
Sudah hampir tengah malam, Rara berbaring di kasurnya menutupi semua tubuhnya dengan selimut. Namun, tetap saja Rara tidak bisa tertidur. Rara sudah mencoba memejamkan matanya. Akan tetapi dirinya tetap saja tidak bisa tertidur. Rara mengambil ponselnya, melihat akun media sosial. Kebetulan Setia teman onlinenya sedang aktif, Rara memutuskan untuk memulai obrolan dengannya.
" Hai, apa kamu sedang sibuk?"
Setia: " Gak! Kamu menghilang begitu saja. Apa kamu sedang berpacaran dengan seseorang dan melupakanku?"
" Gak kok! tapi aku boleh bertanya kepadamu. Pernahkah kamu merasa bimbang dan ragu akan sesuatu?"
Setia: " Ya, pernah. Terkadang, aku ingin memakan nasi, namun aku malah justru memesan mie saat sampai di restoran."
Membaca pesan dari Setia membuatnya merasa kesal, padahal Rara bertanya dengan serius.
" Bukan tentang makanan!"
Setia: " Lalu tentang apa?"
"Tentang cinta."
Setia: " Tentang cinta? Bukankah kamu barusan bilang jika kamu gak sedang berpacaran dengan siapapun?"
" Akan aku jelaskan. Ada dua orang cowok. Yang pertama, dia sangat baik dan dialah orang yang selama ini aku inginkan. Lalu orang yang kedua, saat aku bersamanya.." pesan itu terputus karena Rara bingung menjelaskan perasaannya dengan cowok kedua itu.
Setia: "Apa yang kamu rasakan dengan cowok yang kedua itu?"
" Dia membuat jantungku berdebar."
Setia: " Itu hal yang mudah, jangan gunakan logika untuk menilai perasaanmu."
" Apa maksudmu?"
__ADS_1
" Kamu mau tahu penyakit apa yang kamu derita saat ini?
Pertanyaan itu membuat Rara mengingat seseorang, entah kenapa balasan Setia mirip dengan pertanyaan yang pernah diajukan Satria.
" Kamu bertanya seperti itu sama seperti orang yang aku kenal."
Setia: " Siapa?"
Rara mengingat kembali perkataan Satria mengenai penyakit jantung yang diderita olehnya bukanlah penyakit jantung biasa, melainkan jantung Rara akan berdebar ketika bersama dengan orang yang Rara cintai. Rara terdiam, dia belum membalas pesan dari Setia. Tiba-tiba pintu kamar Rara terbuka, sang kakak datang dengan menyapa adik kesayangannya itu.
" Hello, adikku tersayang. Abang mu ini sudah pulang!"
Rara terbangun dari tidurnya. bukannya menyambut sang kakak dengan pelukan melainkan Rara mengumpat kakaknya karena sudah membawa jas laboratorium tanpa meminta izin terlebih dahulu kepadanya.
" Aku gak bermaksud seperti itu adikku. aku sedang terburu-buru tanpa sengaja aku membawa jas laboratorium mu itu." Kata Raden membohongi yang sebenarnya terjadi jika dirinya memang sengaja membawa jas laboratorium adiknya itu. Raden melemparkan jas laboratorium itu kepada Rara. Rara mengambil jas laboratorium itu, dan mencium aroma yang tidak sedap di jas laboratorium itu.
" Setelah dicuci dan pakai pewangi. Jas ini akan kembali seperti baru. Letakkan saja di keranjang pakaian kotor dan ibu pasti akan mencucinya." ujar Raden lalu melemparkan jas laboratorium itu ke dalam keranjang dengan gaya seolah sedang memasukan bola basket kedalam ring.
Raden melihat wajah adiknya yang murung. Raden bertanya apa yang terjadi kepada adiknya. Rara menjelaskan jika dia tidak ingin menganggu ibu.
" Kamu bertengkar dengan ibu?"
"Sebenarnya bukan bertengkar, jadi ibu masuk ke kamarku dan melihat foto Bima ada didalam buku. Kamu tahu ibu sangat gak mengizinkan aku berpacaran." ujar Rara.
"Lalu bagaimana?"
" Itulah sebabnya aku gak tahu apa yang harus aku lakukan."
Karena Raden tidak tahu cara untuk membantu Rara berbaikan dengan ibu. Raden memutuskan untuk menghubungi kakak sulung mereka. Mungkin dengan kepintaran dia bisa membantu masalah yang terjadi antara Rara dan ibu. Raden mencoba menenangkan adiknya itu dengan merangkulnya serta tangan memukul-mukul kepala Rara. Alhasil Rara yang tadi murung menjadi kesal dengan perlakuan kakaknya itu.
__ADS_1
" Abang ini sedang menenangkan ku atau memukuliku?"
" Menenangkan mu. Inilah cara menenangkan ala orang dewasa."
Lampu di rumah Satria masih menyala, Satria berada di kamarnya melipat baju Rara yang kemarin dicucinya. Dia memandangi baju itu, mengingat kembali momen dimana Rara mabuk dan mengatakan jika dirinya begitu bahagia ketika Satria menjadi satu-satunya teman untuk Rara. Mengingat kembali momen itu membuat senyuman manis terukir diwajahnya Satria.
" Menjadi temanmu sudah cukup baik, untukku saat ini." ucap Satria menatap baju Rara.
Weekend, merupakan hari sangat membahagiakan bagi keluarga Rara. Bagaimana tidak, kakak pertama Rara yaitu Rangga akan pulang ke rumah. Ibu Rara sudah menyiapkan makanan enak untuk penyambutan anak sulungnya. Ditambah sang kakak mengatakan jika dia akan datang bersama sang kekasih. Hal itu justru sangat menggembirakan untuk orangtuanya, setidaknya mereka ingin melihat calon menantu mereka. Rara yang merasa dengan ibunya, mulai membantu ibunya menyiapkan makanan kesukaan kakaknya itu. Meski kedua tidak saling berbicara satu sama lain.
Ibu Rara menyiapkan menu spesial udang saus tiram kesukaan anak sulung itu di meja. Raden yang melihat makanan enak itu ingin segera mencobanya. Namun, sang ibu segera melarangnya. Raden terus memaksa untuk mencicipinya sedikit saja. Ibu tetap tidak memperbolehkannya, hingga terjadi sedikit keributan antara ibu dan anak keduanya itu. Hingga sang ayah mulai melerai dengan mengatakan jika makanan itu akan dimakan setelah Rangga datang.
Tiba-tiba bel rumah berbunyi, keluarga itu sangat antusias menyambut kedatangan si sulung. Ibu, ayah, Rara dan Raden segera menuju pintu, melihat didepan pagar rumah mereka. Dan benar, Rangga datang membawakan beberapa oleh-oleh khas dari tempat dia bekerja.
" Anakku." ucap ibu Rara setelah melihat Rangga.
Mereka keluar menyambut kedatangan Rangga. Ibu dan ayah menerima oleh-oleh dari Rangga untuk mereka berdua. Raden yang sedari tidak menahan untuk makan udang saus tiram buatan ibunya itu segera meminta Rangga untuk segera masuk dan makan bersama. Tetapi sang ayah mencegah karena ingin bertemu dengan calon mantunya.
" Katamu, kamu ingin mengajak kekasihmu di rumah. Jadi, dimana dia?" tanya Ayah karena tidak melihat sosok cewek yang datang bersamanya.
" Dia sedang membereskan barang-barang di mobil, ayah."
Mereka semua menatap pagar, menanti pacar si sulung. Tidak disangka, mereka semuanya syok melihat sosok pacarnya Rangga. Yang ternyata seorang ibu-ibu yang memiliki anak. Hingga akhirnya menu udang saus tiram itu tidak jadi dicicipi. Karena ibu begitu marah dan bahkan tidak terima jika anaknya berpacaran dengan wanita tua.
Raden terus mengumpat, mengeluarkan kekesalannya karena tidak jadi memakan udang saus tiram itu. Tanpa Raden sadari tangan Raden menekan wajah Rara yang sedari tadi berbaring di pahanya sambil mengusap kepala Rara.
" Aku juga lapar, bang. Namun aku gak tahu apakah perang di lantai bawah sudah berakhir atau belum. Tapi satu hal yang perlu Abang harus tau, kepalaku gak usah diusap seperti ini."
Raden kaget dengan apa yang barusan dia lakukan, dia segera menyingkirkan tangan dan meminta maaf kepada adiknya itu.
__ADS_1