Cinta Si Gigi Bungsu

Cinta Si Gigi Bungsu
Ketentuan masa percobaan pacaran


__ADS_3

Mira duduk termenung, disebabkan gerai yang dibukanya tidak ada yang mengunjungi.


" Kenapa kamu duduk dengan terkandung seperti itu, dik? aku udah membawa pasukan untuk membantu mu." ujar Raden membawa geng Anjay untuk membantu Mira dalam mengumpulkan dana.


" Raden."


" Iya,"


" Kalian berdiri berjejeran seperti itu, menghalangi jalan masuk ke gerai ku." ujar Mira melihat dengan geng Anjay berdiri, menghalangi gerai miliknya.


Mereka berlima membantu Mira, untuk mempromosikan gerainya. Yoga dan Deni berteriak memanggil pelanggan. Kata mereka jika ada pelanggan cewek, kalau bisa menjawab pertanyaan mereka boleh memeluk Raden, Ken, dan Jay. Hal itu berhasil, semua cewek yang kebetulan memang suka dengan ketiga orang itu. Mulai mengunjungi gerai milik Mira. Bahkan bukan hanya itu, Raden dan geng Anjay juga membuat permainan dengan undian. Jika ada yang mendapat undian seperti menari atau melakukan apapun maka Raden dan geng Anjay akan mempertunjukkannya didepan para penonton. Alhasil, karena itu gerai Mira banyak mahasiswa-mahasiswi yang datang berkunjung.


Mira begitu bahagia, karena Raden sudah membantunya. Saatnya untuk menghitung hasil yang mereka peroleh. Dan hasilnya lumayan banyak, uang didapatkan senilai 3 juta rupiah. Raden dengan gaya bercandanya mengambil uang itu dan pura-pura memasukkannya kedalam saku bajunya. Alhasil Mira dan anggota geng Anjay berteriak merah kepadanya. Dan itu menimbulkan gelak tawa diantara mereka.


" Lihat kan? kalau bukan karena aku kamu gak akan mendapatkan donasi sebanyak ini." ujar Raden menyombongkan dirinya kepada Mira.


Mira tersenyum, " Makasih ya Raden, dan juga makasih untuk kakak-kakak semua. Makasih udah membantuku."


Raden mendengar Mira memanggilnya tanpa embel-embel kakak. Hal itu membuat Raden tidak terima.


" Kamu memanggil ku hanya dengan raden sedangkan mereka berempat kamu memanggil kakak. Padahal aku dengan mereka aku lebih tua." ujar Raden tidak terima Mira memanggilnya tanpa embel kakak.


" Ya, karena aku sudah memanggilmu Raden. Aku udah terbiasa dengan itu." ujar Mira.


Hal itu membuat anak-anak geng Anjay menggoda mereka berdua. Raden merasa malu, dia mengancam akan menghajar muka mereka kecuali Ken, karena Ken lebih galak darinya.


" Oh iya aku lupa, aku mau memberi Raden hadiah." ujar Mira.


" Hadiah apa?"


Mira mengambil hadiah itu di dalam tasnya, dan membuka isi hadiah itu yang ternyata sebuah gantungan ikan.


" Aku melihat gantungan kunci motormu, hanya ada satu ikan. Makanya aku memberikan ini agar ikan itu memiliki pasangan."


Raden mengambil gantungan motornya, meminta Mira memasangkan gantungan ikan itu.

__ADS_1


" Lihat kan? jadi lucu kan kalau ikan ini punya pasangan " ujar Mira tersenyum melihat gantungan kunci motor Raden.


" Makasih ya." ucap Raden tersenyum.


" Akhirnya aku tahu sekarang!" ujar Ken sambil melihat Raden dan Mira.


" Ternyata hadiahnya dari lubuk hati yang paling dalam." Jay menggoda Raden dan Mira.


Raden kembali mengancam, dan meminta mereka segera membantu untuk membersihkan gerai itu. Mira pun juga berdiri dan membersihkan gerainya. Saat hendak melepaskan hiasan, tanpa disengaja jarinya terkena pentul yang merekatkan hiasan dengan kain. Mira berteriak sakit, membuat Raden khawatir dan segera menghampiri Mira.


" Mir, ada apa?" tanya Raden, Mira hanya menunjukan jarinya yang terluka.


Yoga dan Jay yang berdiri tidak jauh dari mereka melihat Raden memegangi tangan Mira.


" Lihat, mereka udah mulai berpegangan tangan." ucap yoga sambil melihat kearah Raden dan Mira.


" Kenapa bisa tanganmu terluka?" tanya Raden.


" Mungkin terkena pentul akibat hiasan dikain ini." jawab Mira sambil memencet jarinya yang terluka itu.


" Gak usah khawatir. ini hanya luka kecil." ujar Mira sambil mengisap jari yang terluka itu. Raden memandang Mira, terlintas dipikirannya jika Mira terlihat begitu imut saat menghisap jarinya seperti itu.


Geng Anjay yang sedari tadi melihat, mulai menggoda Raden. Raden tidak terima dan kembali mengancam.


" Udahlah sob, gak usah mengancam begitu. Udah kelihatan dari wajahmu kalau lagi falling in love." ujar Jay. Raden tidak terima dan mulai memukul Jay, setelah ditahan oleh Mira. Lagi-lagi hal itu membuat geng Anjay semakin menggoda mereka berdua.


Rara baru saja pulang, hari memang sudah malam. Namun, di rumah tidak ada satu orang pun. Hingga akhirnya Rara menemukan potongan kertas menempel di kulkas. Yang ternyata kertas itu berisikan pesan dari ibunya.


( Hari ini ibu dan ayah bekerja shift malam. Ibu tidak menyiapkan makan malam. Jadi, carilah makanan untuk dirimu sendiri)


Rara mengambil kertas itu, dia menuju ke kamar. Rara membersihkan diri setelah seharian berada di kampus. Dia duduk dimeja belajar membuka laptopnya dan mulai mengetik sesuatu dengan menikmati cemilan kesukaannya. Setelah selesai, dia mulai mengeprint tulisannya itu. Ponselnya berdering, segera Rara mengangkat telfonnya.


" Ya?"


" Kamu lagi ngapain?"

__ADS_1


" Jangan bilang kamu menelfon untuk mendapatkan jawabanku. Kamu baru saja bertanya tadi loh." ujar Rara kepada si penelepon.


" Ya, sekarang aku udah berada tepat di depan rumahmu."


" Tunggu sebentar." ucap Rara mematikan telfonnya.


Rara menghela nafas, dan mengambil kertas yang diprintnya tadi. Dia segera keluar dan menuju ke halaman rumahnya. Ternyata orang yang menelfon itu adalah Satria yang sudah berdiri dihalaman depan rumah Rara. Rara yang melihat berjalan pelan mendekati cowok itu.


" Kamu ini benar-benar gak sabar seperti biasa!" ujar Rara kesal kepada Satria. Karena sudah malam, Satria masih saja datang hanya untuk mendapatkan jawaban dari Rara.


" Kamu benar juga, aku juga gak bisa menyangkal. Harus aku akui, aku gak bisa dopamin ku."


Perkataan Satria membuat Rara tertawa, " Ayolah, kamu gak usah sok akademis begitu deh!"


Rara menatap kertas yang printnya tadi, dan memberikan itu kepada Satria.


" Apa ini?" tanya Satria menerima kertas itu dan melihat isi tulisan didalam kertas itu.


Ternyata isi dari kertas itu adalah ketentuan tentang masa percobaan pacaran. Yang pertama, mereka tidak menetapkan waktu masa percobaan itu. Kedua, orang-orang tidak boleh tahu jika Rara dan satria berpacaran. Satria baru membaca kedua persyaratannya dan menatap Rara dengan wajah bertanya. Namun, Rara kembali memaksa Satria untuk membaca ketentuan itu sampai selesai.


" Ketiga, tidak boleh berbicara, menandai atau menyebut satu sama lain di platform media sosial manapun. Tapi kan aku udah gak melakukannya lagi akhir-akhir ini. Keempat, kita bisa menjaga tapi tidak ditempat umum."


" Apa kamu setuju dengan persyaratannya?" tanya Rara dengan malu-malu.


" Jangan bilang kamu menghilang karena tengah mengetik persyaratan ini. Kamu baru saja mengatai ku sok akademis, kamu justru malah seperti orang kutu buku." kata Satria mengatai Rara.


Rara kesal dan mengambil kembali kertas itu, " Kamu membully ku!"


Namun, Satria mengambil kembali kertasnya, " Aku setuju!"


" Kamu yakin?" tanya Rara tidak percaya.


" Iya."


" Kalau begitu, mulai saat ini aku dan kamu berpacaran ya." ujar Rara dengan malu-malu.

__ADS_1


__ADS_2