
Rara mengantarkan Satria sampai di depan pagar rumahnya.
"Pulanglah dengan hati-hati. Kabari aku kalau sudah sampai di rumah." ujar Rara dengan tersenyum.
Satria memegangi kedua tangannya Rara sambil berkata," jadi kamu mengkhawatirkan ku?"
" Gak! aku justru mengkhawatirkan anak anjing yang ada disekitar sini." ucap Rara cemberut dengan pertanyaan Satria.
Satria tersenyum, dia merasa jika Rara begitu imut dimatanya ketika sedang cemberut seperti itu. Satria mengelus kepala Rara dengan sayang.
" Oh jadi kamu yang menyelinap masuk menemui adikku!" teriak Raden menghampiri mereka berdua.
Rara begitu kaget, padahal tadi saat keluar dari kamarnya. Kakaknya itu padahal masih tertidur pulas.
" Apa yang kamu lakukan dengan menemui adikku malam-malam begini?" tanya Raden dengan berlagak sok jagoan.
" Betul sekali kak. Hadapilah dia! Dia mengganggu ku lagi!" ucap Rara berpura-pura berlindung di belakang kakaknya. Seoalah Satria baru saja datang ke rumah dan mengganggunya.
" Benar!" ucap Satria dengan kedua tangannya di pinggang, seolah dirinya beneran datang untuk menganggu Rara.
Mereka berdua sengaja seperti itu agar Raden tidak sadar bahwa Satria baru dari dalam rumahnya.
" Benar apanya? dasar brengsek! berhentilah mengganggu adikku. Aku gak akan mengizinkannya berkencan denganmu. Kamu datang selarut ini bahkan sudah hampir subuh. Apa kamu gak punya sopan santun? Pergilah dari sini, dasar brengsek!" Ujar Raden dengan kesalnya kepada Satria yang menggangu adiknya. Tanpa disadari dibelakangnya Rara memberikan kode permintaan maaf kepada Satria.
" Aku pergi sekarang ya. Sampai ketemu nanti." ujar Satria melambaikan tangan kepada Rara.
Rara kaget saat Raden memandang dengan tatapan mencurigakan.
" Ketemu siapa? gak mungkin!" ucap Rara seoalah menolak untuk bertemu lagi dengan Satria.
Rara mengusir Satria dengan kasar, tanpa sadar tangan kanannya tepat dibelakang Raden membalas lambaian tangan Satria.
Pagi yang cerah bagi Rara yang sedang berbunga-bunga. Dirinya baru saja semalam sudah pacaran dengan Satria. Rara memakai pakaian yang feminim dengan rok pendek. Dirinya bersenandung lagu cinta, seolah menunjukan kepada dunia jika dirinya kini sudah tidak jomblo lagi. Rara tengah asyik berkaca, melihat penampilannya yang cantik hari ini. Raden tiba-tiba masuk ke kamar Rara, dia begitu heran dengan adiknya yang terus bersenandung.
" Ada apa denganmu?" tanya Raden melihat adiknya yang terlihat berbeda dari hari sebelumnya.
" Ah! kak Raden! Kenapa?" tanya Rara balik, dirinya tidak merasa dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
" Kenapa kamu hari ini hobi sekali bersenandung?" tanya Raden yang merasa heran, biasanya sebelumnya Rara tidak pernah seperti ini.
" Itu karena aku merasa jika diriku cantik dan suasana hatiku juga sangat baik. Emangnya kenapa?" jawab Rara sambil melihat dirinya sendiri di cermin.
" Kenapa kamu memakai rok pendek seperti itu?" tanya Raden melihat penampilan adiknya mengenakan rok pendek.
" Emangnya kenapa? Sesekali dong dengan rok pendek. Dulu juga aku sering pake rok pendek." jawab Rara masih di depan cermin.
" Oh ya?" Raden menatap wajah adiknya itu.
" Kamu beneran dalam suasana yang baik." ujar Raden meninggalkan kamar Rara.
Rara mengambil jas laboratoriumnya dan memasukannya kedalam tas. Rara mengambil memakai tasnya dan keluar dari kamar. Tak disangka Raden ternyata masih berdiri di depan kamarnya. Dia menatap adiknya itu.
" Kenapa sih! kakak kayak gak pernah melihat orang tengah bahagia saja." ujar Rara kesal dengan Raden.
Sebelum berangkat, Rara sempat-sempatnya memberikan pesan kepada Satria jika dirinya sudah siap untuk ke kampus. Tanpa disadari Raden mengintip namun sayang tidak bisa melihat dengan jelas.
Merasa dicurigai akhirnya Rara memasukan ponselnya ke dalam tas
Dan segera pergi dari situ.
Sesampainya di kampus, Rara kembali mengirim pesan kepada Satria bahwa dirinya sudah berada di kampus dan menanyakan keberadaan Satria. Satria yang kebetulan baru juga sampai di fakultasnya juga mengabari rara.
Rara : fakulitas kedokteran?
Satria : Fakulitas kedokteran gigi.
Membaca pesan itu, Rara segera berlari menuju Fakultasnya. Namun tidak disangka mereka berdua bertemu di depan fakultas kedokteran gigi. Sasa yang kebetulan keluar, melihat pertemuan mereka akhirnya bertanya, "Kalian berdua pacaran? Tumben banget datang barengan. Ditambah kak Satria ngapain ke fakultas kedokteran gigi." kata Sasa mulai mencurigai mereka berdua.
Baik Rara dan Satria tidak menjawab pertanyaan dari Sasa. Rara memberi kode melalui matanya kepada Satria, agar mereka segera pergi namun pergi harus terpisah agar tidak menimbulkan kecurigaan dari Sasa. Satria mengerti lalu segera pergi dari situ begitu pula dengan Rara pergi meninggalkan Sasa yang berdiri sendirian dengan kebingungan. Namun tidak disangka Jeje menertawakan Sasa, Jeje mengatakan jika Satria dan dara memang benar-benar pacaran dan itu adalah nyata, Jeje pergi dari hadapan Sasa sambil tertawa.
Hari ini mata kuliah pertamanya ialah berada di laboratorium sama seperti dulu dimana dirinya satu kelompok dengan Satria. Pelajaran telah selesai, Rara keluar dan mencuci tangannya. Dia kembali teringat momen dimana Satria membantu membersihkan luka ditangannya. Rara tersenyum sendiri mengingat momen itu, ternyata jika difikirkan momen itu begitu manis buatnya. Bahkan Rara kembali mengingat momen dimana dia dan Satria membuat permohonan di laboratorium anatomi. Tanpa Rara sadari, Satria datang dan langsung menarik rambut Rara. Rara terkejut, " Siapa sih!"
" Aku, rambutmu kaku banget. Jangan lupa shampo kalau sampai di rumah." ujar Satria.
Melihat Satria yang berada disampingnya, Rara mengamati di sekitarnya. Takut ada orang yang lewat atau melihat mereka berdua.
__ADS_1
" Jangan terlalu berdiri dekat denganku." ujar Rara kepada Satria agar setidaknya menjauh agar tidak ada orang yang mencurigai mereka hubungan berdua.
" Aku disini cuman ingin berbicara denganmu saja kok. Emangnya gak boleh?" tanya Satria.
" Boleh-boleh saja. hanya aku takut jika ada yang melihat."
" Udah gak usah dipikirkan. Tadi kamu kenapa? bukannya mencuci tanganmu, kamu malah berdiri bengong sendirian disini." tanya Satria yang tadi melihat Rara berdiri tanpa mencuci tangannya.
" Gak apa-apa. Aku cuma memikirkan sesuatu." jawab Rara tersenyum.
Hal itu membuat Satria penasaran apa yang dipikirkan gadis itu, hingga membuatnya tersenyum malu-malu.
" Katakan! apa yang kamu pikirkan itu. Kalau gak aku akan.." ucap Satria mendekati wajahnya kepada Rara, membuat Rara segera menghindar.
" Eh, apa yang kamu mau lakukan? orang-orang akan melihat kita." ujar Rara takut ada orang yang melihat.
" Orang-orang di kelas sudah pada pergi. Aku sudah memeriksanya." kata Satria.
" Kamu yakin?" tanya Rara yang masih tidak percaya.
" Iya, jadi sekarang cepat beritahu aku." ujar Satria.
" Gak mau, " ucap Rara menggoda Satria.
Satria menghela nafasnya kesal, karena masih terus becanda disaat dirinya ingin sekali tahu apa yang ada dipikiran kekasihnya itu.
" Hmm.. baiklah. Jadi tadi aku memikirkan tentang kita saat berada di laboratorium anatomi dulu. Aku berfikir jika cerita di laboratorium anatomi itu bisa saja benar." ujar Rara.
" Emang iya? Jadi itu artinya kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan?" tanya Satria tidak begitu yakin.
" Iya," jawab Rara.
" Lalu sebenarnya apa yang kamu harapkan saat itu?" tanya Satria.
" Aku berharap bisa memiliki hubungan dengan orang yang baik." ujar Rara.
" Kalau begitu, itu artinya aku orang yang baik dong." ujar Satria dengan pedenya.
__ADS_1
" Aku gak mengatakan itu, aku hanya berasumsi saja." ujar Rara mengelak.
" Lalu buat apa kita berdiri terus disini. Sini tangan biar ku cuci." ujar Satria mengambil tangan Rara dan mencucinya.