
Rara mengajar telfon dari Satria, sambil menaiki tangga menuju kamarnya.
"Hello." ucap Rara.
" Ponselku tertinggal di ponselmu, ya?" tanya dari seberang alias Satria si penelepon.
" Ya," jawab Rara.
" Bisakah kamu mengembalikannya padaku?" tanya Satria.
" Mengapa kamu baru menelfon, saat aku udah tiba di rumah." jawab Rara.
" Apa kamu ingin aku yang mengambilnya di rumah mu?" tanya Satria.
" Kau ini bicara apa?" kata Rara membuka pintu kamarnya.
Rara tercengang melihat Satria duduk di kasurnya. Satria berdiri dan meraih tangan Rara yang memegangi ponselnya lalu mendorong Rara ke tembok.
" Apa kamu lakukan?" tanya Rara terkejut.
" Bukannya aku sudah katakan aku akan datang kemari," kata Satria.
Satria kembali mendorong Rara ke kasur.
" Berikan padaku. Jangan membuatku memaksa." kata Satria.
Satria mendekati wajah ke wajah Rara. Rara terus berteriak menolak.
Tiba-tiba pintu kamar Rara terbuka, Raden masuk ke kamar Rara. Terlihat Raden baru saja pulang karena pakaian yang dikenakan masih sama bahkan jenggot palsu masih utuh menggantung di dagunya. Raden melihat sang adik yang berteriak keras di depannya.
"Apa yang kamu lakukan, Ra!" bentak Raden melihat adiknya berteriak sendiri.
__ADS_1
Rara kaget mendengar suara kakaknya, sedari tadi Rara hanya berhalusinasi kalau ada Satria di kamarnya.
"Gak apa-apa. aku hanya peregangan saja," jawab Rara bangun dari kasur dan melakukan gerakan kecil seperti sedang peregangan.
" Bagaimana tadi? apa kamu berhasil mengantarkan pulang Bima pujaan hatimu itu?" tanya Raden.
"Mengantar pulang apanya! Geng Anjay menghancurkan semuanya. Ternyata mobil itu bukan mobil Satria, tetapi mobil Bima. Dan sialnya teman-teman Abang menabrak mobilnya." Ujar Rara kesal akan rencana yang gagal itu.
" Ah gitu ya! sorry! Sorry!" ucap Raden dengan gaya ala orang Arab.
Raden duduk di kasur, Rara kaget melihat kepala Raden terdapat bekas darah. Rara menanyakan kepada abangnya itu. Namun, ternyata itu hanya sebuah plastik berwarna yang menempel di kepala Raden. Raden lalu menggoda adiknya karena sudah perhatian padanya. Namun, justru Rara kesal dengan itu. Rara menyesal karena sudah mengkhawatirkan kakaknya yang justru malah dijadikan bahan candaan oleh kakaknya sendiri.
Raden tertidur di kasurnya, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Raden terbangun mendengar bunyi pesan. Dirinya mengutuk orang yang sudah mengganggu tengah malam begini. Raden duduk di kasur dan mengecek isi pesan itu. Raden sudah menebak siapa orang yang mengirimnya pesan. Siapa lagi jika bukan Mira, dan benar saja pesan itu memang dari Mira.
Mira: "Maaf karena sudah berteriak kepadamu.
Raden mengetik balasan, namun segera dihapus kembali karena menurutnya balasan yang baru saja mungkin terlalu kasar untuk Mira. Raden bingung harus bagaimana membalas pesan dari Mira.
"Kenapa bisa kamu ada di atas?" tanya Raden.
" Aku tadi mendengar suara anak kucing. aku pikir dia gak bisa makanya aku naik dan menolongnya. tapi ternyata dia bisa turun malah justru aku yang gak bisa turun." Jawab Mira.
" Kok bisa! lalu gimana caranya kamu bisa sampai ke atas?" tanya Raden.
"Entahlah. Tapi tolongin aku dong," Ujar Mira.
Raden meminta Mira untuk turun dengan pelan-pelan lalu dia akan menangkap tubuh Mira dari bawah. Tetapi Mira takut untuk turun. Raden terus membujuk Mira dengan mengatakan agar Mira tidak boleh karena dia akan menangkap tubuh Mira dari bawah. Mira masih takut tetapi jika terus seperti itu kapan dia akan turun. Raden berusaha untuk Mira percaya dengannya. Dengan melawan rasa takutnya dia mencoba turun pelan-pelan. Sedangkan Raden di bawah pohon sudah bersiap untuk menangkap tubuh Mira. Dengan mata tertutup, Mira siap melompat. Dan beruntungnya Mira terjatuh tepat di pelukan Raden. Meski resiko yang ditanggung badan sakit karena menopang tubuh Mira. Mira membuka matanya, dia melihat wajah Raden begitu dekat.
"Apa kamu akan terus seperti ini?" tanya Raden.
Mira segera bangun dari tubuh Raden. Raden membantu membersihkan baju Mira yang kotor. Mira merasakan sakit di bagian tangannya membuat meringis kesakitan.
__ADS_1
" Ada apa? " tanya Raden.
Mira menunjukan tangannya yang terluka dengan wajah sedih. Raden yang tidak suka dengan ekspresi sedih Mira itu, segera dia merobek baju untuk membersihkan darah di tangan Mira. Mira meringis kesakitan karena perih dari luka di tangannya itu. Raden meminta menahan rasa sakit itu. Raden sedang sibuk membersihkan luka ditangan Mira sedangkan Mira terus menatap wajah Raden yang begitu serius.
Setelah merasa sudah bersih, Raden membaluti lukanya dengan sisa kain dari baju yang di robeknya. Mereka berdua kembali ke caffe untuk mengerjakan tugas bersama. Seusai mengerjakan tugas, Raden mengantar Mira pulang ke rumahnya. Sebelum itu, tangan Mira yang terluka tadi sudah ditempel plester.
Mira turun dari motor, dia melihat gantungan kunci motor Raden. Raden yang melihat Mira menatap kebawah lalu bertanya, "Apa kau lihat?"
Mira terkekeh, lalu menjawab, " aku gak menyangka jika kamu juga mempunyai barang selucu itu".
Raden yang paham menatap gantung kuncinya motornya itu lalu berkata, " Seseorang memberikan ini padaku."
Mira yang tadinya tersenyum setelah mendengar jawaban Raden ekspresi wajah berubah. Mira melepaskan helm dengan pelan dia bertanya, " pacarmu?"
"Ibuku. Ibuku akan marah jika aku gak memakainya." Teriak Raden.
Wajah Mira kembali tersenyum.
"Makasih ya Raden udah nganterin aku pulang." ujar Mira.
Mira juga mengatakan jika dia sudah memberikan laporan kepada dosen, yang tersisa adalah mereka berdua akan pergi ke lokasi itu. Dan Mira mengatakan jika mereka berdua akan pergi besok. Hal itu membuat Raden kaget. Raden kaget bukan karena perginya besok, tetapi lagi-lagi dia lupa tempat yang akan mereka kunjungi besok. Mira kembali mengingatkan Raden untuk tidak boleh lupa. Karena kunjungan besok merupakan hal penting menyangkut dengan tugas perkuliahan.
"Gak, Aku gak akan melupakannya. Kau saja yang selalu menyalahkan ku, brengsek!" kata Raden kasar.
"Raden, bisakah kamu bicara baik-baik denganku. Jika gak, aku akan mengeluarkan kamu dari tugas kelompok kita. Jika kamu gak lulus dalam selama 4 tahun, orang tua mu akan kecewa." kata Mira kesal.
Raden terdiam, dia tahu akan kesalahannya.
" Baiklah bu. Ibu bisa masuk sekarang." ujar Raden.
" Seperti itu dong!" ucap Mira terkekeh pelan.
__ADS_1
Pintu pagar terbuka. Mira memberitahu Raden untuk hati-hati di jalan sambil mengucapkan selamat tinggal. Mira terus melambaikan tangannya hingga masuk ke halaman rumahnya. Raden pun sama melambaikan tangannya juga, Dia juga belum beranjak sampai memastikan Mira sudah masuk kerumahnya. Raden menatap Mira berjalan masuk ke rumahnya dengan senyuman manis di bibirnya.