
Rara duduk termenung dihalaman rumahnya. Dia sudah merasa capek karena harus berjalan menuju pagar, dan masuk ke dalam rumah untuk meletakkan barang pesanan Raden. Rara terus mengutuk Raden karena sudah membuatnya kesusahan apalagi pergelangan kakinya sedang sakit.
Saat dirinya sedang kelelahan, seseorang kembali memencet bel pagar rumahnya. Rara sudah tidak sanggup lagi untuk berdiri. Orang yang memencet pagar rumahnya ialah Satria. Satria yang melihat Rara duduk termenung sendirian, merasa khawatir dan segera membukakan pagar untuk menemui pacarnya itu. Ternyata apa yang dikatakan Rara didalam telfon benar adanya. Terlihat pergelangan kakinya dibungkus oleh perban.
" Kaki mu beneran sakit?" tanya Satria melihat pergelangan kaki Rara.
" Paket nanya lagi. Kamu pikir aku berbohong." ujar Rara, padahal niat awalnya memang berbohong, namun malah kejadian beneran.
" Aku minta maaf. Sini aku bantu, kebetulan aku jug bawakan kamu makanan." kata Satria berniat membantu Rara untuk masuk ke dalam rumah.
" Tidak perlu. Kamu sudah terlambat, aku sudah bisa bergerak sendiri dan menjaga diriku sendiri." seru Rara kesal dengan menolak bantuan Satria.
" Aku minta maaf deh. Tadi aku masih praktek jadi tidak buru-buru kesini." ujar Satria meminta maaf.
" Udah datangnya telat. Seharian juga tidak ada kabar." gerutu Rara kesal kepada Satria.
" Aku minta maaf Ra. Sini aku bantu ya." pinta Satria dengan mengangkat tubuh Rara.
" Eh, kamu mau ngapain. Aku udah bilang, aku bisa sendiri." ujar Rara tetapi tidak didengarkan oleh Satria. Satria justru menggendongnya masuk kedalam rumah.
Dengan telaten dia meminta Rara untuk duduk, sedangkan dirinya menyiapkan makanan di piring. " Ini, makanlah." ucap Satria meletakkan makanan diatas meja.
Meski sedang kesal, Rara tidak bisa membohongi dirinya jika dia merasa lapar. Rara mulai memakan makanan yang dibeli oleh Satria.
" Bagaimana? enak, kan?" tanya Satria.
Rara tak menjawab, dia masih asyik menikmati makanan dari satria. Satria hanya bisa menatap wajah kekasihnya itu sambil tersenyum. Dimata Satria, Rara terlihat manis saat sedang makan. Merasa ditatap sambil tersenyum membuat Rara akhirnya bertanya, "Kenapa kamu senyum-senyum begitu?"
" Aku cuma merasa jika memandang mu sambil makan seperti itu, kamu terlihat manis. Rasanya aku bahagia bisa duduk dihadapan mu melihat mu menikmati makanan." goda Satria sambil tersenyum.
Alhasil itu membuat Rara menjadi malu, "Apaan sih!" serunya.
" kamu mau aku suapin?" tanya Satria menawarkan diri untuk menyuapi Rara makan.
" Tidak perlu. Aku bisa sendiri. Tanganku juga masih bekerja dengan baik." ujar Rara menolak.
" Ra.."
" Apa lagi?"
" Kamu diam dulu." kata Satria dengan memberi kode agar Rara sedikit maju.
Rara memajukan kepalanya, tiba-tiba ibu jari Satria menyentuh ujung bibir Rara. Satria lalu memasukan bekas makan kedalam mulutnya. " Manis." ucap Satria.
__ADS_1
Lagi-lagi Satria membuat Rara salah tingkah. Rara tidak bisa menahan senyumnya, dia menunduk menahan rasa senangnya.
Satria menemani Rara hingga malam. Karena di rumah hanya Rara sendirian, Satria tidak mau pergi meninggalkan Rara begitu saja. Sebab dia tidak tega, apalagi kondisi Rara yang pergelangan kakinya masih sakit. Satria membantu Rara ke kamar, karena Rara ingin segera tidur. Satria membaringkannya di kasur tak lupa dia menaruh bantal dibawah pergelangan kaki Rara yang sakit, dan menyelimuti tubuh Rara dengan selimut.
" Besok jangan lupa minum obatnya, dan kaki mu terus diletakkan diatas bantal seperti ini supaya bisa sembuh." ujar Satria mengingatkan Rara.
" Baik pak dokter." ucap Rara tersenyum.
" Eum... Ra.. kayaknya tubuhmu di lap dulu deh." ujar Satria sebab sedari tadi Rara belum mandi, dia hanya mandi pagi sebelum kejadian pergelangan kakinya terkilir.
" Tidak perlu kok. Biarkan aku tidur seperti ini saja." kata Rara menolak.
" Kamu tidak perlu takut, aku akan membantu. Soalnya tidak enak rasanya jika tidur tidak mandi. Pasti badanmu akan gerah." ujar Satria.
" Tidak usah!" ucap Rara menolak.
Namun, Satria tetap memaksa. " Biar aku bantu membukakan bajumu." ujar Satria.
Satria terus memaksa namun Rara tetap menolak dengan melakukan perlawanan hingga Satria terjatuh tepat diatas Rara.
Setelah resmi jadian, Raden mengajak Mira kencan seharian. Mereka berdua, mengelilingi kota bahkan berkunjung ke tempat wisata serta makan bersama. Mira begitu bahagia, dia merasa ini pertama kalinya dirinya merasakan namanya pacaran. Meski sering berkata kasar, tetapi Raden termasuk cowok romantis menurut Mira.
Karena seharian berkencan, Raden mengajak berkunjung ke rumah. Dengan alasan jika dirinya sudah pernah berkunjung ke rumah Mira. " Kita singgah di rumah ku sebentar ya." pinta Raden.
" Tidak apa-apa. Kebetulan ayah dan ibu tidak ada di rumah. Mereka sedang sibuk bekerja. Palingan yang ada di rumah cuma Rara, sebab hari tidak ada jadwal dia untuk praktek." ujar Raden.
" Ya udah, boleh deh. Tapi jangan lama-lama ya. Aku takut kak Satria marah karena aku udah seharian ini jalan denganmu." kata Mira.
" Iya, cuma sebentar kok." ucap Raden lalu melakukan motornya menuju ke rumah.
Sesampainya di rumah, Raden memencet bel rumah agar Rara bisa turun untuk membukakan pagar. Namun sayangnya, Rara tidak juga keluar.
" Kayaknya kak Rara udah tidur deh. Biar aku turun dan bukakan pagarnya." ujar Mira lalu membukakan pagar untuk Raden supaya motornya bisa masuk halaman.
"Ayo masuk." ajak Raden dengan menggandeng tangan Mira.
Rumah nampaknya sepi, benar apa yang dikatakan Raden. Ayah dan ibunya sedang bekerja, terlihat rumah yang begitu sepi.
" Ah, paketan barang pesanan ku sudah sampai semua." ujar Raden melihat semua barang pesanannya.
" Yuk kita ke kamar." ucap Raden menarik tangan Mira ke kamar.
" Untuk apa?"
__ADS_1
" Untuk perlihatkan ke kamu." ujar Raden.
Mereka berdua menaiki tangga menuju kamar Raden. Nampaknya terdengar suara teriakan Rara, dari kamarnya.
" Eh, Kak Rara kenapa? dia kok berteriak begitu." ujar Mira karena mendengar teriakan Rara dari dalam kamarnya.
Merasa khawatir, Raden dan Mira membuka pintu kamar Rara. Alangkah terkejutnya Mira melihat kakaknya berada diatas tubuh Rara.
" Kak Satria!" teriak Mira.
"Satria! Apa kamu lakukan pada adikku!" bentak Raden segera menarik tubuh Satria untuk menjauh dari Rara.
" Raden, ini bukan seperti yang kamu lihat." ujar Satria membela diri.
" Iya kak, tadi Satria hanya terpeleset dan terjatuh." Rara juga memberikan pembelaan terhadap Satria.
" Raden, hentikan! kita bisa bicara ini dengan baik-baik." kata Mira mencoba menghentikan aksi Raden yang ingin menghajar kakaknya.
Adegan menghajar itu berhenti, mereka bertiga duduk di lantai kamar Rara. Sedangkan Rara duduk diatas kasur.
" Tuh dengerin dulu makanya. Untung ada kak Satria yang menjaga kak Rara." ujar Mira.
" Maaf deh. Udah salah sangka." ujar Raden dengan tatapan menyesal.
" Kakak juga harus minta maaf sudah menyusahkan aku, barang pesanan kakak terlalu banyak sampe aku harus naik turun tangga dengan kaki pincang seperti ini."
" Maaf." ucap Raden dengan tampang menyesal.
Seminggu kemudian.
" Ra, kamu beneran ingin melakukannya."
" Iya."
" Aku takut Ra, soalnya ini pertama buatku."
" Ini juga pertama buatku."
" Pelan-pelan ya."
Ternyata Rara sedang mencoba membersihkan gigi Satria. Dengan telaten seperti dokter gigimu umumnya, Rara mulai membersihkan gigi Satria.
"Tunggu sebentar, aku periksa dulu." perlahan Rara menunduk wajahnya lebih dekat dengan Satria. Satria tak mau ketinggalan kesempatan dia majukan kepalanya dan berhasil mencium bibir Rara.
__ADS_1
Tamat.