
Saat sedang menikmati makanan, Raden keluar dari kamar.
"Aku pamit ya." kata Raden.
"Kamu mau pergi kemana? Ayo sarapan dulu." kata Ibu.
"Sudah terlambat Ma. Aku ada janjian dengan temanku jam 8 pagi untuk mengerjakan laporan." kata Raden.
"Bagaimana dengan ku, bang?" tanya Rara.
" Kamu gak usah khawatir. kamu tunggu saja di tempat biasa. Aku udah memberitahu teman-temanku. Mereka dikenal dengan geng Anjay. Mereka temani kamu. kalau begitu aku pergi dulu." kata Raden lalu pergi.
Rara hanya menggeleng melihat kepergian kakaknya.
"Anjay? apa maksudnya?" tanya ayah.
"Mungkin itu bahasa gaul untuk anak muda." jawab ibu.
"Dia terlalu sok sibuk. sampai lupa untuk sarapan." kata Ayah.
Rara sudah sampai di Mall. Sambil menunggu teman-teman kakaknya. Rara membeli Snack untuk menemani ditengah menunggu.
"Kapan mereka akan datang? lama banget." tanya Rara pada dirinya sendiri.
" Apa bang Raden bohongin aku ya?" tanya Rara sambil melihat sekitar tempat yang di duduki.
Rara mengambil ponselnya, dan mulai obrolan dengan Setia. Setidaknya Setia bisa menemaninya sambil dirinya menunggu teman kakaknya itu.
"Sepertinya Abangku, baru saja menipuku." isi pesan Rara.
"Kenapa kamu bisa berkata seperti itu?" balas Setia.
"Dia bilang jika dia akan membantuku. Dia malah pergi, dan bilang bahwa ada temannya yang temani aku disini. Katanya nama geng mereka Anjay, sampai sekarang pun aku gak pernah melihat muka yang kaya anjing. kesal banget!" balas Rara dengan perasaan kesal.
"Kalau kamu merasa kesal. Kalau begitu berhenti saja menjadi adiknya." Balas Setia.
" Hm. berhenti berteman dengan kamu malah justru lebih muda." balas Rara.
"Kamu serius bilang begitu?" tanya Setia.
"Iyalah." jawab Rara.
"Maksudku, kamu beneran ingin berhenti berteman denganku?" tanya Setia.
"Emangnya kamu merasa takut jika gak berteman lagi sama aku?" tanya Rara.
"Gak tuh. Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Setia.
"Apa?" tanya Rara.
"Jika kamu membuat temanmu marah, bagaimana caramu meminta maaf padanya?" tanya Setia.
" Ada banyak cara kok. Pertama, tulislah surat untuknya. kedua, nyanyikan sebuah lagu untuknya. Tiga, pergilah ke rumah temanmu itu dan berlututlah sampai dia memaafkan mu. Berlutut dibawah hujan juga boleh. Empat, ikuti terus temanmu sampai dia berbicara lagi padamu. Lalu ke lima.." Jawab Rara.
__ADS_1
"Berhentilah mengirim. semua caramu sudah ketinggalan zaman. Berilah aku jawaban yang serius. pokoknya yang serius." balas Setia.
"Apa dia beneran temanmu?" tanya Rara.
"Iya." jawab Setia.
"Kamu membalas pesanku dengan begitu serius. Pasti orang yang kamu maksud bukan hanya sekedar teman untukmu." balas Rara.
"ayolah. yang serius jawabnya." balas Setia.
"Kalau begitu kamu sudah meminta maaf pada temanmu itu?" tanya Rara.
"Belum." jawab Setia.
"Apalagi yang kamu tunggu. Jika kalian beneran berteman. minta maaflah secara langsung." Balas Rara.
"Aku dan dia harus berteman terlebih dahulu agar bisa melakukan hal itu." Balas Setia.
" Pasti kalian berdua bukan hanya teman, kan?" tanya Rara lagi.
Obrolan mereka dua terhenti, dikarenakan Snack dimakan Rara sudah habis. Dan Rara sudah merasa haus sekarang. Rara memutuskan untuk pergi mencari minuman. Tidak ditempat Rara membeli minuman Satria sudah berada di sana. Satria melihat ke arah Rara. Rara juga melihat Satria, Rara tetap membeli minuman dan membuang muka saat dekat dengan Satria. Sedangkan Satria terus memandanginya.
" Kak, aku pesan Boba brownsugarnya satu ya." kata Rara.
Rara melihat ke arah Satria yang sedari tadi terus memandanginya.
"Kenapa aku harus bertemu dengan mu disini sih! kebetulan yang mengerikan!" ucap Rara.
" Ini bukan kebetulan. Aku datang kesini memang untuk menemui mu." jawab Satria.
" Jangan bahas hal itu lagi." kata Rara.
" Aku hanya ingin kamu punya foto bersama Bima. Aku juga tidak menginginkan kamu mendapat komentar jahat dari mereka." Kata Satria.
" Sudah hentikan!" kata Rara.
" Aku beneran tidak bermaksud seperti itu. apa yang harus aku lakukan supaya bisa mendapatkan maaf darimu." Kata Satria.
" Kamu gak perlu melakukan apapun. Jangan bergerak, jangan berbicara dan jangan bernafas!" ucap Rara.
Satria langsung terdiam saat mendengar ucapan Rara barusan. Rara bingung melihat Satria tiba-tiba berdiri diam dan tidak bergerak.
" Kamu benaran melakukannya?" tanya Rara.
Rara mengangkat tangannya, dan menaruh telunjuk jarinya dekat dengan hidung Satria. Rara mendekatkan wajahnya melihat apakah Satria benar-benar melakukannya. Tatapan mata mereka bertemu. Satria yang tadinya berhenti bernafas, kembali bernafas lagi.
" Jika hanya itu yang bisa kamu lakukan, aku gak akan memaafkan mu." kata Rara.
"Oh! Kamu ingin aku kehabisan nafas sehingga kamu bisa memberikan bantuan pernafasan padaku, kan?" tanya Satria.
"Bicara apa kamu ini? Siapa juga yang mau memberikan bantuan pernafasan padamu?" jawab Rara.
" Boba brownsugarnya sudah siap." kata mbak penjual.
__ADS_1
" Terima kasih." kata Satria sambil mengambil minuman yang dipesannya.
" Nih! Aku traktir." kata Satria.
" Gak mau." tolak Rara.
" Ambillah. ini Boba brown sugar untuk mu." kata Satria.
" Aku gak suka." tolak Rara lagi.
"Kamu beneran gak mau? Barusan kamu memesannya satu." kata Satria.
Wajah Rara begitu kesal.
" Sudahlah. ambil saja ini. Anggap saja ini sebagai bentuk permintaan maaf karena sudah membuat kamu kesal semalam. Kita bisa berteman kan?" kata Satria memberikan minuman itu ke tangan Rara.
"Gak! Aku gak akan memaafkan mu! Aku juga gak ingin menjadi temanmu." kata Rara melepaskan tangannya.
Di satu sisi, Raden tengah berdiri dijalan. Tiba-tiba ada notifikasi pesan suara dari Mira.
"Raden! bisa cepetan dikit gak? Aku sudah menunggumu lama sekali." isi pesan suara Mira.
"Gak bisa ya, kamu berhenti mengomel padaku. aku sebentar lagi sampai. Biar ku selesaikan urusan buang air kecilku dulu. " balas Raden.
Ternyata Raden janjian akan bertemu dengan temannya yang ternyata adalah Mira.
Tiga jam yang lalu.
Raden tengah membuang air besar sambil membaca komik. tiba-tiba terdengar bunyi notifikasi dari ponselnya. Berawal dari satu bunyi pesan beruntun menjadi lebih. Hak itu membuat Raden kesal. Raden mengambil ponselnya dan melihat isi pesan dari siapa. ternyata pesan itu dari mira yang memanggil namanya.
" Ish! Kamu ini takut melupakan namaku atau apa sih!" gerutu Raden pada ponselnya.
Lalu Mira kembali mengirim pesan.
"Raden! balas pesanku. jangan hanya dibaca doang dong."
"Jika aku gak balas pesan mu. apa yang kamu ingin lakukan?" Kata Raden pada ponselnya.
Ponsel kembali berbunyi.
" Kamu keterlaluan! bicaralah padaku, ku mohon! jika gak di balas aku akan datang ke tempatmu."
" Temukan aku, jika kamu bisa. Dasar goblok!" kata Raden pada ponselnya.
Saat Raden tengah mandi. Raden mendengar suara Mira memanggilnya. Raden menoleh ke sumber suara yang ternyata benar ada Mira di sini.
"Raden! bisakah aku ikut mandi bersamamu?" tanya Mira.
"Aku gosok punggung mu ya?"
Raden menoleh dan ternyata Mira sudah ada dibelakangnya.
"Tidak!" teriak Raden.
__ADS_1
Dan sialnya itu hanyalah mimpi (hehe).