
Di ruangan kelas, hanya ada Raden dan Mira. Raden duduk dihadapannya Mira, dan terus menatap wajah gadis dihadapannya itu. Mira yang serius membaca catatan terlihat malu, karena terus di tatap oleh Raden.
" Raden, kenapa kamu menatapku terus seperti itu?" tanya Mira yang malu karena Raden terus menatapnya.
" Saat kamu melakukan sesuatu, ternyata kamu terlihat imut juga ya." ujar Raden tersenyum menatap Mira.
" Kamu baca apa?" tanya Raden kepada Mira.
" Aku lagi belajar untuk ujian yang akan datang " ujar Mira mengingat mereka sebentar lagi akan menghadapi ujian, makanya itu Mira butuh banyak belajar untuk mempersiapkannya.
" Untuk mata kuliah yang mana?" tanya Raden.
" Ya, untuk mata kuliah yang kita ambil bersama. Terus, Raden udah belajar belum? soalnya aku belum melihat Raden belajar. " ujar Mira.
Raden berdecak, " Aku gak perlu belajar, aku udah dua kali mengikuti mata kuliah ini. Kenapa kamu gak mengujiku saja sekarang?"
" Kamu yakin?" tanya Mira yang tidak percaya jika raden bisa menjawab pertanyaan darinya.
" Iya, sekarang berikan pertanyaannya." ujar Raden dengan pedenya.
Mira mulai memberikan soal pertama, dan ternyata soal itu dengan mudah Raden bisa menjawabnya. Raden begitu bangga karena dirinya bisa menjawab pertanyaan itu. Namun, saat Mira mulai memberikan pertanyaan yang lain Raden tidak tahu jawabannya. Ternyata pintar itu hanya untuk pertanyaan pertama saja.
" Kamu tadi bilang kalau kamu pintar." ujar Mira karena Raden tidak bisa menjawab lagi pertanyaan-pertanyaan darinya.
" Iya, aku tahu. Tapi yang aku tahu hari ini kamu terlihat begitu imut." ujar Raden tersenyum menatap Mira.
Mira yang dihadapannya juga malu mendengar pujian seperti itu.
" Ayolah Raden, ini bukannya saatnya untuk becanda. kita berdua harus belajar untuk ujian nanti. kalau kamu kerjaannya becanda terus begini, kamu bakalan tahan lagi di kelas ini loh." ujar Mira.
Raden yang tersenyum tadi tiba-tiba senyuman itu hilang. Mendengar kalimat terakhir yang diutarakan oleh Mira. Raden membayangkan jika dirinya tidak lulus lagi maka dia akan dikatakan sebagai mahasiswa yang bodoh oleh mahasiswa lain. Alhasil membuat Raden berteriak, hal itu membuat Mira panik. Mira segera berdiri dan memeluk Raden.
" Berhentilah berteriak, aku kan membantumu. Kita belajar bersama, oke?" ujar Mira menenangkan Raden.
Karena mendapat kesempatan dipeluk oleh Mira, Raden membalas memeluk gadis itu dengan berkata, " Jangan tinggalkan aku."
" Iya, aku gak akan ninggalin Raden kok. Raden pasti lulus, aku akan membantu Raden belajar." ujar Mira masih memeluk Raden.
Disisi lain, Rara mengunjungi perpustakaan di kampusnya. Disisi pula dengan Satria yang juga menuju perpustakaan. Satria mengambil beberapa buku memberikan rongga agar dapat melihat wajah Rara yang kebetulan juga berada di rak di sebelahnya.
" Nih, aku belikan cemilan untukmu." kata Rara memberikan sebuah roti yang diletakkan di rak yang bukunya sudah diambil oleh Satria.
__ADS_1
Mereka berdua ternyata membuat janjian ketemuan di perpustakaan kampus agar tidak menimbulkan kecurigaan jika mereka memiliki hubungan. Ditambah untuk menjaga agar Sasa ataupun Jeje melihat mereka berduaan.
Satria mengambil cemilan itu, dia juga memberikan cemilan yang juga dia beli untuk Rara. Saat Rara mengambilnya, tanpa sengaja mata mereka bertemu.
" Kamu ngelihatin apa? Aku gak kenal kamu." ujar Satria tiba-tiba seoalah dia memang tidak mengenal siapa Rara.
" Kenapa kamu mengangkat alismu kearah ku? Aku juga gak mengenalmu." ujar Rara membalas.
" Ini urusanku." jawab Satria.
Rara yang kesal, mendekatkan wajah ke rak buku kosong, sambil menatap ke arah Satria dengan berkata, " Kamu jangan sampai membiarkan orang tahu kalau kita punya hubungan."
" Iya, kamu juga harus begitu." ujar Satria memukul wajah Rara dengan kedua buku. Membuat Rara mengeluh kesakitan.
" Kalau begitu aku akan membaca buku sendirian. Kamu jangan mengikuti ku!" ujar Rara agar Satria tidak ikut bersamanya.
" Tentu saja aku gak mengikuti mu." ujar Satria. mereka berdua akhirnya berpisah
Kini Satria berada di atap gedung kampus. Dia sedang asyik Videocall dengan seseorang.
" Aku gak berada ditempat yang sama denganmu ya." ujar Raden.
Di satu sisi Rara juga tengah Videocall. Ternyata mereka berdua tengah bervideo call.
" Tunggu sebentar ya." ucap Rara.
" Apa yang kamu lakukan?" tanya Satria.
Rara mengambil meminum yang di belinya didalam tas, dan meminumnya didepan Satria yang sedang video call dengannya.
" Aku juga haus." ujar Satria mengambil botol minuman yang disampingnya.
" Eh! itu punya ku." ujar Rara yang ternyata mereka berdua video ditempat yang sama. Rara berada tidak jauh disamping Satria.
" Karena ini punyamu. Makanya aku meminumnya. Agar aku dapat menciummu meski itu secara tidak langsung." ujar Satria menatap layar ponselnya.
Hal itu membuat Rara tersipu malu, saat Satria meletakkan kembali botol minuman itu. Rara mengambilnya dan berkata, " Baiklah kalau begitu, aku juga akan membalas ciumanmu."
Rara mengambil minuman itu meminumnya. Mereka berdua mengakhiri video call sambil menatap satu sama lain.
Di kantin, Rara tengah menikmati makanannya.
__ADS_1
" Gimana? Makanan yang aku belikan untuk mu, enak gak?" tanya Satria yang duduk di belakang Rara.
" Tentu saja enak." jawab Rara.
" Aku awal meragukan, karena menurutku makanan itu terlalu pedas untukmu." ujar Satria.
" Makanan enak ini lebih baik dari pada makanan biasa di rumah. gak masalah kok." ujar Rara tersenyum menikmati hidangan yang dibeli oleh Satria untuknya.
" Aku gak menyangka jika kamu juga menyukai makan makanan pedas. Kalau begitu aku akan membelikan mu makanan yang lain juga." ujar Satria.
" Apa?" tanya Rara.
" Akulah." jawab Satria menimbulkan keheningan diantar mereka berdua.
Tanpa Satria sadari Rara terkekeh pelan, merasa malu dengan apa yang didengarnya.
" Oh iya, aku mau membeli minuman. Kamu mau nitip beli sesuatu gak?" tanya Rara.
" Kalau begitu beri aku kejutan dengan menebak apa yang aku inginkan?"
" Baiklah, kalau begitu jangan mengeluh setelah aku membelinya."
"Aku gak masalah dengan apa yang kamu belikan untuk ku."
" Oke, aku akan segera kembali." ucap Rara.
Namun tidak disangka, Raden datang menghentikan Rara untuk pergi membelikan minuman.
" Duduk lagi, Ra." ucap Raden.
" Ada apa kak?" tanya Rara yang tidak tahu kenapa kakaknya itu meminta untuk duduk kembali.
Raden menatap Satria yang duduk dibelakang Rara, lalu dirinya bertanya, "Kalian berdua diam-diam pacaran kan!"
"Dari mana kakak bisa memiliki pikiran seperti itu?" tanya Rara yang berusaha menutupi keterkejutannya agar kakaknya itu tidak mencurigai jika dirinya beneran berpacaran dengan Satria.
Raden mengambil klip ikan di tali masker Rara dan Satria dengan berucap, " Dari sini."
" Dasar kamu ya Ra! katanya dia yang sering menganggu mu, dan mendekati mu. Tapi ku rasa memang kamu yang sengaja ingin memikatnya." ujar Raden kesal dengan adik itu.
" Dan untuk kamu, jangan berfikir kamu bisa mendekatinya dengan mudah. Aku gak pernah menyetujui hubungan kalian berdua. Aku gak percaya dengan mu, jika aku melihatmu lagi bersama dengan adikku. Aku gak akan segan-segan memukul mu" ujar Raden kepada Satria.
__ADS_1
Raden segera menarik tangan adiknya untuk pergi dari situ.