
Mira tengah duduk sendirian di kantin kampus. Hari sudah malam, kampus begitu sepi dan kantin pun sudah tidak menjual makanan. Mira duduk menatap bintang di langit. Dari kejauhan Raden berlari menghampiri Mira.
" Maaf, aku terlambat." ucap Raden sambil ngos-ngosan, kelihatannya dia lari dengan cepat ke kantin.
Mira merasakan bau mulut Raden ketika cowok itu berbicara. Sepertinya Raden baru habis minum-minum bersama teman-temannya.
" Hm, Raden kamu minum ya? Bau mu seperti alkohol. Jangan-jangan kamu melupakan janjian kita dan minum-minum bersama teman-teman mu. " tanya Mira merasakan bau alkohol. Dia yakin jika Raden baru saja minum alkohol bersama teman-temannya.
" Gak kok. Aku makan sawo. Tadi seorang wanita tua menjualnya di depan gedung ini dan aku membelinya dua buah." ujar Raden berbohong.
Namun, Mira bukanlah orang yang mudah dibohongi kali ini. Dengan cepat dia bertanya, " Udah berapa gelas kamu minum?"
" Cuma segelas." ucap Raden tanpa sadar bahwa dia mengakui jika dia baru saja meminum alkohol. Namun Raden segera sadar dengan kebodohan, Raden lalu menyangkal dengan mengatakan jika Mira sangat lucu jika becanda.
" Jadi kamu sanggup buat belajar gak?" tanya Mira khawatir jika Raden tidak fokus belajar.
" Tentu saja. Aku gak mabuk kok" ujar Raden.
"Baiklah, kalau begitu yuk kita pergi."
" Tunggu, bukannya kita belajar disini?" tanya Raden sebab janjian ketemuan di kantin kampus meski disitu tidak ada orang lagi.
Mira mengehela nafasnya, " Mengajar mu sampai paham itu butuh waktu. Tempat ini sebentar lagi akan tutup, lihat saja gak ada lagi mahasiswa yang berlalu-lalang. Jadi lebih baik kita berdua belajar di rumahku saja."
Mira mengisi buku di tasnya. Raden mengambil ponselnya mengetik sebuah pesan yang berisi jika dia tidak akan kembali ke tempat tongkrongan bersama teman-temannya. Tak berselang lama, pesannya dibalas oleh Jay.
" Wah gila! hebat banget si Mira. Berani bawa cowok ke rumahnya."
" Ternyata dia tidak polos seperti kelihatannya." balas Ken.
Raden membaca semua pesan dari teman-temannya, Raden tidak menggubrisnya. Namun sebuah pesan dari Ken membuatnya otaknya berfikir liar.
" Dengan dia mengajak kamu ke rumahnya, pikiranku menjadi liar."
Raden mulai membayangkan saat dirinya nanti belajar bareng dengan Mira. Dia membayangkan Mira yang akan menggodanya dan mengajaknya ke kamar. Tanpa Raden sadari, Mira berdiri di dekatnya memanggil terus namanya. Namun, Raden masih berkutat dengan isi pikirannya.
" Raden!" panggil Mira mulai khawatir melihat Raden yang seperti sedang menelan air ludahnya sendiri.
" Raden." panggil Mira.
" Ah iya." jawab Raden setelah sadar dengan apa yang dipikirkannya.
" Kamu lapar?" tanya Mira.
__ADS_1
" Gak kok, aku ngerasa haus aja." ujar Raden.
" Kalau gitu yuk jalan." ajak Mira.
Raden berjalan mendahului Mira, namun dia masih sibuk dengan pikirannya.
" Kenapa aku bisa berfikir sejauh itu dengan anak ini? Apa jangan-jangan aku sudah mulai jatuh cinta dengannya?" pikir Raden tanpa sadar Mira yang berjalan dibelakangnya menabrak punggungnya. Raden segera menengok kebelakang, dilihat Mira sedang memegangi hidungnya.
" Raden, kenapa jalannya berhenti?" tanya Mira.
Bukannya menjawab, Raden justru menatap wajah Mira. Dimatanya gadis itu terlihat begitu imut. Namun, segera Raden kembali sadar dia menggeleng kepalanya.
" Kayaknya aku benar-benar dalam masalah." pikir Raden.
Disisi lain, Satria masih setia berdiri memandangi Rara yang tengah bersama ketiga teman kakaknya. Satria mengingat kembali kata-kata dari Rara barusan. Dia melihat ponselnya dan kembali memandangi Rara yang terlihat bahagia dengan ketiga teman kakaknya. Dengan wajah datar, Satria meninggalkan tempat itu.
Raden memboncengi Mira dengan motornya, setelah sampai di halaman. Tanpa sadar dia menekan rem mendadak, hingga membuat dada Mira tersentuh dengan punggung belakang Raden. Raden terkejut saat merasakan hangat di punggungnya, dia melirik kebelakang. Wajah Mira begitu dengan dengannya.
" Apa yang dikatakan Ken bisa saja benar." pikir Raden dengan menelan savilanya.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah. Raden berusaha mencari cara agar mereka berdua tidak belajar di dalam rumah.
" Kenapa kita berdua gak belajar di cafe yang buka 24 jam?" tanya Raden kepada Mira.
" Apa! lebih nyaman melakukan sesuatu?" ucap Raden dalam hati dengan melihat suasana di dalam rumah Mira.
" Bukannya orang tuamu ada di rumah?" tanya Raden melihat kondisi rumah yang terlihat sepi.
" Mereka berada diluar kota." ucap Mira.
Raden mulai khawatir akan terjadi hal yang seperti dibayangkannya. Karena dia merasa dengan keadaan rumah yang sepi sudah pasti hal seperti akan terjadi. Namun, Raden terus menepis pemikiran kotornya itu.
Mira dibelakang Raden, saat Raden melihatnya. Mira lalu mendorong Raden ke sofa. Raden terkejut, Mira sudah berada diatasnya.
" Mira apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Raden dengan wajah takut.
" Melakukan hal yang seperti orang Laing lakukan" ujar Mira dengan nada dibuat seksi.
Raden berteriak dengan kencangnya.
Ternyata itu semua hanyalah hayalam dari Raden saja. Mira yang berdiri dihadapannya bingung dengan Raden yang tiba-tiba berteriak. Mira mencoba menenangkannya dengan menepuk pipi Raden agar segera sadar.
" Raden, kamu kenapa?" tanya Mira khawatir.
__ADS_1
" Gak apa-apa. Aku hanya lapar saja." ucap Raden yang malu karena berteriak tidak jelas dihadapan Mira.
" Kamu ini berteriak begitu keras. Membuat ku kaget." ujar Mira.
Tiba-tiba seseorang berteriak, " Siapa disana!"
" Ah! kak Satria." ucap Mira.
" Mira, kamu kenal dengan bajingan ini?" tanya Raden emosi dengan menatap tajam kearah Satria.
" Kenapa kamu bisa masuk kesini?" teriak Raden.
" Terus kenapa aku tidak bisa masuk kesini?" tanya Satria balik kepada Raden.
" Jadi kamu gak ngejawab ya. Kamu ini benar-benar brengsek! Kamu mendekati adikku, dan sekarang kamu mau menganggu punyaku juga!" bentak Raden.
Mira yang berada dibelakang Raden mencoba menghentikan Raden yang sedang marah.
" Lebih baik kamu diam, aku perlu bicara dengan bajingan ini dulu."
" Keluar dari sini sebelum aku memukul wajahmu." bentak Raden kepada Satria.
" Kakak gak punya hak untuk mengusir ku dari sini." ujar Satria melipatkan kedua tangannya di dada.
" Oh, jika berbicara baik-baik kamu juga tidak mengerti, lebih baik kita menggunakan kekerasan." ujar Raden menarik lengan bajunya ke atas.
" Raden berhenti.." lagi-lagi ucapan Mira dihentikan oleh Raden dengan memintanya diam.
" Dan sekarang kamu membuat dia membelamu! Kamu pikir dia polos dan mudah ditipu, hah!" kesal Raden karena Mira terlihat lebih membela Satria.
" Raden dengerin aku dulu..."
" Aku udah kamu diam!" bentak Raden kepada Mira.
" Kamu yang diam!" teriak Mira.
Raden seketika terdiam mendengar teriakan Mira.
" Biarkan aku beritahu kamu jika Satria itu adalah kakak kandungku." ujar Mira.
Raden terkejut mendengar itu. Dia memandang Satria sebentar lalu kembali memandang Mira.
"Kenapa kamu baru kasih tahu kepadaku?" tanya Raden karena malu sebab sudah sok jagoan mengusir Satria dari rumahnya sendiri.
__ADS_1
" Raden selalu saja meminta ku diam, jadi aku gak punya kesempatan untuk menjelaskan." ujar Mira kesal.