
Rara berdiri di balkon perpustakaan kampusnya. Dia menatap langit yang cerah itu, entah kenapa dirinya bingung dengan perasaanya sendiri. Satria yaang sedari tadi mengejarnya, mencari keberadaan Rara. Dia melihat Rara di balkon dan segera menghampiri gadis itu. Satria berdiri di samping Rara, menatap dari samping wajah gadis itu, yang masih serius memandang awan.
" Boleh aku berdiri disini?" tanya Satria kepada Rara.
Rara mengangguk, " Baguslah karena kamu ada disini. Ada yang ingin aku bicarakan kepadamu. Mengapa kamu harus menyamar sebagai akun Setia?"
Jadi saat bersama Bima, Bima menceritakan tentang akun setia yang sering berkomunikasi dengan Rara. Dan ternyata pemilik akun itu adalah Satria. Rara akhirnya mengetahui teman pertamanya itu adalah Satria, bahkan selama ini Rara sering curhat padanya.
" Apa kamu marah setelah tahu semuanya?" tanya Satria karena takut jika Rara marah padanya karena dirinya adalah orang dibalik akun bernama Setia itu.
" Sesaat aku merasa sudah ditipu olehmu." ucap Rara.
Rara mengingat lagi perkataan Bima barusan, bahwa dihari Valentine tepat saat Rara pertama kali bertemu dengan Bima. Satrialah yang memberikan payung kepada Bima dan meminta Bima untuk memayungi Rara menuju halte.
" Apa selama ini kamu memperhatikan ku?" tanya Rara mengingat perkataan Bima tentang Satria kepadanya.
" Iya." jawab Satria.
" Jika kamu menyukaiku, kenapa kamu melibatkan dara?"
" Untuk bisa memancing mu, agar kamu bisa mengatakan perasaanmu yang sebenarnya."
Rara merasa kesal mendengar jawaban itu.
" Kamu marah?" tanya Satria memastikan, karena melihat Rara membuang muka dengan ekspresi sedang kesal.
" Gak." Jawab Rara tanpa memandang Satria.
Merasa dicuekin, Satria menarik tubuh Rara untuk menghadap kepadanya. "Kalau begitu kita buat permainan?"
__ADS_1
" Permainan apa! gak mau!"
" Kamu harus ikut bermain, karena aku yang memaksa."
" Percuma saja aku menolak, toh kamu akan tetap memaksa."
" Saat kamu mendengar namamu sendiri, apa yang ada dipikiran mu?" tanya Satria.
" Ya, diriku sendirilah. Pertanyaan apaan sih!" jawab Rara yang tidak paham dengan maksud Satria.
" Jika mendengar namamu, maka yang aku pikirkan hanyalah kamu."
Rara memutar bola matanya, " Ya iyalah, Nama Rara kan cuma aku."
" Maksud kata putri di nama lengkap mu. Putri itu banyak, namun hanya setiap aku mendengar kata itu, Aku selalu mengingat mu. Hanya kamu yang aku bayangkan setiap aku mendengar kata putri, Putri dari nama lengkap mu, Rara putri kharisma."
Rara menatap wajah Satria, dia tidak menyangka jika Satria tahu nama lengkapnya.
Rara menutup matanya menghela nafasnya, mengingat kata Satria dipikirannya. Dan yang ada dipikirannya adalah Satria yang suka mengganggunya.
" Ya.. Seseorang yang sering menggangguku. Pengganggu, Seseorang yang menyebalkan. Dan juga seorang teman."
Satria terlihat sedikit tidak suka dengan jawab dari Rara. " Emang gak kepikiran sebagai pacar begitu?"
Rara terkekeh mendengar pertanyaan itu, " Kamu pernah bilang kepadaku. Jika aku belum siap, kita bisa memulai menjadi Tan terlebih dahulu. Kamu gak bisa melewati tahapan itu begitu saja."
" Awalnya, aku ingin menjadi temanmu." Satria lalu mengangkat kedua tangannya memegangi wajah Rara. " Aku ingin menjadi pacarmu sekarang."
Rara kaget, menatap wajah Satri. Begitupula dengan Satri yang juga menatapnya. Tatapan mereka bertemu, hati Rara berdebar. Rara ingin mengakhiri ini, dia melepaskan tangan Satria yang memegangi pipinya.
__ADS_1
" Kenapa kamu menyukai ku?"
" Aku suka saat kamu menggerutu. Itu lucu bagiku. Lalu, aku juga suka saat kamu berlagak sok hebat. Namun, sebenarnya kamu payah. Hal itu mungkin terdengar aneh. Namun, saat kamu fokus dan berusaha keras untuk sesuatu yang kamu inginkan, hal itu terlihat luar biasa bagiku. Sepertinya, serotonin ku bekerja lebih baik saat aku berada di dekatmu."
Rara tertawa mendengar kalimat terakhir yang Satria katakan. " Apa maksudmu? Hanya itu alasan kamu menyukaiku?"
" Sebenarnya bukan itu alasannya, karena mencintai seseorang itu gak ada alasan."
Rara tertegun mendengar kalimat itu, "Hmm... bagaimana, ya? Aku gak menyangka jika aku ternyata disukai seseorang. Karena menurut ku, aku adalah orang yang gak populer dan aneh. Apa kamu menyukaiku setelah melihat aku merubah penampilan ku?"
" Ada yang ingin aku tunjukan padamu." Satria mengambil ponselnya di saku celananya. Dia lalu berdiri menyender di balkon dan Rara juga melakukan hal yang sama. Satria membuka ponselnya, dia memperlihatkan foto Rara yang diambilnya secara diam-diam, di foto itu Rara masih memakai behel dan kacamata. Bahkan ada foto baru saat Rara tengah belajar di cafe, ternyata yang membersihkan mejanya bukanlah pelayan cafe melainkan Satria.
" Aku ingin kamu tahu, kalau tiap kali aku bersama denganmu." Satria meraih tangan Rara, dan menempelkan ke dadanya.
" Jantung ku berdetak dengan sangat cepat. Aku merasa bahagia tiap kali aku bersama denganmu. Bagaimana denganmu? Bagaimana perasaan mu saat bersama denganku? apa kamu merasa nyaman?"
Padangan mereka bertemu, tangan Rara masih menempel di dada Satria. Dirasakan jantung Satria yang berdegup kencang, begitu pula dengan detak jantungnya. Rara menyudahi itu semua, sebelum jantungnya meloncat keluar.
" Ra, apa kamu ingin tahu kesan pertama saat aku bertemu denganmu? Kamu mungkin sudah melupakannya, namun tidak denganku. Aku tidak melupakan kejadian itu."
Flashback.
Saat itu Satria sedang ingin memfotokopi tugasnya, ternyata ada kertas yang macet membuat fotocopy tidak berjalan dengan baik. Tiba-tiba seorang cewek dengan penampilan culun datang, dia membantu Satria. Hingga akhirnya tugas Satria bisa difotocopy. Satria mengucapkan terima kasih. Saat Satria hendak pergi, dia mendengar seseorang mengatai cewek itu.
" Hey si Dewi mesin fotocopy! jangan lupa fotocopy kan buku ku yang ini." orang itu menyerahkan beberapa bukunya, ditambah dengan beberapa mahasiswa yang juga ikut menyerahkan buku mereka kepada cewek culun itu.
Satria merasa iba dengan cewek itu, dia tidak berani untuk dekat dengan cewek itu. Satria hanya menatapnya jauh, hingga akhirnya dia tahu akun media sosial cewek itu. Dari situlah Satria membuat akun baru bernama Setia untuk bisa berteman dengan cewek itu. Mereka akhirnya berkenalan, dari situlah Satria tahu jika nama cewek itu adalah Rara. Perasaan yang hanya iba, kini menjadi perasaan suka kepada Rara. Hal itu ditambah saat Rara ingin mendekati Bima, Satria merasa jika itu adalah kesempatan untuknya agar dia bisa lebih dekat dengan Rara dengan menganggu Rara setiap mereka bertemu.
Flashback end.
__ADS_1
" Terima kasih sudah menyukai. Namun, hal itu terasa baru untukku. Aku gak tahu, jika nanti kita berhubungan aku harus bagaimana. aku butuh waktu untuk berpikir. Aku butuh waktu untuk memahami perasaan ku dulu." ujar Rara lalu pergi. Satria menatap kepergian Rara, kali ini pernyataan cintanya kembali ditolak oleh Rara.