Cinta Si Gigi Bungsu

Cinta Si Gigi Bungsu
Galau


__ADS_3

Rasanya dunia seperti sudah hancur, itulah perumpamaan untuk dilayangkan kepada Rara. Rara masih menangis tersedu-sedu dimeja belajarnya. Raden memasuki kamar untuk sekedar memberi tahu jika dirinya sudah berhasil mengusir Satria didepan rumah mereka. Namun, rasanya itu tidak bisa membuat air matanya untuk tidak terus mengalir di pipinya.


"Kak, bisakah kakak tinggalkan aku sendiri dulu." pinta Rara karena dia ingin meluapkan perasaannya sendirian di kamar.


Raden sangat mengerti dengan adiknya, dia keluar menuju balkon rumah mereka. Membiarkan adiknya itu meluapkan semua perasaan sedihnya malam ini. Rara mengingat kembali momen saat Satria mengatakan jika dia sangat mencintai Rara. Momen yang sangat membahagiakan namun akhirnya disakiti juga. Rara melihat tas samping yang bergambar ikan dan awan. Tas itu merupakan pemberian dari satria untuknya. Rara memeluk erat tas itu sambil menangis.


Sedangkan disisi lain Satria sedang termenung dengan duduk dipinggir kolam rumahnya. Dia teringat kembali dengan perkataan Rara yang mengatakan jika dia tidak akan mengerti dengan Rara. Dan itu benar adanya, Satria memahami hal itu sekarang. Gadis yang dicintainya itu sangatlah pemalu, dan tidak punya rasa percaya diri seperti dirinya. Itulah sebabnya Rara sangat menolak jika ada orang mengetahui hubungan mereka. Rara masih belum bisa menerima komentar dari orang lain. Gadis itu terlalu overthinking, yang membuat tidak percaya diri untuk mempublikasikan hubungannya dengan Satria. Satria terus merenung, rasanya begitu sakit jika dirinya harus pisah dengan Rara. Satria sangat mencintai Rara, dia tidak ingin gadis itu bersedih. Satria bangkit dari duduknya, dia tidak boleh terlarut dengan perasaan sakit hati ini. Dia harus berfikir untuk menemukan pelaku yang sudah mempermalukan Rara, yang membuat gadis itu harus menangis. Dia harus mencari tahu siapa dalang yang berani mencuri foto Rara yang ada ponselnya. Satria berfikir keras, dia harus menemukan pelakunya.


Raden juga termenung di balkon rumahnya. Perkataan Satria seolah menamparnya. Satria mengatakan jika dia tidak mungkin menyakiti perasaan seorang dia cintai. Raden merasa bersalah sekarang. Karena dia sudah menyakiti hati Mira. Mira seperti sangat marah padanya, akibat ulahnya yang memaksa Mira untuk meminum minuman beralkohol. Raden mengambil kunci motornya, melihat gantungan kunci pemberian Mira.


" Mir, kamu pasti sangat marah padaku? Aku tahu aku salah dalam hal ini. Tolong maafkan aku." ujar Raden menatap gantungan kunci motornya.


Di kamar, Mira duduk memeluk boneka kesayangannya. Mira begitu kecewa dengan tindakan Raden padanya. Namun, disisi lain dia juga merasa bersalah. Gadis itu memeluk erat bonekanya. Dia menyadari jika dirinya tidak bisa seperti Raden ataupun teman cewek yang Raden kenal. Dia tidak bisa minum minuman beralkohol. Bahkan dia juga tidak suka berada di bar seperti anak muda pada umumnya.


Dia menyadari jika dia dan Raden memang berbeda. Raden adalah pria yang suka nongkrong bersama dengan teman-temannya. Sedangkan Mira suka sibuk dengan belajar. Dia merasa tidak ada waktu untuknya sekedar bersenang-senang. Mira merasa bersalah, dia memang kecewa tetapi dia juga merasa salah. Sebab, Raden mungkin ingin mengenali Mira dengan dunianya. Namun, karena berbeda, Mira malah justru marah kepada Raden dan menyalahkannya.


" Kayaknya, aku sudah terlalu kasar kepadanya." gumam Mira sambil memeluk boneka.


Meski tadi malam dia menangis sesenggukan. Bukan berarti dia lupa akan kewajiban sebagai seorang pelajar. Rara masih tetap berangkat ke kampus. Melewati area taman di depan kampusnya, Rara berjalan menunduk. Dia merasa malu, apalagi foto itu sudah tersebar, pastinya mahasiswa di kampus sudah tahu akan foto masa lalunya.


Satria juga sudah menunggunya, dia ingin bertemu dengan Rara untuk menjelaskan lagi bahwa bukan dirinya yang menyebarkan foto-foto itu. Rara melihat Satria, dia langsung mengembalikan tas pemberian Satria.

__ADS_1


" Ini ambillah." ucap Rara tanpa melihat wajah Satria.


" Ra, aku mohon dengarkan aku dulu. Bukan aku yang melakukannya." ujar Satria.


Rara tidak perduli, dia hanya ingin mengembalikan tas bergambar awan dan ikan itu kepada Satria.


" Ra." panggil Satria meraih tangannya.


" Aku tidak perduli." ucap Rara melepaskan tangan Satria yang memegangnya dan pergi dari situ.


Satria benar-benar bingung, dia tidak tahu lagi cara agar Rara bisa memaafkannya dan percaya bukan dia pelakunya. Satria mengacak rambutnya, dia begitu stres menghadapi masalah ini. Dia tahu tidak akan mudah bagi dirinya untuk mendapatkan maaf dari Rara.


Tanpa disadari, Dara melihat mereka Satria dari kejauhan. Tatapan matanya seperti orang yang merasa bersalah. Dara menghampiri Satria. " Satria." ucap Dara saat sudah berada di dekat Satria.


" Aku ingin mengakui satu hal padamu." ujar Dara.


" Apa?"


" Akulah orang yang menyebarkan foto itu." ucap dara dengan pelan.


Satria mencoba mendengar dengan baik apa yang di ucapkan dara barusan. Dia mengajak dara untuk duduk di salah satu bangku kosong di taman kampus itu.

__ADS_1


" Jelaskan maksud mu apa, Dar?" tanya Satria.


" Jadi aku mau mengakui jika akulah yang menyebarkan foto-foto Rara malam itu." ujar dara.


" Kenapa kamu melakukannya?" tanya Satria, dia tidak mengerti kenapa dara melakukan hal itu. Bukannya mereka bertiga adalah teman. Kenapa dara malah justru mempermalukan Rara.


Dara menunduk, dia meremas kuat kain roknya. Seolah pengakuan alasan dibalik kesalahan itu, begitu susah untuk diutarakan.


" Kenapa dar?" tanya Satria sekali lagi.


" Karena aku.. aku... aku menyukaimu.. Aku menyukaimu lebih dari seorang teman." ujar dara menunduk.


Ternyata selama ini dara menyimpan perasaan lebih dari sekedar teman kepada Satria. Selama berpura-pura menjadi pacar Satria, dara sudah menyukai satria. Setiap Satria ingin bermesraan dengan Rara, selalu saja dara mencegahnya dengan alasan takut jika ada orang yang melihat. Ternyata itu cuma pura-pura untuk menyembunyikan rasa cemburunya.


" Aku awalnya sengaja menyebarkan foto-foto itu. Namun, aku sadar akan dampaknya. Banyak orang malah justru menjelek-jelekan Rara setelah melihat foto itu. Aku merasa sangat bersalah pada Rara. Aku merasa menyesal telah melakukan itu. Satria, maafkan aku. Kamu boleh kok mengakhiri persahabatan kita dan membenciku." ujar dara.


Dara terus meminta maaf kepada Satria, dia benar-benar merasa sangat bersalah. Satria hanya bisa diam, mau bagaimana pun juga foto-foto itu sudah tersebar. Dan Rara percaya jika dirinyalah yang menyebarkan foto-foto itu.


" Mau gimana lagi. Dara sudah melakukannya. Dan sulit untuk kita menyelesaikan, Dar." ujar Satria.


" Kamu tidak boleh berpikir begitu Satria. Aku akan membantu kamu. Dan membuat Rara kembali padamu. Percaya padaku, aku akan menebus kesalahanku." pinta Dara yang ingin menebus kesalahannya.

__ADS_1


Satria hanya menatap wajah dara, dengan tatapan memohon. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana menjelaskan kepada Rara. Gadis itu selalu menghindarinya bahkan tidak mau mendengarnya sama sekali.


"Aku akan membantumu, percayalah padaku, Satria." ucap dara tersenyum.


__ADS_2