Cinta Si Gigi Bungsu

Cinta Si Gigi Bungsu
Pernyataan cinta 2


__ADS_3

Setelah kesal membaca pesan dari Setia, Rara mulai fokus dengan belajar. Namun, tetap saja dirinya tidak bisa berkonsentrasi.


"Kapan sih aku bisa belajar?"


Ponsel Rara berbunyi, dilihatnya layar di ponsel itu. Tertulis nama Satria, Rara dengan kesal mengangkat telfon itu.


"Hallo, ada apa?"


" Aku ada di depan rumah. Turunlah." Ujar Satria didalam telfon. Rara begitu kaget mendengar ujaran Satria. Rara segera beranjak dari kursinya.


" Apa yang kamu lakukan di depan rumahku?"


Rara belum turun, dia malah menuju balkon untuk memastikan apakah Satria benar-benar berada didepan rumah. Dilihatnya dari balkon Satria, berdiri diluar pagar dengan pakaian sama seperti di kampus.


" Bagaimana caranya kamu tahu rumahku?" tanya Rara.


" Ini bukanlah hal yang sulit untuk seorang cowok yang sedang tertarik dengan cewek."


Rara kesal mendengar jawab dari Satria. Dia berteriak diatas balkon rumahnya, padahal ponsel mereka masih terhubung.


" Apa kamu mengutit ku? Kamu ini udah mengusikku."


" Emang benar. Aku juga akan mengusik mu dikamar mu. Aku juga tahu dimana letak kamarmu."


Rara dengan kesal berteriak, " Bangsat Satria!"


"Untuk apa kamu kemari?"


Satria mengangkat tas yang sedari tadi dibawanya, lalu berkata, " Aku ingin mengembalikan pakaianmu."


" Kalau begitu letakkan saja di situ lalu kamu pergilah."


Satria meletakkan tas itu didepan pagar rumah Rara.


" Aku gak becanda, Ra. Aku sungguh-sungguh, Ra. Kamu pernah mengatakan hal ini, bahwa Bima seperti ikan diatas langit bagimu. Namun, kamu juga harus tahu? Kamu juga sama, Ra. Kamu juga seperti ikan diatas langit bagiku."


Rara terdiam mendengar perkataan Satria. Hanya suara telfon yang terdengar, Rara tidak menjawab. Dia berdiri diam, sedangkan Satria terus memanggil namanya di sambungan telefon.


" Ra, " panggil Satria sekali lagi.

__ADS_1


Rara tersadar, di segera menjawab panggilan Satria dengan mengatakan,


"Jadi hanya itu yang ingin kamu katakan. kalau begitu aku akan kembali belajar."


Rara mematikan telfonnya, saat hendak dirinya beranjak dari situ. Satria berteriak, " Kamu malu, kan? Itu sebabnya kamu menghindari ku."


" Iya, aku memang malu. Sudahlah." ujar Rara masuk kedalam rumah.


Satria terus memanggilnya, meminta Rara untuk tidak masuk kedalam rumah dan berbicara dengannya. Namun, Rara tetap masuk kedalam rumahnya. Di kamarnya, Rara merasakan detak jantungnya yang detak kencang. Rara mengumpat, kenapa jantung berdetak saat mendengar perkataan Satria. Saat Rara berusaha mengendalikan detak jantungnya, ponselnya Rara berbunyi. Terdapat sebuah pesan dari Satria.


" Aku benar-benar menyukaimu, Ra."


Rara keluar dari rumah, dibuka pintu pagar rumahnya sambil melihat-lihat siapa tahu Satria belum beranjak dari situ. Setelah merasa aman, Rara mengambil tas yang berisikan pakaian itu. Dilihat isinya oleh Rara, teringat kembali kan momen itu.


Pagi-pagi Rara sudah siap untuk berangkat ke kampus. Dia keluar dari samping rumah, untuk jaga-jaga takutnya Satria ada di depan rumahnya. Namun, tidak disangka bunyi klakson mobil mengagetkan Rara. Yang ternyata adalah Satria yang tengah menurunkan kaca mobilnya.


" Mau berangkat bersama?" tawar Satria.


" Gak usah. Aku juga punya mobil." jawab Rara.


Namun, tidak disangka mobil yang dimaksud Rara malah justru pergi meninggalkan Rara. Mobil dimaksud Rara itu adalah mobil ayahnya. Ayah Rara baru saja pergi, sehingga membuat Rara tidak bisa nebeng bersama ayahnya.


Beruntungnya sang kakak baru saja keluar dengan motornya. Rara memanggil kakaknya itu untuk nebeng. Raden melihat wajah Satria.


" Siapa cowok ini?" tanya Raden.


" Itu Satria. Dia yang sering menggangguku." jawab Rara.


" Oh, jadi kamu cowok yang selama ini mengganggu adikku? Akan ku hajar kamu! dasar kurang ajar!"


Saat Raden hendak beranjak dari motor, Rara menahannya dengan berkata,


" Biarkan saja dia. Lebih baik kita berangkat sekarang."


" Aku diam karena adikku yang minta."


Satria terus menatap wajah Raden.


" Apa yang kamu lihat! kamu akan berurusan dengan ku." ancam Raden lalu pergi dari situ. Sedangkan menyungging senyumnya, dan melihat kepergian Raden dan Rara.

__ADS_1


Raden memasuki kelas, dia melihat Mira sudah berada di kelas. Namun, Mira menghiraukannya dengan pura-pura mengobrol dengan seorang cowok yang duduk disampingnya.


"Oh, jadi kamu mengabaikan ku. Baiklah, aku gak akan duduk disebelah mu." ucap Raden dalam hati.


Raden menatap tajam ke arah Mira yang terus saja menghiraukannya. Raden tersenyum dan berjalan mendekati seorang cewek yang disampingnya tidak ada orang yang duduk.


" Hai! apa kursi ini kosong? Bolehkah aku duduk di sini?" tanya Raden kepada cewek itu.


Cewek itu hanya menatap tetapi tidak menjawab. Raden memanggilnya lagi dengan mengeluarkan kata-kata gombalannya. Namun, cewek itu tetap menghiraukannya.


" Ayolah Tia. kita sudah menjadi teman sekelas sejak lama. masa kamu gak ingin berbicara denganku?"


Raden mengatai Tia orang yang sombong. Lalu Raden mencoba mendekati cewek yang kebetulan juga tengah duduk sendiri. Namun cewek itu malah menghindarinya. Raden bingung, dia berfikir mungkin saja badannya bau. Dia mencoba menghirup bau badannya, namun dia tidak merasakan aroma yang tidak sedap di badannya itu. Akhirnya Raden memilih duduk sendirian. Mira yang sedari tadi duduk didepan mencoba sedikit menengok dan melihat Raden yang duduk jauh dibelakangnya.


Pelajaran sudah usai, lagi-lagi Raden tertidur di bangkunya. Beberapa kursi di kelas itu sudah kosong hanya ada beberapa siswa-siswi yang masih duduk. Seorang cewek tiba-tiba melintas dengan gak sengaja tasnya menyentuh Raden. Membuat Raden yang tertidur lelap di bangkunya itu terbangun. Raden melihat Mira memakai tasnya, Raden mencoba memanggilnya namun Mira masih menghiraukannya.


Mira berjalan keluar kelas, namun tangannya segera ditarik oleh Raden.


" Aku ingin berbicara dengan mu sekarang. Apa kamu sedang mengabaikan ku?" tanya Raden.


" Gak." jawab Mira pelan dan menunduk.


" Kamu menghindari ku?"


" Gak."


" Gak apanya!" kata Raden yang dengan kedua tangannya menyentuh wajah Mira agar melihat kepadanya.


"Jelas-jelas kamu menghindari ku. Kamu gak pernah seperti ini sebelumnya. Biasanya setelah kelas selesai kamu akan mengatakan "Raden, aku lapar. Raden, aku haus. Raden, tolong bantu aku. Biasanya kami seperti itu."


Mira melepaskan tangan raden yang sedari tadi menyentuh kedua pipinya.


" Sekarang aku gak ingin mengganggumu lagi." ujar Mira tertunduk.


" Sejak kapan aku pernah berkata kalau aku terganggu karena kamu? Aku memang seperti ini, berisik dan berbicara kasar. Kamu juga sudah tahu, kan?"


" Hm. Aku lapar. aku mau mencari makan." ujar Mira pergi meninggalkan Raden.


Raden mengikuti Mira, saat keluar dari pintu kelas Raden berteriak, " Wah lihatlah, gak ada lagi orang yang mengikuti ku kemanapun aku pergi sekarang. Pergilah dan makanlah sekarang. Aku udah lega sekarang, karena gak ada lagi yang menggangguku."

__ADS_1


Teriakan Raden tidak mengusik Mira, dia tetap berjalan lurus meski dia merasa sakit dihatinya. Raden hanya menatap kepergian Mira, dia sengaja berteriak seperti itu agar Mira berhenti. Namun, ternyata dirinya salah.


__ADS_2