Cinta Si Gigi Bungsu

Cinta Si Gigi Bungsu
Merasa bersalah kepada Satria


__ADS_3

Karena tidak mau menjadi perhatian banyak orang di fakultasnya, Rara memilih mengunjungi fakulitas teknik sipil. Rara duduk dipinggir lapangan voli, dimana ada beberapa mahasiswa tengah bermain skateboard. Ken yang kebetulan juga bermain skateboard disitu menghampiri adik dari temannya itu.


" Hey, tenanglah. mereka biasa mengatakan itu di media sosial. Jika mereka benar-benar datang ke rumahmu. Beritahu aku, aku akan menghajar mereka semua." kata Ken. Ken sudah mengetahui apa yang menimpa adik dari temannya itu. Rara sudah menceritakan semua, tentang kejadian yang dialaminya hari ini. Hingga dirinya harus berpindah haluan ke fakulitas teknik.


" Kakak bilang aku harus tenang, justru Kaka sendiri yang terlihat sedang frustasi." ujar Rara.


" Gak usah dipikirkan." ucap Ken mendorong kepala Rara dan kembali bermain skateboard dengan teman-temannya.


Rara mengingat kembali kenangan dimana dirinya memasang klip ikannya itu kepada Bima, dia ingat jelas senyuman manis Bima saat itu. Lalu Rara mengingat kembali klip ikan yang ada di cewek yang menabrak tadi pagi. Rara melihat klip ikan ditali maskernya. Klip ikan itu merupakan buatan Rara sendiri. Makanya itu sebabnya Rara terus kepikiran kenapa klip yang dia berikan kepada Bima ada di cewek tadi.


Ken kembali menghampiri Rara, dia masih melihat Rara yang duduk termenung.


" Kamu masih mikirin hal itu? Kamu penasaran kenapa klip itu ada padanya, kan?"


Ken juga tahu tentang masalah klip ikan Rara. Rara menceritakan semuanya kepada Ken. Karena hanya teman kakaknya itu yang menurutnya bisa dipercaya.


" Aku hanya ingin tahu." jawab Rara.


" Ingin tahu tentang apa?" tanya Ken.


" Jika Bima membuang klip itu, apakah itu artinya Bima membenciku?" tanya Rara.


" Kalau begitu aku akan bertanya kepadamu sekarang. Apakah klip itu hanya ada satu di dunia ini?"


" Gak juga sih." jawab Rara dengan kesal.

__ADS_1


" Bahkan jika klip itu hanya ada satu di dunia lalu dia membuangnya, berarti klip itu gak berharga baginya. Dan kurasa jawabannya juga sangat jelas. Jadi untuk apa lagi kamu berharap?"


Ken menepuk pundak memberi semangat agar kembali bangkit, dan jangan terlalu terhanyut akan pikirannya sendiri.


" Hal itu gak mudah, kak." jawab Rara jika dirinya tidak mudah untuk melupakan bahkan untuk tidak lagi berharap pada Bima.


Ken kembali bermain skateboard, namun tidak disangka dia terjatuh dari skateboardnya. Hal itu membuat Rara begitu kaget dan khawatir dengan Ken. Rara menanyakan apakah Ken baik-baik saja. Ken malah menjawab pertanyaan Rara dengan sebuah peribahasa.


" Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian."


Kata itu seolah menampar Rara, mungkin saat ini dia merasa sakit hati. Namun, dirinya harus bisa menerima rasa sakit itu agar dirinya bisa beranjak dari rasa sakitnya.


Mira sedang berdiri dipinggir jalan di area kampusnya. Saat bus tiba, para mahasiswa segera menaiki bus. Mira yang ingin naik, namun terhenti karena tidak ingin berdesakan. Tanpa Mira sadari, Raden mengamatinya dari kejauhan. Raden mengatai Mira yang begitu bodoh. Mira mencoba menghentikan tukang ojek yang lewat, tetapi tukang ojek itu malah memuat seorang mahasiswa yang kebetulan berdiri dibelakang Mira. Raden mengumpat, bagaimana Mira bisa pulang kalau dia seperti itu. Raden menghidupkan mesin motornya, mengendarai motornya berhenti didepan Mira.


" Hey, naiklah. Akan aku antarkan kamu pulang." ujar Raden menawarkan diri.


" Tentu saja kamu gak bisa. Aku sudah memperhatikan mu sejak dari tadi. Jika kamu gak berusaha mendapatkan tempatmu, selama hidupmu kamu gak akan bisa pulang. Kamu ini benar-benar payah."


"Iya, aku memang payah dan lambat. Namun, itu semua urusanku. Dan menurutku antrean gak akan serame itu jika hari sudah malam." ujar Mira.


" Jadi, kamu akan menunggu disini sampai malam? Sangat panas kalau kamu terus menunggu disini. Naiklah, aku akan mengantarmu pulang." kata Raden kembali menawarkan tumpangan.


" Gak usah. Kamu akan merasa terganggu dan meninggalkan aku di jalan lagi." ujar Mira dan memilih berjalan kaki.


Raden terus berusaha dia mengikuti Mira dengan mendorong motornya.

__ADS_1


" Mira, apa kamu marah? Kamu masih marah soal kejadian waktu itu." tanya Raden. Mira tidak menjawab pertanyaan Raden dan tetap berjalan.


" Sikap diam mu itu sudah menjadi jawaban atas pertanyaan ku tadi. Aku janji, untuk hari ini aku gak akan meninggalkan dirimu di jalan lagi. Baiklah, aku akan mengaku. Awalnya aku begitu senang karena kamu udah berhenti mengikuti ku lagi. Namun, jujur saja, karena aku gak mendengar lagi suaramu, entah mengapa rasanya aneh." Kata Raden.


Mira berhenti berjalan setelah mendengar apa yang Raden katakan, dia lalu menoleh kepada Raden.


" Benarkah apa yang barusan katakan?" tanya Mira.


" Gak! itu hanyalah omong kosong." ucap Raden.


" Kalau begitu gak perlu kamu mengatakannya dengan cara baik-baik." ujar Mira ngambek dan kembali berjalan.


" Hey berhentilah. Seperti itulah gaya bicara ku, mir." kata Raden kembali mendorong motornya.


Mira berhenti, lalu bertanya, " jadi kamu gak merasa terganggu olehku?"


" Aku akan merasa terganggu jika kamu gak segera pergi."


Lagi-lagi kata kasar Raden membuat Mira kembali ngambek. Raden kembali memanggil Mira dengan mengatakan jika dirinya hanya bercanda. Raden parkirkan motornya mengambil helm motor dan memberikannya kepada Mira. Raden mencoba kembali membujuk Mira dengan meminta memakai helm itu. Mira merasa karena takut jika Raden akan meninggalkannya lagi. Raden kemudian berjanji jika dia tidak akan meninggalkan Mira di jalan. Mira akhirnya percaya dan memakai helm pemberian Raden. Raden tersenyum, akhirnya dia berhasil membujuk Mira untuk pulang bersamanya.


Rara berada di cafe untuk belajar, dirinya tidak fokus belajar karena mengingat kembali saat dirinya memarahi Satria dan menyuruh Satria untuk menjauh darinya. Rara berfikir jika dirinya sudah terlalu kasar kepada Satria. Rara meminum kopi yang dipesannya, tak disangka kopi yang diminumnya itu panas hingga membuat Rara tidak sengaja menumpahkan sedikit kopinya ke tangan. Rara segera menuju ke wastafel untuk membersihkan kembali tangannya yang terkena kopi.


Rara kembali ke mejanya, dia melihat kopi yang tadinya berceceran di meja kembali bersih dan ada sebuah tisu di sana. Rara berfikir jika pelayanan di cafe itu cukup baik untuk seorang pelanggan. Rara tersenyum kepada pelayan yang kebetulan sedang membersihkan meja yang ada di depannya.


Pagi hari, Rara terus menguap, di melihat banyak mahasiswa yang juga mendapatkan kelas pagi hari ini. Membuat lift yang ingin ditumpangi harus menunggu begitu lama. Pintu lift terbuka, Rara yang ingin masuk akhirnya mengurungkan niatnya karena ada Satria di dalam lift itu. Rara mengumpat kenapa dirinya harus bertemu dengan Satria hari ini. Melihat Rara belum masuk, teman sekelasnya Rara pun bertanya, " kamu gak masuk?"

__ADS_1


" Gak usah. Aku ingin sedikit berolahraga pagi ini." ujar Rara.


__ADS_2