Cinta Si Gigi Bungsu

Cinta Si Gigi Bungsu
Perasaan bersalah


__ADS_3

Raden dan Mira tengah mengemasi pakaian mereka berdua kedalam tas masing-masing. Sebelum mengisi kedalam tas, Raden melihat dulu apakah baju dan celana masih layak di pakai atau tidak. Bahkan jika kedapatan ada celana robek, Raden langsung membuangnya. Sedangkan bergerak lebih lambat, dia melipat semua pakaian sebelum ditata dalam tas.


Raden yang melihat Mira, masih belum selesai akhirnya berkata, " Kamu mau pulang hari ini atau tahun depan? Dilihat dari caramu berkemas, itu gak akan selesai sampai tahun depan."


Mira tidak membalas perkataan Raden, dia masih sibuk dengan kegiatannya melipat pakaian. Raden yang merasa tidak ada respon dari Mira kembali berkata, " Aku sedang berbicara denganmu. Kenapa kamu mengabaikan ku?"


Tetapi Mira tetap tidak merespon setiap kalimat yang Raden lontarkan.


" Baiklah, Jika kamu gak ingin berbicara denganku. Maka kamu gak ikut pulang pulang bersamaku." ujar Raden dengan mengancam, dia yakin jika Mira akan kembali berbicara dengannya.


Mira menatap Raden, saat Raden mengatakan hal itu padanya. Melihat Mira menatapnya, Raden tersenyum, dia yakin jika Mira takut pulang sendirian.


" AHA! kamu pasti takut aku tinggalin kamu disini, kan?" ujar Raden menggoda Mira.


Namun, respon Mira malah datar, dan bilang jika Raden boleh pergi duluan, dia akan bisa pulang sendirian. Hal itu membuat Raden terdiam, tebakan dia salah.


" Apa katamu? Sebenarnya ada masalah apa? Kenapa kamu terlihat menyedihkan seperti ini?" Tanya Raden bingung dengan respon Mira barusan.


" Aku sudah melakukan banyak kesalahan padamu. Kamu pasti udah gak percaya sama aku lagi. Itu sebabnya kamu membohongiku. Kamu juga pasti merasa terganggu dengan kehadiran ku." Kata Mira.


" Sebenarnya, gak seburuk itu." ujar Raden meyakinkan Mira untuk tidak merasa bersalah padanya.


" Gak apa-apa. Kamu bisa pulang lebih dahulu. Aku gak mau mengganggu kamu lagi." ujar Mira.


" Baiklah, kamu sendiri yang mengatakannya. Kalau begitu, aku pulang sekarang." Ujar Raden lalu keluar dari tenda dengan membawa ranselnya.


Mira terdiam, kalimat terakhir di ujarkan Raden begitu menyakitkan baginya. Namun, Mira tidak ingin menganggu Raden lagi. Meski sakit, Mira mencoba untuk menahan rasa sakit itu.


Ibu Nadia tengah menghapus papan tulis bekas acara tadi. Tiba-tiba Yogi dari geng Anjay mendekat.


"Butuh bantuan?" tanya Yogi.


Ibu Nadia kaget mendengar pertanyaan itu. karena sedari tadi dia sendiri di dalam aula.


" Gak apa-apa. aku bisa melakukannya sendiri." jawab ibu Nadia tersenyum.


" Jangan bilang begitu, seharusnya bilang tolong bantu aku, aku memerlukan cintamu." kata yoga mulai mengeluarkan jurus gombalan mautnya.


Ibu Nadia tertawa, dan berkata, " Barusan, terlalu berterus terang."

__ADS_1


Tiba-tiba Ken datang mendorong tubuh Yogi. Yogi kaget saat Ken melakukan itu padanya.


" Maafkan dia, si gendut ini memang gak sopan." ucap Ken.


Yogi tidak terima dengan perlakuan Ken barusan padanya. Dia bertanya kepada Ken apakah Ken mencoba merundung ku, bahkan Yogi meminta agar bersaing dengan adil sambil mendorong tubuh Ken. Ibu Nadia yang melihat itu hanya terdiam, ingin mencoba melerai namun tidak tahu harus berbuat apa.


" Adil?" tanya Ken.


" Ya." jawab Yogi.


" Apakah ibu sudah pacar?" tanya Ken langsung pada ibu Nadia.


" Belum." jawab ibu Nadia.


" Kalau begitu jika hanya tersisa dua cowok di dunia ini, aku dan si gendut ini, siapa yang akan ibu pilih?" tanya Ken.


Yogi tidak terima dengan pertanyaan itu, karena menurutnya itu akan membuat ibu Nadia tertekan. Sedangkan ibu Nadia hendak menjawab pertanyaan itu , namun di urungkan lagi niatnya akibat Yogi.


" Kamu ini benar-benar kurang ajar! Jika kamu gak tahu bagaimana cara merayu lebih baik pergi saja. Lihat, perhatikan dan pelajarilah dariku." ujar Yogi kepada Ken.


" Kenapa aku harus belajar darimu? Dasar gendut!" kata Ken menjitak kepala Yogi.


Yogi yang tidak terima menarik baju Ken. Hingga akhirnya terjadi pertengkaran diantara mereka berdua. Ibu Nadia sedari tadi melihat mulai mendekat agar mereka berdua berhenti bertengkar. Tiba-tiba pertengkaran itu berhenti akibat bunyi notifikasi pesan dari ponsel ibu Nadia. Ibu Nadia mengatakan jika ada seseorang yang mengundangnya bermain game bersama.


" Baik, apa yang kakak katakan, aku bersedia." ujar Deni.


Kakak? Jadi Deni sudah memanggil ibu Nadia dengan embel-embel kakak, biar tidak terlihat tua, begitu kata ibu Nadia.


Sedangkan Yogi dan Ken hanya menatap Deni yang berjalan memegangi ponselnya.


Deni melihat kedua temannya itu sambil berkata, " Kalian berdua payah!"


Ibu Nadia menghampiri Deni untuk bermain game bersama. Jay melihat kedua temannya itu sambil mengejek mereka berdua.


Raden memasukan ranselnya kedalam mobil. Yogi, Ken dan Jay menghampiri Raden dengan membawa tas masing-masing.


" Kamu mau pulang sekarang?" tanya Ken.


" Ya, " jawab Raden.

__ADS_1


" Lalu bagaimana dengan pacarmu?" tanya Jay. Yang dimaksud Jay adalah Mira.


" Maksudmu, pacar bapakmu!" ucap Raden kesal.


"Kenapa bapakku yang kamu bahas disini? Lalu dimana Mira?" tanya Jay yang tidak melihat Mira. Biasanya dimana ada Raden dibelakangnya ada Mira.


" Dia bilang akan pulang sendiri." jawab Raden.


" Pulang sendiri? gimana caranya? ini masih wilayah pedesaan." ujar Jay. Dan diiyakan oleh Ken.


" Kalian mengkhawatirkan. Kalau begitu pulanglah bersamanya." kata Raden.


" Mengapa bisa seperti ini? Aku datang kemari bersama sahabat ku, Ken." Kata Jay.


" Oh, jadi dia sahabatmu? bagaimana dengan diriku yang menemani mu pergi setiap acara casting?" tanya Yogi yang tidak terima saat Jay mengatakan hanya Ken sahabat Jay.


" Jangan begitu dong sahabatku." kata Jay mencoba memeluk Yogi. Namun, di dorong oleh Yogi yang kesal dengan Jay.


" Gak perlu bicara padaku! Pulang saja kamu dengannya. Aku akan pulang dengan Raden." ucap Yogi mendorong tubuh Jay, yang terus mencoba memeluknya. Yogi berjalan mendekati Raden.


" Kenapa bisa seperti ini?" tanya Jay yang tidak mengerti dengan sikap sahabatnya itu.


" Jadi, si gendut ini sahabatmu? Kalian pulang saja bersama. Aku akan pulang sendiri." Kata Ken berjalan menuju mobilnya, nampak Ken juga kesal melihat Jay yang terus mencoba memeluk Yogi tadi.


" Hah! Ken! jangan begitu dong!" ujar Jay yang bingung dengan sikap Ken yang berubah.


Diantara pertikaian antar Yogi, Jay, dan Ken. Deni sedang berlari menuju ke arah mereka.


" Hey! tunggu sebentar! Aku baru saja selesai bermain game." ujar Deni.


"Sebenarnya apa yang membuat kalian berantem seperti ini?" tanya Raden pada Yogi.


" Akan ku ceritakan di mobil." jawab Yogi berjalan membuka pintu mobil. Dan Raden mengikutinya.


Deni diizinkan untuk pulang bersama Ken, sedangkan Jay yang sedari tadi merayu Ken untuk tidak marah padanya tidak perbolehkan untuk pulang bersama. Akhirnya, dia memilih untuk pulang bersama dengan Raden. Entah kenapa Deni merubah fikirannya dan memilih pulang bersama dengan Raden juga meninggalkan Ken sendirian. Hingga Ken merasa kesal, dan mengumpat ketiga temannya itu.


Tiba-tiba Mira datang dengan wajah lesu, dilihatlah Ken yang sendirian dengan mobilnya. Ken yang melihat Mira akhirnya bertanya, " Kamu akan pulang denga siapa?"


"Entahlah," jawab Mira.

__ADS_1


" Kalau begitu pulanglah bersamaku." ujar Ken.


Mira mengangguk dan berjalan memasuki mobil.


__ADS_2