
Rara akhirnya pasrah dia menutup matanya saat wajah Satria mulai mendekati wajahnya. Tinggal sedikit saja bibir mereka akan menyentuh, namun akhirnya gagal akibat suara pintu kamar yang mau dibuka dari luar. Rara dan Satria kaget, segera Rara menyelimuti tubuhnya dan satria dengan selimut.
Ternyata orang yang membukakan pintu itu adalah Raden, wajahnya seperti orang yang sedang ketakutan. Sebab tadi saat air di shower tiba-tiba mati lalu hidup kembali. Hal itu membuat Raden merasa bahwa di kamar mandi mereka ada penunggu yang menganggu.
" Kakak ngapain si ke kamar. Aku mau tidur." ujar Rara dia mengutuk dirinya karena lupa mengunci pintu kamarnya.
" Dik, kayaknya aku tidur disini saja. Aku gak bisa tidur sendirian." ujar Raden yang begitu takut bila tinggal sendirian di kamarnya.
" Apaan sih kak! Gak boleh. biasanya kakak juga sering tidur sendiri di kamar." Rara menolak, karena kalau Raden tidur di kamarnya maka akan ketahuan jika Satria berada di dalam kamarnya.
" Masalahnya dek, kondisinya terlihat menyeramkan.Tadi saat aku mandi aku ngalamin sama dengan apa yang kamu ngalamin. Bagaimana bisa aku tidur sendirian di kamarku sedangkan kamarku letaknya dekat dengan kamar mandi." Ujar Raden menjelaskan keadaan jika dirinya memang harus tidur di kamar Rara.
" Kakak kok percaya dengan hal mistis begituan sih. Mungkin saja air showernya memang lagi bermasalah. Udahlah kak, tidurlah di kamar mu." ujar Rara terus menolak permintaan kakaknya itu.
Bukan Raden namanya jika dirinya tidak keras kepala. Raden tetap mengambil bantal gulingnya di kamar meski datang kembali ke kamar Rara dengan lari ketakutan. Kebetulan kamar Rara tingkat, Raden bisa menggunakan kamar bagian atas untuk tidur. Rara terus mencoba membujuk kakaknya untuk tidak membuat keputusan tidur di kamarnya. Tetapi tetap saja keras kepala Raden, tidak bisa berbuat apapun meskipun Rara sudah memohon.
" Kenapa sih! emang gak boleh aku tidur di kamar mu. Jangan-jangan kamu.." kata Raden mencoba menerka-nerka apa yang sedang Rara sembunyikan darinya. Sehingga Rara begitu ngotot agar Raden tidak tidur di kamarnya.
Merasa kembali dicurigai, Rara kembali mencari alasan.
" Bukan begitu kak, kamarku itu kalau tengah malam terkadang suka ada bayangan menganggu bahkan suka menimbulkan suara yang mengerikan." kata Rara berbohong agar Raden merasa takut dan memilih kembali ke kamarnya.
" Halah, alasan. Gak mungkin ada hal-hal begitu. Kalaupun ada pasti kamu udah lari ketakutan tengah malam. Kamu kecoak aja takut, apalagi bayangan hantu." ujar Raden tidak percaya dan tetap memilih tidur di kamar Rara.
__ADS_1
Rara menghela nafasnya, dia tidak tahu lagi harus buat alasan apa agar kakaknya itu tidak tidur di kamarnya.
Satria yang sedari tadi tidur sambil memeluk Rara dibawah selimut, akhirnya berbisik, " Kalau kamu merasa udah gak bisa buat dia keluar kamar. Ya udah begini saja dulu, nanti kalau dia udah tidur baru kita keluar."
Rara merasa kesal karena satrialah yang menunda waktu, menjadi dirinya harus terjebak di kamar Rara.
" Itu semua gara-gara kamu, kalau kamu gak main-main tadi mungkin kamu sudah keluar." bisik Rara kesal terhadap Satria.
Raden yang mendengar adiknya berbisik-bisik entah dengan siapa, atau mungkin dengan dirinya pun bertanya, "Apa yang kamu bicarakan Ra?"
" Ah, gak kok kak. Kalau begitu kakak tidurlah. Selamat malam ya kak, sampai jumpa besok pagi." ujar Rara.
Rara akhirnya tetap terjaga menunggu Raden untuk segera tidur. Agar dia bisa membantu Satria keluar dari kamarnya. Namun, tidak menyangka Raden malah terbangun dan turun dari atas kasur. Rara berfikir mungkin kakaknya itu pasti tidak nyaman dan mungkin memilih kembali ke kamarnya.
" Ra, bertukar tempat tidur yuk. Aku cukup sering buang air kecil, dan aku malas harus naik turun untuk ke toilet." ujar Raden memohon kepada adiknya.
" Ah gak bisa, aku udah nyaman dan mau tidur. Kalau kakak gak mau tidur kembali saja ke kamar kakak." ujar Rara menolak permohonan kakaknya.
" Kamu ini, gak membantu kakak mu sama sekali." ucap Raden kepada adiknya.
" Bukannya gak mau membantu, kakak ini udah di kasih hati malah minta jantung. Masih bagus aku mempersilahkan Kakak tidur di kamar ku. Ini malah minta tidur di kasur yang sering aku tiduri. Gak bisa!" Ujar Rara dengan harapan kakaknya kembali ke kamarnya lagi.
" Ya udah, kalau kamu gak kasih. Aku akan ambil tikar dan tidur di lantai." ucap Raden mengambil tikar kecil disamping pintu kamar Rara. Raden lalu merentangkan tikar dan tak lupa mengambil bantalnya.
__ADS_1
Rara menghela nafas, tidak percaya dengan kakaknya yang masih saja ingin tidur di kamarnya. Padahal Rara sudah ada harapan jika Raden akan pulang ke kamarnya sendiri. Ternyata harapannya salah besar. Rara membuka sedikit selimutnya dan berbisik, " Setelah kakakku tertidur kamu harus segera pergi."
" Berapa lama kakakmu tertidur?" tanya Satria agar dia bisa segera keluar.
" Gak akan lama, kakakku itu orangnya mudah tertidur." Bisik Alisya yang yakin jika Raden orang yang cepat sekali tidur.
Rara dan Satria terjaga, menunggu kakaknya itu tertidur. Namun, kembali harapan mereka pupus. Raden malah tidak bisa tidur, dia terus saja bangun dan menanyakan hal ini dan itu. Bahkan dia menceritakan di Rara, jika di festival tadi dia membantu teman ceweknya, bahkan dia juga cerita saat dirinya marah ketika teman ceweknya tangannya terkena staples.
" Kak tidurlah, ini sudah tengah malam." ujar Rara meminta Raden segera tidur.
Namun tidak berselang lama, lagi-lagi Raden terbangun dan memanggil nama Rara. Rara yang tadinya terjaga, ternyata sudah tertidur pulas.Sedangkan Satria yang berada dibawah selimut masih terjaga. Raden terus memanggil nama adiknya itu. Mendengar tidak ada jawaban, Raden kembali tidur. Sedangkan Satria yang terjaga mencoba membangunkan Rara yang tertidur pulas. Satria mencolek-colek badan Rara dengan jarinya.
" Ra! apa kamu sudah tidur? Rara! ayo bangun!" ucap Satria berbisik-bisik membangunkan Rara.
Tetap saja, Rara tertidur pulas dan tidak terbangun meski Satria sudah mencolek-colek tangannya ditubuh Rara.
"Baiklah, kalau kamu masih belum bangun. Aku akan menggigit mu." Ancam Satria yang tidak didengar Rara karena sudah tertidur pulas.
Satria akhirnya memutuskan menggigit tangan Rara. Yang membuat sang empunya berteriak. Rara terbangun dengan menyibak selimutnya. Menampakkan kepala Satria yang memandangnya.
" Kenapa kamu menggigitku sih!" bisik Rara kesal karena Satria menggigit tangannya.
" Untuk bangunin kamu lah. Habis dari tadi dibangunin gak bangun-bangun." ujar Satria yang kesal karena sedari tadi dia susah membangunkan Rara.
__ADS_1
" Lihatlah, kakak mu sudah tertidur." ucap Satria agar Rara segera bangun untuk membantunya keluar dari rumah Rara.
Mereka bangun dari kasur dan berjalan pelan, agar Raden tidak terbangun dari tidurnya. Dan akhirnya Satria bisa keluar dari rumah Rara.