antara kaget dan ragu.
'' Hay calon adik ipar,. '' sapa Zao yang hampiri saja membuat jantung orang di sekitarnya ingin melompat keluar. Begitupula Dinda, ia menatap sekelilingnya dengan raut wajah bingung,. Baru ingin menatap ke dua orang tuanya untuk meminta penjelasan ayahnya malah sudah lebih dulu memberinya tatapan horor, membuat suasana terasa sangat canggung menurut Dinda.
''Nona , tuan sedang menyapa anda. '' kata Kevin menegur Dinda.
''Eh iya, kau siapa? ceplos Dinda sambil melirik Zao yang menurutnya sangat tampan tetapi lebih ke menakutkan.
''Mm maaf nak Zao, jangan dengarkan omongannya,
dia memang suka asal bicara. Jadi silahkan di cicipi Rawon kesukaannya sambil menunggu Riri.
'' Tunjukan kamarnya, biar aku yang akan menyeretnya keluar, seenaknya menyuruhku menunggu. '' Kata Zao kesal karna sejak tadi orang yang dirindukannya tak kunjung keluar.
''Menyeret? memangnya kakaku barang apa main di seret-seret . Enak aja. '' protes Dinda yang sedari tadi menahan kesal.
'' Kevin.!
''Siap tuan,''
__ADS_1
Setelah itu Zao langsung pergi ke atas untuk menemui calon istrinya.
Di bawah Kevin sedang berpidato panjang lebar tentang konsekuensi jika sampai berani menyinggung ataupun berbuat curang terhadap kesepakatan yang sudah di buat bersama tuan muda Zao, pria yang kekuasaannya berpengaruh besar di negara tersebut.