Cinta Si Gigi Bungsu

Cinta Si Gigi Bungsu
Lagi-lagi Satria!


__ADS_3

Matahari pagi sudah memancar panasnya, sedangkan Rara masih setia berbaring di kasurnya. Otaknya masih terngiang kalimat yang di sampaikan Satria padanya. Kejadian kemarin di ruang terus terngiang-ngiang. Kata-kata Satria masih mengalun indah dipikirannya. Hal itu membuat Rara begitu kesal, dia bangun dari tidurnya dan mengacak-acak rambutnya.


Rara menyangkal jika dirinya tidak mungkin menyukai Satria. Rara meyakinkan jika dirinya hanya menyukai Bima. Rara mengambil foto Bima yang dia sembunyikan di dalam bantal tidurnya. Rara menatap foto Bima dan berkata," Bim, setelah jadwal kelas ku hari ini selesai, aku akan segera pulang dan melihatmu semalaman."


Lalu Rara kembali berkata seolah-olah itu adalah jawaban dari Bima.


" Tentu saja Ra, fokuslah saat menerima materi ya Ra,"


Lalu Rara kembali menjawab sendiri, dengan mengangguk dan berkata jika Bima juga harus fokus. Rara lalu mencium foto Bima dan meletakkannya kembali ke tempat semula sambil tersenyum. Rara segera bangkit dari kasurnya, mengambil handuk dan mandi.


Rara sudah rapi dengan setelah hitam putihnya. Dia merapikan diri di depan kaca, senyuman terukir masih di bibirnya itu sirna setelah dia sadar jika jas laboratoriumnya masih belum diketemukan. Rara mengumpat, dia yakin jika pelakunya bukan orang lain melainkan kakaknya sendiri. Rara mengambil ponselnya dan mulai melakukan pesan suara kepada kakaknya.


" Bang, apa kamu melihat jas ku? Atau jangan-jangan kamu yang membawanya?"


Tidak selang berapa lama, Raden membalas.


"Gak kok dek. Aku gak membawanya." balas Raden menyangkal.


Namanya juga adik dan kakaknya siapa yang tidak tahu kelakuan kakaknya sendiri. Rara yakin jika pelakunya adalah kakaknya, karena dari nada suara yang di buat-buat sudah jelas dia pelakunya. Rara tersenyum licik, dia segera menuju kamar kakaknya. Karena kakaknya sudah memakai jasnya, maka Rara juga membalas dengan memakai barang kakaknya. Rara melihat sebotol parfum di meja belajar kakaknya. Rara yakin jika parfum ini mahal, maka dengan itu Rara segera menyemprot parfum di beberapa titik bagian tubuhnya. Bau parfum yang begitu menyengat, karena hampir seluruh tubuhnya Rara menyemprot parfum itu. Rara menatap diri di depan kaca, Rara merasa dirinya sudah wangi dan cantik. Rara segera keluar menuju ruang makan. Di meja makan ayah dan ibunya sudah menunggu. Rara segera menghampiri kedua orangtuanya itu.


Ayah Rara yang mencium aroma menyengat dari tubuh Rara pun terbatuk. Saat Rara hendak ke dapur, ayahnya mencegahnya.


"Tunggu sebentar Ra! Apa kamu menyemprot parfum keseluruh tubuhmu? aromanya sangat menusuk. Apa kamu sedang ada kencan? Kenapa bersiap-siap seperti ini?" tanya ayah Rara.


" Gak kok Yah. Itu karena Raden mengambil barangku tanpa izin. Jadi, aku juga menggunakan barangnya." ujar Rara berjalan ke dapur.


"Oh, begitu ya. Omong-omong nih Ra. Apa kamu gak punya pacar?" tanya Ayah Rara.

__ADS_1


" Pacar? Gak sama sekali Yah." jawab Rara.


" Kok bisa? Anak ayah sangat cantik. Ayah yakin kamu pasti sudah dirayu dan didekati oleh beberapa cowok." Ujar ayah Rara.


" Gaklah Yah." jawab Rara.


"Sini ayah kasih tahu. Jika ayah jadi perempuan secantik kamu, ayah mungkin akan menerima semua pernyataan cinta dari beberapa cowok." ujar ayah Rara sambil tertawa.


Ibu Rara merasa kesal dengan ucapan suaminya, segera memukul suaminya itu. Ayah Rara mengatakan jika dirinya cuman bercanda pada anaknya. Hal itu membuat Rara tertawa.


" Ra, kamu udah kuliah jadi ayah tidak akan melarang untuk berpacaran." ujar Ayah Rara.


Rara hanya mengangguk dan tersenyum. Tiba-tiba ponsel Rara berbunyi, bukan hanya sekali melainkan berkali-kali. Membuat kedua orangtuanya Rara melihat ke arahnya.


" Apa kamu gak berniat membalas semua pesan itu? Pesan itu terus saja masuk." ujar ibu Rara.


" Ibu bukan apa-apa, yah. Aku pamit ya!" ucap Rara segara pergi dari situ. Jika Rara tidak pergi maka ayahnya akan terus menggoda dirinya.


Ayah melihat tingkah anaknya begitu pula dengan ibunya. Ibu merasa aneh dengan tingkah anak gadisnya itu. Dia lalu bertanya pada suaminya. Sang ayah merasa jika itu adalah wajar bagi seorang anak remaja seperti Rara, Karena lambat laun Rara akan berubah dengan lebih memikirkan penampilannya. Ibunya hanya mengangguk tanda mengerti.


Rara memakai sepatunya, namun bunyi pesan terus terdengar membuat Rara merasa kesal dengan orang yang mengirim pesan itu. Meski dia melihat siapa yang mengirim pesan itu. Karena kesal, Rara mengambil ponselnya dan melihat isi pesan-pesan itu. Ternyata pesan-pesan itu terdapat dari beberapa teman online yang bahkan dia tidak mengenalinya. Isi pesan yang sama yang yang terus bertanya kenapa Rara tidak menerima permintaan pertemanan Satria. Ternyata mereka itu adalah penggemar akun SaRa (Satria Rara). Membaca semua pesan itu membuat Rara kesal dan mengumpat kepada Satria. Karena Satria lah yang menjadi penyebab semua itu terjadi.


Namun ada satu komentar yang muncul di beranda akun media sosial Rara yang sedang bertanya pada Satria kenapa dia meminta akun SaRa itu dihapuskan. Satria membalas komentar itu dengan mengatakan jika dirinya tidak bisa menolak karena itu keinginan Rara, karena Rara tidak mau menjadi pusat perhatian dan sedikit keras kepala. Rara yang membaca itu merasa kesal dan mengumpat Satria.


"Keras kepala?Ayah mu itu keras kepala." umpat Rara.


Tidak disangka umpatan itu terdengar oleh ayahnya. Ayahnya bertanya apa Rara sedang memanggilnya. Rara segera menengok dan mengatakan bukan apa-apa. Rara memasukan ponselnya dalam tas, dipikirannya dia harus segera bertemu dengan Satria dan berbicara empat mata.

__ADS_1


Di tempat berbeda, Mira sudah selesai mandi dan menyikat giginya. Raden menghampiri mira dan marah pada Mira karena tidak membangunkannya. Mira yang sudah selesai menyikat gigi itu hanya tersenyum. Raden mengoleskan odol di sikat gigi sedikit saja. Hal itu menjadi pusat perhatian Rara, dikarenakan sikat gigi yang Raden gunakan usang dan sudah tidak pantas untuk dipakai lagi.


"Raden, kenapa sikat gigimu usang seperti itu?" tanya Mira.


"Karena aku ini orangnya hemat, semua barang-barangku digunakan dengan baik." Jawab Raden lalu menyikat giginya.


Kembali itu menjadi perhatian Mira, karena Raden menyikat gigi hanya gosok sekali di kiri dan kanan setelah itu selesai. Menimbulkan kembali pertanyaan bagi Mira.


" Kamu sudah selesai menyikat gigi?" tanya Mira.


Pertanyaan itu hanya dijawab dengan anggukan kepala dari Raden.


" Kenapa cepat-cepat seperti itu? Mahasiswa kedokteran gigi biasanya menjaga kebersihan giginya." ujar Mira.


Mendengar ujaran Mira membuatnya tersadar jika dirinya sedang membohongi Mira tentang status dia sebagai mahasiswa kedokteran gigi.


"Karena gigiku ini sudah bersih, jadi gak perlu lagi perawatan gigi yang ekstra." ujar Raden lalu berkumur.


Raden berkumur begitu lama membuat Mira kembali berucap," Gigi juga tidak perlu dibersihkan terlalu lama. Fluorida itu larut dalam air. kamu memerlukan komponen itu untuk membersihkan dan menguatkan permukaan gigi."


Ucapan Mira itu membuat Raden dan segera menyembur air yang dikumurnya tadi. Membuat sisa busa merembes di ujung mulut.


" Aku udah menyikat gigiku sebelumnya. Lalu aku memakan cemilan dan ini kedua kalinya aku menyikat gigi, paham?" ujar Raden.


"Raden, kenapa kamu begitu jorok? lihat ini masih ada busa diujung bibirmu." ujar Mira lalu membersihkan ujung bibir Raden dengan jarinya.


Apa yang dilakukan Mira membuat Raden terdiam, dia merasa debaran jantungnya.

__ADS_1


__ADS_2