
Rara sedang menunggu lift, saat lift terbuka dia tidak sengaja menabrak seorang cewek yang membuat botol air minum yang dibawa cewek itu terjatuh.
" Maaf." ucap Rara. Cewek itu segera mengambil botol minumannya.
" Apa kamu baik-baik saja?" tanya Rara khawatir kepada cewek itu.
" Iya, gak apa-apa. Kakak sendiri gimana?"
" Aku baik-baik saja." jawab Rara. Tanpa tidak disengaja Rara melihat klip ikan yang dia berikan kepada Bima, ada di tali botol air minum cewek tersebut. Cewek itu terus menunduk melihat botol air minumnya.
" Apa kamu yakin baik-baik saja?" tanya Rara memastikan, karena Rara melihat cewek itu terlihat murung.
" Aku baik-baik saja." ujar cewek itu lalu pergi dari hadapan Rara. Rara menatap kepergian cewek itu. Karena Rara berdiri bengong, seseorang yang sedari tadi menunggunya di lift melihat Rara tidak kunjung segera memencet tombol lift. Rara yang menyadari pintu lift sudah tertutup segera menekan kembali, hingga pintu lift terbuka dan Rara segera masuk.
Rara berada di ruangan praktek pemeriksaan gigi. Karena mata kuliah hari ini merupakan praktek. Bagaimana seorang calon dokter gigi memeriksa pasiennya. Rara sedari tadi bengong, air kran terus mengalir. Dipikirkan Rara saat ini adalah klip ikan yang diberikan kepada Bima ada di seorang cewek yang ditabraknya tadi. Seorang datang menghampirinya, dia memanggil Rara dan menyadari Rara bahwa air kran di depan Rara terus mengalir. Rara tersadar dan segera mematikan air itu.
" Kenapa Fika?"
" Sebenarnya ada hubungan apa kamu sama Satria?" tanya Fika kepada Rara.
" Kami gak ada hubungan apa-apa. emangnya kenapa?"
" Aku melihat sebuah akun yang sering memperlihatkan foto kalian berdua."
Rara kaget mendengar kata akun. Rara lalu bertanya pada teman sekelasnya itu, "Akun apa?"
"Kamu belum melihatnya." kata Fika mengambil ponselnya di saku jas laboratoriumnya. Fika membuka ponselnya dan menunjukan akun itu kepada Rara.
" Itu akunnya yang bernama SaRa (Satria Rara)." kata Fika.
__ADS_1
Rara melihat aku tersebut. Rara begitu kaget melihat akun itu, padahal dirinya sudah mengancam mereka untuk tidak membuka akun itu lagi. Rara melihat semua postingan di akun itu, yang begitu kesalnya ketika mereka membuat postingan foto rumah Rara. Bahkan ada yang berkomentar dan mengatakan jika kedua orang tua Rara adalah seorang dokter. Rara begitu kesal, karena mereka sudah membahas tentang orangtuanya. Bahkan lebih parahnya mereka juga memposting foto kakak sulung Rara. Rara begitu kesal, dia merasa mereka sudah kelewatan.
Rara membuka siaran langsung diakun itu, di video itu ada Jeje dan Sasa mereka membuat siaran langsung untuk mewawancarai Satria tentang hubungan Satria dan Rara. Rara merasa kesal, dia ingin segera menemui mereka. Rara mengembalikan ponsel temannya itu. Dia segera mengambil tasnya dan berjalan dengan cepat untuk menemui Jeje dan Sasa. Jeje dan Sasa begitu senang karena Satria mau untuk ikut siaran langsung bersama mereka.
" Aku gak ingin bercerita banyak. Karena itulah perasaanku yang sebenarnya. aku ingin menjaganya dan juga ingin mengobatinya." kata Satria di siaran langsung itu.
Jeje dan Sasa terbawa perasaan ketika Satria melontarkan perkataan. Bagi mereka perkataan itu begitu manis, dan pasti banyak orang yang semakin menyukai mereka berdua. Lalu Sasa bertanya, " Mengapa dia memerlukan pengobatan?"
" Karena dia gak tahu seperti apa keinginan hatinya." jawab Satria.
" Apa itu disebut penyakit atau apa?" tanya Jeje.
" Ya, itu penyakit. Hal itu terjadi saat orang gak jujur terhadap hati dan perasaannya sendiri." jawab Satria.
" Bisa kamu jelaskan bagaimana gejala penyakitnya, biar semua orang yang menonton ini paham dan bisa saja ada penonton yang juga mengalaminya." tanya Jeje.
" Mencintai, tetapi menyangkal. Dia menyukaiku, tetapi gak ingin mengakuinya." jawab Satria.
Rara datang dan mengambil ponsel yang sedang siaran langsung itu ditangan Jeje.
" Berhentilah bersikap seperti ini. Kalian berdua juga, berhentilah." ujar Rara dengan kesal.
" Aku tahu kak Rara hanya berpura-pura." ucap Jeje.
" Berpura-pura?" Rara tersenyum sejenak lalu membuang ponsel itu.
Namun, Jeje tidak perduli. Dia mengambil ponsel yang lainnya di tasnya dan melanjutkan siaran langsung. Tetapi lagi-lagi Rara mengambil kembali ponsel itu ditangan Jeje. Lalu kembali rara membuang ponsel yang kedua itu.
" Hey kamu! berhentilah bersikap seperti itu. Aku ini gak keras hati dan gak sakit apa-apa. Aku gak memerlukan vaksin darimu. Gak perduli berapa pertanyaan yang kamu ajukan, jawaban ku tetap sama. AKU GAK SUKA PADAMU." Kata Rara menekan kalimat terakhirnya.
__ADS_1
" Berhentilah mengganggu hidupku. Kalian berdua juga. Aku gak terima dengan apa yang kalian lakukan. Kalian udah tahu jika apa yang kalian tulis dan unggah adalah hal yang gak benar. Semuanya gak terkendali sekarang, semua orang tahu tentang keluarga ku. Mereka tahu orang tua ku bekerja sebagai dokter. Mereka juga tahu tentang kakakku. Mereka juga berkata akan datang ke kamarku. Justru hal itu membuat aku gak baik-baik saja." Kata Rara dengan marah lalu pergi meninggalkan mereka.
Sasa merasa begitu bersalah dengan Rara, Sedangkan Satria berusaha memanggil Rara. Satria berusaha mengejar Rara sambil memanggilnya. Namun, Rara menghiraukan dan terus berjalan. Satria berlari dan menarik tangan Rara.
" Ra, tunggu sebentar. Tenangkan dirimu, kamu gak seharusnya memarahi mereka seperti itu." ujar Satria.
" Emangnya kenapa! gak boleh? Hidupku sedang diusik sekarang."
" Aku akan bertanggung jawab sepenuhnya akan hal itu."
" Jadi akun penggemar itu kembali karena kamu? Kamu harus tahu, dengan hanya diam saja. kamu memberikan kesempatan kepada orang-orang untuk mengusikku. mengusik ayahku, ibuku, dan juga kakak-kakak ku. Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku pasti merasa gak aman!" teriak Rara sambil menangis.
" Ra, aku mohon tenangkan dirimu."
" Semua ini sudah terlanjur terjadi!" bentak Rara.
" Oke, tolong maafkan aku." ucap Satria.
" Mulai sekarang, menjauhlah dariku! biarkan aku hidup dengan tenang." kata Rara pergi dari hadapan Satria. Satria hanya menatap terlihat ada perasaan bersalah kepada Rara. Satria belum pernah melihat Rara semarah ini. Dia benar-benar merasa bersalah kepada Rara.
Tanpa disadari, Sasa dan Jeje mengikuti mereka dan menguping pembicaraan mereka.
" Lihat, kan? Kak rara terlihat begitu marah. Aku udah mengatakan kepadamu untuk gak membuka kembali akun itu." ujar Sasa.
" Ish! dia itu begitu berlebihan. orang-orang menyukai akun itu karena menyukainya. Mereka juga gak berbicara hal buruk tentangnya." ujar Jeje.
" Tapi ada kok, segelintir orang yang benar-benar berniat mengusiknya. mereka mengatakan akan masuk ke kamarnya dan memotretnya."
"Emang siapa yang berani melakukan hal itu padanya? mereka itu gak sungguh-sungguh.
__ADS_1
Gara-gara hal itu terjadilah pertikaian antara Sasa dan Jeje. Jeje terus menapik sedangkan Sasa terus membela Rara. Hingga pertikaian itu berakhir dengan Jeje ngambek dan pergi meninggalkan Sasa.