
Raden menarik adiknya Rara menuju ke tangga. Dibawah Satria yang melihat kakak beradik itu. " Kenapa kamu berbohong kepadaku, hah! Kamu sudah tahu jika aku gak suka dengan cowok itu."
" Aku gak berbohong kak." ucap Rara agar Raden percaya padanya.
Satria yang duduk, hanya memperhatikan kakak beradik itu. Tiba-tiba dara datang menghampiri Satria. " Hay honey! Ada apa? Kamu terlihat sangat khawatir?"
Terdengar dengan jelas suara keributan antar Raden dan Rara. " Kamu pikir kamu dapat membohongi aku hah!"
Rara mencoba membela dirinya, namun tetap saja kakaknya itu tidak percaya. Raden terus memarahi adiknya itu. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, Raden segera mengangkat. Raden memegangi tangan adiknya itu, agar tidak menjauh dari selama dia sedang berbicara dengan ponselnya. Lalu Raden menarik tangan Rara mengikutinya.
Mata Satria terus mengikuti arah jalan Rara dan Raden. Dara yang berada disampingnya tahu, jika Satria begitu mengkhawatirkan Rara. Dia mencoba menghibur cowok itu.
" Satria. Kamu gak perlu stres begitu. Lihat, rencana kita berhasil, kan. Kamu akhirnya jadian dengan Rara. Jadi senyum dong!" ujar dara menghibur Satria. Dara mencubit pipi Satria, dan menariknya seoalah memaksa cowok itu untuk tersenyum.
Satria melepaskan tangan Dara, " Tetapi, aku gak sepenuhnya bisa tersenyum bahagia. Kami belum sepenuhnya pacaran. Kami masih ditahap percobaan. Rara memintaku untuk merahasiakannya ke semua orang."
Dara menghela nafasnya, " Satria yang malang. Kamu akhirnya punya pacar tetapi kamu harus merahasiakannya. Jika aku sebagai Rara, aku mungkin akan menyebarkannya ke seluruh universitas." ujar dara.
" Itu terlalu berlebihan." ucap Satria.
Dara tertawa, " Sudahlah janganlah terlalu khawatir."
Satria berdiri menyandar didinding depan fakultas kedokteran gigi. Menunggu sang kekasih yang baru saja menyelesaikan kuliahnya. Rara baru saja keluar dari fakultasnya, dia tidak menyadari Satria sudah menunggunya. Alhasil saat Rara mau pulang, Satria menahan tangan Rara, dan mengajak menjauh dari situ. Namun, Rara terus menolak, tetap saja Satria memaksa Rara untuk ikut dengannya.
" Kamu mau membawaku kemana?" tanya Rara saat Satria terus menarik tangannya.
Satria membawa Rara menuju tembok samping fakulitas kedokteran gigi. Satria mendorong tubuh Rara menyandar di dinding dan menahannya dengan satu tangan. Satria menatap dengan dekat wajah pacarnya itu.
" Kamu mau ngapain?" tanya Rara dengan was-was melihat Satria tiba-tiba seperti itu padanya.
" Aku ingin melihat pacarku lah. Emangnya gak boleh?" ujar Satria.
Rara tersipu malu saat Satria berkata seperti. Mata Satria melihat kebawah tubuh Rara. Rara mulai khawatir pikiran mulai berkecamuk.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Rara saat mata Satria arah menatap tubuhnya.
"Aku lapar. Ayo kita makan." ujar Satria.
Namun, pikiran Rara malah justru berbeda. Dia merasa jika Satria ingin memakannya dalam artian (18+). Wajahnya nampak gusar saat Satria berkata seperti itu.
__ADS_1
Satria menyadari apa yang sedang Rara pikirkan segera dia memperbaiki kata-katanya. " Maksud ku lapar karena makanan. Bukan hal yang lain."
Merasa malu karena Satria membaca pikirannya, Rara segera mendorong tubuh Satria agar lebih menjauh darinya. Satria hanya bisa tersenyum, saat tahu Rara sedang malu.
" Aku gak bisa. Aku sedang ada acara." ujar Rara menolak ajakan Satria.
" Acara? apa? dengan siapa?" Satria sebagai pacar memberikan banyak pertanyaan kepada Rara.
" Dengan kak Raden, kami ada acara kumpul-kumpul dengan teman satu gengnya." ujar Rara.
" Kalau begitu aku juga ikut denganmu." kata Satria meminta Rara untuk ikut bersamanya.
" Gak bisa. Kamu sadar gak sih jika Raden terus memperhatikan mu." ujar Rara menolak Satria untuk ikut dengannya.
" Emangnya kenapa?" tanya Satria mendorong kembali tubuh Rara ke tembok. Kini wajah Satria semakin dekat dengan Rara.
"Kamu tinggal bilang saja kepada kakakmu jika kita pacaran. Bisa, kan? tanya Satria membujuk.
Namun, Rara mengalihkan wajahnya dan tidak mau menjawab pertanyaan Satria. Tangan Satria memegangi dagu Rara, agar wajah gadis itu melihat kearahnya. Saat tatapan mata mereka bertemu, Rara justru tidak berkata apa-apa melainkan hanya menatap lekat wajah Satria. Begitu pula dengan Satria, dia memasang wajah memelas.
Tiba-tiba suara klakson berbunyi, Raden terus memanggil nama Rara.
Karena Rara berada disamping fakultasnya, suara klakson motor dari depan juga bisa terdengar. Rara yang mendengar namanya dipanggil, segera mendorong Satria dan berlari mendekati kakaknya sebelum kakaknya melihat Rara bersama Satria.
Ternyata Raden mengajak Rara, kesebuah bar tempat perkumpulan anak muda. Raden duduk tidak jauh dari kakaknya. Yoga datang bersama dengan pacarnya, dia mengenalkan semua temannya termasuk rara kepada pacarnya. Dengan tidak punya rasa malu, pacarnya yoga selalu memuji yoga didepan teman-temannya. Lalu mereka berdua berlalu, meninggalkan Rara bersama kakaknya dan teman-temannya, Deni, Ken dan Jay.
Tiba-tiba ponsel Raden berdering, ternyata Mira menelfon. Raden mengangkat telfon dari Mira, dengan suara yang dibuat lembut.
" Hallo." ujar Raden dengan nada yang dilembutkan. Membuat Rara dan teman-teman kakaknya itu saling menatap dengan tanda tanya siapa yang menelepon Raden, sehingga Raden harus bersuara lembut seperti itu.
" Kak Raden, kamu melupakan sesuatu, ya? Kamu ada jadwal les dengan aku malam ini." ujar Mira di dalam telfon.
" Ah iya aku lupa. Kalau begitu aku kan segera kesana. Sampai ketemu ya." ujar Raden tersenyum. Membuat Jay yang berada di dekatnya menyadari bahwa orang menelfon Raden pasti orang yang spesial.
" Wah gila! Dia udah punya pacar ternyata." ujar Jay.
" Apaan sih! gak ada!" teriak Raden membantah.
" Jangan sok berpura-pura deh. Tadi ngomong sok lembut begitu." ujar Deni menggoda Raden.
__ADS_1
" Lihat kakakmu sekarang sudah punya pacar." ujar Jay.
" Apaan sih! tadi dia menelfon karena ada tugas kelompok yang belum dikerjakan. Kalau gak begitu, aku gak akan lulus lagi. Paham kamu!" ujar Raden membantah godaan dari teman-temannya. Sedangkan Rara hanya tersenyum melihat kakaknya yang malu saat digodain oleh teman-temannya.
" Kalau begitu aku pergi dulu." ujar Raden.
" Tapi kamu datang lagi kan, kak." tanya Rara karena Raden akan pergi meninggalkan Rara bersama dengan teman-temannya.
" Belum tahu, aku harus belajar untuk bisa lulus mata kuliah ini. Jadi teman-teman aku titip Rara." ujar Raden.
" Tenang saja, Rara sudah seperti adik kita juga. Kita akan menjaga Rara." ujar Ken.
Raden segera pergi berlalu meninggalkan Rara bersama dengan ketiga temannya. Bunyi notifikasi pesan di ponsel Rara berbunyi. Rara segara mengambil ponselnya yang berada didalam tas. Di melihat sebuah yang ternyata dari Satria.
Satria : Aku berada di depan bar sekarang.
" Dasar ni bocah! udah ku peringatkan." respon Rara saat membaca pesan dari satria.
" Ada apa Ra?" tanya Ken mendengar Rara berkata seperti itu.
" Gak apa-apa kok kak. Aku permisi keluar sebentar." ujar Rara berlalu meninggalkan ketiga teman kakaknya itu.
Satria berdiri menunggu Rara di luar bar. Rara berjalan mendekati Satria.
" Kamu ngapain kesini?"
" Dimana tempat duduk mu?" bukannya menjawab Satria malah balik bertanya.
" Aku udah bilang jangan datang."
" Aku tahu. Aku gak akan gabung bersama mu kok. Aku hanya akan duduk gak jauh darimu, agar aku bisa memastikan kamu gak menjadi liar." ujar Satria.
Rara menghela nafas, dia menatap kaca depan terlihat jelas ketiga teman kakaknya. Ken yang sedari duduk juga menatap ke arah luar bar. Dia mulai khawatir dengan adik dari sahabatnya itu yang keluar namun belum juga kembali. Rara melihat Ken yang akan keluar bar.
" Udah ku bilang jangan datang, aku gak mau jika teman-teman kak Raden melihat kita. Jika mereka tahu hubungan kita kacau. jadi aku mohon pergilah." ujar Rara berlalu meninggalkan Satria.
Satria hanya bisa menatap Rara bersama dengan ketiga teman kakaknya itu diluar bar.
" Ra, sampai kapan kamu harus menyembunyikan hubungan kita." ujar Satria dalam hati.
__ADS_1