
Satria menahan tangan Rara yang menariknya.
" Tunggu sebentar Ra." ucap Satria melihat klip ikan yang ada di sebuah sikat gigi di kamar mandi itu. Satria mengambil sikat gigi itu, seolah klip itu sama seperti klip yang diberikan Bima kepadanya.
" Ini sikat gigimu ya?" tanya Satria kepada Rara
" Iya," jawab Rara yang terlihat kesal karena Satria masih belum bergerak untuk keluar dari kamar mandi sebelum kakaknya Raden melihat.
" Jadi kamu punya dua klip ikan seperti ini?" tanya Satria mengingat klip ikan ada padanya.
" Iya, kenapa?" tanya Rara tidak mengerti kenapa Satria tahu jika dia punya dua klip ikan yang satunya diberikan kepada Bima.
" Aku juga punya satu." ujar Satria mengingat klip ikan yang dia miliki.
" Hah! dimana kamu mendapatkannya?" Tanya Rara yang tidak mengerti padahal klip ikan itu hanya dia berikan kepada Bima saja.
" Bima memberikannya kepadaku." Kata Satria kepada Rara.
Rara begitu kaget, ternyata klip ikan yang dia berikan kepada Bima. Yang membuat dia galau karena Bima tidak mengenakannya ternyata klip itu diberikan kepada Satria. Saat Rara hendak bertanya, terdengar suara Raden yang bertanya padanya.
" Apa yang kamu katakan, Ra?" teriak Raden dari luar kamar mandi.
Ternyata Raden berada tidak jauh di kamar mandi. Dia mendengar Rara sedang berbicara, Raden merasa Rara tengah berbicara dengan dirinya tetapi apa yang dibicarakan oleh Rara tidak terdengar jelas olehnya.
Rara begitu kaget mendengar suara kakaknya, hal itu membuatnya terpaksa mengumpat kesal.
" Kamu bicara apa? aku gak bisa mendengarnya." teriak Raden dari luar mendengar suara Rara yang berbisik-bisik di kamar mandi.
Sedangkan Satria hanya bisa tertawa melihat kelakuan kakak beradik itu. Rara merasa kesal dengan Satria, bukannya berfikir bagaimana cara keluar dia justru malah menertawakan Rara dengan Raden.
" Sat! Apa yang kamu tertawa kan?" ujar Rara yang begitu kesal dengan Satria.
" Bukan apa-apa, kak. Kau gak berbicara dengan mu." teriak Rara dari dalam kamar mandi.
__ADS_1
" Lalu kamu berbicara dengan siapa?" tanya Raden begitu heran dengan adik jelas-jelas dia mendengar adiknya tengah berbicara di dalam kamar mandi.
" Aku gak berbicara dengan siapapun kak." ujar Rara agar Raden percaya.
Rara mulai berfikir untuk mencari alasan agar Raden segera menjauh dari depan kamar mandi, agar dirinya dan satria bisa keluar.
" Kak, Aku lagi buang mandi, tapi airnya yang di shower tiba-tiba mati. Bisakah kakak tolong cek kran air diluar bisa keluar atau gak? Biar bisa sementara pake selang kesini." ujar Rara berbohong agar kakaknya bisa menjauh dari depan pintu kamar mandi.
" Apaan sih Ra! Aku gak bisa mendengarnya." teriak Raden tidak mendengar jelas apa yang adiknya itu bicarakan sambil mencoba membuka pintu kamar mandi. Beruntungnya pintu kamar mandi sudah dikunci Rara dari dalam.
" Kaka, tolong ambilkan selang air untukku?" teriak Rara dari dalam kamar mandi.
Sedangkan Satria hanya bisa tertawa pelan melihat adegan di depannya itu. Satria tidak bisa menahannya karena menurutnya tingkah kakak beradik itu sangatlah lucu di matanya.
Raden yang tidak mengerti dengan apa yang Rara biacarkan. Raden merasa jika tingkah laku adiknya itu sudah mulai aneh hari ini. Dia memilih pergi dari situ, karena sudah merasa kesal dengan tingkah adiknya yang aneh itu.
Merasa sudah aman, Rara mulai membuka pintu kamar mandi. Awalnya berniat mau ke pintu keluar, tetapi melihat ada Raden disana. Rara terpaksa mengajak Satria untuk sementara bersembunyi di kamarnya. Rara menyuruh Satria bersembunyi di samping lemari, sebab saat Raden masuk dia tidak akan melihat tubuh Satria.
Raden yang duduk di sofa merasa khawatir dengan adiknya yang aneh itu, memutuskan untuk kembali mengecek keadaan adiknya di kamar mandi. Ternyata, Rara sudah keluar dari kamar mandi. Raden lalu menuju ke kamar Rara, untuk melihat keadaan adiknya. Raden mengetuk pintu kamar Rara, dan masuk ke kamar Rara melihat adiknya tengah duduk di kasur dengan pakaian yang sama dipakinya tadi. Hal itu membuat Raden curiga, bukannya tadi Rara mengatakan dia sedang mandi.
Rara begitu kaget, ketahuan sudah bohongnya. Namun, Rara mencoba santay dengan menjawab pertanyaan kakaknya itu.
" Iya, aku barusan mandi."
" Tapi kenapa pakaian yang kamu kenakan masih sama?" tanya Raden merasa aneh.
" Pakaian ini baru saja aku pakai tadi sore. Jadi menurut belum kotor juga, soalnya aku selalu di kamar dari sore." ujar Rara agar Raden percaya.
" Ah begitu. Tapi bukannya tadi shower mati. Lalu kamu kok bisa membersihkan tubuhmu itu? Kamu pasti menyembunyikan sesuatu dariku ya?" tanya Raden yang mulai curiga dengan Rara.
Rara mulai berfikir, jawaban apa yang membuat Raden tidak merasa curiga kepadanya.
" Ah iya, tadi memang showernya tiba-tiba mati. Gak berselang lama kakak pergi, showernya hidup lagi " ujar Rara kembali berbohong agar Raden percaya.
__ADS_1
Raden mulai merasa aneh, kenapa shower di rumahnya itu tiba-tiba mati dan hidup lagi. Raden mulai merasa merinding. Seolah ada hantu memang sengaja mengerjai adiknya itu.
Raden berjalan mendekati lemari Rara, yang membuat segera berdiri bersandar ke pintu agar Raden tidak melihat ke samping lemarinya yang dimana Satria tengah bersembunyi.
" Kakak gak mandi?" tanya Rara mengalihkan pembicaraan.
Raden terdiam sejenak dengan pertanyaan itu, awalnya dia sudah gak berniat mandi karena shower air yang dialami Rara tadi. Tapi mengingat badanya sudah bau keran beraktivitas seharian. Serta takut dikatakan oleh adiknya penakut. Raden memutuskan untuk mandi.
" Iya, ini aku mau mandi." jawab Raden membuka jaket yang dikenakannya.
Melihat kakaknya membuka jaket membuat Rara bertanya, " Kakak mau telanjang disini?"
Pertanyaan itu memang sengaja dilontarkan Rara, agar Raden segera p3gi dari kamarnya.
" Ya gaklah, aku hanya membuka jaket saja. Kalau begitu aku ke kamar dulu." ujar Raden keluar dari kamar Rara.
Setelah merasa aman, karena Raden sudah pergi ke kamarnya. Rara segera memanggil Satria agar cepat-cepat keluar dari rumahnya. Namun, bukannya segera keluar Satria malah justru membalikan tubuhnya menghadap Rara.
" Kenapa kamu diam saja, ayo cepetan keluar. Mumpung kak Raden sedang mandi." ujar Rara kepada Satria.
Satria menatap Rara sambil berkata, "Sekarang aku sudah berada di kamarmu. Apa kamu pikir aku bisa menemukan kesempatan ini dengan mudah?" ujar Satria berjalan mendekati Rara.
Rara menatap wajah Satria, lalu melihat kasur dibelakangnya. Rara kembali tersadar, dia kembali mendorong Satria untuk segera keluar sebelum Raden curiga lagi dengannya.
" Dia sedang mandi. Bagaiman bisa dia mandi secepat itu." ujar Satria agar dirinya tidak cepat keluar dari kamar Rara.
" Kakak ku mandinya cepat, Satria."
" Gaklah, ayolah Ra, mumpung kita diberi kesempatan." ujar Satria.
" Satria, jangan mendesak ku. pokoknya kamu harus keluar dari sini!" teriak Rara terus mendorong tubuh menuju pintu kamarnya.
Namun, apalah daya tubuh Satri lebih kuat darinya. Satria malah mendorongnya di kasur. Rara terus mencoba mendorong tubuh Satria yang kini berada diatasnya.
__ADS_1
" Aku hanya ingin satu ciuman dari mu." ujar Satria mulai mendekatkan wajah ke wajah Rara.