
Dengan keadaan basah kuyup, Raden tiba di rumah Mira.
"Mira." teriak Raden diluar pagar rumah Mira.
Pinta pagar terbuka, muncul seorang ibu.
" Kamu sedang mencari siapa?" tanya ibu itu.
Raden heran melihat ibu itu.
"Em. aku ingin bertemu dengan Mira. apa Mira ada di rumah?" tanya Raden.
"Mir..Mira. Ada tamu untukmu." teriak ibu itu memanggil Mira.
Ibu melihat Raden dengan keadaan basah kuyup. Lalu Mira keluar dari rumah.
"Eh Raden. Ada apa kamu kemari? lalu kenapa penampilan mu basah kuyup begitu? Lihatlah. Ada kotoran di wajah." kata Mira mengambil kotoran yang menempel di wajah Raden.
Mira mengendus bau yang tidak sedap saat dekap dengan Raden. Melihat ekspresi Mira, membuat Raden menghirup tangannya yang ternyata badannya itu bau. Raden berasa ingin muntah saat mencium aroma ditangannya itu. Ibu yang sedari tadi melihat Raden, meminta Raden untuk membersihkan diri dulu di rumah Mira. Raden menolak dengan alasan selama perjalanan baju yang basah itu akan mengering dan dia juga mengatakan jika dia sudah kebal terhadap kuman yang menempel di tubuhnya.
" Jika kamu gak enakan sama ibu aku. kamu bisa menggunakan selang air di halaman rumah." kata Mira.
Raden kaget saat Mira mengatakan kata "ibuku". Ibunya Mira berusaha membujuk Raden untuk tidak usah malu padanya.
"Ayo Raden. masuklah." kata Mira mempersilahkan Raden untuk masuk ke halaman rumahnya.
Raden merasa jika ada yang salah dengan dirinya atau dia merasa sudah salah mendengar. Raden akan menuntut penjelasan Mira tentang Ibu. Raden lalu melepaskan helmnya di atas motor dan masuk ke rumah Mira dengan wajah kesal.
"Katakan padaku, siapa wanita tadi?" tanya Raden saat Mira sedang mencoba memegang selang air di halaman rumahnya.
"Ibuku." Jawab Mira.
"Ibumu?"
Mira hanya mengangguk saat Raden menanyakan kepastian.
"Bukankah ibumu sudah meninggal dunia?" tanya Raden bingung.
__ADS_1
"Raden! kenapa kamu berbicara seperti itu tentang ibuku" kata Mira.
"Bukan begitu. Kamu tadi mengatakan jika ibu memberikan botol air minum itu sebelum ibumu pergi." kata Raden.
" Itu benar. Sebelum ibuku ke luar negeri. Ibu ku dulu melanjutkan S3 diluar negeri." Kata Mira kembali memasang selang.
Raden merasa begitu kesal mendengar perkataan Mira. Dia merasa dirinya benar-benar bodoh melakukan hal gila itu.
"Udah selesai. Kamu bisa gunakan selang ini untuk membersihkan tubuhmu." kata Mira memberikan selang kepada Raden.
Raden melihat Mira dengan kesal. Dia ambil selang ditangan Mira. Dan menyemprot air selang ke arah Mira.
"Aduh! Raden! apa yang kamu lakukan?" Kata Mira menutup matanya.
Dikarenakan air semprotan itu mengenai wajah Mira. Raden menghentikan itu. dan segera mendekati Mira.
"Maafkan aku." kata Raden membersihkan air di wajah Mira.
"Mataku sakit. Kamu kenapa sih!" Tanya Mira.
"Maaf. Ku pikir semburan airnya gak sekuat itu." kata Raden khawatir sambil membersihkan air di wajah Mira.
" Kamu terlihat baik-baik saja. kamu mempermainkan ku, kan!" kata Raden menyemprot air kran itu ke wajah Mira.
Hingga diantara mereka berdua terjadilah saling menyemprot air. Mira terlihat bahagia begitu pula dengan Raden. Saat air tidak sengaja mengenai wajah Mira. Mira tertunduk dan itu membuat Raden khawatir. Raden melihat wajah Mira dan menyeka air yang membasahi wajah gadis itu. Mira tersenyum saat melihat Raden khawatir kepadanya. Raden juga meniup mata Mira saat tidak sengaja air itu masuk ke area mata. Hingga membuat mereka saling menatap. Karena salah tingkah, Mira kembali semburkan air ke wajah Raden.
Hari sudah malam, Rara berjalan di koridor kampusnya. Lampu di area koridor sudah dimatikan. Rara sangat ketakutan, entah kenapa dirinya merasa jika kampus ini terlalu menghemat biaya listrik. Sampai-sampai lampu di sekitaran koridor di kampusnya dimatikan. Rara menghidupkan lampu di ponselnya. Dia berjalan menuju laboratorium. Rara memasuki ruangan laboratorium. Ruangan itu terlihat begitu menakutkan. Saat sedang melihat-lihat, tiba-tiba terdengar bunyi ponsel. Hal itu membuat Rara kaget dan menoleh kebelakang. Tidak disangka dibelakang ada pak satpam.
"Sedang apa kamu disini?" tanya pak satpam.
"Aku sedang belajar untuk ujian." jawab Rara.
"Baiklah. Tetapi di sini jangan sampai larut malam ya." kata pak satpam.
"Memangnya kenapa pak?" tanya Rara.
Pak satpam tidak menjawab pertanyaan Rara dan malah pergi meninggalkan Rara. Hal itu membuat Rara merasa curiga dengan ruangan laboratorium itu. Jangan-jangan kisah yang diceritakan teman-temannya adalah benar. Namun, itu tidak mengurungkan niat Rara untuk pergi dari ruangan itu. Karena baginya permohonan untuk berkencan dengan Bima adalah hal yang paling penting. Rara lalu menyalakan lampu di dalam ruangan itu dan berdiri dekat salah satu meja otopsi.
__ADS_1
"Permisi untuk penghuni ruangan ini! Aku datang kemari bukan untuk bermaksud menghina dirimu. Aku datang kemari untuk urusan percintaan ku." kata Rara memohon.
Rara melihat jam ditangannya. Tiba-tiba terdengar suara orang yang hendak pintu dan terdapat bayangan seseorang di balik pintu ruangan itu. Rara kaget dan ketakutan. Saat pintu terbuka, muncullah Satria yang membuat Rara menjadi kesal.
"Eh, sedang apa kamu disini larut malam seperti ini?" tanya Satria menghampiri Rara.
"Eum. Mempersiapkan diri untuk ujian mendatang." jawab Rara.
Rara tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya hal itu sangat memalukan. Apalagi Satria adalah sahabatnya Bima, yang selalu mengganggunya.
"Serius? Jangan-jangan kamu ingin melakukan ritual dari kisah laboratorium anatomi itu?" Tanya Satria.
Rara terdiam. Hal itu membuat Satria berfikir jika apa yang ditanyakan itu benar. Ditambah raut wajah Rara seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
" Dari raut wajah mu, itu terlihat jelas apa yang aku tanyakan tadi itu benar." Kata Satria.
Rara yang tidak bisa menyembunyikan hal itu akhirnya terpaksa untuk berkata jujur.
"Emangnya kenapa jika aku melakukan itu? Kamu juga gak ada bedanya. Katanya kamu gak mempercayai kisah, tetapi kamu justru ada disini untuk memohon sesuatu." Kata Rara membela jika tujuan mereka berdua itu sama.
"Aku gak perlu melakukan permohonan." kata Satria berjalan lebih mendekat ke Rara.
" Jika dari awal kamu menyetujui tawaran ku. Aku hanya ingin kita berteman." kata Satria.
"Gak! Gak akan bisa! Aku gak akan mau berteman dengan mu!" Teriak Rara.
" Baiklah. Kalau gak mau berteman. Aku akan memohon agar kita menjadi lebih dari sekedar teman." kata Satria.
"No! Jangan membuat permohonan apa pun." kata Rara menyilang kan kedua tangan dan mendorong Satria untuk menjauh darinya.
"Lebih kamu pergi! karena permohonan mu akan menghancurkan permohonan ku!" bentak Rara kepada Satria.
Tiba-tiba lampu di ruangan itu padam. Membuat Rara takut dan berlari memeluk Satria. Tidak berselang lampu kembali menyala. Satria yang melihat Rara memeluknya pun menggoda.
"Ternyata kamu orang yang mudah takut." kata Satria.
Rara tersadar dan mendorong tubuh Satria menjauh darinya. Lampu di dalam ruangan itu seperti sedang mempermainkan mereka berdua karena sedari tadi tiba-tiba padam dan kembali menyala. Itu membuat Rara begitu ketakutan dan tidak mau jauh dari Satria. Rara merasa kesal karena sakral lampu itu terus dimainkan entah siapa pelakunya. Rara melihat jam ditangannya. Jam sudah menunjukan tepat pukul 12 malam, Rara segera membuat permohonan dan mengetuk meja otopsi.
__ADS_1
Satria kaget melihat berani melakukan hal itu. Setelah menunggu tidak ada yang membalas ketukan Rara. Satria percaya jika kisah itu hanya bohong belaka.
Tiba-tiba terdengar suara aneh di ruangan, Rara merasa ketakutan dan berusaha keluar. Rara merasa pintu ruangan itu terkunci membuat Rara harus berteriak minta tolong. Satria hanya melihat Rara yang ketakutan. Satria mencoba menolong membuka pintu ruangan itu, namun Rara malah justru mendorongnya. Satria merasa kesal dan mendorong Rara, ternyata pintu itu tidak terkunci.