Cinta Si Gigi Bungsu

Cinta Si Gigi Bungsu
Perasaan yang sebenarnya


__ADS_3

Mira baru saja tiba di Kampus. Dia berjalan lesu karena semalam dia tidak bisa tidur akibat memikirkan apakah sikapnya dan perkataan sudah salah di mata Raden. Seseorang memanggil namanya, "Mira...Mir..."


Suara itu sontak membuat Mira terkejut, karena Mira sangat mengenali pemilik suara itu.


Raden berlari menghampiri Mira, di dekat Mira. Raden menawarkan sebuah cemilan yang baru saja di belinya. Mungkin dengan sebuah cemilan ini, bisa dapat menebus kesalahannya tadi malam.


" Emm.. Mira.. ini.. aku.." ucap Raden terbata-bata sambil menyerahkan cemilan itu kepada Mira.


Mira terkekeh, karena menurutnya Raden sangat lucu. Biasanya Raden akan berkata kasar padanya. Namun, kali ini Raden dihadapannya malah justru seperti orang yang sedang gugup.


" Bicaralah seperti biasa." Ujar Mira.


" Ini.. aku belikan kamu cemilan. Itung-itung sebagai permintaan maaf karena semalam aku sudah bertindak semaunya." Ujar Raden memberikan cemilan yang dibawanya.


" Makasih, aku juga sadar jika semalam aku terlalu egois." Ujar Mira.


" Kamu tidak usah merasa bersalah seperti itu. Aku memang salah, seharusnya aku tidak memaksa mu untuk menjadi apa yang aku mau. Dan mulai sekarang aku tidak memaksa kamu lagi, kamu boleh melakukan apapun semau mu." Ujar Raden.


Mira tersenyum, yang semalam dia merasa bersalah. Kini dia sadar, jika dia beruntung menyukai Raden. Karena pria itu meski terkesan bodoh dan kasar, namun memiliki sisi yang sangat pengertian. Mira membuka cemilan itu dan mencobanya, terlihat wajah Mira sangat menyukai. Raden yang menyadari tersenyum senang, karena Mira menyukai cemilan yang dibawanya. Saat tangan Mira mulai menyuapi sepotong cemilan di mulutnya. Raden dengan cepat mengarahkan tangan Mira kearah mulutnya. Hingga dia juga ikut mencoba cemilan itu.


" Gimana sih! Katanya buat aku kenapa kamu juga ikut mencobanya."


" Biar tahu rasa cemilan ini enak atau tidak." Ucap Raden.


" Kamu bisa beli sendiri."


" Iya.. iya.. nanti aku beli yang baru deh."


" Kalau begitu aku mau ke kelas dulu. Bentar lagi kelasnya mau mulai." Ujar Mira melihat jam ditangannya.

__ADS_1


" Ya udah.. semangat ya.. aku akan menunggumu." Ucap Raden. Mira lalu pergi menuju ke kelasnya.


Tiba-tiba, " Mira.. nanti kalau ketemu jangan lupa panggil namaku, Raden...Raden.. soalnya aku udah rindu sama panggilan itu." Teriak Raden dari kejauhan.


Mira yang mendengarnya buru-buru ke kelas. Dia menunduk karena malu, apalagi di depan kampus banyak mahasiswa yang berlalu-lalang.


Hari valentine telah tiba, sudah seminggu Rara tidak mau bertemu dengan Satria. Rara menganggap jika hubungannya dengan Satria sudah berakhir. Dia tidak ingin memikirkan pria itu lagi. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Rara kembali mengambil alih sebagai panitia di kegiatan valentine di kampusnya. Meski sangat sibuk, tak banyak pria juga memberikan hadiah untuk Rara. Membuat gadis pemalu itu, merasa jika dia sedikit populer.


Besok paginya, merupakan acara puncak. Dimana ada mahasiswa yang akan menyatakan perasaan kepada mahasiswi yang dia sukai. Rara sudah berangkat menuju fasilitasnya, karena cara pernyataan cinta itu akan dilaksanakan di area fakultasnya.


Rara berdiri di depan fakultas, dia menghela nafasnya. Valentine tahun ini, masih terasa sama bagi Rara. Dia merayakan valentine itu sendiri, dengan sibuk mengikuti kegiatan. Namun, sebelumnya dia sudah berpikir. Valentine di tahun ini, dia akan membuatnya berbeda. Jika dulu dia masih dengan kacamata dan kawat gigi. Kali ini dia sudah tampil beda, dan mungkin yang dulunya malu. Tahun ini dia akan tampil dengan percaya diri.


Rara mulai menuju halaman di fakultasnya, banyak mahasiswa yang sedang menyiapkan balon warna-warni untuk acara pernyataan cinta hari ini.


" Kak Rara, acaranya akan segera dimulai. ucap salah satu mahasiswi yang menghampirinya.


" Benarkah! Kali ini siapa yang akan menyatakan cinta?"


" Kalau begitu aku harus segera kumpulkan balon warna-warninya. Tapi tempatnya dimana?" ujar Rara.


" Nanti aku arahkan, kak." ucap mahasiswi itu.


Rara segera mengumpulkan semua balon warna-warni yang dibuat oleh timnya. Dia menarik tali yang mengikat balon warna-warni itu menuju sesuai arahan dari mahasiswi tadi. Rara diarahkan menuju lapangan basket. Disana tidak ada orang sama sekali, lalu dia menengok melihat mahasiswi tadi yang mengarahkannya kesini, sayangnya mahasiswi itu sudah menghilang. Rara melihat ke sekitar lapangan, tidak ada satu orangpun disana. Membuat Rara begitu kebingungan.


" Bukannya disini acaranya?" gumam Rara.


Tiba-tiba beberapa mahasiswi menghampiri dengan membawa balon warna-warni sama seperti dirinya. Mereka semua mulai mengelilingi Rara. Rara menjadi bingung, dia tidak bisa melihat kesekitar karena di kelilingi oleh mahasiswi berserta dengan balon yang mereka bawa.


" Ada apa ini?" tanya Rara kepada mereka. Namun, tidak ada satupun dari mereka yang menjawab pertanyaannya.

__ADS_1


Tiba-tiba seseorang masuk, meraih pundaknya dan menarik kepala Rara. Hingga orang itu mencium kening. Rara terkejut melihat orang yang melakukan itu.


" Kak Raden, apa yang kakak lakukan? Aku ini adikmu." ujar Rara bingung. Tidak mungkin kakak kandung menyatakan perasaan padanya.


" Kamu memang adikmu, dan aku memang kakak yang cabul." ujar Raden.


" Sialan! apa yang kakak ucapkan?" ujar Rara kesal dengan kakaknya itu.


" Udah fokus aja di depan." ucap Raden lalu berdiri tidak jauh dari adiknya.


Lalu datanglah Deni yang melakukan hal sama dengan Raden kemudian disusul oleh Jay, yoga dan Ken yang juga melakukan hal sama. Rara benar-benar dibuat bingung, sebenarnya siapa yang menyatakan cinta, siapa yang dinyatakan cinta. Kenapa dia berada disini, dan kenapa kakak dan teman-temannya mencium kening Rara. Apa yang sebenarnya terjadi.


" Ada apa ini? kenapa kalian semua mencium keningku? Apa yang kalian lakukan, hah!" ujar Rara yang merasa dia seperti sedang dipermainkan oleh kakak dan teman-temannya.


"Sudahlah, kamu tidak usah marah seperti itu dong, Ra. Kita ini hanyalah sebuah peralihan saja. Tokoh utamanya nanti bakalan muncul kok." ujar Jay.


Rara akhirnya mengerti, jadi dia adalah mahasiswa yang nantinya akan dinyatakan cinta. Tetapi siapa pria itu. Rara melihat kedepan, datanglah Satria dan Dara.


" Kamu!" ujar Rara dengan kesal.


" Ra, aku sengaja melakukan ini karena kamu selalu menghindari ku." ujar Satria.


" Ra, aku juga ikut kesini, karena aku ingin meminta maaf dan ingin menjelaskan semuanya. Jadi yang menyebarkan foto-foto itu adalah aku. Aku mengetahui kata sandi ponselnya Satria. Aku yang melakukannya. Jadi, jangan Satria dalam hal ini." ujar dara dengan tatapan menyesal.


" Jadi dara yang melakukannya?" ucap Rara, dia tidak menyangka gadis yang dia percaya itu telah melakukannya.


" Iya Ra, aku mohon maafkan aku." ucap dara.


Satria berjalan mendekati Rara dan berdiri tepat didepannya. " Ra, selama ini kamu terlalu memikirkan orang lain. Kamu terlalu perduli dengan apa yang pikirkan dan apa yang mereka katakan. Tapi, aku ingin kamu bertanya sesekali pada dirimu sendiri. Tanyakan pada dirimu apa yang sebenarnya kamu pikirkan. Tanyakan pada dirimu apa kamu masih ingin bersama denganku atau tidak. Aku.. jujur masih ingin bersamamu." ujar Satria.

__ADS_1


" Apa kamu tidak mengerti? Aku tidak punya teman, aku tidak pernah jatuh cinta. Lalu kamu datang, aku tak mau kehilangan mu. Tetapi kamu dikelilingi oleh orang-orang yang mencintaimu. Membuat aku tidak berani mengatakan, bahwa kamu milikku. Itu menyakiti ku, apalagi saat orang-orang mulai menghinaku. Tapi yang lebih menyakitkan jika mereka juga ikut menghinamu dan juga membencimu Makanya aku merasa bagaimana aku bisa bahagia?" ujar Rara sambil menangis.


__ADS_2