
Satria menarik Rara keluar, Rara diajak pergi kesebuah Mall. Kebetulan tidak jauh tempat mereka singgahi. Dan di sana juga ada berbagai permainan. Rara lalu menarik Satria menuju salah satu game. Cara main game itu dengan menari sesuai dengan arahan dilayar. Rara mengajak Satria untuk menari bersamanya. Namun, Satria menolak ajakan Rara. Tetapi Rara tetap memaksa dengan mengatakan jika Satria temannya maka harus mau menemani menari.
Dengan terpaksa, Satria akhirnya mau bermain game itu bersama dengan Rara. Begitu bahagia, terlihat dirinya begitu energik mengikuti setiap gerakan yang ada di layar. Sedangkan dia terlalu kaku untuk melakukan hal itu. Rara mengejek Satria dengan jika Satria terlalu payah dalam menari. Rara begitu girang saat nilai yang diperolehnya lebih tinggi dari Satria.
" Kamu ini beneran kutu buku?" tanya Satria yang tidak percaya jika Rara begitu hebat dalam permainan itu.
" Kamu berkata seperti itu karena kamu kalah, kan. Dasar payah! Seorang pecundang harus menjadi seekor anjing." ujar Rara lalu mengarahkan tangannya ke Satria.
Bukannya menolak, Satria malah justru tersenyum dan meletakkan dagunya di tangan Rara.
"Bukan begitu, aku ingin meminjam tanganmu." ujar Rara.
" Aku tahu. Aku hanya ingin mengganggumu saja." kata Satria.
Rara mengangkat tangan satunya memukul kepala Satria, hal itu membuat Satria kembali tersenyum. Mereka berdua lalu menuju spot sepatu roda, Rara ingin bermain sepatu roda kali ini. Karena belum mahir, dalam hal itu, Satria membantu Rara dengan menariknya dari depan. Rara terlihat sangat bahagia begitupula dengan Satria. Rara meminta untuk berlari, namun Satria hanya berlari kecil. Hal itu membuat Rara kesal, dan mengomel kepada Satria. Satria hanya tertawa saat Rara mengomel kepadanya.
Merasa capek, mereka berdua akhirnya beristirahat. Satria melihat wajah Rara, ini pertama kali dia melihat gadis itu tertawa bahagia. Bahkan Satria tidak menyangka jika Rara memiliki senyuman yang begitu manis.
Rara lalu meminta Satria untuk menggendongnya. Satria lalu duduk didepan Rara, Rara lalu memeluknya dari belakang. Satria pun menggendongnya menuju ke tempat semula. Selama perjalanan, Rara terus mengoceh.
"Sat, kamu kenapa? kenapa kamu gak tersenyum sama sekali?" tanya Rara yang melihat Satria dengan wajah datar. Rara lalu menggoyang pipi Satria, namun Satria tidak kunjung tersenyum. Rara tahu jika Satria pasti marah padanya soal minuman tadi.
" Satria, kamu yang membiarkan ku meminum itu sendirian. Kamu bahkan gak menemaniku minum." ujar Rara.
"Kalau gitu aku akan membayarnya. Karena kamu masih saja mengabaikan ku." ujar Rara lagi.
Satria meminta Rara untuk diam dan tidak banyak bergerak agar Rara tidak jatuh. Rara malah justru tersenyum dan berkata, " Jadi begini rasanya memiliki seorang teman. Rasanya begitu menyenangkan. Kamu tahu gak, kamu itu teman pertamaku. Karena sekarang kita sudah berteman, "
Rara lalu mendekatkan bibirnya ke telinga sambil berkata, " Jangan pernah tinggalkan aku."
Satria hanya tersenyum mendengar kata-kata itu keluar dari bibir Rara. Mereka telah sampai, Satria lalu menurunkan Rara. Rara memeluk Satria dari belakang, bagi Satria itu kesempatan untuknya bisa beristirahat dengan menyandarkan diri pada Rara.
__ADS_1
" Hai! apakah kamu udah lelah? Dasar payah!" ucap Rara.
" Ya, Aku memang payah. Berikan aku minum." ujar Satria.
Bukan memberikan minuman itu, Rara malah justru meminumnya kemudian baru diberikan kepada Satria. Satria belum menerima, karena dia mulai khawatir. Melihat orang-orang disekitar mereka sudah tidak ada.
" Ini sudah pukul 4 pagi, apa sebaiknya kita beristirahat." kata Satria.
" Ya sudah, aku berikan kamu istirahat 5 menit." ujar Rara.
Satria mulai mengeluh, karena dia sudah begitu capek. Rara tidak perduli, dia justru malah menghitung waktu Satria beristirahat.
"Bisakah aku mendapatkan istirahat selama 5 jam?" tanya Satria.
" Apa yang terjadi padamu?" tanya Rara.
Satria mencoba melepaskan tangan Rara yang memeluknya, namun Rara menolak. Karena Rara masih ingin memeluk Satria.
"Hey! kamu gak boleh pergi tidur, tanpa menyikat gigimu terlebih dahulu." ujar Rara.
"Sini, biarkan aku yang melakukannya." Kata Rara lalu menarik baju satria untuk meletakkan kepala Satria di pahanya. Meski sudah lelah, tetapi Satria tetap menuruti permintaan Rara.
Rara lalu mengambil sikat giginya di dalam tasnya. Bukan Satria yang menyikat giginya sendiri, melainkan Rara yang akan melakukannya.
"Ini cara yang benar untuk menyikat gigimu. Kamu harus mengoleskan pasta gigi seukuran kacang polong di sikat gigimu. Tidak perlu terlalu banyak, seperti itulah saran dari dokter gigi." kata Rara mempraktekkan apa yang dikatakannya.
" Kemudian, bukalah mulutmu, bukalah." ucap Rara karena Satria tidak membuka mulutnya. Satria menatap wajah Rara lalu membuk mulutnya.
" Sikat gigimu perlahan dari kiri ke kanan, lalu sikatlah bulat-bulat. Lakukan baris per baris." kata Rara.
Satria hanya terdiam menatap wajah Rara. Jantungnya berdetak kencang. Wajah begitu dekat dengannya. Sedangkan Rara tersenyum sambil menyikatkan gigi Satria.
__ADS_1
"Lalu bagian atas. Sikat keseluruhan gigimu, setelah itu selesai." ujar Rara lalu meletakkan sikat giginya.
Rara lalu memeriksa gigi Satria, namun dicegah oleh Satria karena meras gigi sudah bersih. Tetapi tetap ngeyel untuk memeriksa gigi Satria. Rara menunduk kepala untuk lebih dekat dengan Satria. Satria mengedipkan kedua matanya, wajah semakin dekat dengan wajah Satria. Semakin lebih dekat, membuat Satria sedikit menutupi matanya. Dan Rara malah tertidur dan kepala jatuh kesamping.
Senyuman terukir diwajah Satria. Dalam hati dirinya berkata, "Huft.. Gak bisakah kamu mengatakan langsung apa sebenarnya yang hatimu inginkan."
Matahari sudah memancarkan sinarnya, dan kini posisi tidur telah dirubah. Kini Rara justru kepala berada di paha Satria. Sedangkan Satria duduk dengan menyandar ditembok. Satria sambil mengelus pipi Rara dengan lembut. Rara mengeliat, reflek Satria memberhentikan aksinya.
" Udah bangun ya? pasti tidurmu nyenyak." ujar Satria.
Rara membuka matanya dan melihat Satria yang tengah duduk memangkunya.
" Kenapa kamu tidur dalam posisi seperti ini?" Tanya Rara.
" Karena aku yang membuat tidur denga posisi seperti ini. Kamu pikir kamu bisa melakukan hal itu sendiri?" jawab Satria.
Rara lalu bangun dari tidurnya. Satria justru mengeluh karena kakinya terasa kaku.
" Kamu tahu gak jika semalam kamu mabuk berat?" tanya Satria. Rara tersenyum lalu menggaruk tengkuknya.
"Ya, aku tahu. Namun, Aku gak bisa mengendalikan diriku. Maafkan aku." ujar Rara.
"Ya udah, Gak apa-apa. Aku sudah memahami mu. Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang? apakah kamu mau pulang?" tanya Satria.
"Gak. Sepertinya aku gak mau pulang. aku akan belajar disini saja." jawab Rara.
"Belajar dengan kondisi seperti itu? kamu gak sedang berada di negara musim dingin sehingga gak ada alasan untukmu untuk gak mandi. Dasar menjijikan!" ujar Satria membuat Rara merasa malu.
"Namun, aku gak mau pulang. jadi gak tempat untuk aku mandi." ucap Rara.
"Ke rumahku saja." jawab Satria dengan menyungging senyum.
__ADS_1