
Raden sudah siap untuk memeriksa gigi anak-anak di desa itu. Dia juga memakai jas yang dicurinya dari Rara sang adik. Raden memerankan perannya layaknya seorang dokter gigi. Padahal dirinya sendiri saja tidak tahu bagaimana cara memeriksa gigi anak-anak itu.
" Coba ku periksa gigimu ya," ujar Raden.
Saat anak cowok memperlihatkan giginya. Raden begitu kaget, karena gigi anak itu sudah menghitam bahkan ada yang sudah patah. Raden berkata dalam hati itu barusan gigi atau apa. Karena baru pertama kali dirinya melihat gigi seperti itu.
" Tolong periksa giginya dok. dia sudah menyikat giginya secara rutin tetapi masih saja berlubang." ujar ibu dari anak cowok itu.
" Aku menyikat gigiku setiap hari. kenapa gigiku masih berlubang?" tanya anak itu.
Sang ibu dari anak itu meminta solusi dari dokter, apa yang dilakukan agar gigi anaknya itu tidak berlubang lagi. Raden menatap bingung, dia merasa jika tidak perlu baginya untuk memeriksa gigi anak itu. Karena sudah rusak total menurut Raden. Saat Raden ingin menyerah untuk tidak memeriksa gigi anak itu. Ternyata Mira datang menghampirinya, hal itu membuat Raden kembali ke perannya.
"Pertama-tama, berhentilah memakan permen." Kata Raden merebut permen yang sejak dari tadi dipegang anak itu.
Karena nada suara Raden yang kasar bahkan sampai mengambil permen anak itu. Membuat anak itu menangis, dan memeluk ibunya. Sang ibu dari anak itu merasa kesal, bahkan ibu itu merasa jika Raden bukanlah seorang dokter gigi. Karena sikap Raden yang terlalu kasar bagi anak kecil. Raden bingung, tetapi dia tetap menyangkal dan mengatakan jika dia memanglah seorang dokter gigi, sebagai bukti Raden menunjukan jas yang dipakainya. Sedangkan Mira hanya berdiri menyaksikan adegan itu di depannya. Ibu dan anak itu tidak perduli dan memilih pergi dari situ. Raden merasa kesal, emang benar jika dirinya memang bukanlah seorang dokter gigi. Jadi bagaimana bisa dia mengobati gigi anak itu. Mira menghampiri Raden.
"Raden, kenapa kamu mengenakan jas? kita ini hanyalah mahasiswa. Orang-orang akan berfikir kalau kamu benar-benar seorang dokter gigi." kata Mira.
"Bagiku itu gak masalah. Aku juga akan mengenakan jas ini saat udah lulus nanti. Gak ada bedanya,kan?" ujar Raden.
Raden lalu memanggil pasien selanjutnya yang memang sedari tadi sudah mengantri. Sedangkan Mira tetap berdiri dan melihat cara Raden yang memeriksa pasiennya.
Di kampus, Rara duduk di lantai halaman Fakulitas. Rara menatap masker yang diterimanya dari Satria. Rara menghela nafasnya lemah dan mengingat kembali semua perkataan serta apa yang Satria lakukan padanya selama ini. Rara menghela nafas panjang dan menghembuskan perlahan. Dalam hati dia terus meyakinkan dirinya untuk tidak boleh menyukai Satria. Dan hanya Bima yang boleh Rara sukai. Rara mengingat kembali momen saat pertama kali dirinya bertemu dengan Bima. Rara menatap masker ditangannya. Mungkin ini saat yang tetap bagi Rara untuk mengungkapkan perasaannya.
__ADS_1
Di sisi lain Raden bermain air dengan ke empat temannya itu. Mereka menyiram air ke Yogi hingga Yogi hampir terjatuh. Hal itu membuat Yogi marah dan meminta mereka untuk menghentikan menyiram air kepadanya. Raden begitu kesal akan kejadian tadi saat dirinya melakukan pemeriksaan kepada anak-anak.
" Sial! Hampir saja aku gagal melakukan pemeriksaan itu." ujar Raden.
"Lalu kenapa kamu harus berbohong pada Mira kalau kamu seorang mahasiswa kedokteran gigi." ucap Ken lalu menyiram air ke arah Raden.
"Aku sebenarnya gak niat berbohong. Namun, saat dia mengatakan jika ada kakak tingkat yang bodoh di kelas kita. Aku gak ingin menjadi kakak tingkat yang bodoh itu." kata Raden pembelaan diri.
"Itu sebabnya kamu berbohong jika kamu juga seorang mahasiswa kedokteran gigi." ucap Jay lalu menyiram air ke arah Raden.
" Hal itu gak terencana. aku gak punya banyak waktu itu berfikir saat itu." ujar Raden.
"Kalau begitu kenapa kamu gak mengatakan yang sebenarnya?" tanya Jay kembali menyiram Raden dengan air.
" Aku gak bisa mengatakan yang sebenarnya. Biarkan saja itu semua terjadi." ujar Raden.
"Gak begitu woi!" ucap Raden mengelak.
" Berhentilah mengelak!" ucap Ken menyiramkan air di wajah Raden.
"Kamu menyukainya." ujar Yogi menyirami air ke arah Raden dan disusul oleh ketiga geng Anjay lainnya. Hingga terjadilah aksi siram-siraman.
Malam telah tiba, Raden tengah mencuci celana pendeknya. Entah kenapa kata-kata dari temannya itu terlintas. Namun, Raden berusaha untuk tidak termakan dengan omongan teman-temannya itu. Saat sedang asyik mencuci, Raden menyadari jika celana pendeknya itu robek hingga berlobang. Raden mengangkat robekan itu ke atas sambil mengumpat. Tidak disangka disela-sela robekan itu dia melihat Mira yang berjalan menghampirinya.
__ADS_1
" Eh! kenapa kamu kemari?" tanya Raden.
Mira tersenyum lalu menjawab, " aku bawakan sikat gigi baru untukmu. Sikat gigimu sudah rusak, kebetulan aku juga membawa sikat gigi baru."
Mira memperlihatkan sikat gigi baru itu kepada Raden sambil tersenyum. Raden terdiam sejenak, lalu kembali mengucak celana pendeknya itu sambil mengucapkan terima kasih kepada Mira. Sedangkan Mira hanya tersenyum menatap Raden.
Ditempat lain, Rara sudah di depan apartemen Bima. Rara menenangkan dirinya, kali ini dirinya tidak boleh gagal lagi. Dia harus mengungkapkan perasaannya. Bima keluar dari apartemen sambil tersenyum ke arah Rara yang tengah berdiri menunggunya. Rara tersenyum saat Bima berjalan menghampirinya.
"Hai Ra!" sapa Bima.
"Hai." balas Rara.
" Apa aku membuat kamu menunggu?" tanya Bima.
" Gak kok. Ini aku membelikan kamu makanan" ujar Rara sambil menunjukan makanan yang dia beli untuk Bima.
"Wah! ini banyak sekali. kalau gitu letakkan saja di meja ini." Ucap Bima.
Rara meletakkan jajanan yang dibelinya di meja, lalu duduk di kursi kembali bersama dengan Bima.
" Tadi aku mencari mu di fakulitas kedokteran. Kata temanmu, kamu sedang sakit dan beristirahat di rumah. Setelah mendengar itu aku membeli makanan ini dan segera kemari. Semua ini kesukaanmu loh, ada bubur ayam, minuman ginseng serta buah-buahan dan ini yang paling spesial roti isi cokelat kesukaanmu. aku lakukan ini karena aku perduli padamu." Kata Rara.
Bima hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada Rara.
__ADS_1
" Eum Ra, ini kayaknya terlalu banyak. Apa kamu gak berat membawanya?" tanya Bima.
Mendengar pertanyaan itu membuat Rara berakting seolah makanan yang dibawanya itu sangat berat hingga membuat tangannya sakit. Bima mengambil tangan Rara dan memijitnya. Rara terdiam, apakah ini sinyal yang dimaksud oleh kakaknya Raden. Jadi apakah ini ada kemungkinan bahwa Bima juga punya perasaan yang sama dengan Rara.