Cinta Si Gigi Bungsu

Cinta Si Gigi Bungsu
chapter 61


__ADS_3

Rara baru saja selesai ujian. Dia membaca pesan dari satria.


" Kamu udah selesai ujiannya?"


Rara membalas pesan dari satria sambil menuruni tangga.


" Sudah. Ini aku sedang turun ke bawah."


Setelah membalas pesan Satria. Entah kenapa Rara tiba-tiba kepikiran tentang halaman akun media sosial tentang Dara dan satria. Rara ingin tahu apakah akun itu masih berfungsi atau tidak. Dia ingin tahu perkembangan dari akun itu. Rara membuka halaman akun itu. Dilihatnya sebuah postingan baru yang dimana ada foto dara dan Satria sedang duduk suap-suapan Snack dihalaman fakultasnya. Terlihat banyak sekali komentar positif mengenai pasangan dada dan satria, bahkan ada beberapa yang berkomentar membandingkan Rara dengan dara. Rara merasa kesal membaca semua komentar di akun itu. Karena asyik memainkan ponselnya, tanpa sadar Rara terpeleset hingga dirinya hampir terjatuh. Beruntungnya Satria dari bawah langsung menahan tubuhnya. Tetapi nasib ponselnya yang harus jatuh dibawah tangga.


Tanpa mereka berdua sadari, dibawah tangga banyak mahasiswa yang memotret mereka berdua termasuk Jeje dan Sasa. Rara yang menyadari, segera turun dan mengejar mereka. Satria berusaha menahannya, namun Rara menghiraukan. Satria mengambil ponsel Rara yang tergeletak dilantai dan melihat apa yang Rara lihat diponselnya. Rara terus mengejar mahasiswa yang memotretnya tadi, namun dia kehilangan jejak.


" Kemana perginya mereka? Cepat sekali!" ucap Rara kesal karena tidak bertemu mahasiswa tadi.


Dari belakang Satria menghampirinya, memperlihatkan isi ponsel Rara.


" Jadi kamu kesal karena ini?" tanya Satria.


" Kamu melihat-lihat ponselku ya!" ujar Rara dengan kasar mengambil ponselnya di tangan Satria.


" Pergi gih! kalau kamu gak pergi biar aku yang pergi." ujar Rara kesal. Namun, saat dirinya hendak pergi Satria menahannya.


" Lepaskan tanganku. Nanti orang-orang pada melihat kita." ujar Rara.


" Aku gak akan melepaskannya. Persetan dengan orang-orang yang melihatnya." ujar Satria.


" Tentu saja kamu berkata seperti itu. Kamu bukan aku, aku yang akan dikritik." ujar Rara melepaskan tangan Satria dengan kasar.


" Aku gak mau jika orang tahu tentang hubungan kita." ujar Rara.


" Kenapa kamu begitu peduli?" tanya Satria merasa kesal karena Rara selalu saja menyembunyikan hubungan mereka.


" Tentu saja aku peduli. Karena mereka bilang aku gak cukup baik untukmu." ujar Rara.

__ADS_1


" Dan kamu percaya itu?" tanya Satria


" Tentu saja aku percaya, karena aku memang gak cukup baik untukmu." jawab Rara.


" Ra, menurutku kamu terlalu banyak menghabiskan waktumu untuk media sosial." Ujar Satria.


" Tapi kita juga harus mendengar apa yang orang lain pikirkan tentang kita?" tanya Rara.


" Mereka gak mengenalmu sepertiku loh. Mereka gak bersama dengan kita setiap saat." ujar Satria agar Rara mengerti.


" Tetapi bukan hanya kita berdua yang ada di dunia ini." ujar Rara dengan keras kepala.


Satria mengehela nafasnya, lelah menjelaskan kepada Rara. Kedua tangan Satria memegang lengan tangan Rara. "Rara, dengarkan aku. Berhentilah membaca, melihat, dan peduli tentang mereka. Dan hidupmu akan menjadi lebih baik." ujar Satria menatap dalam wajah kekasihnya.


Rara mendorong tangan Satria di lengannya. Dengan tatapan sendu, Rara menjawab. " Sebenarnya ini bukan tentang orang-orang yang ada di media sosial. Tetapi ini tentangku. Aku lemah. Aku penakut. Aku kurang percaya diri. Aku payah. Aku gak bisa menangani hal-hal semacam itu. Kamu bukan aku. Kamu gak akan mengerti aku."


Rara lalu pergi meninggalkan Satria yang hanya terdiam menatap kepergiannya. Rara berjalan dengan lesu, melihat batu kecil dijalan, dia lalu menendangnya. Tak disangka batu itu mengenai seseorang. Mendengar teriakan orang kesakitan. Rara berteriak meminta maaf.


" Siapa itu?" tanya orang itu.


" Sialan! Aku kesini untuk bersembunyi. Eh, kamu malah menemukanku." ujar yoga.


" Aku mengerti kalau kakak ingin sendirian. tapi..."


" Tapi apa!"


" Warna baju kakak terlalu cerah seperti itu. Justru bakalan terlihat jelas." Ujar Rara sebab yoga sedang mengenakan pakaian olahraga berwarna pink cerah. Tidak terima yoga mengatainya bangsat.


Rara berjalan menghampiri yoga, dia duduk atas tembok dimana ada yoga dibawahnya.


" Terus.. kakak kenapa? Kakak terlihat seperti pria yang sedang patah hati." tanya Rara.


" Brengsek! itupun kamu tahu? Iya, tapi jangan beritahu ini kesiapapun." ujar Yoga.

__ADS_1


Rara mengangguk mengerti. Yoga lalu melanjutkan ceritanya, " Jadi banyak orang yang bilang jika pacar ku itu tidak cukup cantik dan tidak cocok untukku. Dia sangat marah dan mengakhiri hubungan kami."


" Hal yang sama dengan yang aku alami." ujar Rara dalam hati mendengar cerita yoga.


" Aku tahu aku seksi dan tampan. Itu sebabnya orang berpikir kami tidak cocok. Tetapi aku sudah mengatakan padanya jika aku menyukai dia apa adanya bukan karena penampilannya. Dan kamu tahu apa yang dia katakan? Dia bilang aku tidak perduli untuk melindunginya. Dan dia bilang aku membuatnya menerima dan hidup dengan omong kosong ini. Aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang." ujar yoga dengan sedih.


" Itu benar-benar begitu tepat menamparku." ujar Rara dalam hati mendengar cerita yoga.


Rara sekarang berada di perpustakaan, mencari buku untuk dia pelajari untuk menghadapi ujian nanti. Dara datang menemuinya.


" Aku tahu Rara pasti berada disini. Satria bilang padaku jika kamu sedang kesal." ujar dara berdiri disamping Rara.


Rara hanya menatap dara sekilas dan kembali mencari buku di setiap rak.


" Aku mengerti. Aku juga membaca komentar itu dan memang aku berpikir jika komentar itu terlalu kasar. Tetapi para penggosip akan terus bergosip. Ra, jangan dengerin mereka." ujar dara.


" Aku sudah mencoba untuk gak mendengarkan. Tapi aku gak bisa, aku justru malah akan sering memikirkannya."


" Aku mengerti. Satria orang yang sangat populer, dia telah menjadi pusat perhatian sejak dirinya masih kecil. Siapapun yang bersamanya harus melalui hal seperti itu. Jadi jangan terlalu dipikirkan ya." ujar dara menenangkan Rara.


Rara menghela nafasnya dan menunduk. " Aku sedang mencoba untuk gak memikirkannya."


" Eum.. Rara harus perduli tentang Satria. Dan hari ini adalah hari ulang tahunnya Satria. Kamu sudah kasih dia hadiah belum?"


" Hari ini ulang tahunya Satria?" tanya Rara karena dia tidak tahu jika hari ini Satria berulang tahun. Pacar macam apa dia, pacarnya ulang tahun dia malah justru menghindar.


Dara mengangguk, namun saat melihat wajah Rara. Dia sadar jika Rara tidak tahu kalau Satria sedang berulang tahun hari ini.


" Rara gak tahu?" tanya dara.


Rara menggelengkan kepalanya.


" Kalau begitu kamu masih punya waktu untuk pergi memberikannya hadiah sekarang." ujar dara.

__ADS_1


Rara melihat jam ditangannya. Dia terdiam sejenak, dia masih memikirkan bertapa bodohnya tidak memperdulikan Satria sebagai pacarnya sama sekali. Rara benar-benar menyesali hal itu.


__ADS_2