Cinta Si Gigi Bungsu

Cinta Si Gigi Bungsu
Jangan tinggalkan aku


__ADS_3

Bunyi gemuruhnya hujan terdengar, Rara tidak memperdulikan hujan yang turun dengan derasnya. Rara terus berjalan, membiarkan tubuhnya yang terguyur air hujan. Rara mengingat kembali perkataan Bima padanya. Hatinya terasa sakit, mengingat penolakan itu. Rara juga teringat dengan perkataan ibunya barusan. Entah kenapa Rara merasa jika ibunya sama sekali tidak perduli dengan perasaannya. Kaki tersandung hingga Rara terjatuh ke tanah. Bukannya segera bangkit, Rara malah terdiam dan menangisi dirinya sendiri. Rara merasa dirinya begitu payah akan hidup. Rara terus menangis, dia terbangun dan duduk di tanah. Rara memukul dadanya yang begitu sesak menahan sakit hati yang selama ini dipendamnya. Rara merasakan tetesan hujan seperti berhenti membasahi tubuhnya. Dilihatkan dia ke atas, ternyata Satria berdiri dan memayunginya.


"Ra, kamu baik-baik saja?" tanya Satria yang terlihat khawatir.


Tidak ada jawaban, hanya air mata yang mengalir di wajah Rara. Satria memegangi bahu Rara, agar Rara bisa berdiri.


" Kenapa! Kenapa harus seperti ini! aku gak paham. Kenapa! Kenapa Bima gak menyukaiku? Kenapa ibuku gak mengerti dengan diriku? Kenapa! aku gak paham dengan hal ini. Kenapa! Sejak aku masih kecil hingga sekarang, aku gak pernah melakukan segalanya dengan benar. Aku ini pembawa sial! Aku gak pernah beruntung dalam hal apapun di hidupku! Aku hanya..." teriak Rara sambil menangis.


Satria langsung memeluk Rara, payung yang sedari tadi melindungi mereka terjatuh begitu saja. Satria memeluk Rara kuat, dan membiarkan air hujan membasahi tubuhnya. Rara menangis di pelukan Satria.


"Aku akan menjadi vaksin untukmu, Ra." ucap Satria.


"Hiks.. hiks.. Jangan tinggalkan aku." ujar Rara dalam pelukan Satria.


Setelah merasa baik, Satria mengajak Rara ke tempat studi, bagi anak-anak sekolah untuk belajar. Mereka duduk supaya Rara lebih tenang, Satria mengambil segelas air putih untuk dirinya dan Rara. Rara meminum air putih itu, dia mulai merasa dirinya sudah tenang. Satria kembali pergi untuk membeli sesuatu. Selama Satria pergi Rara yang duduk terdiam, sambil memijit kepalanya yang pening. Tidak selang berapa lama, Satria membawa sebuah cemilan.


" Kamu mau?" tanya Satria menawarkan cemilan yang dibelinya. Satria yakin jika Rara akan suka dengan cemilan itu, toh Satria pernah melihat Rara memakan cemilan itu.


" Gak! Aku sedang gak berselera." jawab Rara.


" Baiklah, kalau kamu gak mau. Biar aku yang menghabiskan cemilan ini." ujar Satria. Satria lalu membuka cemilan itu.


Rara memandang Satria, dia mengumpat pada dirinya sendiri. Rara merasa malu, kenapa dia mesti menangis di depan cowok itu. Gara-gara itu, Rara merasa citra dirinya hancur di depan Satria. Sedangkan Satria sedang asyik menikmati cemilan di tangannya.

__ADS_1


" Eum.. cemilan ini beneran enak ternyata. Sekarang aku tahu kenapa kamu begitu menyukai cemilan ini. Kamu yakin gak ingin memakannya? Rasanya enak loh." ujar Satria menggoda Rara.


Rara menatap Satria, lalu juga memandang cemilan di tangan Satria. Melihat Satria yang memakan cemilan itu, Rara berubah pikiran untuk juga mencobanya. Rara mengambil cemilan ditangan Satria, dan mencobanya. Sedangkan Satria hanya tersenyum memandang Rara yang kembali menikmati cemilan itu.


" Ra, Kenapa kamu begitu menyukai cemilan itu?" tanya Satria.


" Awalnya kakakku yang duluan memakan cemilan ini. Dia berikan padaku untuk mencicipinya. Hanya dengan satu gigitan saja, aku langsung menyukainya. Sejak saat itu cemilan ini menjadi cemilan favoritku. Terkadang, aku memakannya, sampai lupa dengan makanan berat. Karena itulah ibuku sering memarahi aku," kata Rara lalu terdiam sejenak, entah kenapa sedih rasa sedih itu muncul kembali.


" Menurutku... ibuku pasti merasa jauh lebih sedih daripada apa yang aku rasakan saat ini." kata Rara.


" Hadeh! Padahal baru saja aku ingin mengobrol biar kamu tenang, eh kamu malah kembali membahas masalah ini. Lalu pernahkah ibu melarang mu memakan cemilan ini?" tanya Satria.


"Ibuku hanya mengeluh saja, aku memakannya dan lupa memakan makanan berat." jawab Rara.


" Namun, aku belum siap. Hal itu mungkin akan susah diterima ibuku. Eum, Satria! aku haus. bisakah aku meminta bantuan mu?" ujar Rara lalu duduknya pun lebih dekat ke meja. Kebetulan Satria duduk menghadap kearahnya.


"Melakukan apa?" tanya Satria.


Rara memberi kode dengan jarinya agar Satria lebih mendekat kearahnya. Satria yang paham lalu mendekati Rara, Rara mulai berbisik kepada Satria. Satria kaget dengan apa yang dikatakan Rara.


" Kamu yakin kalau kamu mau itu?" tanya Satria.


"Iya." jawab Rara.

__ADS_1


"Lebih baik jangan. Aku gak ingin mengendong mu lagi." ujar Satria.


Jadi yang dibisikkan Rara kepada Satria ialah dia meminta Satria untuk membelikannya minuman beralkohol.


" Kamu bilang kalau kamu temanku. masa kamu gak bisa melakukan itu untuk temanmu ini?" ujar Rara.


Satria hanya terdiam, mau tidak mau dia harus menurutinya. Satria tahu jika Rara anak yang keras kepala. Meski dirinya menolak Rara akan tetap memaksa. Satria berdiri dan pergi membelikan minuman beralkohol itu. Karena ditempat studi memiliki aturan untuk tidak boleh membawa minuman keras, agar tidak ketahuan Satria memiliki ide. Satria membeli minuman jus, lalu membuang isi jusnya dan diganti dengan minuman beralkohol itu. Satria masuk, dan menghampiri Rara. Sebelum memberikan minuman itu, Satria kembali menasihati Rara.


"Ra, sepertinya ini bukan ide yang bagus." ujar Satria.


Namun, Rara malah tersenyum dan mengambil minuman tetapi ditahan Satria.


" Karena, terakhir kamu meminumnya, kamu malah pingsan." ujar Satria lagi.


Rara ngeyel dan tetap mengambil minuman itu dengan mengatakan, " Kakakku bilang aku akan mudah mabuk jika perutku sedang kosong. Namun, sekarang perutku sudah terisi dengan cemilan ini."


Tetapi, Satria kembali menarik minuman itu. Demi meyakinkan Satria, Rara lalu mengatakan jika dirinya akan meminumnya seteguk, sisanya akan diberikan kepada Satria.


"Kamu yakin akan baik-baik saja?" tanya Satria khawatir takut Rara kembali pingsan.


"Iya, tenang saja." ucap Rara segera mengambil minuman itu dan meminumnya. Rara menatap wajah Satria yang menatap tajam kearahnya. Rara tidak perduli, dia malah meminumnya sampai habis. Hal itu membuat Satria segera menarik minuman itu. Satria melihat minuman itu sudah tersisa sedikit saja. Rara tersenyum senang, karena sudah menipu Satria.


Satria yang memandang Rara, merasa jika Rara sudah mulai mabuk. Rara berlari, dia melihat ada sebuah permainan menari. Rara berteriak dan memanggil Satria. Satria mengikuti wajah begitu khawatir dengan keadaan Rara. Satria juga meminta maaf kepada orang-orang di situ. Disebabkan oleh teriakan Rara yang sudah menganggu mereka.

__ADS_1


__ADS_2