
Saat Satria mengatakan ke rumahnya saja, Rara begitu kaget. Tidak mungkin bagi dia ke rumah Satria, apalagi hanya menumpang mandi.
" Gak suka dengan jawaban itu? bilang saja kamu malu menumpang mandi di rumahku." Kata Satria.
Rara terkekeh mendengar perkataan Satria, meski merasa malu. Rara tidak punya tubuhnya sangat bau, apalagi bajunya tadi malam yang basah dan kering di badan. Dan tidak mungkin bagi Rara untuk pulang ke rumah. Ya mau tidak mau Rara ikut saja pulang ke rumah Satria. Sekedar untuk numpang mungkin tidak apa-apa. Toh, Satria juga menyarankan hal itu.
Mereka berdua telah sampai ke rumah Satria. Kebetulan tidak ada orang di rumah, jadi Rara tidak perlu sungkan untuk numpang mandi. Satria mempersilakan Rara untuk mandi duluan, dia akan menunggu Rara diluar. Sebelum masuk ke kamar mandi, Rara mengancam Satria untuk tidak mengintip. Satria terkekeh, mana bisa Satria mengintip kamar mandi di rumah tertutup rapat. Rara lalu menghidupkan shower, Rara merasa airnya dingin membuat Rara berteriak.
"Sialan! Airnya dingin!" teriak Rara didalam kamar mandi.
Sedangkan diluar Satria yang mendengar teriakan itu menjawab, " Maafkan aku. aku lupa memberitahu jika pemanas airnya rusak."
Rara merasa kesal pun meminta Satria melakukan sesuatu. Sedangkan hanya terkekeh, lalu Satria menggoda Rara dengan berkata, " Kalau begitu, buka pintunya. Aku akan menyelamatkan dirimu."
Rara menolak, lebih baik di mati kedinginan di dalam kamar mandi. Dia meminta Satria untuk segera pergi dari situ. Satria hanya tertawa, rasanya begitu lucu menggoda Rara. Rara dengan terpaksa mandi menggunakan air dingin. Selama didalam kamar mandi, Rara terus mengeluh dengan keadaan rumah Satria yang menurutnya suasana rumah itu begitu dingin. Satria yang mendengar keluhan Rara, hanya bisa tertawa pelan. Baginya Rara begitu menggemaskan ketika kesal bahkan saat mengeluh begitu.
Rara menggosokkan badannya dengan sabun, Rara tersenyum mengingat kembali kejadian tadi malam bersama Satria. Dia lalu menggelengkan kepalanya, mengumpat pada dirinya yang tersenyum mengingat kejadian malam itu. Rara melilitkan tubuh dengan handuk, dan keluar dari kamar mandi. Tidak disangka, Satria berada didalam kamar. Rara berteriak sambil menutupi badan.
" Kamu ngapain disini?" tanya Rara.
" Inikan kamarku." jawab Satria.
" Ya! aku mau ganti pakaian, sudah sana keluar." teriak Rara.
" Kalau aku gak mau gimana dong!" ujar Satria tertawa.
" Satria!" teriak Rara.
__ADS_1
Satria tertawa dan segera keluar dari kamar. Sebelumnya, selama berada di kamar mandi Satria sudah menyiapkan pakaian untuk Rara pakai. Bukannya memakai pakaian yang disediakan Satria, Rara justru mencari lagi pakaian yang semalam dipakainya.
"Satria! mana pakaianku tadi!" teriak dari dalam kamar Satria.
Satria yang sedari tadi berdiri diluar kamarnya menjawab jika pakaian itu sudah dicucinya dan bahkan sudah dijemurinya. Mendengar jawaban itu membuat Rara kembali merasa malu dengan Satria. Sampai segitunya Satria mencuci pakaian itu.
" Rara, kamu pakai saja pakaian yang akan letakkan diatas kasur. Itu pakaian adikku, aku lihat ukuran pakaian sama denganmu. jadi pakai saja." ujar Satria dari laur kamar.
Belum sempat bertanya tentang adik Satria, Satria lalu berkata," Kamu gak usah khawatir, adikku memang gak ada di rumah. Bukan berarti aku mencurinya, tetapi aku sudah meminta izin terlebih dulu pada adikku."
Rara tidak lagi menjawab perkataan Satria, hanya sebuah senyuman yang terukir di wajahnya itu.
Sedangkan keadaan di rumah Rara, Ibu Rara termenung di meja makan menunggu kehadiran sang anak. Sedangkan suaminya, berusaha menggoda istrinya untuk mencicipi makanan yang sedari tadi terpajang di meja makan. Namun, ibu tetap tidak bergeming, bahkan berniat untuk mencicipi pun dia sudah tidak berselera. Ayah Rara bingung harus berbuat apa lagi, dirinya sudah mencoba menghibur namun istrinya itu tetap saja murung.
" Tenangkan dirimu. Rara akan pulang ke rumah." ucap ayah Rara.
" Dia tidak pernah seperti ini, tetapi bukan berarti dia tidak bisa seperti ini. Dia akan beranjak dewasa setiap hari. Jika dia udah siap, dia akan mengatakan kepada kita, paham? lebih sekarang kita makan, kamu gak mau kita berdua terlambat kerja, kan?" kata ayah Rara.
Ibu Rara hanya mengangguk, lalu mulai menyentuh makanannya.
" Sayang, Rangga tempo hari menelfon. katanya dia akan segera pulang." kata ibu.
" Baiklah kalau begitu. Kamu tolong tanyakan padanya apa yang dia makan saat pulang nanti. Supaya kita bisa menyiapkan makanan itu untuknya." kata ayah.
" Dia gak mengatakan apapun. Dia hanya bilang dia akan pulang dengan membawa pacarnya ke rumah." ujar ibu.
"Sudah kuduga, lihat, kan! Aku udah katakan padamu jika dia gak sering pulang kerena dia sudah punya kekasih di sana." Ujar ayah yang bangga jika anaknya sulungnya itu sudah memiliki kekasih.
__ADS_1
"Aku ingin segera bertemu dengannya. dan ingin melihat apakah Rangga memiliki pacar yang hebat seperti ibunya ini." ujar ayah lagi.
Ibu hanya cemberut, dia tahu jika suaminya itu sedang menggoda. Ayah lalu kembali meminta istrinya untuk segera makan. Karena mulut ayah yang sedari tadi cerewet, ibu meminta suaminya itu untuk diam. Setidaknya hanya untuk menikmati makanannya saja.
Raden berjalan menuju tempat praktek, dia mencium aroma jas yang begitu bau. Sudah tiga hari mereka berada di sekolah itu. Dan ini merupakan hari terakhir bagi dia dan Mira. Raden menyemangati dirinya untuk segera menyelesaikan tugasnya karena ini adalah hari terakhir. Sesampainya di tempat prakteknya, ternyata tidak satupun orang di sana. Raden merasa bingung, bukannya ini hari terakhir.
" Kami gak mengadakan pemeriksaan gigi hari ini." ujar ibu Nadia menghampiri Raden.
"Benarkah?" tanya Raden memastikan.
" Iya. Programnya sudah diubah menjadi topik pembicaraan lain." jawab Ibu Nadia.
Mira masuk menghampiri mereka, Ibu Nadia menanyakan tentang program itu kepada Mira. Mira mengangguk tanda jika ubah program itu memang benar adanya.
" Aku yang sudah mengubah program hari ini." ujar Mira.
Sedangkan Raden hanya terdiam, dan pasrah. Setidaknya itu langkah yang bagus, supaya dirinya tidak perlu berakting layaknya mahasiswa kedokteran gigi. Mira menarik Raden untuk mengikutinya ke aula, kali ini Mira akan menyampaikan materi. Raden diminta untuk membantunya mempraktekkan teori yang akan dia sampaikan nanti.
Diatas panggung aula, Mira memukul punggung Raden untuk menunduk.
" Inilah yang seseorang lakukan kepada orang yang sedang tersedak, tetapi hal ini adalah salah." ucap Mira.
Mira dengan bogemnya memukul perut Raden, dia mengatakan pada masyarakat jika yang tadi bukalah gerakan yang baik untuk membantu orang tersedak. Raden merasakan sakit dibagian perut. Saat Mira mulai menyentuh lehernya, Raden menahan tangan Mira untuk menghentikan aksi Mira selanjutnya.
" Tunjukan pada mereka cara yang benar, sebelum aku mati." pinta Raden.
" Tenanglah, bantulah aku seperti apa yang pernah kamu katakan." ucap Mira lalu menarik leher Raden.
__ADS_1