
Rangga memasuki kamar, yang dimana sudah ada Raden dan Rara. Raden dan Rara segera duduk dengan sopan, saat kakak tertua masuk untuk menemui mereka berdua. Rangga mengambil kursi dan duduk didepan kedua adiknya itu.
" Apa yang terjadi pada kalian berdua? sampai Raden mengirimkan pesan suara kepadaku tempo hari. Apa yang ingin dibicarakan?" tanya Rangga kepada kedua adiknya itu.
Raden menyenggol tangan Rara agar berbicara tentang masalah yang terjadi padanya. Bukannya bercerita, Rara malah terdiam. Melihat kedua adiknya tidak berbicara apa yang mereka ngalamin. Sang kakak akhirnya bertanya kepada Raden.
" Apa kamu menjaga barang-barang ku dengan baik?"
Raden menjawab jika kakaknya itu tidak perlu khawatir karena semua barang-barangnya dijaga dengan baik oleh Raden. Raden menyiapkan kasur untuk Kakaknya sambil terus berbicara tanpa henti. Hal itu membuat Rangga dan Rara tertawa melihat tingkah Raden.
" Kamu gak akan bisa menemukan adik sebaik diriku, bang." ujar Raden menghampiri Rangga dan memijit kaki Rangga.
Raden memulai obrolan, dia menanyakan tentang masalah yang terjadi pada abangnya itu.
" Bukan masalah besar. Masalah itu sudah selesai."
" Selesai? lalu dimana pacar Abang?" tanya Rara.
" Dia sudah pulang."
Raden memuji kakak sulungnya itu dengan mengatakan jika kakaknya merupakan orang yang luar biasa, karena berani membawa pacarnya ke rumah. Padahal kakaknya sudah tahu jika ibunya itu sangat pemilih, apalagi mengenai pasangan anaknya.
" Aku bekerja sebagai dokter, bayangkan saja apa yang aku alami selama berhadapan dengan pasien. Bahkan aku sering melihat pasien yang meninggal dan sekarat. Bahkan pernah aku juga menghadapi pasien yang melukai tangannya dengan pisau di urat nadinya. Itu sebab karena dia patah hati dan memilih jalan mengakhiri hidupnya. Menghadapi itu membuat ku tersadar jika tidak ada yang abadi di dunia ini. Bisa saja aku mati hari ini atau besok. Namun, aku tidak ingin mati sekarang sebelum aku memperkenalkan pacarku kepada orang-orang yang aku cintai." Kata Rangga untuk kedua adiknya itu.
Raden yang sedari tadi memijitkan kakaknya, berhenti seketika saat kakaknya itu mengatakan hal itu kepada mereka berdua.
" Mengapa kamu diam saja? teruslah memijit."
__ADS_1
Raden kembali memijit, sedang Rara tersenyum menatap Kakak sulungnya itu.
" Hal yang penting adalah apa benar-benar berfikir jika ibu gak tahu seperti apa kalian sebenarnya? Dia yang membesarkan dan mendidik kalian." kata Rangga mengelus kepala Rara, sambil menatap wajah adik perempuan satu-satunya itu.
Rara terdiam saat mendengar perkataan kakaknya barusan. Jadi selama ini, ibu sudah tahu jika dia melanggar peraturan ibu dengan mendekati Bima.
" Ra, layaknya orang dewasa ketika mendapatkan vaksin, pada awalnya mereka akan kelelahan dan sakit selama beberapa hari. Namun, ketika tubuh mereka beradaptasi dengan vaksin tersebut, mereka akan sepenuhnya menerima." Ujar Rangga kepada Rara.
Rara mencoba mencerna maksud dari perkataan Kakak sulungnya itu. Setelah kurang lebih memahami maksud dari kalimat-kalimat itu, Rara akhirnya berteriak " Luar biasa!"
" Kamu kenapa?" tanya Raden saat mendengar adiknya itu berteriak.
" Kupikir ibu marah padaku karena aku sudah melanggar peraturannya. Ternyata, aku salah."
" Memang!"
Rara berdiri, dan segera pergi dari kamar kakaknya. Sedangkan terus mengatainya bodoh karena sudah mengira ibu sedang marah padanya. Namun, kepala Raden di jitak Rangga dengan mengatakan jika Raden lebih bodoh dari adiknya.
" Akan aku berikan kamu 200 ribu," kata Rangga sambil mengarahkan kakinya kepada Raden. Mendengar kata uang 200 ribu, siapa yang tidak mau menolaknya. Raden kembali memijit kaki Rangga sambil tersenyum dengan berkata jika barusan hanya gurauan.
Ibu Rara sedang mengangkat kembali piring-piring di meja makan. Saat sedang mengangkat satu piring, Rara menahannya.
" Ibu istirahat saja. Biarkan aku membereskannya. Serahkan semuanya padaku."
Suasana canggung menghantui anak dan ibu itu, namun Rara tidak berusaha untuk tersenyum karena dia tahu jika ibu tidak marah lagi padanya. Rara membantu ibu mengambil semua makanan yang ada di meja sambil sesekali melirik wajah ibunya.
" Apa ibu masih marah padaku? Kumohon jangan marah ya, tersenyumlah bu."
__ADS_1
" Jadi sekarang kamu udah siap berbicara dengan ibu?"
" Aku udah lama ingin berbicara dengan ibu. Tolong ibu tersenyum untukku, hm?" ujar Rara menggoda ibunya.
Ibu Rara akhirnya tersenyum, melihat senyum ibu membuat Rara juga ikut tersenyum. Anak dan ibu itu akhirnya akur kembali. Saat Rara hendak menyimpan makanan ke dapur, Ayah Rara datang dan menyuruh agar anak dan ibu itu untuk berhenti memindahkan piring dan makanan ke dapur.
" Sayang, panaskan lagi semuanya. aku benar-benar lapar." ujar ayah. Bagaimana tidak lapar sejak Rangga membawa pacarnya itu membuat keluarga itu terjadi sedikit pertikaian yang mereka tidak jadi mencicipi makanan yang sudah tersedia.
" Ra, tolong panggilkan abang-abang mu kemari untuk makan malam. Katakan kepada mereka jika ayah sudah sangat lapar."
Rara segera pergi menuju kamar kedua abangnya itu. Ayah mulai membantu ibu memanaskan makanan. Meski sebelumnya ada kendala, tetapi keluarga itu kembali bahagia dengan makan malam bersama.
Dari sini kita belajar, bahwa dengan saling mencoba mengerti satu sama lain, maka semuanya akan baik-baik saja. Tidak ada keluarga yang sempurna. Terkadang, keluarga saling bertengkar dan saling mengabaikan. Namun, pada akhirnya keluarga tetaplah keluarga. Selalu ada cinta dalam sebuah keluarga.
Pada malam itu, Rara, Raden, dan Rangga berbaring menatap langit-langit kamar. Raden mengucapkan terima kasih kepada kakak sulungnya, karena kehadiran kakaknya itu membuat dia bisa menikmati makanan enak. Karena sebelumnya ibu sering memasak mereka, sayur tumis, sosis goreng dan telur dadar. Hal itu membuat Raden bosan.
" Hei! gak boleh berbicara seperti itu. Semua makanan itu lezat. Justru aku ingin sekali memakan masakan ibu."
" Aku memikirkan saat kita masih kecil, kita masih sangat kecil hingga kita tertidur di kasur yang sama." ujar Rara sambil tersenyum bahagia.
" Oh iya! bagaimana dengan masalah mu, Ra?" tanya Rangga kepada Rara
"Aku benar-benar gak tahu apa yang harus aku lakukan, bang. Aku menyukai cowok lain. Namun, ada cowok lainnya lagi yang selalu membuat ku merasa lebih baik ketika aku sedang bersedih. Dia juga membuatku merasa nyaman."
"Kalau begitu kamu harus mencari tahu apakah kamu merasa nyaman terhadap diriny atau kamu merasa nyaman atas apa yang dia lakukan kepadamu." ujar Rangga.
" Apakah yang kalian bicarakan? aku gak paham sama sekali. " tanya Raden yang sedari tadi mendengar percakapan Rangga dan Rara.
__ADS_1
Rangga terbangun, begitu pula diikuti oleh Rara dan Raden.
" Ra, dengarkan aku. aku akan memberikan contoh. Apakah kamu tahu apa itu penyakit iatrogenik? Hal itu disebabkan oleh diagnosis yang keliru atas kondisi pasien. Pernah ada suatu kasus, seseorang menemui dokter dengan mengatakan jika dirinya merasakan pusing dan stress. Dokter lalu memberikannya vaksin. Waktu terus berjalan hingga terjadilah komplikasi. Dia datang kembali dan didiagnosis menderita tumor otak. Sekarang, kamu harus mendiagnosis apakah vaksin yang kamu dapatkan memang tepat untuk sakit mu atau kamu hanya berasumsi tentang hal itu." kata Rangga menunjukkan jantung Rara.