
Raden melambaikan tangan sambil tersenyum melihat kepergian Nadia. Sedangkan Mira terus memandang tingkah laku Raden itu. Raden yang menyadari, akhirnya bertanya, " Kenapa kamu memandangku seperti itu?"
"Wah, wah. Kamu berbicara dengannya begitu sopan sekali." ujar Mira kesal.
"Lalu? Apa masalahnya untukmu?" tanya Raden.
Raden lalu menaruh tasnya dipinggir kasur. Sedangkan mira meletakkan helm motor ke atas rak buku. Raden mengebaskan selimut, namun tidak disangka ada seekor cecak berada di bawah selimut itu. Raden berteriak kaget dan berlari memeluk Mira. Alhasil Mira juga kaget saat Raden tiba-tiba memeluknya.
"Ada apa?" tanya Rara yang tidak paham.
"Lihat disitu, lihat!" teriak Raden.
Mira berjalan menuju tempat yang di tunjuk Raden. Namun memaksa agar Mira jangan membawanya karena Raden masih memeluk Mira dengan kuat. Akhirnya Mira tidak jadi menghampiri tempat itu dan berusaha menenangkan Raden. Karena Raden takut dan tidak mau tidur di kamar itu. Terpaksa Mira memutuskan agar mereka berdua mendirikan sebuah tenda sebagai tempat istirahat. Mira awalnya meminta Raden saja yang tidur di tenda. Namun, Raden terus memaksa Mira untuk menemaninya karena dia takut jika masih ada cecak yang berkeliaran. Mira terpaksa menuruti meski salah jika seorang cowok tidur bersama cewek.
Mira sedang merapikan tenda, sedangkan Raden baru saja selesai mandi. Mira masih kesal dengan Raden. Raden mengatakan pada Mira jika cicak disini terlihat menyeramkan itulah sebabnya dia tidak mau tidur sendirian. Mira menjawab jika badan Raden lebih besar dari cicak.
" Kamu sedari tadi terlihat sedang kesal. Apa kamu sedang kesal padaku?" ujar Raden.
"Gak. Aku lelah, aku mau istirahat dulu." jawab Mira.
Mira membaringkan badan. Raden mengambil sebuah buku dan membacanya. Tiba-tiba di otaknya terlintas sesuatu, Raden memutuskan keluar tenda. Namun Mira yang menyadari itu segera bangun.
"Raden. kamu mau kemana?" tanya Mira.
" Aku ingin bertanya tentang sandi WiFi pada ibu guru cantik tadi." jawab Raden.
Raden keluar dari tenda. Mira hanya terdiam mendengar jawaban dari Raden. Mira hanya menatap kepergian Raden. Entah kenapa Mira merasa sedih karena terlihat begitu menyukai ibu guru Nadia.
__ADS_1
Di tempat lain, Rara tengah belajar di ruangan belajar di kampusnya. Rara mengecek ponselnya, untuk melihat apakah Jeje dan Sasa sudah menghapus akun itu. Dan benar saja akun yang dicarinya sudah tidak ditemukan lagi. Rara sangat bahagia akan hal itu. Dia tersenyum senang, bahwa tidak akan ada yang mengganggunya lagi bahkan menjodohkan dia dengan Satria. Rara kembali belajar dengan perasaan senang.
Rara mengecek akun media sosial Bima. Terlihat Bima sudah menggantikan foto profil di akunnya. Rara tersenyum, menurutnya Bima terlihat tampan dengan foto barunya itu. Namun, saat sedang scroll beranda akun Bima. Rara melihat Bima memasukan foto bersama dengan Satria. Rara mengumpat kesal kepada Satria, baginya Satria adalah pengganggu yang paling utama dalam hidupnya. Bahkan disaat Rara tengah bahagia sambil melihat akun Bima pun harus kembali kesal dengan melihat senyum manis Bima dan Satria di alam foto itu. Rara melihat komentar mengenai foto Satria dan Bima. Rara berharap jika banyak komentar jahat terhadap Satria.
Banyak orang yang berkomentar jika Bima dan Satria kembali bersama. Bahkan ada menyinggung akun SaRa melihat aku itu sudah tidak lagi aktif. Satria juga membalas komentar dengan mengatakan jika dia dan Bima tidak punya hubungan melainkan mereka berdua sudah berteman sejak lama. Satria dan salah akun terus membalas komentar. Bahkan ada salah satu komentar yang menggelitik Rara, dimana Satria mengatakan jika dia menyukai seseorang tetapi orang itu bodoh dan tidak sadar jika Satria menyukainya. Namun Satria kembali membalas komentar jika tidak ada orang bodoh melainkan dirinya. Rara tertawa membaca komentar itu dan dia mengakui jika Satria memang bodoh.
Namun tidak disangka Rara salah menekan like pada komentar Satria itu. Rara kaget segera kembali membatalkan. Tetapi justru hal itu menimbulkan akun Satria meminta pertemanan dengannya. Rara menepuk jidatnya yang bodoh karena sudah melakukan kesalahan. Rara membatalkan permintaan pertemanan dari Satria. Karena tidak mau berteman dengan Satria.
Tidak disangka Satria muncul dibelakang Rara sambil berkata," mengapa kamu membatalkannya?"
Rara menengok kebelakang. Rara gelagapan saat Satria menghampirinya.
"Apa kamu gak ingin berteman denganku?" tanya Satria.
" Aku gak ingin berteman dengan seseorang yang selalu bersama dengan Bima ku." ujar Rara.
Karena nada suara Rara tinggi, membuat orang di sekitar yang sedang belajar terganggu. Salah satu dari mereka memberikan kode agar Rara bisa berbicara pelan agar tidak menggangu. yang lain.
"Pelankan suaramu. Orang-orang sedang belajar." ujar Satria.
Perkataan yang keluar dari mulut Satria membuat Rara kesal.
" Mengapa kamu berkata seperti itu?" Tanya Satria.
"Karena seperti itu,kan? Kemanapun kamu pergi, kamu selalu bersamanya. Kamu bahkan menggunggah foto bersamanya setiap saat." jawab Rara.
"Itu karena kami berteman dekat. Kami sudah saling mengenal sebelum masuk ke universitas ini." kata Satria.
__ADS_1
" Jadi maksudmu Bima gak normal, karena dia suka padamu." ujar Rara marah dan berdiri dari tempat duduknya.
"Gak gitu Ra." ujar Satria.
"Gak gitu bagaimana! kamu menonton film dengannya." teriak Rara.
"Pelan-pelan." ujar Satria.
Hingga salah satu mahasiswa yang duduk tidak jauh dari mereka memberi kode untuk diam. Rara tersenyum dan meminta maaf. Membuat Satria tertawa pelan. Rara berjalan menjauh dari mereka yang sedang belajar itu. Satria mengikutinya sambil tertawa.
" Kenapa kamu tertawa?" tanya Rara kesal.
" Sebenarnya, aku dan Bima memang selalu pergi bersama. Bukan hanya saat pergi ke bioskop saja. Kami pergi ke klub malam, minum-minum dan juga jalan-jalan. Dia selalu mengajakku untuk pergi bersamanya." kata Satria.
Mendengar itu, membuat Rara kesal.
"Kamu ini... apa kamu sedang pamer? Atau kamu memang sengaja membuatku kesal?" Teriak Rara.
Lagi-lagi seseorang yang duduk dibelakang Satria memberi kode agar Rara diam karena sudah menggangu mereka belajar. Rara kembali tersenyum dan meminta maaf. Sedangkan tersenyum menahan tawa, karena menurutnya tingkah Rara yang sedang kesal itu begitu menggemaskan dimatanya.
"Kamu membuatku meninggikan suaraku lagi." ucap Rara pelan.
"Bima sebenarnya memiliki masalah dengan keluarganya. Dia gak suka sendirian. Hidupnya lebih menyedihkan dari apa yang kamu bayangkan. Dia gak menyukaiku. Kamu gak perlu khawatir tentang satu hal itu." ujar Satria.
Rara mengerti apa yang dimaksud Satria, hal itu membuat merasa malu.
" Baiklah kalau begitu. sekarang persoalannya sudah jelas untukku." ujar Rara lalu pergi.
__ADS_1
Tetapi Satria tetap mengikuti langkah Rara dari belakang. Satria menarik tangan Rara. Rara menengok.
" Namun, belum untuk." ucap Satria.