Cinta Si Gigi Bungsu

Cinta Si Gigi Bungsu
Chapter 68


__ADS_3

Rara berada di perpustakaan, dia membuka ponselnya. Di media sosial sudah tersebar foto kakaknya dengan Mira. Satria datang menghampirinya, Rara menunjukan foto Mira bersama dengan kakaknya Raden.


" Lihatlah, adik mu sudah jadi milik kakakku." ujar Rara menunjukan foto Mira bersama Raden.


" Aku sudah tahu, sepertinya Mira juga baik-baik saja." ujar Satria.


" Kakakku ini benar-benar ya, dia menyatakan perasaannya seperti itu didepan semua orang." ujar Rara.


" Berhentilah membicarakan mereka berdua, sekarang aku mau tanya sama kamu. Kapan kamu akan menerima pertemanan akun media sosial ku?" tanya Satria sebab selama ini akun media sosial Satria belum juga dikonfirmasi masih pertemanannya oleh Rara. Karena selama ini mereka berdua hanya chatting menggunakan akun Setia.


Rara hanya bisa nyengir, " Jadi... aku.. sudah menghapusnya. Kamu coba ulangi lagi minta pertemanannya, biar aku segera mengkonfirmasi." ujar Rara.


Satria mulai mengulang dengan mengirim permintaan pertemanan kepada Rara, dengan segera Rara mengkonfirmasinya. Rara lalu menunjukan layar ponselnya, jika dirinya sudah mengkonfirmasi permintaan pertemanan dari satria.


" Sudah, kan?" ucap Rara.


" Masih belum." jawab Satria kembali sibuk dengan ponselnya.


Lalu terdapat notifikasi di ponsel Rara, yang ternyata Satria mengubah status dengan menyebutkan jika dia dan Rara sudah menjalin hubungan. Dengan senyum Rara menekan tombol menyetujui permintaan Satria.


" Ra, apa kamu ingin menghapusnya?" tanya Satria menunjukan foto Rara yang dulu.


" Tidak usah." jawab Rara.


" Lah kenapa? bukannya kamu sangat membenci foto ini." ujar Satria.


" Mungkin dulu, aku sangat tidak suka dengan foto itu. Namun semakin kesini aku menyadari. Bahwa manusia makin kedepan, maka akan banyak perubahan dalam hidup baik itu sikap, tingkah laku bahkan penampilan. Jadi aku menerima fotoku yang dulu, karena foto itu yang membuat ku sadar jika aku bisa begini sebelumnya aku seperti itu." ujar Rara lalu tersenyum.


Satria ikut tersenyum mendengar perkataan Rara, dia tidak menyangka gadis dihadapannya ini sudah mulai berubah sekarang. " Aku juga akan tetap mencintai, bagaimana pun perubahan mu nanti. Kamu ingat perkataan mu tentang ikan diatas langit, bahwa cinta itu adalah yang mustahil. Menurutku, itu tidaklah mustahil. Ikan mungkin bisa berada diatas langit. Eum.. Tolong tinggal bersamaku lebih lama ya si gigi bungsu." ujar Satria.


" Maksud kamu mengatai ku gigi bungsu." ucap Rara.


" Bukannya dulu aku merasa jika kamu seperti gigi bungsu. Ra, meski gigi bungsu harus dicabut, tapi bagiku tidak semua gigi bungsu dipaksa untuk cabut. Dan kamu adalah gigi bungsu yang kokoh meski banyak orang yang mencoba untuk mencabut mu." ujar Satria mengacak rambut Rara.

__ADS_1


" Apaan sih! berantakan jadinya." ucap Rara cemberut.


" Ra, tolong tinggal bersama ku lebih lama ya." pinta Satria.


" Iya, aku akan tinggal bersama denganmu dan mengarungi hidup ini lebih lama bersamamu." ujar Rara.


" Ehem.. romantis banget." ujar Bima yang baru saja datang menghampiri mereka.


" Bima.. kok baru muncul." ucap Rara.


" Kamu kemana saja sih! Dihubungi susah banget. Bahkan perayaan ulang tahun aku saja kamu tidak datang." ujar Satria.


" Maafkan aku bro, aku ada urusan jadi baru bisa masuk kuliah sekarang. Tapi untuk ulang tahun mu aku sudah memberi kado loh." ujar Bima.


" Kado apaan!"


" Kamu tidak sadar, kadoku itu ialah membuat kalian berdua menyadari perasaan kalian masing-masing. Bukan karena ku, tidak mungkin kalian bertatapan mesra seperti ini." ujar Bima menggoda.


" Apaan sih! bikin malu saja." ucap Rara.


" Iya, lalu bagaimana dengan mu?" tanya Rara.


" Punya ku seperti bintang di laut. Kurasa mustahil." ujar Bima.


" Percaya sama aku, ikan diatas langit saja tidak semustahil itu. Apalagi bintang didasar laut. Ada kok bintang didasar laut, jadi tidak mungkin itu mustahil." ujar Rara.


" Intinya usaha saja, bro. Kayak aku." ucap Satria melirik Rara.


" Thanks ya, aku mungkin akan berusaha." ujar Bima.


Dua tahun kemudian....


Dia tahun sudah, Rara dan Satria sudah sibuk dengan kegiatan praktek yang mereka harus laksanakan. Hari ini kebetulan Rara tidak masuk, namun dirinya merasa bosan. Padahal baru saja dia belajar, tetapi setelah melihat foto Satria yang dipajang dimeja belajarnya. Rara mulai kesal, sebab seharian ini Satria tidak mengabarinya.

__ADS_1


" Sialan si Satria! Seharian ini dia tidak mengabari ku sama sekali. Dia sudah tidak perduli lagi denganku, hah!" ujar Rara kepada foto Satria yang dipajang dimeja belajarnya.


Rara mengambil ponselnya, berniat menghubungi Satria. Saat itu Satria tengah menjalani prakteknya.


" Halo Ra."


" Sat, kamu tidak sayang sama aku lagi, tidak perduli denganku lagi. Kenapa seharian ini kamu tidak mengabari ku." ujar Rara.


" Maaf Ra, aku lagi praktek sekarang."


" Kamu benar-benar tidak perduli ya. Kamu tahu pergelangan kakiku ini sakit, aku tidak bisa jalan dan di rumah tidak orang. Kamu mau aku mati kelaparan disini." ujar Rara marah-marah didalam telfon.


" Maaf Ra, aku tidak bisa." ucap Satria mematikan telfonnya saat dokter yang bersama melirik kearahnya.


Rara merasa kesal saat Satria dengan tega mematikan telefonnya. Padahal Rara sudah mengarang cerita agar Satria merasa kasihan danau mengunjunginya. Dengan kesal Rara ingin turun menuju dapur, namun seperti kata orang tidak boleh berbohong sebab itu akan terjadi. Dan benar, Rara tersungkur di tangga, yang membuat pergelangan kakinya. Beruntungnya ada ibunya yang baru saja dari luar.


" Ra, kamu tidak apa-apa?" tanya ibu Rara.


" Sakit Bu." ucap Rara meringis kesakitan.


Ibu Rara segera memberikan pertolongan dengan mengobati pergelangan kaki Rara dan tidak lupa melilitnya dengan perban.


" Makanya Ra, kalau jalan itu hati-hati." kata ibu Rara.


" Iya Ma." Rara benar-benar merasa kesal dengan Satria. Karena dirinya harus berbohong dan membuat dirinya harus mengalami hal yang sama saat dia berbohong tadi.


" Ibu tidak bisa menemani mu, hari ini ibu masuk kerja siang dan mungkin pulangnya besok pagi. Jadi kalau lapar kamu pesan saja makanan ya." ujar ibu.


" Iya Ma," jawab Rara.


" Nanti jalannya hati-hati, apalagi saat turun tangga. Ibu berangkat dulu." ujar ibu Rara pamit berangkat kerja.


Rara akhirnya ditinggal sendirian di rumah. Karena Satria sudah tidak perduli dengannya. Dia memilih memesan makanan untuk makan siangnya. Tetapi sayang belum sempat memesan, bel rumah nya berbunyi. Rara berteriak untuk menunggu sebab dirinya kesusahan saat turun dari tangga. Dengan pelan dia menuruni anak tangga satu persatu. Namun ternyata yang datang merupakan kurir yang mengirim barang pesanan Raden.

__ADS_1


Rara merasa kesal sebab dirinya harus kesusahan naik turun tangga. Belum juga sampai kamarnya, bel rumah kembali berbunyi. Ternyata kurir barang lagi datang. Dan itu terjadi terus menerus membuat Rara kelelahan akibat harus naik turun tangga. Rara mengutuk Raden karena sudah membuatnya kesusahan. Merasa sudah tidak sanggu untuk naik turun tangga, Rara memutuskan untuk duduk didepan halaman rumahnya sambil menunggu siapa tahu ada paket yang datang lagi.


__ADS_2