Cinta Si Gigi Bungsu

Cinta Si Gigi Bungsu
Cap resmi pacaran


__ADS_3

" Jangan melakukan buruk yang menyakiti perasaan ku, ya." nasihat Rara kepada Satria karena mereka berdua telah berpacaran.


" Kita masih belum." ujar Satria.


" Hah! apa maksudmu?" Rara tidak mengerti seharusnya mereka sudah jadian.


" Aku hanya menyetujui persyaratan, namun belum mencapnya." ujar Satria.


Rara tertawa, " Apaan sih! itu bukan kontrak resmi, kamu gak usah..


Satria menarik wajah Rara dan mencium bibirnya dengan begitu lama. Satria lalu menjauhkan bibirnya dan berkata, " Aku harus melakukannya, karena sekarang kita resmi berpacaran." Satria tersenyum.


Rara malu, lalu mendorong Satria menjauh darinya, " Kenapa kamu senyum-senyum seperti itu, Satria?"


Dengan malu-malu Rara kembali berkata, " Biasanya, kamu selalu menjadi orang yang pertama kali mencium ku. Bolehkah sekarang giliran ku yang mencium mu?"


" Emang kamu berani? kita berdiri tepat didepan rumah kamu loh." ucap Satria melihat mereka berada didepan rumah Rara.


" Gak ada orang di rumah." ujar Rara dengan malu.


" Ya udah, ayo sini." Satria sambil mengangguk mau.


Rara mulai berjalan mendekati Satria, perlahan dia menyentuh pundak Satria. Lalu tangan naik menyentuh pipi Satria. Rara bingung untuk memulai sebuah ciuman, dia dengan mulai memajukan wajah sedikit lagi bibirnya akan menyentuh bibir Satria. Sedangkan Satria menutup kedua menanti sebuah bibir manis yang yang mendarat di bibirnya.


Namun, terdengar bunyi klakson motor. Rara segera mendorong Satria menjauh darinya. Ternyata itu adalah Raden, yang baru saja pulang. Rara segera menyuruh Satria bersembunyi. Raden tengah turun dari motornya untuk membuka pagar rumah.


" Hay kak." Rara pura-pura menyapa kakaknya.


" Hei! tadi kamu berbicara dengan siapa?" tanya Raden karena saat dia menuju dia melihat adiknya tengah mengobrol dengan seseorang.


Rara begitu kaget mendengar pertanyaan kakaknya. Dirinya mencoba tidak terlihat terkejut di depannya saudaranya itu.


" Gak ada apa-apa kok, kak. Bahkan gak ada siapa-siapa disini." ujar Rara, agar tidak menimbulkan kecurigaan oleh saudaranya.


" Tapi tadi aku melihat seseorang di sini."


ujar Raden karena dia yakin telah melihat seseorang bersama dengan adiknya.

__ADS_1


" Gak ada, gak ada siapa-siapa disini." ujar Rara menyakinkan kakaknya.


" Benarkah! tapi sepertinya tadi aku benar-benar melihat seseorang bersamamu."


" Gak ada seseorang pun kak. percayalah padaku."


Raden melihat disekitar, dia yakin jika tadi dia melihat seseorang bersama dengan adiknya. Namun, Rara terus berusaha meyakinkan kakaknya bahwa tidak ada siapapun yang bersama dengannya.


Namun, hal itu menjadi berdebat oleh oleh Kakak beradik itu. Rara mengatakan jika saja Raden salah lihat, namun Raden tetap bersikukuh kalau dia tidak salah lihat.


" Mungkin hantu kali yang kakak lihat." ujar Rara.


" Gak, sosoknya laki-laki, gak mungkin hantu." ujar Raden, percaya dengan penglihatannya.


Saat Rara menuju dapur, dia begitu kaget melihat Satria bersembunyi di sana.


" Kamu kenapa Ra?" teriak Raden yang masih diruang tamu.


" Apa yang kamu lakukan? pergilah." ucap Rara berbisik-bisik agar tidak ketahuan oleh Raden jika ada Satria di rumah mereka. Rara terus meminta Satria untuk segera keluar dari rumahnya. Namun, memberi kode jika dia tidak tahu cara untuk keluar sebab Raden ada di ruang tamu.


Raden yang merasa Rara tidak merespon pertanyaan, merasa khawatir dengan adiknya itu dan berjalan menuju ke dapur. Raden melihat tingkah adiknya yang aneh. Raden lalu segera menghampiri adiknya itu


Rara begitu kaget, saat raden berada di belakang. Rara berbalik badan menghadap Raden, dia berdiri meletakkan tangan didinding seolah sedang melakukan peregangan otot.


" Aku lagi.. peregangan. Karena aku terlalu membaca buku seharian sehingga otot-otot ku tegang." ujar Rara berpura-pura memegang pinggangnya.


Satria yang masih berada di situ tertawa mendengar alasan Rara itu.


" Kamu ini semakin hari, semakin aneh saja." ujar Raden yang tidak mengerti dengan kelakuan adiknya.


" Gak kok. Tapi ngomong-ngomong kak, mama meninggalkan pesan katanya mereka akan bekerja dari malam sampai pagi. Jadi kita disuruh mencari makan malam sendiri." ujar Rara mengalihkan pembicaraan agar Raden tidak melihat Satria yang duduk dibalik meja dapur sambil tangannya memberi kode agar Satria segera pergi dari situ.


" Eum, bisakah kakak pergi mencari makan malam untuk kita." Rara meminta Raden untuk pergi mencari makan malam, agar Satria bisa keluar dari rumahnya.


" Aku udah kenyang." Sayangnya Raden sudah makan mal di luar.


" Tapi aku lapar loh kak. Tolong belikan aku makan makan." pinta Rara kepada kakaknya itu.

__ADS_1


" Gak mau ah, aku malas. Pesan saja lewat online."


Namun, usaha Rara tidak berhasil. Rara terus memaksa saudaranya itu.


" Tolonglah Abangku tersayang. tolong belikan aku makan malam." pinta Rara mendorong tubuh kakaknya agar keluar membelikan makan malam untuknya.


Setelah bisa membuat Raden pergi dari dapur, Rara menuju ke tempat persembunyiannya Satria. Ternyata Satria sudah tida ada disana.


" Kemana perginya?" Rara melihat Satria sudah tidak ada.


Ternyata Raden tidak pergi mencarikan makan malam untuk adiknya, melainkan dia kembali ke dapur berdiri dibelakang adiknya.


" Apanya yang pergi kemana?" tanya Raden membuat Rara kaget.


Rara lalu pergi ke kamar mandi, supaya Raden tidak bertanya banyak kepadanya. Namun tidak disangka Satria berada di kamar mandi. Rara segera mengunci pintu kamar mandi agar Raden tidak masuk ke kamar mandi.


" Aku pikir kamu sudah pergi." ujar Rara saat melihat Satria.


" Aku gak tahu harus bersembunyi kemana lagi." Satria terlihat dia tidak tahu cara keluar dari rumah Rara, karena jika ketahuan dia pasti dihajar oleh Raden.


" Tetapi kenapa kamu bersembunyi disini?" Rara mengeluh kepada Satria, karena menurutnya kamar mandi bukanlah tempat persembunyian yang tepat untuk menghindar dari Raden.


" Aku ingin keluar, tetapi gak jadi sebab aku mendengar kamu bilang kepada kakakmu untuk keluar membelikan makan malam untukmu. Aku takut jika ketahuan olehnya."


Rara begitu stres, bagaimana Satria akan keluar, sedangkan Raden masih berada didalam rumah.


" Kamu yang memutuskan sendiri masuk kedalam rumah ini. Jadi kamu harus berfikir untuk bisa keluar dari rumah ini."


" Aku gak berfikir apa-apa lagi Ra. Kamu yang memintaku untuk bersembunyi."


" Tapi gak masuk kedalam rumah ini juga, lalu bagaimana kamu bisa keluar."


Kebetulan Raden berjalan melewati pintu kamar mandi, dia mendengar suara Rara yang tengah berbicara. Raden merasa dan akhirnya bertanya, " Ra, kamu berbicara dengan siapa?"


Rara yang kewalahan berfikir agar bisa membuat Satria keluar dari kamar mandi menjadi gugup saat mendengar suara kakaknya bertanya.


" Gak kak, aku bicara dengan diriku sendiri." ujar Rara.

__ADS_1


Raden menggeleng kepalanya mendengar ujaran adiknya itu. Dia berfikir jika Rara sudah mulai gila.


Rara menarik tangan Satria, bagaimanapun juga Satria harus segera keluar dari rumahnya. Dia mencoba memastikan apakah kakaknya masih di depan pinta kamar mandi atau tidak. Setelah mendengar deru langkah menjauh Rara segera menarik tangan Satria.


__ADS_2