
Mira yang melihat Raden terdiam kaku didepannya akhirnya merasa khawatir.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Mira.
"Gak ada seseorang pun yang melakukan hal itu padaku, kecuali ibuku sendiri." jawab Raden.
"Begitu juga dengan kamu. Gak ada seseorang pun yang melakukan apa yang sudah kamu lakukan semalam, kecuali ibuku. Lagi-lagi kita punya kesamaan." ujar Mira tersenyum.
Raden menatap wajah Mira dengan senyuman yang terukir di wajah gadis itu. Jantung Raden kembali berdebar, Raden merasa Mira sangat manis. Entah kenapa bayangan aneh muncul dipikiran saat melihat wajah Mira. Namun, Raden segera sadar, saat sesuatu dibalik celananya berdiri. Takut ketahuan Raden memilih untuk segera pergi dari hadapan Mira. Mira yang merasa Raden pergi dengan tiba-tiba, membuat Mira merasa khawatir. Mira mengejar Raden dari sambil memanggil nama Raden dan bertanya apakah Raden baik-baik saja. Raden menghiraukan Mira, tetap terus berjalan menghindari Mira. Tidak disangka mereka berdua bertemu dengan ibu Nadia. Alhasil Raden yang mau menghindar dari Mira, memberhentikan diri untuk melanjutkan perjalanan.
"Selamat pagi Raden, Mira!" ucap ibu Nadia.
" Selamat pagi ibu Nadia." Sapa Raden balik.
Namun, tidak disangka ibu Nadia melihat sesuatu yang menonjol dibalik celana Raden. Raden yang menyadari itu segera menutupinya dengan kedua tangannya. Ibu Nadia tertawa dengan canggung seolah dia tahu penyebab itu terjadi, sedangkan Mira hanya terdiam tidak mengerti.
" Begini. Aku dengar semalam ada cicak ya? sampai kalian harus mendirikan lagi tenda." ujar Ibu Nadia.
" Itu benar, cicaknya ada di bawah selimut dan lumayan besar. Rasanya seperti ada seseorang yang sengaja meletakkan cicak itu disana."kata Mira.
"Aku benar-benar minta maaf. Kupikir aku udah memeriksanya dengan benar." ujar Ibu Nadia.
" Gak apa-apa kok ibu cantik. Itu hanya cicak, aku bisa mengatasinya. Kamu juga harus belajar mengatasinya ya Mir," ujar Raden sambil mengetuk kepala Mira dengan gelas.
Mira merasa kesal dengan Raden. Padahal jelas-jelas tadi malam Raden sendiri yang begitu takut dengan cicak itu.
"Baiklah kalau begitu. Tapi aku mau bertemu sekaligus mau bilang pekerjaan kalian nanti akan mudah karena ada empat orang yang datang sebagai sukarelawan." Ujar ibu Nadia.
"Empat orang?" tanya Raden memastikan seolah dia tahu ke empat orang itu.
Ibu Nadia mengangguk sebagai jawaban iya. Lalu ibu Nadia mulai menceritakan, "Semalam mereka menelfon dan akan tiba pagi ini. Oleh karena itu aku segera kemari untuk menyambut mereka."
Raden mulai merasa curiga dengan empat orang sukarelawan itu.
"Eh, lihatlah. Mereka sudah tiba." ucap ibu Nadia.
Raden dan Mira segera melihat ke para sukarelawan yang datang itu. Raden mengumpat, ternyata yang datang bukan orang lain melainkan ke empat temannya geng Anjay. Geng Anjay datang dengan penampilan layaknya orang sukarelawan pada umumnya bahkan mereka juga membawa alat yang dibutuhkan untuk ada nanti. Geng Anjay itu segera menghampiri Raden.
__ADS_1
"Apa kabar, bro?" tanya Ken menyapa Raden.
"My BESTie." ujar yoga sambil merangkul Raden.
" Aku bukan temanmu." ucap Raden kesal.
Ken menyunggingkan senyumnya, dan mengancam Raden karena pura-pura tidak mengenal mereka. Raden hanya pasrah dengan ancaman itu. Mira yang sedari melihat hanya terdiam, dia tidak mengerti kenapa teman-teman Raden bisa sampai disini.
"Kalian udah saling mengenal?" tanya ibu Nadia yang sedari tadi melihat keakraban yang ditunjukan geng Anjay pada Raden.
" Iya. Kami sudah saling mengenal." jawab Jay dengan nada dibuat begitu lembut.
"Perkenalkan nama saya Ken," ucap Ken memperkenalkan diri kepada ibu Nadia.
"Nama saya yoga," ucap yoga sambil menurunkan sedikit kacamata hitamnya.
"Nama saya Nadia, guru di sekolah ini. Aku akan ambil kalian minuman. anggap saja rumah sendiri." ujar Ibu Nadia sambil tersenyum.
"Iya Bu." ucap geng Anjay dengan nada dibuat lembut.
Nadia memberikan minuman yang dibuatnya kepada Ken dan Yoga. Sedangkan yang lain tengah sibuk membantu mempersiapkan acara nanti. Saat hendak ingin memuji ibu Nadia, Raden datang merangkul mereka berdua. Dan menarik mereka agar segera mengikutinya. Raden membawa mereka di samping halaman sekolah itu.
"Gak bisa!" ucap Ken.
" Kamu mau bertengkar denganku hanya seorang gadis?" tanya Raden.
"Iya benar." jawab Ken.
"Kalau begitu, ayo mulai." ujar Raden.
"Ayo! siapa takut!" ucap Ken balik.
Namun mereka berdua dihentikan oleh yoga. Raden meminta agar mereka memberinya kesempatan untuk bersama dengan ibu Nadia. Namun Ken tidak terima karena Raden sudah milik Mira sebagai pacar.
" Dia bukan pacarku! sama sekali bukan!" teriak Raden menyangkal.
Raden terus memohon agar mereka jangan mengganggunya mendekati ibu Nadia. Tiba-tiba Jay dan Deni datang menghampiri mereka bertiga.
__ADS_1
" Hey! dimana kami harus meletakkan meja pemeriksaan gigi ini untukmu?" tanya Jay.
" Kamu berbohong pada mereka jika kamu mahasiswa kedokteran gigi?" tanya Deni kepada Raden.
"Kamu sudah membuat banyak masalah." ujar Ken.
Karena takut jika kebohongan dibongkar oleh keempat temannya itu. Raden segera pergi dengan alasan mau menyiapkan mejanya sendiri.
"Benar-benar pembuat onar." ucap Jay.
Disisi lain Rara berjalan menuju kampus sambil terus mengumpat Satria. Dirinya benar-benar tidak sabar untuk segera bertemu dengan Satria. Saat Rara hendak menyebrang, dia melihat Satria berjalan menghampirinya.
" Disini kamu rupanya, Satria! kita harus bicara." ujar Rara kesal.
" Apa itu kamu, Ra? Nanti dulu kita bicara. Bisakah kamu membantuku menyebrang terlebih dahulu?" ucap Satria.
Rara jadi bingung dengan respon Satria barusan. Padahal dia ingin segera memarahi si Satria.
" Apa katamu? Kamu bisa menyebrangnya sendiri." ujar Rara.
"Aku kehilangan lensa kontakku. Aku gak bisa melihat dengan jelas." ujar Satria.
"Baiklah, ikuti aku kalau begitu." ucap Rara merasa kasihan melihat Satria yang terus menyipitkan matanya.
Saat Rara hendak berjalan duluan. Satria menarik tangannya.
"Tunggu sebentar. Aku udah membantu kamu jalan saat kaki kamu sedang sakit." kata Satria.
" Jangan pegang tanganku. pegang saja botol air minum ku ini." ujar Rara.
Rara menuntun Satria untuk jalan, tidak disangka para penggemar dari akun SaRa yang melihat mereka langsung berteriak senang. Rara tidak perduli yang penting dipikirannya dia hanya membantu Satria menyebrang jalan. Setelah sampai Rara menarik botol air minumnya, namun Satria malah justru memegangnya kuat.
"Lepaskan." ucap Rara.
Satria melepaskannya, tiba-tiba Satria menarik nafasnya lega. Seolah-olah dia baru saja merasa bahagia. Matanya yang sedari tadi menyipit kembali terbuka dengan baik.
"Ternyata lensa kontakku hanya gak terpasang dengan benar. Kupikir hilang. Namun, makasih banyak ya! aku harus pergi sekarang. sampai nanti." ujar Satria lalu pergi meninggalkan Rara.
__ADS_1
Rara merasa kesal ternyata dia sudah ditipu oleh Satria. Rara memanggil Satria untuk kembali menghadap dirinya. Rara mengumpat Satria dan merasa begitu kesal karena sudah dibodohi. Sedangkan Satria yang terus dipanggil oleh malah mengoyangkan bahunya seolah mengejek Rara.
" Heh! kamu mengejekku ya! Kembali kesini Satria!" teriak Rara kesal.