Cinta Si Gigi Bungsu

Cinta Si Gigi Bungsu
Jas laboratorium


__ADS_3

Pagi yang cerah, Rara baru saja selesai mandi. Namun, karena Rara sudah berubah, maka penampilannya pun juga berubah. Kali ini dia akan mengenakan rok pendek ke kampus. Meski tidak nyaman untuknya. Namun, Rara berusaha untuk terlihat senyaman mungkin. Rara menuju kamar kakaknya untuk menunjukan penampilan barunya itu. Namun, dilihat di kamar itu sudah rapi. Rara merasa heran, tumben sekali kakaknya itu pagi-pagi sudah pergi.


Rara sudah sampai, Rara berjalan dengan tidak nyaman. Karena ini pertama kalinya dia mengenakan rok pendek. Melihat Rara berjalan dengan aneh, adik seniornya pun bertanya. Karena malu mengakui tidak nyaman mengenakan rok pendek. Rara pura-pura mengatakan jika dirinya terburu-buru ingin menuju ke kelas. Rara sampai ke ruangan laboratorium, belum sempat masuk. Rara teringat jika dia lupa jas laboratoriumnya. Rara mengutuk dirinya yang suka kelupaan itu. Teman sekelasnya yang melihat Rara masih berdiri pun bertanya, bahkan mengajak untuk segera masuk ke ruangan karena sebentar lagi dosen akan datang.


" Tapi aku melupakan jas laboratorium ku." Ujar Rara.


Teman sekelasnya itu hanya mengingatkan jika jas itu sangat di perlukan untuk kelas ini. Hal itu membuat Rara semakin khawatir. Akibat keteledorannya Rara kembali mengutuk dirinya sendiri. Sedangkan teman sekelasnya malah masuk ke ruangan laboratorium meninggalkan Rara sendiri. Rara berniat untuk kembali ke rumah dan mengambil jas laboratoriumnya yang tertinggal.


Raden ternyata yang mengambil jas laboratorium Rara. Raden duduk di kantin fakulitas kedokteran sambil melihat mungkin ada cewek cantik lewat. Dan benar saja ada cewek cantik yang berjalan ke arahnya. Membuat Raden segera mengeluarkan suara burung untuk menggoda cewek itu. Namun tidak disangka si cewek malah bertanya apakah ayah Raden seekor burung. Hal itu membuat Raden terdiam dan mengatakan jika ayah seorang dokter. Si cewek tidak mendengar malah justru pergi berlalu begitu saja.


Tiba-tiba datang lagi seorang cewek yang berjalan menuju ke arahnya. Dan kembali Raden mengeluarkan jurus gombalannya kepada cewek itu.


"Kau sangat lucu membuat hatiku lemah tak berdaya. Bolehkah aku meminta nomormu?"


Respon si cewek justru berbeda dari dugaan Raden. Cewek itu malah mengatai Raden mahasiswa kedokteran gigi yang aneh. Karena tidak terima, Raden pun mengatakan jika kata-kata yang cewek itu lontarkan menyakiti hatinya. Bukannya minta maaf cewek itu malah justru menampar pipi Raden. Raden merasakan pipinya yang sakit karena tamparan cewek itu.


Dari depan terlihat Mira berlari menghampiri Raden. Raden kesal karena Mira terlambat datang padahal dirinya sudah menunggu sejak pagi.


"Maaf." kata Mira meminta maaf akan keterlambatannya.


Raden kesal dan mengatakan jika menunggumu disini membuat dirinya di marahi bahkan ditampar pipinya. Raden mengingat untuk jangan lagi bertemu sepagi itu. Mira kaget melihat apa yang di kenakan Raden.


"Kenapa kamu mengenakan jas laboratorium di luar ruangan." Tanya Mira.


Sekilas info Raden menipu Mira jika dirinya kuliah di dua fakulitas. Yang sebelumnya mereka berdua sekelas di fakulitas teknik sipil. Kata Raden dia juga mengambil jurusan lain yaitu kedokteran. Mira yang polos hanya percaya saja dengan omongan Raden.


" Biasanya orang tidak akan mengenakan jas laboratorium saat berada di luar ruangan. Apa kamu lihat di sinetron itu gak benar," ujar Mira.

__ADS_1


Raden kaget mendengar ujaran Mira. Dengan tipu muslihatnya dia berpura-pura jika dia lupa melepaskan jas laboratorium yang dikenakannya. Raden melepaskan jas itu dan meletakkannya di dalam Tas.


" Yuk, kita pergi." ucap Raden.


Mira mengatakan untuk tunggu sebentar. Karena Mira lupa mengisi air didalam botolnya. Jadi dia meminta untuk menunggu karena dia harus mengisi air dalam botol minumannya. Namun, Raden mencegahnya. Karena Raden sudah membawa air dari rumah, yang katanya minuman itu adalah kesukaan Mira. Raden menunjukan minuman botol bermerk yang di belinya sebelum ke kampus. Mira tersenyum senang, melihat jika minuman itu memanglah kesukaannya. Raden juga mengatakan jika minuman itu juga kesukaannya. Mira tidak menyangka jika dia dan Raden memiliki kesukaan yang sama. Mira membuka botol minuman itu dan meminumnya. Bagi Mira minuman itu sangat menyegarkan di tenggorokan. Mira tersenyum menatap Raden sambil mengucapkan terima kasih. Raden menatap senyuman di bibir Mira. Dia merasakan jantung berdebar. Raden mengutuk dirinya kenapa jantung bisa berdebar hany melihat senyuman dari cewek di depannya ini.


" Yuk, kita pergi sekarang!" ujar Raden.


Mira hanya mengangguk dan mengikuti Raden dari belakang.


Sedangkan Rara dengan rok pendek berjalan keluar dari area kampus. Tidak di sengaja dia bertemu dengan Satria. Rara tidak perduli dan segera mencari ojek agar dia bisa segera sampai di rumah. Satria menatap Rara dengan penampilan barunya itu. Bagi Satria, Rara terlihat cantik. Namun, saat Rara melewatinya segera Satria menahan tangannya.


"Kenapa terburu-buru? kamu sengaja ya, agar gak mau mengembalikan ponselku." Ujar Satria.


Rara mendengus kesal, dia segera mengambil ponselnya dan memberikan ponsel itu ke Satria. Saat Rara hendak pergi, lagi-lagi Satria menahannya. Rara mendengus kesal, kenapa disaat dirinya sedang terburu-buru dia harus bertemu dengan Satria.


" Lah iya, itu sebabnya aku harus segera pergi." jawab Rara dengan kesalnya dan hendak pergi.


Kembali Satria menahan tangannya.


" Kenapa kamu di luar kampus? bukannya kamu harus segera ke kelas sekarang?" tanya Satria.


"Aku gak pergi ke kelas sekarang. aku mau pulang," ucap Rara.


Saat Rara kembali berjalan, Satria kembali meminta Rara untuk berhenti.


" Ada apa lagi si!" ujar Rara kesal.

__ADS_1


" Mengapa kamu pulang? kamu ini sengaja ya ingin menghindar dariku?" tanya Satria.


Rara merasa kesal dengan Satria. Dia mengutuk dirinya, kenapa Dewi Fortuna tidak berpihak padanya hari ini. Sudah lupa jas laboratorium sekarang malah bertemu dengan Satria yang sudah menghambat perjalanannya.


" Gak! aku lupa bawa jas laboratorium ku." jawab Rara kembali pergi.


Lagi dan lagi Satria menahan Rara untuk pergi. Rara benar-benar kesal.


" Apa lagi si hah! katakan apa cepat apa yang ingin kamu katakan, dasar menyebalkan!" bentak Rara kesal.


" Aku hanya ingin mengatakan jika kamu gak perlu pulang ke rumah. kamu bisa mengenakan jas laboratorium ku," ujar Satria.


Satria mengambil jas laboratoriumnya di dalam tas, dan memberikannya pada Rara. sedangkan Rara terdiam dan tidak menyentuh jas laboratorium yang diberikan Satria untuknya.


" Apa kamu segitu bencinya padaku sampai-sampai kamu gak mau menyentuh jas laboratorium ku." ujar Satria.


" Bukannya kamu juga memerlukan jasnya untuk kelas mu?" tanya Rara.


" Saat kamu tiba di rumah, kelas mu pasti udah selesai." ujar Satria lalu meletakkan jas laboratorium itu di pundak Rara.


Rara terdiam sejenak, lalu berkata, " baiklah, kalau begitu."


"Begitu saja sulit." ujar Raden.


Sedangkan Rara segera berlari ke kelasnya. Namun, selama berjalan Rara terus menarik roknya ke bawah. Tanpa Rara sadari Satria terus menatapnya.


"Kenapa dia berjalan seperti itu?"

__ADS_1


__ADS_2