Cinta Si Gigi Bungsu

Cinta Si Gigi Bungsu
Ibu guru Nadia


__ADS_3

Satria mengejar Rara dan memanggilnya. Namun, menghiraukan panggilan Satria dan terus berjalan.


"Ra! tunggu sebentar!" teriak Satria.


Namun Rara tetap menghiraukan. Hingga akhirnya Satria berlari dan meraih tangan Rara.


"Ra, tunggu aku." ujar Satria.


" Kenapa kamu mengikuti ku?" tanya Rara kesal.


" Ada sesuatu di rambutmu." jawab Satria.


Sedari tadi Rara tidak sadar jika rambutnya terkena kotoran akibat praktek di laboratorium tadi. Rara mungkin hanya percikan debu hanya mengenai baju dan celananya. Ternyata di bagian rambut Rara juga terkena. Mendengar jawaban Satria, Rara segera membersihkan rambutnya. Namun bukan bagian rambut yang dibersihkan Rara yang kotor.


" Bukan disitu," ucap Satria.


Rara kembali membersihkan rambutnya di bagian lain. Lagi-lagi kata Satria bukan di bagian. Hingga membuat Rara kesal.


" Lebih baik kamu kasih tau aku, dimana bagian yang kotornya." ucap Rara.


Bukannya memberitahu, Satria malah meminta Rara untuk diam. Satria memegang kedua pundak Rara dan menarik lebih dekat dengannya. Salah satu tangannya kebelakang membersihkan rambut Rara yang kotor di bagian belakang. Rara hanya pasrah, dia hanya memandang wajah Satria begitu dekat. Rara merasakan jantung berdebar.


"Sudah ku katakan padamu. kalau aku gak suka sesuatu yang kotor." ujar Satria.


Rara hanya terdiam dan terus menatap wajah Satria. Begitu pula Satria menghentikan pergerakan tangannya dan menatap balik wajah Rara.


"Apakah sudah bersih?" tanya Rara nada pelan.


Satria melepaskan kedua tangan di pundak Rara. Dan mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Rara. Rara sadar apa yang barusan dia lakukan. Dia segera menjauh dari Satria.


" Baiklah jika sudah bersih. kamu gak perlu menatap ku seperti itu." ucap Rara lalu pergi dari hadapan Satria.


Di tempat lain, Raden dan Mira berjalan menuju tempat yang akan mereka kunjungi. Raden berjalan duluan meninggalkan Mira yang mengikutinya dengan lambat.


"Raden, tunggu aku." ucap Mira saat Raden berjalan terlalu cepat.

__ADS_1


Tetapi Raden menghiraukan, dan tetap berjalan menuju tempat yang dikunjungi oleh mereka. Di depan sudah ada seorang cewek yang menunggu mereka berdua.


" Selamat malam." sapa cewek itu.


Dengan kelalapan karena ada cewek cantik di depannya membalas sapaan cewek itu. Begilah pula dengan Mira yang juga ikut membalasa sapaan cewek itu.


"Apakah kalian berdua adalah Raden dan Mira yang akan mengadakan proyek di sekolah kami?" tanya cewek itu.


Dengan cepat Raden menjawab, " iya, benar."


Raden tersenyum, tidak sia-sia bagi dirinya melakukan perjalanan jauh menuju kemari. Setidaknya Raden bisa bertemu dengan cewek cantik ini. Meski sebelumnya dia menolak akan proyek tempat itu, tetapi jika bertemu dengan si cantik ini dia mungkin tidak akan menolaknya.


"Nama aku Raden, dan ini temanku, Mira." Ujar Raden dengan lembut.


Mira yang mengetahui ada sedikit perubahan dari Raden. Raden terlihat menggunakan bahasa yang lembut untuk cewek di depannya. Entah kenapa, Mira tidak begitu menyukai sikap yang cenderung lebih sopan dengan cewek yang didepannya ini.


"Senang bertemu dengan kalian berdua. Nama aku Nadia. aku salah satu guru di sekolah ini." Kata Nadia memperkenalkan dirinya.


"Nanti akan ada beberapa masyarakat desa yang datang kesini besok. Mereka sudah ku beritahu tentang acara ini." ujar Nadia.


Sedangkan Mira menatap Raden seolah tidak percaya Raden terlihat begitu sopan.


" Bagaimana aku memperlihatkan kamar kalian? Oh ya, bagaimana perjalanan kalian tadi?" tanya Nadia.


"Sangat melelahkan." ujar Raden.


"Kalau begitu mari silakan." kata Nadia mempersilahkan Mira dan Raden mengikutinya.


Selama perjalanan menuju kamar, Nadia bertanya, mereka menggunakan apa menuju ke sekolah. Mira menjawab jika mereka berkendara menggunakan motor. Sedangkan Raden sibuk dengan ponselnya. Yang ternyata dia memberitahu di grub geng Anjay itu jika guru yang menyambut mereka menggunakan kecamatan yang lucu serta terlihat sangat cantik. Raden juga mengatakan jika ini sepadan dengan perjalanannya yang jauh. Raden berharap agar teman-teman itu dapat melihat kecantikan cewek ini. Mira dan Nadia terus berbincang.


" Maaf, apakah besok ada anak-anak yang akan kemari?" tanya Mira.


"Emangnya kenapa?" tanya Nadia.


"Temanku ini dia juga seorang mahasiswa kedokteran gigi." ujar Mira.

__ADS_1


Raden kaget mendengar ujaran Mira, mengenai dirinya yang juga merupakan mahasiswa kedokteran gigi. Mira dan Nadia memandang ke arah Raden yang terlihat sekali ekspresi wajah kagetnya. Karena takut ketahuan berbohong, Raden segera mengubah ekspresinga dan menjawab apa yang dikatakan Mira adalah benar.


"Baiklah aku akan menginformasikan kepada anak-anak tentang hal itu." Kata Nadia.


Jadi sedari tadi Mira berencana agar raden berpartisipasi dengan jurusan kedokteran gigi. Rencananya Raden akan memeriksa gigi anak-anak besok. Mau tidak mau takut ketahuan bohong, Raden dengan terpaksa mengiyakan rencana Mira. Raden mengutuk dirinya yang berbohong kepada Mira tentang dirinya mahasiswa kedokteran gigi. Gimana bisa seorang Raden menjadi dokter gigi. Dirinya saja juga jarang menyikat gigi. Namun, Raden berusaha tidak terlalu memikirkan. Dia hanya memikirkan cara untuk mendapatkan hati si guru cantik bernama Nadia itu.


Nadia memperkenalkan ruangan-ruangan kelas kepada Mira dan Raden. Dia juga memperlihatkan tempelan dinding yang dibuat oleh siswanya. Dengan triknya, Raden memuji tempelan dinding itu. Dan mengatakan jika Nadia merupakan guru yang baik. Mira menatap Raden saat Raden memuji Nadia. Lalu Nadia dengan ragu-ragu dia ingin bercerita mengenai kisah di sekolah yang dia ajarkan itu. Hal itu membuat Raden dengan takut bertanya kisah apa yang sehingga membuat Nadia tidak berani untuk bercerita kepada mereka berdua.


"Sepertinya kalian berdua belum pernah mendengar." Ujar Nadia dengan nada pelan.


Raden merasa jika cerita itu akan terlihat menyeramkan. Nadia takut jika Raden ketakutan mendengar ceritanya. Nadia ingin mengurungkan diri untuk tidak bercerita. Namun, sudah terlanjur penasaran. Raden kembali bertanya. Namun, Nadia mengatakan jika dirinya cuman bercanda sambil tersenyum.


Hal itu membuat Raden kembali memuji Nadia.


" Kamu udah cantik dan juga menyenangkan. Beneran tipe idamanku." ujar Raden.


"Gak ada hantu atau apapun, aku hanya bercanda." ucap Nadia.


Sedangkan Mira hanya terdiam melihat Raden tertawa dengan Nadia.


"Ini ruangan untuk kalian tidur. sebelumnya aku minta maaf hanya menyiapkan satu ruangan untuk kalian. Gak apa-apa,kan?" tanya Nadia.


" Gak apa-apa kok. justru kami berterima kasih sudah menyediakan tempat. Hm, kalau boleh tahu ibu Nadia tidur dimana?" tanya Raden dengan begitu percaya diri.


"Di wisma guru." jawab Nadia.


"Ya, kalau begitu mah aku gak usah menjadi dokter gigi. Aku ingin menjadi guru biar bisa dekat dengan ibu." gombal Raden.


Nadia hanya tersenyum kikuk, setelah mendapat gombalan dari Raden.


" Anggap aja seperti rumah sendiri. Kalau begitu aku akan membiarkan kalian berdua untuk beristirahat." ujar Nadia.


"Baik Bu. kalau begitu hati-hati di jalan." ucap Raden.


"Selamat malam." ucap Nadia meninggalkan Raden dan Mira.

__ADS_1


__ADS_2