Cinta Si Gigi Bungsu

Cinta Si Gigi Bungsu
Cemburu


__ADS_3

Dara duduk disampingnya Satria, sedangkan Rara duduk berhadapan dengan mereka berdua. Meski kesal, namun Rara berusaha membuktikan jika dirinya tidak akan cemburu dengan kemesraan dara dan Satria. Rara mulai mencicipi tempura dan dibelinya. Dara juga melakukan yang sama dengan menatap tajam ke arah Rara. Rara begitu bingung dengan tingkah Dara, yang makan bakso bakar sambil menatap tajam seperti itu.


" Pedes ya?" kata Dara, yang merasakan pedesnya bakso bakar yang di makannya tadi. Tetapi Dara mencoba menahan rasa pedes di mulutnya.


Rara menatapnya khawatir melihat wajah Dara, apalagi makanan yang dibeli dara menggunakan sambel yang sangat pedas.


" Apa kamu gak merasa pedas?" tanya Rara begitu khawatir melihat ekspresi wajah dara.


" Gak kok, ini terasa sangat enak. Mungkin, aku gak terbiasa dengan makanan pedas. makanya ekspresi wajahku begini."


" Oh ya, kalau kamu bisa gak merasa pedas coba kamu habiskan makanan mu itu." ujar Rara sengaja, padahal ekspresi wajah dara sudah kelihatan kepedesan. Namun, dara tetap menyangkal.


Dara begitu kaget saat Rara mengatakan itu padanya. Bagaimana bisa dia menghabiskan semuanya, sedangkan dirinya sudah merasa kepedesan. Namun, dia mencoba untuk tidak takut dengan perkataan Rara.


" Jangan menantang ku deh." ujar Dara.


" Jika kamu merasa kuat, ya tunjukan pada Satria kalau kamu bisa menghabiskannya." ucap Rara tersenyum karena berhasil mengerjai Dara.


" Jangan melakukan itu." ucap Satria merasa khawatir dengan Dara.


" Aku akan tetap melakukannya, jangan hentikan aku sayang." Dara memegang tangan Satria, meyakinkan jika dia akan baik-baik saja.


Rara dengan senyum mengejek mempersilahkan dara untuk menghabiskan makanan yang dibelinya itu.


" Bukannya itu sangat pedas sayang?" ujar Satria begitu khawatir dengan keadaan Dara.


" Gak kok." Dara tetap melanjutkan makannya.


Rara begitu senang, dia tersenyum lebar. " Lanjutkan?"


" Masih merasa gak pedas?" tanya Satria khawatir.


" Gak!" ucap dara menatap tajam kearah Rara.


Satria begitu khawatir, dia terus bertanya kepada dara. Namun, dara tetap dengan pendirian jika dirinya tidak merasakan pedas. Rara hanya bisa tersenyum, dia begitu senang mengerjai Dara. Setelah memakan beberapa tusuk bakso bakar dan tempura, Dara sudah tidak bisa tahan lagi. Mukanya sudah memerah, hingga akhirnya dirinya berteriak. Dara lalu pergi dari situ mencari air. Sedangkan Satria menatap Dara khawatir. Tidak dengan Rara yang terkekeh melihat tinggal Dara.


Satria memandang Rara yang masih terkekeh dengan tingkah Dara. Merasa risih, akhirnya Rara bertanya, " Kenapa kamu memandangku?"

__ADS_1


" Ada sesuatu di bibirmu."


Rara membersihkan bibirnya, namun dia tidak menemukan kotoran di bibirnya.


" Emang dimana? kamu bohong ya?"


Ibu jari Satria menyentuh ujung bibir Rara, dan membersihkan sisa saos yang menempel. Rara menatap lekat wajah Satria, jantungnya kembali berdegup kencang.


" Udah aku bilang sama kamu. Aku gak suka segala sesuatu yang kotor." ujar Satria.


" Sepertinya... Aku harus memeriksa kondisi pacarmu. dia terlihat begitu kepedesan." Rara salah tingkah, dia mencoba menghindari Satria.


" Apa yang membuat mu berfikir jika dia adalah pacarku? Aku gak pernah berkata kalau aku dan dara berpacaran." tanya Satria sebelum Rara beranjak pergi darinya.


" Oh, gak usah mengelak. Semua udah tahu kok. Lihat aja akun penggemar kalian berdua dengan hastag SatRa pasangan real."


" Wah.. wah! Ternyata kamu mulai perduli terhadap gosip di media sosial sekarang? Sepertinya kamu mulai tertarik dengan apa yang aku lakukan." ujar Satria menggoda Rara.


" Tertarik katamu? Tertarik apanya! Berita itu terlintas di beranda media sosialku." kata Rara kesal saat Satria menggodanya.


" Akui saja. Gak usah bersikap sok jual mahal deh!"


" Gak apa-apa. Karena aku udah mataku dibutakan oleh cinta."


"Dasar tukang gombal!" kata Rara berlagak ingin muntah mendengar gombalan Satria.


" Aku akan terus menggoda mu sampai kamu menyerah kepadaku."


" Itu gak akan terjadi!"


Seketika Dara yang sedari antri minuman, sudah tidak tahan langsung menyerbu minuman di depannya. Dara merasakan lidahnya sudah seperti terbakar. Para mahasiswa yang juga ada disitu, melihat kearah Dara. Bahkan yang tadi masih mengantri begitu marah melihat dara mengambil antriannya. Rara dan Satria yang lagi berdebat akhirnya berhenti melihat teriakan dara.


" Sebaiknya kamu harus pergi dan segera urus pacarmu terlebih dahulu. Aku jadi khawatir dengannya." ujar Rara kepada Satria. Satria menatap Dara dengan cemas.


Dara yang malu langsung berlari pergi dari kerumunan. Melewati gerai yang dibuat sendiri oleh Mira untuk menggalang dana bagi anak-anak yang tidak mampu.


" Kenapa gak ada orang yang datang ke gerai ku ya?" pikir Mira yang sedari tadi tidak ada yang mau berkunjung di gerainya.

__ADS_1


Mira melihat Raden berjalan ke arah. Mira segera memanggil Raden untuk berkunjung di gerainya. Raden memandang gerai Mira yang begitu sepi.


" Kenapa gerai mu begitu sepi?"


" Entahlah, padahal permainan yang aku buat itu sangat mudah. Kamu hanya perlu menjawab pertanyaan ku dengan benar, maka kamu akan mendapatkan hadiah."


" Benarkah? kalau begitu boleh aku coba."


" Beneran? kamu udah siap?"


" Iya, coba berikan aku pertanyaannya."


Mira mulai memberikan pertanyaan kepada Raden. Dikarenakan otak Raden yang tidak mampu, dia tidak bisa menjawab semua pertanyaan itu. Kini Raden mengerti kenapa gerai Mira tidak ada yang dikunjungi sebab pertanyaan yang diberikan Mira itu begitu sulit. Hingga di pertanyaan terakhir untuk Raden. Raden dengan kesal menjawab asal-asalan, tidak disangka jawaban yang dijawabnya itu benar.


Mira mulai memberikan potongan kertas yang digulungnya agar Raden dapat memilih satu. Karena di kertas yang gulung sudah tertulis hadiah yang akan didapatkan jika jawabannya benar. Dan ternyata hadiah didapatkan Raden hanyalah peraut pensil. Hal itu membuat Raden begitu kesal, " Sialan! Bagaiman bisa hanya dapat peraut pensil dibandingkan dengan pertanyaan mu yang begitu sulit. Pantasan saja gerai mu gak ada yang mengunjungi pertanyaan udah sulit hadiahnya malah hadiah untuk anak kecil."


Namun Mira tetap pada pendiriannya, "Hadiah bukan hanya itu kok, ada barang lucu lainnya. Kamu lihat saja itu, banyak banget hadiahnya, itu tergantung keberuntungan kamu dalam memilih gulungan kertas ini."


" Raden, aku punya hadiah untukmu."


" Apa itu?"


Namun, hadiah itu belum sempat dikasih oleh Mira. Sebab kedatangan seorang mahasiswa adik semester Raden yang juga merupakan kakak tingkat Mira.


" Sedang apa kamu disini, kak?"


Raden mencoba memberi kode dengan matanya, agar adik semesternya itu paham dimaksudnya. Dia tidak mau jika Mira tahu kalau dia berbohong mengenai statusnya sebagai kakak tingkat terbongkar.


" Oh, kamu sedang mencoba mendekati mahasiswa baru di fakultas kita ya?" tanya mahasiswa itu melihat Raden berdiri dekat dengan Mira yang kebetulan masih berstatus mahasiswa baru.


" Aku tahu sekarang, mahasiswa tua dari fakulitas teknik mengikuti kembali kelas bersama mahasiswa baru, itulah yang menjadi peluang untuk kamu merayu mahasiswi baru."


" Heh! bangsat! kembali ke tempatmu sana!" ujar Raden menatap adik semesternya itu dengan tajam.


" Baiklah. aku akan pergi. Semoga berhasil ya." ujar mahasiswa itu menggoda Raden. Raden terlihat begitu kesal dibuatnya.


" Orang-orang bertingkah aneh hari ini. Mereka selalu saja memanggilku dengan sebutan senior. Padahal jelas gak begitu. kalau mereka seperti itu, aku jadi bingung berbuat apa? benar, kan?" ujar Raden agar Mira tidak termakan omongan mahasiswa tadi.

__ADS_1


" Apa kamu masih terus berbohong setelah aku mendengar semua omongan tadi?"


Raden begitu terkejut mendengar perkataan Mira. Apakah Mira sudah mengetahui kebohongannya selama ini?


__ADS_2