Cinta Si Gigi Bungsu

Cinta Si Gigi Bungsu
Aku ingin menjadi temanmu


__ADS_3

Rara terbaring di lantai di ruang tamu rumahnya. Kakaknya Raden duduk disampingnya.


"Lihatlah dirimu. Kacau sekali! Apa kamu gak apa-apa? Apa kamu ingin aku meletakkan beberapa es di tubuhmu?" Tanya Raden yang khawatir pada adiknya.


"Gak usah! Aku baik-baik saja kok." Jawab Rara yang terbaring di lantai.


"Kamu yakin?" tanya Raden menggoda Rara dengan menyentuh bahu Rara.


Pintu terbuka, Ibu Rara baru saja sampai di rumah. Ibu terlihat kaget melihat Rara terbaring di lantai. Ibu segera menghampiri mereka berdua.


"Raden! Apa yang terjadi dengan adikmu?" tanya ibu.


" Dia terkena sengatan panas ma." jawab Raden.


" Lihatlah ma. Dia seperti seekor anjing yang kehausan." Ucap Raden.


Ibu sangat khawatir dengan keadaan Rara. Dia meletakkan kepala Rara di pahanya. Mendengar ucapan Raden, Ibu langsung menampar pipi Raden.


"Jangan samakan adikmu dengan anjing! Kasar sekali kamu!" kata ibu marah.


"Ra, bagaimana kondisimu?" tanya ibu khawatir.


"Tadi aku.."


Belum sempat menjawab ibu menyentuh pipi Rara.


"Tubuhmu mulai mendingin. Dia mulai membaik. Katakan pada ibu apa yang terjadi." kata ibu Rara.


"Aku hanya..."


Lagi-lagi jawaban Rara dipotong oleh ibunya.


" Ra, apa kamu lupa minum? Hal ini terjadi saat kamu mengalami dehidrasi." kata ibu Rara.


"Aku sudah minum, tetapi aku..."


Kembali lagi omongan Rara dipotong ibunya.


"Ra, kamu gak cukup minum, ya? itu sebabnya kamu menjadi seperti ini. Sekarang katakan pada ibu apa yang terjadi." kata ibu lagi.


Raden yang sedari duduk hany memperhatikan ibu dan anak itu.


"Aku minum.."


"Ra..."


"Cukup! Dia akan menceritakannya pada mama tetapi mama selalu saja menyela ucapannya. Seseorang yang banyak bicara seperti gak seharusnya menjadi seorang dokter. Seharusnya, mama menjadi pembicara publik." Kata Raden kesal.


Ibu yang mendengar perkataan Raden kembali menampar Raden.


"Pembicara publik, ya? Begitu juga denganmu. Kamu selalu membalas ucapan ibu." kata ibu.


" Ra, Apa ibu terlalu banyak bicara?" tanya ibu.


Rara hanya mengangguk sebagai jawaban iya pada ibunya. Dan diikuti oleh anggukan dari Raden. Ibu kembali memukul Raden. Rara lalu terbangun dari pangkuan ibunya.

__ADS_1


"Kamu yakin bisa bangun, nak?" tanya ibu khawatir.


"Kondisi mu terlalu buruk." kata Raden.


Rara lalu duduk dan menceritakan apa yang telah terjadi pada dirinya.


"Aku ingin naik bus kampus, tetapi aku tertinggal." kata Rara.


Kali ini Rara berbohong pada ibu dan kakaknya. Tidak mungkin bagi Rara menceritakan hal yang sebenarnya terjadi.


"Setelah itu aku berlari mengejar bus itu ditengah panas terik. Aku terus berlari hingga semuanya terlihat buram. Aku masih dalam kondisi sadar, tetapi cuaca panas terik dan aku gak bisa bergerak." kata Rara menceritakan apa yang terjadi pada dirinya sebelumnya.


"Mengapa kamu harus mengejar bus itu? Cuaca diluar panas terik. Kamu beruntung karena Raden menolong mu." Kata ibu.


"Gak! Aku gak menolongnya." kata Raden.


" Kamu gak menolong adikmu?" tanya ibu.


"iya, gak ma." jawab Raden.


"Lalu siapa yang menolongnya? temanmu?" tanya ibu lagi.


Rara menghela nafas berat. Rara mengingat kembali kejadian dimana Satria menolongnya.


"Dia bukan temanku. dia hanya mahasiswa yang angkatannya di bawahku." Jawab Rara.


"Oh. Katakan padanya bahwa ibu sangat berterima kasih. Tanpa dia...


Perkataan ibunya langsung dipotong oleh Rara.


" Ibu gak perlu berterima kasih padanya." kata Rara.


" Gak ma! lupakan saja. Pembicaraan ini sudah selesai." Kata Rara bangun dan hendak mau ke kamarnya.


"Tunggu dulu! Jangan lupa berterima kasih." kata ibu.


" Mama!." kata Rara lalu pergi menuju kamarnya.


Ibu melihat Raden yang duduk.


" Apa yang terjadi padanya, Raden?" tanya ibu


" Kurasa dia merasa kesal karena ibu terlalu banyak bicara." Jawab Raden.


Lagi-lagi Raden ditampar oleh ibunya.


"Kamu tahu siapa ibu, kan?" ancam ibu.


"Atlet karate." jawab Raden takut.


"Kamu merasa takut sekarang?" ancam ibu.


Raden dengan cengengesan mendekati ibunya.


"Gak takut!" teriaknya lalu berlari menuju kamar.

__ADS_1


"Berhenti!" teriak ibu.


Rara baru saja selesai mandi. Dia lalu mengambil pakaian yang dipakainya tadi di kampus. Tidak disangka dibawah tumpukan pakaian terdapat handuk kecil. Diambilnya handuk itu dan Rara ingat handuk itu yang digunakan Satria untuk mengompres Rara menggunakan es batu. Diamati handuk kecil itu lalu menghela nafasnya.


Rara kembali mengingatkan saat dirinya tengah duduk bengong seorang diri di taman halaman kampusnya. Tiba-tiba seseorang menyentuh lehernya dengan handuk dingin. Rara merasa sangat baik. dan ternyata orang itu adalah Satria.


" Sudah merasa lebih baik?" tanya Satria.


Rara cuek dan tidak mau mendengarkan pertanyaan Satria.


Satria kembali mengompres leher Rara dengan handuk dingin.


"Pipimu masih terlihat merah." kata Satria.


Rara tetap cuek. Satria lalu memberikan sebotol minuman dingin untuk Rara. Rara hanya melihat dan membuang muka.


"Jangan berlagak kuat. minuman ini dingin dan menyegarkan. Ini akan membuat kamu merasa lebih baik." Kata Satria.


Satria lalu menempelkan minuman dingin itu ke pipi Rara. Rara kaget saat minuman itu menempel di pipinya.


" Kamu mau meminumnya atau tidak?" tanya Satria.


Rara hanya melirik lalu kembali membuang muka ke samping. Satria lalu membuka botol minuman dingin itu dan hendak meminumnya. Namun, tangan Satria ditahan oleh Rara. Rara melirik ke Satria dan mengambil minuman itu, Lalu menengguknya.


"Baiklah, baik. Sama-sama. Gak perlu mengatakan terima kasih" kata Satria sambil menepuk pundak Rara, seolah-olah Rara ingin mengatakan terima kasih padanya.


" Aku belum mengatakan apa-apa." kata Rara kesal.


"Namun, matamu mengatakan, terima kasih." kata Satria.


Hal itu membuat Rara kesal.


" terima kasih? Kejadian tadi memalukan bagiku dan Bima juga ada di sana. Kamu beruntung karena aku gak memarahi mu karena hal itu. Apanya yang terima kasih." kata Rara kesal.


" Kalau begitu lakukanlah. marahi aku. Aku udah siap. Kamu bisa menghajar ku jika kamu menginginkannya. Apapun deh, yang bisa membuat kamu memaafkan ku." kata Satria.


Lalu Satria mengambil tangan Rara dan mengarahkan ke pipinya.


" Lakukan saja. Lakukan sampai kamu merasa puas." kata Satria.


Rara begitu kesal dan menghempaskan tangannya yang dipegang Satria. Satria terdiam, wajahnya dipenuhi dengan rasa bersalah. Dia melihat Rara yang terlihat jelas sedang kesal dengannya.


"Aku... Aku ingin menebus kesalahan karena membuat kamu merasa terpuruk tadi." kata Satria.


Rara melirik ke arah Satria dengan tatapan tajam.


" Mengapa kamu ingin sekali mendapatkan maaf ku?" tanya Rara.


" Karena aku ingin menjadi temanmu. Kita gak bisa berteman jika kamu masih marah padaku." Jawab Satria.


"Sudah aku katakan aku gak ingin menjadi temanmu." kata Rara.


"Kamu memang tidak ingin. Namun, aku ingin. Lalu aku juga akan membuatmu menginginkannya." kata Satria.


Rara menatap Satria, begitupula dengan Satria. Kini mereka berdua tengah saling bertatapan mata.

__ADS_1


Rara melihat handuk kecil itu sambil berkata.


" Apa kamu benar-benar ingin menjadi temanku?"


__ADS_2