Cinta Si Gigi Bungsu

Cinta Si Gigi Bungsu
Hanya menyukai Bima


__ADS_3

Rara tengah berdiri di depan Mall, pakaiannya begitu rapi. Rara menguap lebar efek karena semalam dia kurang tidur. Satria dari belakang membawakan minuman. Satria memberikan satu botol minuman untuk Rara. Rara membuka tutup botol itu dan meminumnya, Satria menatap Rara. Bagi Satria Rara terlihat cantik hari ini, meski mengenakan pakaian adiknya. Tidak disangka pilihan baju yang dipilihnya cocok dengan Rara. Mereka berdua duduk di situ, Satria juga membuka botol minumannya dan meminumnya. Rara terus menatap Satria ketika Satria tengah menikmati minumannya.


" Apa yang kamu lihat, Temanku?" tanya Satria menambahkan kata temanku.


" Gak ada, aku hanya ingin tahu. Kenapa orang seperti kamu ingin menjadi temanku?" tanya Rara.


" Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Satria balik.


" Aku hanya penasaran cowok sepopuler kamu ingin berteman dengan seorang pecundang seperti aku." jawab Rara.


Satria tersenyum saat Rara mengatakan hal itu, dia menatap Rara sambil tersenyum.


" Apa? kenapa senyum-senyum begitu sih?" tanya Rara.


" Karena bagiku, kamu bukanlah seorang pecundang." Jawab Satria lalu mengambil minuman ditangan Rara dan meminumnya.


" Kenapa kamu meminum minumanku? Bukannya kamu sudah punya?" tanya Rara.


"Karena aku ingin meminum punyamu. Selain itu, aku gak keberatan meminum dari botol yang sama dari bekas bibirmu. Karena kita teman, kan?" jawab Satria.


" Dasar gila!" ujar Rara lalu tersenyum.


Rara mengambil ponselnya di tas, dilihat ponsel itu tiba-tiba dia mengumpat. Hal itu membuat Satria ingin bertanya kepadanya.


" Ada apa?" tanya Satria.


" Seseorang merekam ku dan mengunggahnya di siaran langsung." Kata menunjukan video dirinya kepada Satria.


Ternyata video itu baru saja dibuat, dimana didalam video itu ada Rara dan Satria yang tengah duduk ditempat yang sama dimana mereka berdua duduk. Rara membaca semua komentar, rasanya bulu kuduknya berdiri disaat orang-orang yang melihat live itu berkomentar jika dia dan Satria terlihat menggemaskan.


Rara melihat ke sekitar, mencari dimana orang yang tengah merekam dirinya bersama Satria. Namun, tidak kunjung ketemu. Rara sudah tidak tahan lagi, dia ingin segera pergi dari situ. Saat Rara hendak pergi, Satria menahan tangannya. Rara akhirnya kembali duduk.

__ADS_1


" Itu hanya siaran langsung. Gak apa-apa." ujar Satria.


" Justru ini menjadi penyebab kenapa orang-orang akan salah paham." kata Rara.


Rara terdiam sejenak, lalu dengan dia berkata, " ini juga penyebab Bima salah paham."


"Ra, bukannya Bima sudah menjelaskan semuanya padamu?" Tanya Satria.


Rara merasa kecewa bayangan penolakan Bima kembali teringat.


" Apa aku harus menjauh darinya?" tanya Rara kepada Satria.


" Ya kamu harus menyerah, jika tidak orang-orang yang perduli padamu akan mengkhawatirkan mu." ujar Satria memandang Rara.


Rara merasa salah tingkah, baginya padangan Satria begitu lembut padanya. Rara segera berpamitan dengan alasan dirinya merasa tidak enak badan dan ingin pulang. Rara segera beranjak pergi meninggalkan Satria. Sedangkan Satria masih duduk dan menatap kepergian gadis itu.


Ditempat lain, Raden menarik Mira keluar aula. Dirinya tidak sabar memarahi Mira karena sudah mempermalukannya didepan masyarakat yang hadir. Mira berteriak sakit, saat Raden menarik tangannya kuat. Raden menghempaskan tangan Mira.


"Oh, kamu juga merahasiakan sesuatu dariku. kamu gak mengatakan yang sebenarnya." kata Mira membela dirinya.


" Rahasia apa maksudmu?" tanya Raden.


" Sebenarnya kamu bukan seorang mahasiswa kedokteran gigi." kata Mira.


" Kenapa kamu bisa mengatakan hal itu?" tanya Raden.


Dirinya kaget, saat Mira sudah mengetahui kebohongannya. Namun, Raden mencoba untuk tidak terlihat seperti orang yang sedang ketahuan berbohong. Dia mencoba tahu, darimana Mira bisa mengatakan hal itu.


" Jas yang kamu pakai itu bukan milikmu. Aku sudah tahu dan pemiliknya bukan dirimu. Kenapa kamu berbohong kepadaku?" tanya Mira marah kepada Raden karena sudah membohonginya.


Raden kaget, ternyata Mira sudah mengetahui kalau jas yang dipakainya bukanlah miliknya. Tetapi, Raden mencoba mencari ide untuk tetap mempertahankan kebohongannya itu.

__ADS_1


" Oh itu.. aku hanya meminjam jasnya. Dia gemar mencuri barang-barang ku, makanya ini giliran ku yang meminjam barangnya." ujar Raden ngeles.


" Oh, kalau begitu apa hubunganmu dengan cewek bernama Putri Rara Kharisma itu? Apa dia adikmu?" tanya Mira.


" Dia kakakku." ucap Raden berbohong lagi, takut ketahuan lebih tua dari Mira.


"Aku ini mahasiswa semester satu. Bagaimana mungkin dia menjadi adikku? " kata Raden meyakinkan. Dalam hati Raden memuji dirinya karena otaknya pintar untuk berbohong.


" Tapi, kenapa dia terlihat lebih muda?" tanya Mira.


" Ya,kamu benar. aku memang terlihat sangat tua. kamu keterlaluan! kamu malah mengatakan aku terlihat tua. Kamu ini memang gak punya perasaan!" kata Raden dengan wajah merasa terhina karena dikatakan tua oleh Mira. Lagi-lagi Raden dalam hati memuji dirinya yang pintar berakting. Raden lalu pergi dari hadapan Mira, senyuman bangga pada dirinya sendiri terukir di wajah.


Mira merasa bersalah, karena sudah menuduh Raden. Melihat Raden pergi, Mira pun bertanya, " Raden, kamu mau kemana?"


"Berkemas. Jangan ikut aku!" jawab Raden dengan pura-pura kesal.


"Raden, tunggu aku!" teriak Mira berlari mengejar Raden.


Saat dalam perjalanan pulang ke rumah, Rara mengingat lagi setiap kalimat yang disampaikan Bima semalam. Entah dia membayangkan Satria yang memeluk memenangkannya. Rara sampai di rumah, dia melepaskan sepatu dan meletakkannya di rak sepatu. Dirinya terus meyakinkan dirinya sendiri jika dia hanya menyukai Bima, bukan orang lain apalagi Satria. Dan tidak disangka ibu Rara ada di rumah, Rara melihat ibunya menatapnya.


"Ibu gak pergi bekerja?" tanya Rara.


"Ibu merasa gak enak badan." jawab ibu Rara.


Rara menatap ibunya, dia mengutuk dirinya. Gara-gara sikap kurang ajarnya tadi malam dia sudah membuat ibunya sakit. Dia menatap ibunya dengan rasa bersalah.


" Pakaian itu bukan pakaian yang kamu kenakan kemarin." kata Ibu Rara yang melihat Rara menggunakan pakaian yang berbeda.


Namun, Rara tidak menjawab dan pergi menuju kamarnya. Sang ibu hanya terdiam, mungkin dia merasa jika Rara masih marah kepadanya.


Rara duduk di kasurnya, dia memijit bahu dan tangannya akibat kelelahan semalam. Rara mengambil vitamin di meja riasnya dan meminumnya. Rara mengambil buku yang diambil dari tangan ibu tadi malam. Rara membuka buku itu, diambillah foto Bima. Dilihatnya foto Bima, sambil meyakinkan dirinya jika dia hanya menyukai Bima. Rara memasukan kembali foto Bima di dalam buku itu, dirinya lalu membaringkan diri sambil memeluk buku yang dipegangnya. Dia terus berkata jika dia hanya menyukai Bima, meyakinkan diri hanya Bima satu-satunya cowok yang disukai bukan yang lain.

__ADS_1


__ADS_2