Cinta Si Gigi Bungsu

Cinta Si Gigi Bungsu
Chapter 62


__ADS_3

Raden mengajak teman-temannya dan juga Mira kesebuah bar untuk merayakan kelulusannya disalah satu kata kuliah ulang. Raden mengangkat gelasnya, sambil bersorak, " Mari kita rayakan kelulusanku, cheers!"


" Raden, akhirnya kamu bisa menyelesaikan misi mu. Dan kamu Ken, akhirnya bisa melakukan trik skateboard yang sulit sekarang. Deni, kamu sekarang sudah menjadi anggota gamers, dan yoga kamu yang paling menyebalkan. Sekarang kamu udah punya. Lihatlah aku, aku ini sudah beberapa kali mengikuti audisi. Tetapi tetap saja aku tidak pernah dipanggil untuk membintangi peran. Sungguh mengecewakan." ujar yoga menyesali dirinya yang tidak seberuntung teman-temannya.


" Hey kak Jay. Di fakultas nanti rencana akan diadakan pentas drama. Menurutku, lebih baik kakak ikuti saja audisinya, pasti kakak mendapatkan perannya." ujar Mira.


" Benar, coba saja dulu." ucap Raden setuju dengan saran Mira.


" Sayangnya bukan gayaku." ucap Jay menolak.


" Ayolah kak Jay. Kamu belum mencobanya, bagaimana kamu bisa tahu?" ujar Mira memaksa.


" Aku juga setuju dengan Mira. Hidup adalah tentang mencoba segalanya." ujar Raden.


" Eum, kedengarannya bagus." ujar Jay.


" Hemm. Apapun yang dibicarakan pacarnya, pasti disetujui." ujar Ken menggoda Raden.


" Benar-benar pacar yang penurut." tutur Deni.


Mira bingung dengan maksud dari teman-temannya Raden. " Apa maksud kalian? Siapa yang pacaran? Sebenernya kita membahas soal apa?" tanya Mira.


" Jangan dengerin apa yang dikatakan mereka. Mereka terkadang bicara suka ngasal." ujar Raden.


Raden melihat Ken dan mengatainya bangsat, tanpa suara agar Mira tidak mendengar.


" O iya, sekarang pembahasan kita sudah gak beraturan. Bagaimana jika aku akan mengajari mu beberapa pengalaman orang dewasa." ujar Raden.

__ADS_1


" Bagaimana?" tanya Mira yang tidak mengerti pengalaman menjadi orang dewasa yang dimaksud oleh Raden.


Raden lalu menunjukan segelas minuman beralkohol, dengan mengatakan inilah cara orang dewasa. Namun, Mira menolak sebab dirinya tidak pandai minum-minuman yang beralkohol.


" Kamu coba seteguk saja dulu mir." ujar Raden memaksa disetujui oleh teman-temannya.


" Aku tahu ini buruk. Tetapi kenapa aku harus mencobanya?" ujar Mira.


" Kamu gak akan terus menjadi selamanya. Di dalam hidup ini ada yang baik dan buruk. Di hidup ini gak semuanya baik. Kamu cobalah seteguk." ujar Raden memaksa.


Mira terus menolak, namun Raden tetap memaksa. Bahkan Raden menarik leher Mira dan memaksanya untuk minum. Mira terus menolak sehingga tangan Mira terangkat dan mendorong gelas itu hingga pecah di lantai. Teman-temannya Raden hanya bisa terdiam mendengar suara pecahan gelas. Begitu pula Raden yang juga terkejut. Mira dengan kesal keluar dari bar, Raden tidak tinggal diam, dia mengejar kepergian Mira.


" Mir, tunggu dulu.. Mira kamu mau kemana? Kamu kenapa mir?" tanya Raden menarik tangan Mira agar gadis itu berhenti berjalan.


" Aku tidak suka dengan perlakuan Raden kepadaku hari ini. Aku tidak pernah memaksa Raden untuk melakukan apapun itu." ujar Mira dengan perasaan kecewa.


" Tapi kamu membuat ku berbicara begitu sopan." ujar Raden.


" Tapi aku niat baik untukmu. Aku cuma ingin kamu tumbuh dewasa." ujar Raden.


" Menjadi dewasa? Tidak semua orang ingin dewasa menjadi harus minum minuman seperti itu. Raden tetaplah menjadi diri Raden sendiri. Begitu pula denganku, aku akan tetap menjadi diriku sendiri." ujar Mira.


Raden terdiam, dia menyadari akan kesalahan. Kisah mereka sementara berakhir disini.


Rara sedari tadi duduk di meja belajarnya. Buku sudah dibukanya, namun matanya tidak menatap setiap huruf yang ada didalam buku itu. Tangan kanannya sibuk mematikan dan menyalakan lampu belajar. Pikirannya seperti sedang melayang entah kemana.


Ponselnya yang berada di meja belajar berdering. Pikirannya yang tadi melayang mulai tersadar dengan deringan ponselnya. Rara mengambil ponselnya melihat siapa yang menelepon. Ternyata yang menelfon adalah Satria.

__ADS_1


" Apa?" tanya Rara tanpa basa-basi.


" Kenapa kamu terus mematikan dan menyalakan lampu?" tanya Satria dalam telfon.


Kebetulan keadaan kamar Rara gelap, yang hanya bermodalkan lampu belajar. Jadi jika lampu dimatikan dan dinyalakan maka dari luar jendela juga akan terlihat. Rara yang menyadari pertanyaan Satria, segera keluar menuju balkon. Diatas balkon dia melihat Raden berdiri diluar pagar.


" Ada keperluan apa?" tanya Rara yang masih menelfon.


" Kamu masih kesal ya?" tanya Satria melihat ke atas tetapi tangganya masih memegangi ponsel yang menempel di telinganya.


" Ya, kamu tidak memberitahu ku jika hari ini adalah hari ulang tahunmu." jawab Rara dengan kesal.


" Itu sebabnya aku menelepon mu untuk memberitahu mu dan aku ingin mengajakmu ikut denganku. Dan pada kesempatan ini aku juga ingin memperkenalkan kamu kepada semua orang." ujar Satria.


" Kalau begitu aku tidak akan pergi." ucap Rara.


" Ra, bisakah kamu tidak perduli dengan orang lain dan cukup perduli denganku? Aku tidak perduli dengan kata orang yang aku inginkan hanya kamu perduli kepadaku. Tolonglah, Ra." ujar Satria, berusaha membujuk Rara untuk ikut dengannya.


Namun, Rara malah justru mematikan telfonnya. Saat hendak masuk kedalam kamar. Satria berteriak, " Ra, hari ini ulang tahun ku loh. Kamu beneran tidak ingin pergi?"


Rara hanya bisa menangis sedih. Dia tidak berbalik menghadap Satria. Dia langsung masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Satria hanya memandangi rumah Rara dari luar pagar.


Tanpa Rara, pesta ulang tahun Satria tetap berlangsung. Satria merayakannya di sebuah cafe, tak banyak tamu. Hanya orang-orang yang dia kenal saja yang hadir di pesta itu. Dara membawakan kue ulang tahun sambil menyanyikan lagu ulang tahun untuk Satria. Para tamu ikut bertepuk tangan, Satria dengan wajah sedih yang bisa menutupi semuanya dengan senyuman. Satria meniup kue ulang tahunnya sambil memohon sebuah permohonan. Setelah selesai, dara lalu mengolesi pipi Satria dengan cream cake.


Rara memutuskan untuk hadir ke pesta ulang tahun Satria. Dia sudah menyiapkan kado untuk Satria. Sebelum memasuki pesta. Dia menghirup udara lalu menghempaskan dengan pelan. Rara memantapkan hatinya untuk berani hadir ke pesta ulang tahun Satria. Di depan cafe, Jeje dan Sasa sedang berantem karena mereka berdua sudah berada di tim yang berbeda. Dimana Jeje pendukung Satria dan Dara sedangkan Sasa pendukung Satria dan Rara. Tanpa memperdulikan mereka, Rara langsung masuk kedalam cafe.


Rara melihat kesekitar lumayan banyak orang yang hadir. Terlihat Dara dan satria sedang bergurau berdua. Rara menghampiri mereka, tak lupa dia mengucapkan ulang tahun kepada Satria sambil memberikan kado darinya.

__ADS_1


" Selamat ulang tahun." ucap Rara.


" Sebenernya, cukup dengan kehadiran mu disini sudah menjadi kado yang terbaik." ujar Satria.


__ADS_2