
Rara, Satria dan Bima memasuki bioskop. Rara yang kebetulan membawa popcorn menawarkan kepada Bima. Bima tersenyum dan mengambilnya. Belum sempat mereka bertiga duduk. tiba-tiba ponsel Bima berbunyi.
" Keluarga ku baru saja menelfon. aku pergi sebentar ya." Ujar Bima lalu berjalan keluar bioskop.
Sedangkan Rara hanya menatap Bima dengan perasaan kecewa. Rara segera mencari tempat duduk. Dan Satria mengikuti dan duduk disebelah Rara.
"Eh, kamu kenapa duduk disini? Ini tempat duduk untuk Bima." kata Rara.
"Karena aku ingin duduk disini." jawab Satria.
"Namun, aku tidak. Cepatlah pindah!" ujar Rara kesal.
Lagi-lagi Satria membuat Rara kesal padanya. Satria tak bergeming, dia tetap santai sambil meminum minumannya. Rara merasa kesal dengan sikap Satria.
"Pindah sekarang!" ucap Rara.
Satria tetap cuek, dia malah mengambil popcorn di tangan Rara dan memakannya. Rara mencoba berkata lembut pada Satria untuk segera pindah. Namun tetap saja pindah tetap tak bergeming. Rara merasa kesal dengan Satria.
"Baiklah jika kamu boleh duduk disitu. dan sekarang aku yang akan pergi, menunggu Bima didepan." ucap Rara.
Rara berdiri dan hendak pergi namun ditahan Satria.
"Gak bisa ya kamu duduk dengan tenang. Kamu menghalangi orang-orang yang duduk dibelakang kita." ujar Satria.
Tetapi Rara tetap keras kepala. Rara tetap ingin keluar, namun Satria juga tetap menahannya. Sehingga membuat Rara terjatuh dipangkuan Satria dan popcorn yang dipegang Rara tumpah menimpa ke tubuh Rara. Tatapan mata mereka bertemu, lagi-lagi perasaan aneh itu muncul di hati Rara. Lalu segera sadar dan bangun dari pangkuan Satria. Rara kembali duduk ditempatnya semua sedangkan Satria menatap Rara dengan tersenyum.
Tanpa Rara sadari popcorn yang tertumpah tadi masih ada yang lengket di rambutnya. Satria yang melihat itu tertawa kecil dan mengambil popcorn yang menempel di rambut Rara dan langsung memakannya. Rara yang menyadari apa yang dilakukan Satria pun berkata, "Jauhkan tanganmu dari kepalaku!"
"Okelah." jawab Satria.
Karena Rara menyuruh Satria menjauhkan tangannya. Akhirnya Satria mengambil popcorn yang menempel di rambut Rara dengan mulutnya. Karena jarak yang begitu dekat membuat Rara menutup matanya.
__ADS_1
" Kamu jangan menyalahkan ku. karena kamu sendiri yang meminta untuk tidak menggunakan tanganku." ujar Satria.
Rara merasa malu dengan apa yang Satria lakukan padanya. Rara mencoba tenang dan fokus menonton film tetap saja dirinya tidak bisa. Rara menatap Satria yang nampak enjoy dengan tontonannya. Rara menarik nafas panjang, berusaha menatap layar didepannya dengan fokus.
Rara keluar dari bioskop dengan kesal. Dia terus mengumpat Satria dalam hati karena sudah menggoda bahkan membuat hati berdebar. Rara menggelengkan kepala saat mengingat hatinya berdebar. Rara berusaha meyakinkan dirinya jika untuk tidak boleh berdebar saat Satria menggodanya.
Bima memanggil Rara, yang kebetulan juga sudah keluar bioskop bersama Satria. Bima sedari tadi hanya pergi sebentar dan kembali menonton dengan Rara dan Satria. Rara menengok ke mereka berdua.
" Ada apa?" tanya Rara dengan lembut.
" Aku ingin bertanya apakah filmnya bagus? Namun, kamu sudah keluar duluan sebelum aku bertanya." ujar Bima.
" Eum.. Ya, filmnya bagus kok. kenapa?" ucap Rara.
" Akun cuman bertanya." jawab Bima.
Rara menatap Satria yang juga menatap ke arahnya. Rara mengalihkan pandangannya, dia menyanyikan dirinya untuk fokus dengan rencananya.
"Iya. kami juga berencana setelah ini kami akan berkunjung ke perpustakaan bersama." ucap Bima.
"Kalau begitu kita berpisah disini ya. kalau begitu aku permisi dulu. bye!" ucap Rara segera berlari meninggalkan Bima dan Satria.
"Kenapa dia harus berlari?" tanya Bima yang bingung melihat berlari meninggalkan mereka berdua.
"Sepertinya aku membuat dia malu." jawab Satria.
" Tidak bisakah kamu pelan-pelan dulu?" kata Bima menggoda sahabatnya itu.
"Ah sudahlah. yuk kita pergi." ucap Satria.
Saat menurunkan tangga, Rara segera menelfon kakaknya. untuk memberitahu jika target mereka sudah keluar dan meminta mereka untuk bersiap-siap.
__ADS_1
Sedangkan Raden dan geng Anjay sudah bersiap dengan penyamaran mereka di dalam mobil. Namun, ponsel Raden berbunyi. Ternyata sebuah panggilan dari Mira. Mira menelpon Raden jika dirinya sudah sedari tadi menunggu Raden untuk mengerjakan tugas bersama. Raden pun mengingatnya. Mira juga mengatakan jika Raden tidak datang dia tidak akan memasukan nama Raden di kelompoknya. Karena ancaman Mira, membuat Raden takut jika dia harus mengulang lagi mata kuliah itu. Dengan berat hati, dia lebih memilih mengerjakan tugas bersama dengan Mira. dibandingkan membantu urusan percintaan adiknya. Raden pun menyerahkan semua rencana itu kepada Ken.
Mira duduk di cafe dengan kesalnya. Karena sudah tiga jam dia menunggu kedatangan Raden. namun, cowok itu belum juga menampakkan batang hidungnya. Mira menatap diluar jendela. Dia melihat anak kucing terjebak di atas pohon. Karena merasa kasihan, Mira pun keluar dari cafe dan membantu menurunkan anak kucing itu.
Geng Anjay sudah siap di dalam mobil. Jay sedang menelepon dengan Rara, jika target mereka sudah ada diparkiran mobil. Sedangkan di job belakang Yogi dan Ken tengah bertengkar. Karena Yogi terus menertawakan Ken karena penyamaran mereka. Deni yang khawatir terus menarik baju Jay. Pertengkaran Yogi dan Ken membawa- bawa payung yang sedari tadi tergelatak diam di mobil terbuka dan menutupi kaca depan. Sedangkan Deni menghidupkan mesin mobil dan menjalankannya lurus kedepan hingga menabrak sesuatu dengan begitu keras. Ternyata yang ditabrak mereka adalah mobil yang di tumpangi Bima dan Satria. Satria dan Bima yang berdiri didepan mobil itu hanya mampu menatap kerusakan yang terjadi. Geng Anjay keluar dari mobil mereka. Jay segera menghampiri Satria dan Bima.
"Oh, no! Temanku ini memang pengemudi yang payah. Aku minta maaf." kata Jay.
"Kalau begitu kenapa kamu saja yang nyetir." kata Deni tidak terima dan menghajar Jay.
Hingga akhirnya mereka berempat itu berantem. Rara yang melihat jauh, merasa kesal karena rencana mereka berantakan. Seharusnya Deni tidak sengaja menghajar Satria, justru malah menyebabkan pertengkaran hebat diantar mereka berempat. Meski rencana sudah berantakan, Rara tetap melanjutkan rencana selanjutnya. Rara menjalan mobil mendekati mereka. Rara keluar dari mobil seolah-olah berpura-pura tidak tahu apa yang sedang terjadi. Sedangkan Satria dan Bima hanya menonton pertengkaran keempat anggota geng Anjay itu.
" Apa yang terjadi?" tanya Rara berpura-pura tidak tahu.
" Mereka menabrak mobil kita." jawab Satria.
" Ya! lihatlah mobilmu, Sat. karena kebetulan aku lewat sini. bagaimana Bima menumpang saja di mobilku. aku bisa mengantarmu pulang." ujar Rara melangsungkan aksinya.
"Kebetulan lewat sini?" tanya Satria.
" Iya. Lebih baik kamu urusi saja mobilmu yang rusak. Biar Bima ikut denganku." ucap Rara.
" Ini bukan mobilku." ucap Satria.
" Lalu mobil siapa?" tanya Rara.
" Mobil Bima." jawab Satria.
Rara kaget begitu pula dengan geng Anjay. Ternyata perkiraan mereka salah. Mobil yang mereka tabrak bukanlah mobil Satria melainkan mobil Bima. Rencana Rara menahan rasa kesalnya karena rencana yang dibuat kakaknya gagal total.
" Begini saja, aku kan mengurus mobil ini. dan kamu Satria lebih baik pulang duluan bersama Rara." ujar Bima.
__ADS_1
Namun, Satria menolak. Meski kerusakan mobil itu bukan salah. Dia ingin tetap menemani Bima mengatasi urusannya itu. Bima tetap memaksa Satria pulang. Namun, Satria terus menolak. Hingga Rara juga berinisiatif untuk juga ikut menemani Bima. Bima tidak menyerah dan tetap memaksa Satria pulang bersama Rara. Karena terus di desak, Satria maupun Rara setuju dengan keputusan yang diambil Bima.